Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XXXI
Di Aula Utama Istana
Sesampainya di dalam aula yang luas itu, Putri Yanxi melangkah maju dengan penuh keyakinan, sementara Zhang Jun mengikutinya di belakang dengan sikap hormat. Suasana hening saat Putri Yanxi membuka suara.
"Yang Mulia Kaisar, hamba datang ke sini untuk memohon restu dari Ayahanda," ucap Putri Yanxi dengan suara yang jelas dan teguh.
Kaisar yang sedang sibuk memeriksa berkas pemerintahan, perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya jatuh pada putrinya, lalu beralih memandang sosok pemuda yang ada di samping putrinya itu. Pemuda itu berpakaian sederhana namun terlihat sopan dan tenang.
"Apa yang kau katakan barusan? Meminta restu?" tanya Kaisar dengan nada datar, seolah belum yakin dengan apa yang didengarnya. "Restu untuk apa?"
Putri Yanxi segera menggenggam tangan Zhang Jun di sampingnya, menatap ayahnya tanpa rasa takut.
"Aku telah mengambil keputusan, Ayah. Aku ingin menikah dengan Zhang Jun. Kami datang kemari untuk memohon izin dan restu Ayah serta Ibu," jawab Putri Yanxi tegas.
Kaisar terdiam sejenak. Ia meletakkan pena di tangannya, lalu bangkit dari singgasana tinggi itu dan berjalan turun mendekati mereka.
"Ikut aku," ucapnya singkat, lalu berjalan menuju ruang keluarga yang lebih tertutup dan nyaman.
Sesampainya di sana, Kaisar memerintahkan pengawal untuk memanggil Permaisuri, lalu mempersilakan mereka duduk. Tak lama kemudian, Permaisuri pun tiba. Zhang Jun menarik napas panjang, menenangkan dirinya sejenak, lalu membungkuk hormat kepada Kaisar dan Permaisuri.
"Yang Mulia, hamba Zhang Jun, hamba adalah seorang tabib. Hamba sadar hamba tidak memiliki jabatan atau kekayaan yang setara dengan Tuan Putri. Namun, hamba mencintai Putri Yanxi dengan segenap hati dan jiwa hamba. Hamba berjanji akan menjaganya, menyayanginya, dan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakannya seumur hidup ini," ucap Zhang Jun dengan tulus dan tegas.
Suasana menjadi hening sejenak. Kaisar hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi, sulit ditebak apakah ia setuju atau tidak. Di sampingnya, Permaisuri tampak cemas menanti keputusan suaminya. Biasanya, Kaisar sangat keras menentang jika anak-anaknya melanggar aturan dan adat istiadat kerajaan.
Namun, di luar dugaan semua orang, Kaisar perlahan mengangguk. "Baiklah, aku merestui kalian," ucap Kaisar pelan namun pasti.
Mata Putri Yanxi dan Permaisuri seketika membesar tak percaya. Mereka saling bertukar pandang, heran mengapa kali ini Kaisar menyetujuinya begitu mudah tanpa perdebatan sedikit pun.
"Benarkah, Ayah? Ayah merestui kami?" tanya Putri Yanxi memastikan.
Kaisar hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab. Ia segera memanggil pelayan. "Panggil ahli perbintangan ke sini sekarang."
Tak lama kemudian, ahli perbintangan tiba dan segera menghitung hari baik.
"Yang Mulia, jika ingin melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat, hari baik yang paling cocok adalah tiga hari kedepan," ucap ahli perbintangan itu.
"Tiga hari lagi? Itu sangat terburu-buru! Kita juga belum melakukan persiapannya ," sela Permaisuri terkejut.
"Maaf, Yang Mulia. Jika melewati tanggal itu, hari baik berikutnya baru akan tiba delapan bulan kemudian," tambah ahli perbintangan itu.
Mendengar itu, hati Putri Yanxi berdebar. Ia takut jika menunggu terlalu lama, ayahnya akan berubah pikiran. Ia segera memandang Kaisar dan mengangguk tegas.
"Tiga hari lagi tidak masalah, Ayah. Kami siap," ucap Putri Yanxi cepat.
"Baiklah, putuskan saja tiga hari lagi," sahut Kaisar.
