Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 SEBUAH PERTEMUAN (Bagian Kelima)
Zaki yang tetap berusaha santai, tenang, kalem, bahkan terkesan "cool" itu, lama-lama menjadi sedikit heran dengan tingkah Nisa di hadapannya.
Zaki juga malah mulai merasa agak salah tingkah, melihat Nisa yang justru duduk terpaku memandangi dirinya. Ia tak bisa menerka apa yang terjadi pada wanita di depannya ini.
Nisa selama beberapa saat, terus saja menatap dirinya, dengan senyuman tipis di bibirnya yang justru membuat Zaki jadi semakin salah tingkah rasanya.
Akhirnya, demi suasana yang lebih nyaman, Zaki memberanikan diri untuk bicara...
"Mbak... Mbak Nisa...?" ucapnya sambil menatap balik wajah Nisa. Namun Nisa tampak tak bergeming, masih saja wanita itu senyum-senyum melihat dirinya.
Dan Zaki agak mengeraskan suaranya, "Mbak?!"
Sontak hal itu mengagetkan Nisa, seolah menyadarkan dirinya,
"Hah?! Eh?! Ada apa Mas?!" sambil terlihat semakin salah tingkah Nisa, ia mengalihkan pandangan ke luar jendela gerbong di sampingnya.
Dan seketika itu juga Zaki sadar, bahwa wanita manis di depannya ini mungkin sedikit menyukai penampilan dirinya.
Tapi, Zaki langsung berkata dalam hati kecilnya, "Astaghfirulloh, Astaghfirulloh, aku gak boleh kepedean gini! Gak boleh! Istighfar Zak, Istighfar! Astaghfirulloh..."
Dan dengan mencoba untuk tetap santai, Zaki bertanya pada Nisa, "Mbak Nisa kenapa liatin saya kayak gitu?"
Dan semakin yakin Zaki, bahwa wanita di hadapannya itu benar-benar mulai menyukai dirinya saat mendapatkan respon yang terbata-bata, "Eh, em... Anu... Mas, anu... Eh, gak apa-apa kok..."
"Jangan suka bengong ya Mbak, gak baik. Apalagi dalam perjalanan jauh begini. Hehehe..." ucapan spontan Zaki. Karena dirinya juga memang sedang berusaha untuk tetap tenang saat melihat seorang wanita manis yang sedang salah tingkah saat pertama kali bertemu dengannya sekarang.
"Hehe, i-iya Mas... Maaf..." jawab Nisa sambil tertunduk dan tersipu malu.
Setelah itu, kereta pun mulai berakselerasi. Melanjutkan perjalanannya untuk mengantarkan seluruh penumpang pada tujuan mereka masing-masing.
Zaki yang mulai merasa lebih tenang, dan merasa suasana antara Nisa dan dirinya kembali terkendali, mulai mengeluarkan HP miliknya. Langsung saja dia buka aplikasi Youtube untuk mengisi kekosongan obrolan antara dia dan Nisa. Sesekali juga Zaki membuak aplikasi chatting, mengobrol dengan beberapa rekan kerjanya.
Dan Zaki akhirnya bisa teralihkan perhatiannya dari Nisa...
Selang beberapa lama, ia taruh kembali HP miliknya ke dalam tas biru tua di sampingnya. Dan karena sudah terbiasa untuk beribadah, Zaki langsung mengeluarkan kitab suci Al-Qur'an yang memang sudah disiapkan.
Dibukanya perlahan kitab Al-Qur'an tersebut. Tampaklah barisan ayat-ayat Sang Maha Pencipta. Dan juga di sebelahnya terdapat terjemahan.
Mulailah Zaki membaca Ta'awudz terlebih dahulu, kemudian disusul bacaan Basmallah. Dan dengan diiringi suara laju kereta, semilir angin yang masuk melalui celah jendela gerbong, dilantunkan lah setiap ayat-ayat itu.
Dengan suara yang cukup merdu, bacaan yang fasih, tertata, tidak terburu-buru. Zaki terus saja fokus membaca Al-Quran. Hatinya merasa sangat tenang, sangat damai, dan seolah energi positif yang besar mengalir dalam darahnya.
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
🚂🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃
Tak terasa waktu berlalu kurang lebih satu jam...
Selesailah aktifitas mengaji Zaki, dan ia segera menaruh lagi kitab Al-Quran itu di dalam tasnya. Sambil duduk santai di bangkunya, ia menikmati suasana pemandangan di luar gerbong, melalui jendela.
Perhatiannya sedikit terpecah saat mendengar Nisa mulai menerima telepon. Terdengar dengan jelas nama Dinda disebut olehnya. Diiringi dengan raut wajah yang tampak senang menerima telepon itu. Disusul kemudian dia sebut kata "Bapak".
Zaki memang tak bisa mendengar obrolannya dengan sempurna, tapi dari apa yang bisa didengar olehnya, ia bisa memahami bahwa yang sedang menelepon Nisa adalah keluarganya. Mungkin juga temannya yang berada di tempat tinggalnya.
Ketika Nisa selesai menelepon, terlihat ia memeriksa tas kecilnya, dan sedikit banyak ke dua mata Zaki bisa melihat banyaknya uang pecahan seratus ribuan di dalamnya. Dan sebagai sikap serta adab, ia segera memalingkan pandangannya ke arah luar jendela gerbong.
