NovelToon NovelToon
Dewa Abadi

Dewa Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:24k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.

Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Benturan Dua Raksasa

Aksi Kuang Ren yang melompat ke atas arena tanpa menunggu undian dari Papan Langit jelas merupakan pelanggaran keras terhadap aturan akademi.

Di area Paviliun Pedang Bayangan, Tetua Mo Yin langsung melangkah maju. Pedang bayangannya berdesir di pinggangnya. "Gui Huan! Apa-apaan ini?! Papan Undian belum menentukan lawan Zeng Niu! Menurunkan murid Foundation Establishment Puncak saat pesertanya belum pulih adalah pelanggaran hukum sekte!"

Suara Mo Yin yang diperkuat Qi menggema, memicu bisik-bisik ketidakpuasan dari ribuan murid pelataran luar yang mulai melihat ketidakadilan ini.

Namun, di atas tribun emas, Tetua Agung Gui Huan hanya mengibaskan tangannya dengan santai.

"Papan Undian baru saja mengalami gangguan kecil akibat getaran pertarungan sebelumnya," kilah Gui Huan tanpa rasa malu, suaranya mengandung penindasan yang membungkam keributan. "Lagi pula, Kuang Ren dan Zeng Niu adalah murid-murid unggulan. Cepat atau lambat mereka akan bertemu. Menghemat waktu adalah efisiensi di masa perang. Biarkan pertarungan dilanjutkan!"

Jian Kuang, guru dari Kuang Ren, menyeringai kejam dari kursinya. "Jika muridmu takut, Mo Yin, suruh dia berlutut dan menyerah sekarang."

Mo Yin menggertakkan giginya. Ia menoleh ke arah arena, berniat menyuruh Zeng Niu mundur. Tidak ada gunanya membuang nyawa di tangan monster setinggi dua tombak itu saat energinya sudah terkuras.

Namun, sebelum Mo Yin sempat membuka mulutnya, Zhao Ying mengangkat tangannya pelan, menghentikan sang Tetua.

"Jangan menghentikannya, Tetua Mo," ucap Zhao Ying lembut namun tegas. Mata peraknya menatap lurus ke punggung Zeng Niu. "Bagi seorang kultivator yang memegang Niat Membunuh murni, mundur karena intimidasi fana akan menciptakan celah di Hati Dao-nya seumur hidup. Biarkan dia bertarung."

Di atas arena, Kuang Ren tertawa terbahak-bahak mendengar keputusan itu.

"Kau punya nyali, Rendahan!" Kuang Ren memutar kapak ganda bergeriginya yang seukuran pintu. Kapak itu adalah Artefak Spiritual Tingkat Bumi tingkat menengah, memancarkan aura elemen logam yang luar biasa tajam. "Sayangnya, nyali tidak akan menyambung tulangmu yang patah!"

BOOOM!

Tanpa aba-aba wasit, Kuang Ren menerjang maju. Lantai giok arena meledak di bawah pijakan kakinya. Meskipun tubuhnya sebesar beruang raksasa, kepadatan Qi Foundation Establishment Puncak membuatnya melesat dengan cepat.

Hanya dalam satu kedipan mata, Kuang Ren sudah berada di udara tepat di atas Zeng Niu, mengayunkan kapak gandanya lurus ke arah kepala pemuda itu.

[Teknik Kapak Penghancur!]

Angin menjerit robek oleh bilah kapak tersebut. Tekanan dari Tahap Puncak mengunci ruang di sekitar Zeng Niu, membuatnya tidak mungkin menghindar ke samping!

Zeng Niu yang sedang terengah-engah menggertakkan giginya. Ia mengangkat Pedang Nisan Hitam dengan kedua tangan, menyilangkan pedang tumpul seberat dua ribu lima ratus kati itu di atas kepalanya.

KLAAAAAAANG!!!

Benturan antara logam meteorit dan kapak bumi itu menciptakan gelombang suara yang memekakkan telinga. Percikan api menyembur liar setinggi tiga tombak!

