NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Keheningan yang mencekam pasca kemarahan besar Kyai Umar perlahan-lahan mereda, menyisakan ketakutan yang masih kentara di wajah Nyai Latifah.

Wanita paruh baya itu hanya bisa tertunduk, mengunci mulutnya rapat-rapat karena menyadari bahwa gertakan talak dari suaminya bukanlah sebuah main-main.

Kyai Umar menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menenangkan debaran dadanya.

Beliau kembali duduk, lalu menatap Fathan dan Humairah yang masih setia saling menggenggam tangan.

Sorot mata sang Kyai kini berganti menjadi teduh, penuh dengan rasa ikhlas dan restu seorang ayah.

"Fathan, Humairah. Abah mengizinkan kalian," ucap Kyai Umar dengan suara yang lembut namun mantap.

"Pergilah. Bangunlah rumah tanggamu di atas fondasi yang tenang. Jaga istrimu baik-baik, Fathan. Dan kamu, Humairah, maafkan segala kekurangan keluarga ini dalam memuliakanmu."

Kyai Umar kemudian merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah amplop putih yang tampak tebal.

Beliau mengulurkan amplop itu langsung ke hadapan menantunya.

"Ambillah, Humairah. Ini sedikit bekal dari Abah untuk kehidupan baru kalian di sana. Jangan ditolak, ini hadiah dari seorang ayah untuk putrinya."

Humairah sempat ragu dan menatap amplop itu tanpa berani menyentuhnya. Namun, Fathan yang berada di sampingnya memberikan usapan lembut di punggung tangan istrinya.

"Ambillah," ucap Fathan berbisik lirih, meyakinkan istrinya bahwa itu adalah rezeki yang halal dan bentuk ketulusan dari abahnya.

Dengan tangan sedikit gemetar, Humairah akhirnya menerima amplop tersebut.

"Terima kasih banyak, Abah. Semoga Allah membalas semua kebaikan Abah," ucap Humairah takzim seraya mencium punggung tangan Kyai Umar untuk yang terakhir kalinya di dalam rumah itu.

Sebelum melepas kepergian putra sulungnya, Kyai Umar menoleh ke sudut ruangan, tempat di mana Abraham sejak tadi berdiri mematung menyaksikan seluruh drama keluarga tersebut.

"Abraham, kesini," panggil Kyai Umar dengan nada tegas.

Abraham melangkah mendekat dengan kepala tertunduk.

"Iya, Abah."

"Mulai hari ini, Abah memanggilmu untuk aktif mengajar di pondok secara penuh. Gantikan kakakmu yang masih libur untuk fokus menata rumah tangganya," titih Kyai Umar, memberikan tanggung jawab besar agar pikiran adiknya itu teralihkan dari obsesi masa lalunya terhadap Humairah.

Abraham sempat melirik ke arah Humairah sekilas, lalu kembali menunduk dalam. Rasa sesak di dadanya berkecamuk, namun ia tidak memiliki pilihan lain selain patuh.

"Iya, Abah. Abraham siap melaksanakan perintah Abah," jawabnya patuh.

Setelah semua urusan pamitan selesai, Fathan membimbing Humairah bangkit berdiri.

Tanpa menoleh lagi ke arah Nyai Latifah yang masih terdiam seribu bahasa, mereka melangkah keluar dari rumah utama menuju mobil putih yang terparkir di halaman.

Fathan membukakan pintu untuk Humairah, memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum ia sendiri masuk ke kursi kemudi.

Dari ambang pintu teras, Abraham berdiri mematung.

Dengan tatapan mata yang sarat akan penyesalan, kehilangan, dan kepasrahan, Abraham melihat Humairah masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah.

Deru mesin mobil Fathan perlahan bergerak menjauh, melewati gerbang pesantren, membawa pergi wanita yang pernah ia sia-siakan menuju lembaran hidup yang sepenuhnya baru bersama kakaknya.

Dua puluh menit kemudian, mobil putih yang dikendarai Fathan perlahan melambat, lalu berbelok memasuki sebuah pekarangan rumah yang tampak asri di kawasan yang cukup strategis.

Lokasi rumah ini memang berada di sekitar area pasar kota, membuat suasana di luar pagar tampak hidup dan dinamis sejak pagi hingga sore hari.

Begitu mobil berhenti sempurna di pelataran, seorang wanita paruh baya dengan pakaian bersahaja bergegas keluar dari dalam rumah.

Bibi Ningsih membuka pintu pagar dengan senyuman yang merekah lebar, menyambut kedatangan sang tuan muda yang sudah lama tidak mengunjungi aset pribadinya ini.

