"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Pesan Misterius Helena
Hujan terus mengguyur atap bangunan tua itu.
Angin malam berdesir melalui celah-celah jendela yang retak, menciptakan suara lirih yang membuat suasana terasa semakin mencekam.
Di dalam ruangan yang remang-remang, tidak seorang pun berbicara selama beberapa detik.
Kalimat terakhir Victor Hale masih menggantung di udara.
"Aku terus menerima pesan darinya."
Dari Helena Armand.
Wanita yang seharusnya telah meninggal dua puluh tahun lalu.
Wanita yang makamnya pernah ia datangi sendiri.
Wanita yang menjadi pusat dari seluruh misteri Aurora.
Alea menatap Victor tanpa berkedip.
"Apa maksud Anda?"
Victor mengusap wajahnya perlahan.
Ekspresinya tampak lelah.
Sangat lelah.
Seperti seseorang yang telah memikul rahasia terlalu lama.
"Selama bertahun-tahun aku juga mengira aku kehilangan akal sehat."
Ia membuka salah satu laci meja tua di sampingnya.
Lalu mengeluarkan sebuah kotak logam kecil.
Kotak itu terlihat kusam.
Penuh goresan.
Seolah telah berpindah tangan berkali-kali selama bertahun-tahun.
Victor mendorong kotak itu ke tengah meja.
"Silakan lihat sendiri."
Adrian membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat puluhan lembar surat.
Kertas-kertas tua.
Beberapa sudah menguning dimakan usia.
Sebagian lainnya tampak jauh lebih baru.
Alea mengambil salah satu surat paling atas.
Tulisan tangan di sana langsung membuat tubuhnya menegang.
Karena tulisan itu identik dengan catatan Helena yang mereka temukan dalam Arsip 17.
"Tidak mungkin..."
bisik Alea.
Victor tertawa hambar.
"Itu juga yang kukatakan pertama kali."
Adrian mulai membuka surat demi surat.
Tanggal-tanggal yang tertera membuat dahinya berkerut.
Bahkan ada surat yang bertanggal hanya tiga bulan lalu.
Semuanya ditulis oleh Helena Armand.
Atau seseorang yang mengaku sebagai Helena Armand.
"Bagaimana surat-surat ini sampai ke tangan Anda?"
tanya Adrian.
Victor menunjuk ke arah jendela.
"Selalu berbeda."
"Terkadang dikirim lewat pos."
"Terkadang muncul di kotak surat rumahku."
"Beberapa kali bahkan ditemukan di mobilku."
Alea langsung menyadari sesuatu.
"Tidak ada pengirim?"
Victor menggeleng.
"Tidak pernah."
Adrian mengambil surat terbaru.
Tanggalnya tiga bulan lalu.
Ia mulai membacanya.
Tulisan tangan itu rapi.
Tenang.
Dan terasa sangat pribadi.
Victor,
Jika kau membaca surat ini berarti aku masih gagal menemukan cara menghentikannya.
Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang.
Masih terlalu berbahaya.
Tetapi kau harus percaya padaku.
Leonard tidak pernah berhenti.
Aurora masih berjalan.
Dan fase ketiga semakin dekat.
Jangan percaya siapa pun yang mengaku mengetahui seluruh kebenaran.
Bahkan George dan William tidak pernah melihat keseluruhan gambarnya.
Jika waktunya tiba, carilah pewaris mereka.
Mereka akan menjadi satu-satunya harapan.
Ruangan kembali sunyi.
Alea perlahan duduk.
Pikirannya berputar cepat.
Jika surat ini asli...
berarti Helena hidup.
Tetapi jika surat ini palsu...
berarti ada seseorang yang sengaja mempertahankan ilusi bahwa Helena masih hidup.
Dan kedua kemungkinan itu sama-sama mengerikan.
"Kenapa baru sekarang Anda menghubungi kami?"
tanya Adrian.
Victor menatapnya lama.
Lalu menjawab pelan.
"Karena sebelumnya kalian belum siap."
"Siap untuk apa?"
"Untuk mengetahui siapa sebenarnya target Aurora."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Victor berjalan menuju papan tulis tua yang berdiri di sudut ruangan.
Ia mengambil spidol.
Lalu menuliskan empat nama.
George Corisand.
William Hutama.
Leonard Voss.
Helena Armand.
Kemudian ia menarik satu garis besar yang menghubungkan keempat nama itu.
"Aurora dimulai oleh mereka berempat."
Ia berhenti.
Lalu menarik garis kedua menuju dua nama baru.
Adrian Hutama.
Alea Corisand.
Jantung Alea langsung berdegup lebih cepat.
"Apa maksudnya?"
Victor memandang keduanya.
Tatapannya kali ini sangat serius.
Karena apa yang akan ia katakan selanjutnya adalah sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh mereka.
"Kalian mengira Aurora adalah masa lalu."
"Tapi sebenarnya..."
Victor menarik napas panjang.
"...Aurora selalu tentang masa depan."
Adrian langsung memahami arah pembicaraan itu.
Dan ia tidak menyukainya.