Dada Zeng Niu terasa seperti dihantam palu godam raksasa. Perbedaan ranah antara Tahap Awal dan Tahap Puncak terlalu jauh dalam hal kepadatan dan jumlah energi mentah. Kaki Zeng Niu terseret mundur, meninggalkan dua parit dalam di atas lantai giok sejauh lima tombak.

Pemuda berjubah hitam itu memuntahkan seteguk darah segar. Tangan kanannya yang memegang gagang pedang bergetar hebat, kulit di antara ibu jari dan telunjuknya robek hingga mengeluarkan darah.

"Niu!" jerit Bao Tu dari pinggir arena, wajahnya pucat.

"Kekuatannya mengerikan..." bisik Lin Xiaoyu ngeri. "Meski Zeng Niu punya tubuh Tulang Besi, Kuang Ren juga mengolah fisik, ditambah dorongan kuat dari Qi Tahap Puncak. Ini murni benturan kekuatan!"

Kuang Ren tidak memberi jeda. Ia mendarat dengan kasar dan langsung memutar tubuhnya, menggunakan daya untuk melancarkan tebasan yang bertujuan membelah pinggang Zeng Niu menjadi dua.

Zeng Niu yang masih belum sepenuhnya mendapatkan keseimbangannya, dengan cepat menancapkan Pedang Nisan Hitam ke tanah sebagai perisai penahan.

DUAAAANG!

Pedang besar itu bergetar hebat. Zeng Niu kembali terpental ke belakang, berguling dua kali di udara sebelum mendarat dengan satu lutut. Napasnya semakin berat, dadanya naik turun dengan cepat. Qi-nya yang tersisa kini tak lebih dari tiga puluh persen.

"Hanya segini?!" Kuang Ren memukul dadanya sendiri dengan gagang kapaknya, mengaum liar. "Ayo! Gunakan lagi petir ungu dan otot nagamu! Jangan buat aku bosan, Sampah!"

Di dalam kepalanya, Lei Ling menggeram marah. "Zeng Niu! Biarkan aku menyambarnya sekali saja! Aku akan membuat beruang idiot ini menjadi babi panggang!"

Jangan bergerak, cegah Zeng Niu tajam dalam batinnya. Petirmu memakan terlalu banyak Qi. Jika aku meleset atau dia memiliki artefak pelindung dari gurunya, aku akan langsung kehabisan tenaga dan mati.

Zeng Niu perlahan berdiri. Darah menetes dari pelipis dan sudut bibirnya. Ia memutar lehernya hingga terdengar bunyi krak.

Zeng Niu menyadari satu hal: bertarung adu kekuatan murni dengan Kuang Ren dalam kondisinya saat ini adalah murni bunuh diri. Kapak Kuang Ren adalah senjata perusak garis depan, dan energinya masih seratus persen.

"Baiklah. Kau suka membelah?" Zeng Niu berbisik dingin, mengubah kuda-kudanya. Ia tidak lagi memegang pedang meteoritnya di depan dengan tegak, melainkan memiringkannya, mengandalkan sisi tumpul logam itu.

Kuang Ren kembali menerjang, kali ini melancarkan rentetan tebasan mematikan. Kiri, kanan, atas, serong! Setiap tebasan membawa Niat Kapak Emas yang bisa membelah bukit.

Namun kali ini, pemandangan aneh terjadi di atas arena.

Zeng Niu tidak lagi menangkis secara lansung!

Saat kapak Kuang Ren menebas dari kanan, Zeng Niu memutar pergelangannya, menggunakan sisi Pedang Nisan Hitam untuk bergesekan dengan sisi kapak lawan. Berkat pemahaman Biji Dao Ketiadaannya, Zeng Niu menargetkan titik-titik di mana aliran Qi pada kapak itu paling lemah.

Srriiing!

Tebasan mematikan Kuang Ren tiba-tiba melenceng dari jalurnya, hanya menebas udara kosong di samping bahu Zeng Niu. Bobot kapak yang berat dipadukan dengan lesetnya sasaran justru membuat Kuang Ren sedikit kehilangan keseimbangan!

