NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Malam harinya, setelah menghabiskan waktu seharian di rumah sederhana Jihan, Darren memutuskan bahwa sudah saatnya mereka kembali ke kediamannya.

Biar bagaimanapun, ia adalah seorang kepala keluarga dan CEO yang tidak bisa terus bersembunyi.

Bedanya, kali ini ia pulang tidak lagi dalam keadaan kesepian.

Darren menatap Jihan yang sudah rapi dengan pakaian terbaiknya.

"Apakah kamu sudah siap, Sayang?" tanya Darren lembut sambil menggenggam tangan istrinya.

Jihan menarik napas panjang, mencoba meredakan kegugupan yang mendadak menyerang dadanya.

Menikah dengan seorang CEO berarti ia harus siap menapakkan kaki di dunia yang sepenuhnya baru.

Jihan menganggukkan kepalanya dengan mantap.

"Iya, aku siap, Darren."

Begitu mereka melangkah keluar rumah, sebuah mobil sport mewah berwarna hitam mengkilap sudah terparkir manis di depan pagar—rupanya mobil itu baru saja diantarkan oleh anak buah Darren sore tadi.

Darren membukakan pintu untuk Jihan dengan sangat gentleman, memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum ia memutari kap mobil dan duduk di kursi kemudi.

Dengan satu deru mesin yang halus namun bertenaga, Darren segera melajukan mobil sport-nya membelah jalanan malam, menuju ke kawasan perumahan elite tempat istana megahnya berdiri.

Sementara itu, di dalam rumah mewah Darren, suasana justru terasa sangat panas dan penuh ketegangan.

Ketiga anak Darren—Andre, Riko, dan Angela—sedang berkumpul di ruang tengah dengan wajah yang ditekuk masam.

Sejak semalam, setelah sang ayah pergi begitu saja dari rumah, ponsel Darren sama sekali tidak bisa dihubungi.

Mereka bertiga merasa frustrasi, bukan karena mengkhawatirkan kesehatan atau keadaan ayahnya, melainkan karena urusan uang dan pembagian warisan mereka menjadi tertunda.

"Papa ke mana sih sebenarnya?! Dari kemarin dihubungi tidak pernah aktif!" protes Riko sambil melempar ponselnya ke atas sofa dengan kasar.

"Mobilku sudah harus masuk bengkel, dan aku butuh tanda tangan Papa untuk pencairan dana!"

"Betul! Papa sengaja ya menghindari kita supaya tidak usah membagikan warisan Mama?" timpal Angela dengan nada ketus sambil bersedekap dada.

"Awas saja kalau Papa pulang, aku tidak akan tinggal diam!"

Andre, si sulung, hanya berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang.

"Tenang saja. Papa tidak mungkin pergi lama, seluruh aset dan perusahaannya ada di sini. Begitu dia melangkah masuk ke pintu itu, kita langsung desak dia untuk menyerahkan hak kita."

Di tengah-tengah protes dan kemarahan ketiga anak yang egois itu, tiba-tiba terdengar suara deru mesin mobil sport yang sangat familier berhenti di halaman depan rumah.

"Nah, itu Papa pulang!" seru Angela.

Ketiganya langsung berdiri dari sofa dan memasang wajah menuntut, bersiap untuk menyerbu Darren begitu pintu depan terbuka. Namun, mereka sama sekali tidak pernah menduga kejutan besar apa yang dibawa oleh ayah mereka malam ini.

Darren menghentikan mobil sport-nya tepat di lobi depan rumah mewah miliknya.

Ia turun terlebih dahulu, lalu melangkah memutari kap mobil dengan gagah untuk membukakan pintu bagi sang istri.

"Ayo, Sayang," ucap Darren lembut, mengulurkan tangannya.

Jihan menyambut uluran tangan itu. Darren menggenggam jemari Jihan dengan erat, memberikan kekuatan, lalu menuntunnya melangkah masuk melewati pintu jati besar rumah tersebut.

Begitu pintu terbuka, Andre, Riko, dan Angela yang sudah bersiap untuk mengomeli ayahnya langsung terpaku di tempat.

Ketiganya syok berat mendapati Darren pulang tidak sendiri, melainkan menggandeng seorang gadis bertubuh subur yang asing bagi mereka.

"Papa!!" Angela menjadi yang pertama memecah keheningan dengan suara melengkingnya.

