Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Meninju Kapas
Dalam tiga hari, kehidupan Citra Lestari mengalami pergeseran tektonik.
Arjuna Pratama menepati janjinya. Ia mulai menolak undangan sosial dan pulang tepat waktu, menghabiskan malam-malamnya di penthouse bersama Citra. Ketertarikannya yang besar, dipadukan dengan sifat posesif alaminya, membuat ia membanjiri Citra dengan perhatian material.
Makanan organik, pakaian desainer, dan kebutuhan sehari-hari berkualitas tinggi mengalir deras. Selain bibi yang mengurus kebersihan, Arjuna bahkan mempekerjakan asisten pribadi terpisah hanya untuk membantu Citra beradaptasi.
Namun Citra tidak lupa pada misinya.
Setelah masa "liburan" paksa itu usai, ia berencana kembali ke lokasi syuting film Shafira Maharani. Ia harus melanjutkan peran sebagai Asisten Kecil jika ingin tetap dekat dengan target utamanya.
Namun pada pagi hari keempat, sebuah konflik kecil terjadi.
Citra berdiri di depan cermin kamar mandi, memegang botol alas bedak berwarna gelap. Ia hendak mengoleskannya ke wajah—mengembalikan penampilan kusam dan "aman" miliknya seperti sebelumnya.
Tiba-tiba, pergelangan tangannya dicengkeram kuat dari belakang.
Arjuna masuk tanpa suara. Hari ini ia berpakaian santai: kaus oblong abu-abu gelap berkerah V yang menonjolkan bahu bidangnya, dipadukan dengan celana hitam kasual. Penampilannya tidak kaku—santai namun tetap berwibawa.
Namun alisnya berkerut rapat saat menatap botol di tangan Citra.
"Masih mau memakai benda ini?"
Suaranya rendah, bernada memerintah. Ia merebut botol itu dari tangan Citra dan dengan santai melemparkannya ke tempat sampah di sudut ruangan.
"Ini sangat jelek."
Citra terkejut. Menatap botol yang tergeletak di sana, ia merasa sedikit kehilangan pelindungnya. Ia berbisik membela diri, "Tapi, Tuan... jika aku tidak memakainya, dengan penampilan seperti ini, Kak Siska..."
"Bagaimana dengan dia?"
Arjuna menyela. Langkah panjangnya membawa tubuh Citra terjepit di antara tubuhnya dan meja rias. Jari-jari rampingnya mencubit dagu mungil Citra, memaksa gadis itu mendongak.
"Wanitaku, mengapa kau perlu peduli dengan ekspresi orang lain?" tanya Arjuna, suaranya angkuh. "Dengan wajah 'berdebu' dan kotor itu, bukankah kau justru membuatku malu? Seolah-olah aku tidak mampu merawatmu."
Citra menatapnya dengan mata almond berkaca-kaca. "Tapi, penampilan asli ini akan menarik perhatian. Industri hiburan sensitif terhadap wajah cantik, dan pekerjaan saya sebagai asisten seharusnya tidak mencolok..."
"Jika kamu ingin pergi bekerja, pergilah saja."
Arjuna melepaskan dagunya. Alih-alih marah, ia menggunakan ujung jarinya untuk mengusap lembut pipi Citra yang halus. Ketegangan di dahinya sedikit rileks.
Nada suaranya melunak, meski tetap otoriter. "Biarkan mereka melihat. Tahan saja tatapan mereka. Siapa pun yang berani mengucapkan satu kata negatif, suruh mereka datang mencariku."
Ia berhenti sejenak, menambahkan dengan dingin, "Bahkan jika itu Shafira Maharani."
Citra menatap profil Arjuna yang arogan. Sikapnya seolah berkata, *Jika langit runtuh, aku yang akan menahannya.* Citra merasa sedikit tak berdaya—namun juga hangat. Ia tahu ia tidak bisa menang melawan logika pria ini.
"...Oh."
--
Kehidupan seolah kembali ke titik awal, namun semuanya terasa berbeda.
Citra datang tepat waktu ke lounge Shafira Maharani. Ia mengenakan kaus sederhana dan celana jins, dengan kacamata berbingkai hitam tebal bertengger di hidungnya. Kepalanya menunduk, berusaha meminimalkan kehadirannya.
Namun lapisan penyamaran abu-abu itu telah hilang.