Zeng Niu memanfaatkan celah itu, melangkah menyamping, dan memukulkan sikunya dengan keras ke tulang rusuk Kuang Ren.

BAM!

Kuang Ren mendengus, namun zirah besinya dan ototnya yang keras menahan sebagian besar kerusakan.

"Trik murahan!" raung Kuang Ren, memutar kapaknya kembali.

Tetapi Zeng Niu sudah membaca pergerakannya. Pemuda itu terus menari di ujung maut. Setiap kali Kuang Ren menyerang, Zeng Niu tidak menangkis dengan kekuatan penuh. Ia membelokkan, menggeser, dan memanipulasi arah gaya serang Kuang Ren menggunakan bobot Pedang Nisan Hitam sebagai pengalih poros.

Ini bukan lagi pertarungan barbar; ini adalah seni membunuh murni yang Zeng Niu pelajari dari ribuan nyawa yang ia renggut. Mengubah kelemahan musuh menjadi senjata bunuh diri.

Dalam waktu sebatang dupa, Kuang Ren telah melancarkan lebih dari seratus tebasan, menghancurkan lantai arena hingga menjadi kawah bebatuan tajam, namun tidak ada satu pun yang telak mengenai tubuh Zeng Niu! Sebaliknya, Kuang Ren mulai terengah-engah karena tebasan kosongnya membuang banyak energi secara percuma.

"Luar biasa..." Di area penonton, mata Penatua Angin Mabuk yang baru siuman berbinar-binar melihat tarian pedang Zeng Niu dari kejauhan. "Bocah itu... memadukan bobot ekstrim dengan kelembutan air. Dia tidak melawan arus sungai, dia membelokkannya!"

Di tribun, wajah Jian Kuang menjadi semakin gelap. Trik Zeng Niu benar-benar membuat murid utamanya terlihat seperti orang bodoh yang mengamuk mengejar bayangan.

"Kuang Ren! Berhenti membuang waktumu dengan sampah itu! Hancurkan dia beserta seluruh ruang di sekitarnya!" perintah Jian Kuang dengan Niat Suara yang menembus arena.

Mendengar perintah gurunya, mata Kuang Ren menjadi merah darah. Ia melompat mundur sejauh sepuluh tombak, menancapkan kapaknya ke tanah. Dantiannya bergemuruh hebat, menguras lebih dari separuh sisa Qi Foundation Establishment Puncak-nya dalam satu tarikan napas panjang.

Seluruh udara di arena tersedot ke arah Kuang Ren. Otot-otot raksasanya mengembang hingga merobek zirah besinya, dan kulitnya memancarkan pendaran cahaya emas yang menyilaukan.

Sebuah siluet harimau emas raksasa terbentuk di belakang punggung Kuang Ren, mengaum menantang langit. Niat Kapak yang mematikan mengunci seluruh radius dua puluh tombak di sekitar Zeng Niu. Kali ini, tidak ada ruang untuk menggeser atau membelokkan serangan. Ini adalah pemusnahan skala area!

[Teknik Kapak Leluhur: Amukan Harimau Emas Pemecah Langit!]

"MATILAH BERSAMA TULANG-TULANG PATAHMU, ZENG NIU!" raung Kuang Ren, melompat ke udara. Siluet harimau emas itu menyatu dengan kapaknya saat ia menukik turun layaknya meteor kematian.

Tekanan dari serangan pamungkas ini begitu kuat hingga beberapa murid pelataran luar di barisan terdepan muntah darah hanya karena terkena imbas auranya!

Zhao Ying seketika maju satu langkah, jari telunjuk kanannya diam-diam mengumpulkan Qi es tingkat dewa. Jika serangan ini fatal, persetan dengan rencana rahasia; ia akan membekukan Kuang Ren hingga ke jiwanya.

Di tengah pusaran badai emas itu, Zeng Niu berdiri sendirian. Angin kencang mengiris pipinya, namun matanya tetap tenang dan gelap gulita layaknya malam tanpa bintang.