Humairah menurunkan kaca jendela mobil sedikit, membiarkan sepoi angin luar masuk.

Dari balik kaca, Humairah melihat banyak orang jualan di sepanjang koridor jalan menuju pasar—ada pedagang sayur segar, penjual jajanan pasar, hingga toko kelontong yang ramai dikunjungi pembeli.

Suasana ini terasa begitu hangat, membumi, dan jauh dari kesan kaku yang selama ini ia rasakan di lingkungan dalam pesantren.

Fathan turun terlebih dahulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu dan membantu Humairah melangkah keluar.

Begitu kaki Humairah memijak teras, Bibi Ningsih yang berdiri menyambut seketika terpaku menatap wajah ayu menantu majikannya itu.

"Masya Allah, cantik sekali," ucap Bibi Ningsih spontan dengan kedua tangan menangkup di dada, terpesona oleh kelembutan wujud dan aura alimah yang terpancar dari diri Humairah meskipun wajahnya masih sedikit pucat.

Fathan tersenyum tipis, merasa dadanya dipenuhi rasa bangga sekaligus syukur.

Ia perlahan merapatkan posisinya di samping sang istri.

"Bibi, ini Humairah, istri saya," puji Fathan memperkenalkan belahan jiwanya dengan nada suara yang penuh penghormatan. "Dan Humairah, ini Bibi Ningsih. Beliau yang menjaga dan merawat rumah ini dari dulu, sejak rumah ini pertama kali saya beli."

Mendengar perkenalan itu, Humairah langsung mengulas senyum ramah.

Tanpa ragu sedikit pun, Humairah mengulurkan tangannya lalu mencium punggung tangan Bibi Ningsih dengan sangat takzim, memperlakukannya seperti orang tua sendiri.

Bibi Ningsih tersentak kaget, dengan cepat berusaha menarik tangannya kembali karena merasa tidak enak hati.

"E-eh, Nyonya, tidak usah begitu. Saya ini hanya seorang asisten rumah tangga, tidak pantas menerima penghormatan seperti ini dari Nyonya besar," ucap Bibi Ningsih merasa sungkan dan rendah diri.

Humairah menahan lembut jemari Bibi Ningsih, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan mata yang begitu teduh.

"Bi, panggil saya Humairah saja," ucap Humairah dengan suara yang lembut namun sarat akan ketulusan.

"Jangan panggil Nyonya. Di mata Allah, derajat kita semua sama. Tidak ada yang membedakan kita selain ketakwaan kita kepada-Nya."

Mendengar untaian kalimat bijak dan adab yang begitu mulia dari Humairah, air mata Bibi Ningsih hampir saja menitik karena haru.

Di dalam hatinya, wanita sepuh itu langsung tahu bahwa tuan mudanya telah memilih seorang ratu rumah tangga yang teramat tepat.

Sementara itu, Fathan yang berdiri di samping mereka hanya bisa terpaku, menatap lekat wajah istrinya dengan rasa kagum yang kian mendalam, menyadari betapa beruntung dirinya memiliki kesempatan kedua untuk memuliakan wanita berhati emas ini.

Fathan tersenyum hangat melihat interaksi akrab antara sang istri dan Bibi Ningsih.

Rasa lega kian membubung di dadanya. Setelah menutup pintu mobil, Fathan perlahan mendekati Humairah, menyentuh lembut siku istrinya dengan penuh kehati-hatian.

"Mari," Fathan mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah baru mereka.

Humairah mengangguk kecil, melangkah beriringan bersama Fathan melewati pintu kayu jati yang kokoh. Namun, begitu melintasi ruang tamu dan melangkah lebih dalam, langkah kaki Humairah seketika terhenti.

Kedua matanya membelalak kecil, menatap sekeliling dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan.

"Mas, dari luar rumah ini kecil, tapi dalamnya luas sekali," ucap Humairah spontan, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang tampak bersih dan tertata rapi. Untuk pertama kalinya, ia kembali memanggil Fathan dengan sebutan 'Mas' secara langsung, membuat hati pria di sampingnya bergetar hebat oleh rasa bahagia.

Rumah yang tampak minimalis dan bersahaja dari arah jalan raya itu ternyata menyimpan arsitektur yang luar biasa di bagian dalamnya.

Desain langit-langit yang tinggi berpadu sempurna dengan pencahayaan alami yang melimpah, menciptakan kesan lapang yang menyejukkan mata.

"Alhamdulillah, jika kamu menyukainya, Humairah," sahut Fathan dengan suara lembut, matanya tak lepas memandangi gurat binar di wajah istrinya.