Meskipun kacamata menutupi sebagian wajahnya, garis rahangnya yang tirus, lehernya yang jenjang, dan kulitnya yang bersinar alami tetap terlihat. Setiap kali ia sesekali mengangkat wajah, tatapannya yang cerah dan lembut secara tidak sadar menarik perhatian.
Penampilan sederhana ini mungkin biasa saja di lokasi syuting yang penuh bintang—namun bagi Shafira Maharani, itu seperti duri yang menusuk hati.
*Hanya dalam tiga hari, gadis desa yang dulu berkulit gelap dan kusam tiba-tiba berubah menjadi sosok yang begitu bersih dan bersinar?*
Shafira duduk di depan cermin rias besar, menatap refleksi dirinya. Kulitnya membutuhkan lapisan bedak tebal untuk terlihat sempurna. Api kecemburuan berkobar di dadanya.
*Citra menyembunyikan sesuatu. Dia berakting baik di depan semua orang. Ingin terjun ke industri hiburan? Aku tidak akan membiarkannya.*
"Citra Lestari!"
Suara Shafira tajam, memecah keheningan ruangan. "Mana kopinya? Kenapa kau berlama-lama sekali!"
"Aku datang, Saudari Siska."
Citra segera bereaksi, meletakkan cangkir kopi dengan suhu yang pas di dekat tangan Shafira.
Shafira tidak langsung mengambilnya. Tatapan kritisnya menyapu profil samping Citra. Di bawah lampu terang lounge, kulit Citra tampak halus, cerah, dan hampir tanpa pori-pori. Dibandingkan dengan riasan Shafira yang terasa berat dan berbedak, kulit Citra tampak jauh lebih hidup dan sehat.
"Ck."
Cemoohan dingin meluncur dari bibir Shafira.
"Sudah beberapa hari tidak bertemu, dan wajahmu terlihat sangat cerah? Produk mahal apa yang kau gunakan?" sindirnya tajam. "Menabung gajimu yang sedikit tidak kau pikirkan untuk kerja, malah dipakai untuk mempercantik diri? Seorang asisten, kau berdandan untuk siapa?"
Citra menundukkan kepala lebih rendah. Kacamata hitamnya sedikit melorot, dan ia buru-buru mendorongnya kembali ke atas. Suaranya lemah, namun stabil.
"Tidak, Kak Shafira Aku hanya lebih banyak beristirahat akhir-akhir ini."
"Istirahat?" Shafira tertawa sinis, mengetuk meja dengan kuku merah panjangnya. "Sepertinya hatimu sudah lepas kendali! Mana daftar perhiasan sponsor yang ku minta kau atur pagi ini?"
"Terlambat! Jika peluncuran merek tertunda karena kelalaianmu, apakah kau sanggup menanggung konsekuensinya?"
"Daftarnya ada di sini, Kak Shafira."
Citra buru-buru mengeluarkan lembaran kertas yang tercetak rapi dari tas kanvasnya dan menyerahkannya dengan kedua tangan.
Shafira mengambilnya, memindainya sekilas, lalu alisnya semakin mengerut. "Tata letak macam apa ini? Berantakan! Logo mereknya tidak menonjol! Buat ulang!"
"Aku ingin melihat versi baru sebelum kau pulang kerja!"
Tanpa peringatan, Shafira meremas daftar itu menjadi bola kertas dan melemparkannya ke kaki Citra.
Citra menatap bola kertas di kakinya. Bibirnya mengerut tipis. Dengan tenang, ia berjongkok, mengambil kertas itu, dan meluruskannya kembali.
"...Baiklah, Kak Shafira. Aku akan segera menggantinya."
Shafira memperhatikan sikap tunduk itu. Bukannya puas, amarahnya justru semakin memuncak. Ia membenci perasaan seperti "meninju kapas" ini—tidak ada perlawanan, tidak ada drama, hanya kepatuhan dingin dari wajah cantik yang membuatnya kesal.
"Kenapa kau masih berdiri di situ? Menunggu aku mentraktir mu makan?" tegur Shafira tidak sabar.
Citra menundukkan kepala sekali lagi, lalu berbalik dan bergegas keluar dari ruangan.
Di balik ketenangannya, pikirannya bekerja cepat. *Dia mencoba memancing emosiku. Dia ingin aku menangis atau marah. Tapi aku tidak akan memberikannya kepuasan itu.*
Citra tersenyum tipis di balik kacamata hitamnya.
Perang dingin ini baru saja dimulai—dan kali ini, ia memiliki senjata rahasia yang tidak dimiliki Shafira: dukungan dari pria yang paling ditakuti di industri ini.