"Dia siapa? Apa Papa bawa pembantu baru? Tapi kok penampilannya seperti itu?"

Darren tidak langsung menjawab. Aura dingin seorang CEO langsung menyelimuti wajahnya.

Ia menatap tajam ketiga darah dagingnya. "Duduklah kalian semua. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."

Namun, Riko justru maju selangkah dengan tidak sabar.

"Duduk apa lagi, Pa? Cepat berikan warisan Mama! Kami tidak butuh rapat-rapat lagi!"

"DUDUK!!" bentak Darren dengan suara menggelegar, membuat seisi ruangan mewah itu seketika senyap. Riko, Andre, dan Angela tersentak kaget dan terpaksa mendudukkan diri di sofa dengan wajah bersungut-sungut.

Jihan yang berdiri di samping Darren merasa sangat kasihan melihat suaminya.

Dadanya berdenyut perih melihat bagaimana seorang ayah yang begitu dihormati di luar sana, justru diperlakukan sekasar ini oleh anak-anaknya sendiri di dalam rumah.

Darren menarik napas panjang, lalu merangkul pinggang Jihan dengan takzim di hadapan mereka semua.

"Perkenalkan, dia adalah istriku yang baru. Mulai hari ini, dia adalah mama kalian. Namanya Jihan."

"APA? PAPA SUDAH GILA?!" teriak Andre spontan, berdiri dari duduknya dengan mata melotot.

"Papa menikahi perempuan seperti ini?!"

"Papa tidak gila," sahut Darren dengan nada tenang namun mematikan. "Dan mulai detik ini, segala urusan keuangan, fasilitas, termasuk pembagian apa pun di rumah ini, semuanya harus berdasarkan persetujuan dari Mama Jihan."

Darren kemudian merogoh tas kerjanya, mengambil sebuah dokumen resmi berisi pelimpahan wewenang rumah tangga yang sudah ditandatanganinya tadi siang.

Ia menyerahkan dokumen itu kepada Jihan dengan tatapan penuh percaya.

"Sayang, silakan bicara," ucap Darren lembut pada istrinya.

Jihan menganggukkan kepalanya dengan tenang.

Ia maju selangkah, menatap ketiga anak tirinya satu per satu.

"Perkenalkan, saya Jihan. Mama baru kalian."

Mendengar ucapan polos Jihan, Andre dan Riko justru tertawa terbahak-bahak, meremehkan.

Suara tawa mereka terdengar begitu mengejek dan memenuhi ruangan.

"Mama kami? Jangan mimpi!" cemooh Riko dengan pandangan muak.

"Urus dulu saja itu badan kamu yang seperti gajah! Mau jadi nyonya di rumah ini? Sadar diri!"

"ANDRE! RIKO! JAGA MULUT KALIAN!!" bentak Darren dengan urat leher yang menegang, amarahnya sudah mencapai ubun-ubun mendengar istrinya dihina begitu kejam.

Namun, di luar dugaan, Jihan justru menepuk bahu Darren dengan lembut.

"Mas, tenang dulu ya," ucap Jihan dengan nada yang sangat santai, bahkan seulas senyum tipis terukir di wajahnya.

Jihan kembali menatap ketiga anak tirinya yang masih memasang wajah angkuh.

"Terima kasih banyak sudah memanggilku gajah. Gajah itu hewan yang kuat, lho. Dan, sebagai istri dari Darren sekaligus mama baru kalian, sepertinya aku memang harus mulai mendidik kalian cara menghormati orang tua."

Tanpa aba-aba, Jihan membalikkan badannya. Matanya menangkap sebuah sapu bergagang kayu tebal yang bersandar di dekat vas bunga besar di sudut ruangan.

Jihan berjalan cepat, menyambar sapu tersebut, lalu kembali ke ruang tengah dengan langkah mantap.

Plak!

Bluk!

"Aww!! Sakit!!" jerit Riko histeris saat Jihan tanpa ragu langsung mengayunkan sapu itu dan memukul bagian belakang tubuh Riko dengan telak.

"Ini pelajaran pertama karena kamu berani tidak sopan pada ayahmu dan memanggil mamamu gajah!" seru Jihan sambil bersiap mengangkat sapunya lagi, membuat Riko langsung melompat ketakutan di balik sofa.

Darren yang melihat aksi berani istrinya seketika melongo, sebelum akhirnya sebuah senyuman puas terbit di wajah sang CEO.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!