Rasanya tak sopan jika dirinya terus memperhatikan isi tas Nisa, meskipun itu tak disengaja sebelumnya.
Ketika Nisa sudah merapikan lagi tas kecilnya itu, Zaki memberanikan diri untuk kembali memulai obrolan malam ini...
"Habis telepon sama Bapaknya ya Mbak Nisa?" dengan sopan dan lembut ia membuka obrolan.
"Eh, i-iya Mas..." Jawab Nisa.
"Alhamdulillah ya, masih punya orang tua." tambah Zaki.
"Iya Mas, Alhamdulillah. Masih ada Bapakku di rumah."
"Kalau Ibu masih ada?" tanya Zaki sedikit penasaran.
"Em, kalau Ibu, sudah meninggal sejak lama Mas."
"Eh, Astaghfirulloh, Innalillahi... Maaf ya Mbak, saya belum tau." Zaki langsung merasa tak enak hati sudah bertanya soal Ibunya Nisa yang ternyata sudah wafat.
"Hehe, gak apa-apa Mas." jawab Nisa.
Dan entah kenapa, terasa suasana canggung lagi di antara dirinya dan Nisa itu. Zaki tampak kembali memandang ke arah luar jendela, begitu pun dengan Nisa.
Kemudian, kembali hadir ingatan tentang kejadian ghoib tadi sore itu. Kejadian yang membuat Zaki sampai tak enak hati, malu, bercampur tegang karena ulah jahil Sekar Mayang...
Entah kenapa, dalam hatinya masih saja merasa sedikit tak tenang jika tidak bicara pada Nisa. Meskipun ia sendiri bukan pelaku utama yang berbuat jahil membuat tiket Nisa terjatuh, tapi ada rasa tanggung jawab kalau dia harus menjelaskan.
"Duh, gimana ngomongnya ya? Jadi bingung sendiri rasanya..." gumam Zaki dalam hati. Sambil sesekali melirik ke arah Nisa yang masih memandang ke arah luar jendela gerbong.
"Ah, Bismillah aja deh, aku harus ngomong sama Mbak Nisa. Sekalian aku sebut namaku, gak sopan rasanya kalo aku tau nama dia, tapi dia gak tau namaku." tegasnya dalam hati.
Akhirnya obrolan pun kembali terbuka antara dia dan Nisa...
"Mbak... Namamu Nisa benerkan?"
"Iya Mas, bener. Kalo boleh tanya, Mas tau nama saya dari mana ya?"
Dan Zaki menjelaskan, "Dari tiketnya Mbak Nisa. Oh iya, tiketnya itu jatuh di bawah bangku Mbak. Saya mau kasih langsung, tapi gak enak, soalnya Mbak Nisa tadi tidur pulas. Jadi saya kantongin dulu deh tiketnya."
"Oh... Begitu..."
Respon Nisa yang singkat itu sedikit membuatnya agak khawatir, jangan-jangan perewangan Mbak Nisa sudah memberi tahu duluan tentang kejadian yang sebenarnya.
Tapi, saat sejenak Zaki melihat ekspresi wajah Nisa, dia jadi merasa agak lega. Bisa dipahami bahwa Nisa belum sama sekali bicara dengan Dayang Putri, perewangannya itu.
Dan Zaki menjulurkan tangan kanannya, mengajaknya untuk berkenalan...
"Perkenalkan, nama saya Zaki."
"Salam kenal Mas Zaki..." Nisa menjawab, menyambut tangannya perlahan dengan senyuman manisnya.
"Iya Mbak Nisa..." dan Zaki pun membalas senyumannya itu, tak kalah manisnya.
🤭🤭🤭
"Em, kalo saya boleh tau, Mas Zaki keluarganya masih lengkap?" gantian Nisa yang bertanya soal keluarganya Zaki.
Tapi, pertanyaanya itu seketika membuat ekspresi wajah Zaki berubah, menjadi sedikit murung. Dan ia menjawab, "Em... Saya sudah hidup sendirian Mbak. Orang tua saya udah wafat, udah lama juga."
"Eh, Ya Alloh, ma-maaf Mas Zaki, maaf..." respon Nisa langsung tampak tak enak hati atas pertanyaannya itu.
Tapi Zaki menjawab dengan tenang, "Enggak apa-apa kok Mbak."
Meskipun secara fisik Zaki tampak tenang atas pertanyaan itu, tapi dalam hati dan pikirannya tak bisa setenang itu.
Zaki langsung menoleh ke arah luar jendela gerbong...
Menatap pemandangan malam di luar sana seiring dengan kencangnya laju kereta...
Dan, seolah kembali dipaksa oleh semesta melalui pertanyaan Nisa itu untuk mengingat segala kejadian di masa lalu ketika orang tuanya masih hidup, beberapa saat ia memejamkan ke dua matanya. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Ada rasa rindu...
Ada rasa bahagia...
Ada rasa sakit...
Dan... Tanpa Nisa ketahui dan sadari, ada rasa amarah yang cukup kuat muncul dalam hati Zaki, saat mengingat semua masa lalu orang tuanya itu...