Humairah melangkah perlahan ke area tengah. Di sana, terdapat sebuah ruangan terbuka yang dikelilingi oleh kaca pembatas transparan.

Di balik kaca itu, ada sebuah mushola keluarga yang berlantai kayu hangat, lengkap dengan sajadah berdampingan dan sebuah pembatas shalat yang anggun, tampak sangat syahdu untuk dijadikan tempat bersujud bersama.

Tepat di sebelah area mushola, terdapat sebuah taman semi-terbuka dengan kolam ikan yang jernih.

Suara gemercik air yang mengalir dari pancuran batu alam bersahutan dengan liukan indah ikan-ikan koi yang berwarna-warni, menghantarkan ketenangan batin yang instan ke dalam dada Humairah yang selama ini dipenuhi luka.

Tak hanya itu, rumah ini juga masih memiliki tingkat dua yang dihubungkan oleh tangga kayu berdesain estetik di sudut ruang keluarga, menambah kesan fungsional dan luas tanpa terkesan berlebihan.

"Aku memang sengaja mendesain rumah ini seperti ini sejak dulu," jelas Fathan perlahan, berdiri selangkah di belakang Humairah.

"Aku ingin rumah yang tenang untuk kita. Ada mushola kecil untuk kita shalat berjamaah, ada kolam ikan agar suasananya sejuk, dan lantai dua bisa kita gunakan untuk perpustakaan atau ruang belajar nanti. Semua ini kusiapkan untuk masa depan kita."

Humairah terdiam menatap gemercik air kolam, mencerna setiap kalimat yang keluar dari lisan suaminya.

Tempat ini terasa seperti surga kecil yang sengaja Allah siapkan untuknya setelah melewati badai besar di dapur pesantren.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Humairah bisa mengembuskan napas dengan sangat lega tanpa perlu merasa takut akan dihina lagi.

Setelah puas melihat keindahan area tengah rumah, Fathan kemudian mengajak dan membimbing istrinya untuk melanjutkan langkah, masuk ke dalam kamar utama mereka yang terletak di koridor bagian bawah.

Fathan memutar kenop pintu kayu jati dengan perlahan, lalu mendorongnya terbuka lebar.

Kamar itu tampak begitu bersih, wangi, dan menenangkan.

Desain interiornya minimalis dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah kolam ikan di luar, membuat suara gemercik air yang syahdu terdengar samar-samar sampai ke dalam.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah tempat tidur yang cukup luas dengan seprai berwarna putih bersih yang tampak sangat empuk dan nyaman.

Namun, ada satu hal yang langsung disadari oleh Humairah saat mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan—di kamar ini sama sekali tidak ada sofa atau dipan kecil lainnya. Yang ada hanya ranjang besar itu dan sebuah lemari pakaian.

Menyadari arah pandangan istrinya yang tertuju pada kekosongan sudut kamar, Fathan mendadak merasa canggung.

Rasa bersalah dan cemas seketika kembali merayap di dalam dadanya.

Ia berjalan mendekati sisi ranjang, lalu menatap Humairah dengan sorot mata yang penuh dengan kehati-hatian serta penghormatan terhadap privasi batin istrinya.

"Tempat tidurnya memang hanya ada satu, Humairah. Dan di sini tidak ada sofa," ucap Fathan, suaranya merendah penuh ragu.

Ia meraih sebuah guling yang terletak di atas kasur, lalu meletakkannya tepat di bagian tengah kasur, membentang panjang sebagai sekat pemisah yang tegas.

"Kamu bisa membatasinya dengan menaruh guling di tengah untuk kita tidur kalau kamu belum siap. Aku tidak akan melewati batas ini tanpa izin darimu."

Fathan menghentikan kalimatnya sejenak. Tangannya perlahan bergerak naik, mengelus pipi kanannya sendiri dengan gerakan lambat. Tatapannya mendadak berubah menjadi sendu.

"Aku takut kamu tampar lagi," ucap Fathan dengan senyuman kecut yang dipaksakan, mencoba mencairkan suasana meskipun hatinya terasa getir.

Ia ingat bagaimana saat istrinya menamparnya dengan begitu keras saat di rumah sakit beberapa hari lalu.

Tamparan yang lahir dari rasa trauma, jijik, dan luka mendalam akibat perbuatan kasarnya semalam sebelum Humairah tumbang.

Fathan tahu diri; ia tidak ingin mengulangi kesalahan egois yang sama.

Baginya, keberadaan guling pembatas ini adalah bentuk penghormatannya demi mengembalikan rasa aman di dalam hati Humairah, sampai wanita itu benar-benar siap menerimanya kembali sebagai seorang suami seutuhnya.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!