Qi-ku hanya cukup untuk satu serangan balik, analisis Zeng Niu dingin. Teknik Tingkat Tiga memakan terlalu banyak. Aku harus memusatkannya.

Alih-alih menghindar yang mana mustahil Zeng Niu menancapkan ujung Pedang Nisan Hitam ke tanah, dan dengan satu tendangan kuat, ia melesatkan pedang balok meteorit itu lurus ke atas, menyongsong jatuhnya Kuang Ren bagaikan roket besi!

Bersamaan dengan itu, Zeng Niu memejamkan mata. Ia membakar esensi darahnya sendiri.

"Naga Tempur..." bisik Zeng Niu, meridian di sekujur lengannya memerah panas layaknya lava. "...Tingkat Dua, Puncak Pemusatan!"

Zeng Niu mengepalkan tangan kanannya yang kini diselimuti oleh Qi perak gelap pekat dan sedikit kilatan petir ungu yang berhasil ia peras dari sisa Dantiannya. Ia tidak memegang pedang. Pedangnya telah meluncur lebih dulu. Ia memfokuskan serangannya murni ke kepalan tangannya!

Di udara, kapak emas Kuang Ren menghantam Pedang Nisan Hitam yang meluncur ke atas.

KLAAAANG!

Bobot dua ribu lima ratus kati dari pedang itu tidak mampu menahan serangan pamungkas Foundation Establishment Puncak. Pedang Nisan Hitam terlempar berputar-putar ke pinggir arena.

Namun, benturan itu sukses menghambat laju Kuang Ren selama sepersepuluh detik dan menciptakan titik celah (kehampaan) di ujung pusaran Qi harimau emasnya!

Itulah yang diincar oleh Zeng Niu!

Dalam sepersepuluh detik itu, Zeng Niu melompat menyongsong sang raksasa. Menghindari mata kapak, ia menerobos masuk ke dalam zona Ketiadaan yang baru saja ia ciptakan, dan menghantamkan tinju kanannya yang dilapisi kekuatan naga dan petir ungu tepat ke tengah ulu hati Kuang Ren!

[Cakar Naga!]

BLAAAAAAAAAARRRR!

Dua kekuatan dahsyat berbenturan di udara. Gelombang kejut berwarna emas dan ungu meledak, menghancurkan sisa-sisa lantai arena menjadi kawah batu halus. Awan debu pekat menutupi pemandangan semua orang.

Keheningan seketika menyelimuti seluruh akademi.

Tidak ada yang bernapas. Semua mata terpaku pada kepulan debu di tengah arena, menunggu bayangan siapa yang akan jatuh, dan siapa yang akan tetap berdiri.

1
eka suci
kembali ke darurat ngga bisa santai dikit🤭
eka suci
udah mulai dua" nya tanpa sadar jadi posesif 🤭
eka suci
bab yg nano " ngakak, tegang, romantis 🤭
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
gasssd pollll...
saniscara patriawuha.
bentar juga belenggunya lepas,, pada saat kritis...
saniscara patriawuha.
sikattttt sudahhh mang niu...
Arinto Ario Triharyanto
good 👍
septian arista
benar-benar berat🤔🤔🤔
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ayoo dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift.
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 4 gift 🌹 Lanjut Up Thor
Sang_Imajinasi: baik mbah,karna lagi sibuk jadi ga sempat, ada buat novel juga di apk sebelah
total 3 replies
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🔥🌽
Aloy Winaryo
lalat
Aloy Winaryo
cepat
Aloy Winaryo
sikat
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 1 gift ☕ Semangat Thor 💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih mbah🙏
total 1 replies
Arinto Ario Triharyanto
dari awal settingan nya Zeng Niu maksain banget ngelawan musuh yg lbh tinggi ranahnya, ibarat anak TK nekad adu ilmu sama anak kuliah, jdnya konyol gitu... sbg penonton awam kyk saya cuman geleng2 kepala doang, nekat bin bodoh tanpa perhitungan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!