Tanpa menunggu lama, Putri Yanxi langsung berlari memeluk ayahnya dengan bahagia. "Terima kasih, Ayah! Ayah adalah ayah terbaik di dunia, Ayah yang selalu mengerti aku," ucapnya haru. Ia lalu memeluk Permaisuri yang juga tersenyum lega, meski masih sedikit bingung dengan keputusan suaminya yang begitu cepat.
Setelah segala urusan diselesaikan, Zhang Jun berpamitan. "Hamba pamit undur diri, Yang Mulia. Hamba akan segera menyiapkan segala keperluan pernikahan kami."
"Aku antarkan sampai gerbang," ucap Putri Yanxi langsung.
Di gerbang istana, Putri Yanxi terus menatap punggung Zhang Jun yang menjauh, matanya tak lepas dari calon suaminya itu. Zhang Jun sesekali menoleh dan tersenyum, namun ia merasa sungkan karena beberapa pelayan sedang melihat mereka.
"Masuklah kembali, Yanxi. Nanti orang-orang melihat," bisik Zhang Jun malu-malu.
"Biarkan saja, biar semua orang tahu kau calon suamiku," jawab Putri Yanxi tersenyum lebar. Akhirnya Zhang Jun pun pergi meninggalkan istana dengan hati yang senang.
Sementara itu, di dalam ruangan, Permaisuri mendekati Kaisar yang sedag duduk dengan pandangan kosong.
"Suamiku, kenapa kau menyetujuinya begitu cepat? Padahal kau tahu perbedaan status mereka begitu jauh. Biasanya kau sangat keras menentang hal seperti ini," tanya Permaisuri penuh tanda tanya.
Kaisar hanya menghela napas panjang. "Aku sudah tua, Aku tidak ingin menghalangi kebahagiaan anak-anakku lagi. Biarkan mereka memilih jalan hidupnya sendiri," jawabnya singkat, lalu berjalan pergi meninggalkan Permaisuri.
Permaisuri mengerutkan keningnya, merasa jawaban itu tidak sepenuhnya jujur. Ada rasa janggal di hatinya, firasat bahwa suaminya menyembunyikan sesuatu atau memiliki rencana lain di balik persetujuannya yang mudah itu.
Di Kediaman Pangeran
Keesokan paginya, kabar itu sampai ke telinga Pangeran Haoran. Ia baru saja menerima surat burung pos dari istana.
"Luna, dengar ini! Kak Yanxi sudah mendapatkan restu dari Ayah dan Ibu. Pernikahannya akan dilaksanakan tiga hari lagi," seru Pangeran Haoran.
Mendengar itu, wajah Luna seketika berbinar bahagia. "Benarkah? Syukurlah! Aku sangat senang mendengarnya. Aku harus segera mengirim pesan untuk memberi selamat kepada Kak Yanxi."
Namun, saat Luna bergembira, Pangeran Haoran justru tampak berpikir keras, raut wajahnya penuh keraguan.
"Aneh... Sangat aneh," gumam Pangeran Haoran pelan.
"Apa yang aneh?" tanya Luna heran.
"Ayah itu keras kepala dan sangat menjaga gengsinya. Mustahil rasanya dia merestui pernikahan kak Yanxi dengan seorang tabib begitu saja tanpa perlawanan sedikit pun. Apalagi waktunya ditetapkan begitu mendadak. Ada sesuatu yang tidak beres di sini," ucap Pangeran Haoran dengan tatapan waspada.
Luna mendekat dan menepuk bahu suaminya pelan. "Kau hanya berpikiran berlebihan, Haoran. Mungkin Kaisar memang luluh melihat ketulusan hati mereka. Berbahagialah untuk kakakmu."
Pangeran Haoran menatap wajah istrinya yang cantik dan berseri di bawah sinar matahari pagi. Keraguan di hatinya perlahan lenyap oleh pesona wanita di hadapannya. Senyum jahil mulai terukir di bibirnya.
"Kau benar... Untuk saat ini, aku tidak ingin memikirkan hal itu," ucap Pangeran Haoran tiba-tiba.
Tanpa diduga, Ia mengangkat tubuh Luna ke dalam gendongannya dengan mudah.
"Haoran! Apa yang kau lakukan?" seru Luna kaget sambil memeluk leher suaminya.