Sama sekali tidak.
"Kami?"
Victor mengangguk.
"Ya."
"Tidak mungkin."
"Justru sangat mungkin."
Victor membuka map lain.
Map yang jauh lebih tebal.
Di dalamnya terdapat laporan penelitian.
Grafik.
Data.
Dan foto-foto.
Banyak foto.
Puluhan.
Mungkin ratusan.
Alea mengambil salah satu foto.
Lalu membeku.
Foto itu memperlihatkan dirinya.
Saat masih kuliah.
Lima tahun lalu.
"Apa..."
Ia membuka foto lain.
Dirinya lagi.
Kemudian Adrian.
Lalu dirinya dan Adrian dalam sebuah acara bisnis bertahun-tahun lalu.
Padahal saat itu mereka bahkan belum saling mengenal.
Tubuh Alea mulai dingin.
"Kenapa ada foto kami?"
Victor tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap mereka dengan ekspresi yang penuh penyesalan.
Kemudian mengucapkan kalimat yang membuat darah mereka membeku.
"Karena kalian telah diamati sejak kecil."
Keheningan.
Mutlak.
Mencekam.
Alea merasa jantungnya berhenti sesaat.
Sementara Adrian menatap foto-foto itu dengan rahang yang mengeras.
"Tidak."
Suara Adrian rendah.
Berbahaya.
"Siapa yang mengamati kami?"
Victor menunduk.
"Orang-orang Aurora."
Alea berdiri.
"Kami bukan objek penelitian!"
"Helena mengatakan hal yang sama."
Victor tersenyum pahit.
"Lalu semuanya terlambat."
Ia membuka halaman pertama sebuah dokumen tua.
Di bagian atas terdapat judul.
SUBJEK GENERASI KEDUA
Di bawahnya tercantum dua nama.
Alea Corisand
Adrian Hutama
Udara di ruangan itu seolah menghilang.
Karena kini semuanya mulai masuk akal.
Pernikahan mereka.
Wasiat aneh.
Tekanan dari keluarga.
Manipulasi keadaan.
Rahasia yang terus mengelilingi mereka.
Bukan karena mereka korban kebetulan.
Melainkan karena sejak awal...
mereka adalah bagian dari Aurora.
"Tidak..."
bisik Alea.
Victor memejamkan mata.
"Aku berharap aku bisa mengatakan bahwa semua ini salah."
"Tapi tidak."
Adrian membalik halaman berikutnya.
Tangannya membeku.
Karena di sana terdapat sebuah prediksi.
Tanggalnya dua belas tahun lalu.
Jauh sebelum mereka menikah.
Jauh sebelum mereka bahkan mengenal satu sama lain.
Dokumen itu berbunyi:
Kemungkinan aliansi strategis antara keluarga Hutama dan Corisand melalui pewaris generasi kedua: 92,4%.
Potensi pembentukan ikatan emosional setelah koeksistensi paksa: 87,1%.
Probabilitas keberhasilan integrasi pasangan setelah fase konflik: 91,8%.
Alea langsung merasakan mual.
Adrian menatap angka-angka itu tanpa berkedip.
Karena ia tahu apa artinya.
Seseorang.
Dua puluh tahun lalu.
Telah memprediksi pernikahan mereka.
Dan prediksi itu terbukti benar.
"Ini tidak mungkin."
Suara Adrian terdengar serak.
Victor menatapnya.
"Aku juga pernah berkata begitu."
Lalu pria tua itu mengeluarkan satu amplop terakhir.
Amplop yang berbeda dari semuanya.
Masih tersegel.
Belum pernah dibuka.
Di bagian depannya tertulis:
UNTUK ADRIAN DAN ALEA.
BUKA HANYA SAAT KALIAN MENEMUKAN KEBENARAN TENTANG AURORA.
Tangan Alea gemetar.
Perlahan ia mengambil amplop itu.
Lalu melihat tanggal yang tertulis di sudut bawah.
Tanggal itu membuat napasnya tercekat.
Karena surat tersebut ditulis...
dua puluh tahun lalu.
Dan nama pengirimnya adalah:
Helena Armand.
Sementara jauh di tempat lain.
Di sebuah ruangan yang dipenuhi layar monitor.
Seseorang sedang mengawasi pertemuan mereka.
Sosok itu duduk dalam kegelapan.
Wajahnya tidak terlihat.
Namun sebuah foto lama tergeletak di atas meja.
Foto yang sama.
George.
William.
Leonard.
Helena.
Perlahan sosok itu tersenyum.
Kemudian berbisik pelan.
"Jadi mereka akhirnya sampai ke sana."
Tangannya bergerak menuju sebuah tombol.
Lampu merah kecil menyala.
Sebuah sistem lama yang telah tidur selama dua puluh tahun akhirnya aktif kembali.
Di layar monitor muncul satu tulisan sederhana:
AURORA — FASE KETIGA DIAKTIFKAN.
Dan untuk pertama kalinya sejak misteri ini dimulai...
permainan sesungguhnya akhirnya dimulai.