"Hari ini aku ingin menghabiskan waktuku hanya denganmu saja. Dan hari ini... aku akan mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan," bisik Haoran penuh cinta.
Ia membawanya masuk ke dalam kamar, lalu menidurkan tubuh Luna perlahan di atas tempat tidur mereka. Jantung Luna berdetak kencang, wajahnya memerah merasakan hawa hangat yang memancar dari tubuh Pangeran Haoran. Pangeran Haoran berjalan ke pintu, menguncinya rapat-rapat, lalu berbalik menatap istrinya dengan tatapan yang penuh gairah dan cinta yang mendalam.
Ia mendekat perlahan, menindih tubuh Luna dengan lembut namun penuh hasrat. Ia menggenggam kedua tangan Luna, seolah tak ingin melepaskannya lagi. Hidung mereka saling bersentuhan, napas mereka menyatu.
"Haoran..." bisik Luna lirih, mencoba memalingkan wajahnya karena malu.
Namun Haoran menahan dagu istrinya agar tetap menatapnya.
"Apakah kau tidak mencintaiku? Kenapa kau selalu menghindariku?" tanyanya dengan suara pelan.
Luna terpaku, menatap mata suaminya yang begitu dalam. Belum sempat ia menjawab, Haoran langsung mencium bibirnya dengan ciuman yang dalam dan penuh rasa rindu yang tertahan. Awalnya Luna hanya diam kaku, membiarkan ciuman itu tanpa membalasnya. Namun, merasakan betapa besarnya cinta Haoran padanya, perlahan ia mulai ingin membalasnya.
Saat Haoran hendak menarik wajahnya menjauh karena mengira Luna belum siap, tangan Luna tiba-tiba menarik bajunya dan membalas ciuman itu dengan penuh gairah.
Mereka berciuman lama, saling menumpahkan rasa cinta yang selama ini tersimpan. Tangan Haoran mulai membuka perlahan kancing pakaian Luna, bibirnya turun mencium leher istrinya itu. Di ruangan itu, kasih sayang mereka menyatu, menghapus segala jarak di antara mereka.
Namun, di tengah kehangatan dan momen itu, tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu.
Tok! Tok! Tok!
Pangeran Haoran menghentikan kegiatannya sejenak, ia mengerutkan kening karena kesal. Ia kembali ingin mencium Luna, berusaha mengabaikan gangguan itu. Namun ketukan itu terdengar lagi, bahkan kali ini lebih keras.
Pangeran Haoran mendengus kesal. Ia mencium kening Luna dengan lembut sebagai penutup, lalu menarik selimut menutupi tubuh istrinya. Ia menatap Luna dengan tatapan penuh cinta.
"Tunggu sebentar ya, Kita akan lanjutkan ini nanti," bisiknya mesra, lalu bangkit dan berjalan membukakan pintu dengan wajah masih sedikit kesal.
"Ada apa? Pagi-pagi sudah berisik!" bentak Pangeran Haoran pada pengawalnya itu.
"Maafkan hamba, Pangeran. Hamba hendak melaporkan bahwa Putra Mahkota Lin Hao Yu akan kembali ke istana, dan Kaisar memerintahkan seluruh keluarga kerajaan untuk berkumpul besok menyambut kepulangan beliau," lapor pengawal itu dengan napas terengah-engah.
"Baiklah kau bisa pergi." ucap Pangeran Haoran kepada Pengawalnya itu.
Mendengar kabar itu, Pangeran Haoran sedikit kaget. "Kak Hao Yu akan kembali? tiba-tiba?"
Rasa kaget itu segera berganti dengan rasa penasaran yang kuat. Kepulangan Putra Mahkota yang mendadak, persetujuan Kaisar yang begitu mudah untuk pernikahan kakaknya Yanxi, serta tanggal pernikahan yang terlalu cepat... Semua kejadian ini terjadi bersamaan.
Pangeran Haoran kembali ke kamarnya dan menoleh ke arah Luna yang sudah duduk di tempat tidur sambil merapikan pakaiannya.
"Sepertinya firasatku benar. Ada sesuatu yang akan terjadi di istana. Aku harus segera ke sana, aku ingin bertemu dengan Kak Hao Yu dan mencari tau apa sebenarnya rencana Ayah," ucap Pangeran Haoran kepada dirinya sendiri dengan wajah serius.