NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SARAPAN YANG KACAU

Sinar matahari Roma yang cerah menerobos masuk melalui celah-celah gorden sutra, menggelitik kelopak mata Alesha.

Ia mengerang, menarik selimut bulu angsa yang terlalu lembut itu hingga menutupi kepalanya.

Untuk sejenak, ia lupa di mana ia berada sampai aroma kayu cendana yang samar dan dingin menyapa indra penciumannya, mengingatkannya pada pria kursi roda yang kini menjadi suaminya.

Alesha bangkit dengan rambut berantakan. Ia menatap ke sekeliling kamar yang luasnya tidak masuk akal itu.

Semangatnya tiba-tiba bangkit.

"Baiklah, Alesha. Jika kau harus dipenjara di sini, setidaknya kau harus tahu di mana lubang tikusnya," gumamnya pada diri sendiri.

Setelah mandi kilat dan mengenakan pakaian santai celana jeans belel dan kaus oblong yang ia ambil dari kopernya dan mengabaikan deretan gaun desainer yang sudah digantung rapi oleh pelayan di lemarinya.

Alesha melangkah keluar.

Namun, baru saja ia menuruni tangga megah menuju lantai bawah, sesosok pria tua dengan setelan jas hitam yang kaku seperti papan cucian sudah berdiri menunggunya.

"Selamat pagi, Nyonya Al-Ricci," ucap pria itu dengan suara datar dan membungkuk tepat empat puluh lima derajat.

"Saya adalah Marcello, kepala pelayan Villa ini. Tuan Matteo sudah menunggu di ruang makan. Mari saya antar."

Alesha mengangkat sebelah alisnya.

"Aku bisa jalan sendiri, Marcello. Dan jangan panggil aku Nyonya, rasanya seperti aku berumur delapan puluh tahun."

"Aturan di rumah ini sangat ketat, Nyonya," potong Marcello tanpa ekspresi, seolah ia adalah robot yang baru saja diprogram ulang.

"Anggota keluarga Al-Ricci harus menjaga martabat. Makan pagi dimulai tepat pukul delapan. Tidak boleh terlambat, tidak boleh berpakaian tidak pantas, dan tidak boleh berbicara kecuali ditanya."

Alesha mendengus keras.

"Itu sarapan atau ujian militer? Minggir, aku lapar."

Alesha mengikuti Marcello menuju ruang makan yang terlihat lebih mirip aula kerajaan.

Di meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati kuno, sudah tersedia piring-piring perak berisi croissant kecil, keju, dan buah-buahan yang dipotong terlalu sempurna.

Semuanya terlihat cantik, tapi bagi perut Alesha yang terbiasa dengan nasi uduk dan gorengan, itu hanyalah camilan penunda lapar.

"Hanya ini?" Alesha menunjuk piring peraknya dengan raut wajah tidak percaya.

"Ini adalah menu sarapan standar yang sehat untuk keluarga bangsawan, Nyonya," jawab Marcello kaku.

Alesha memutar bola matanya.

"Sehat? Ini namanya menyiksa diri. Di mana dapurnya?"

Marcello terperanjat, matanya membelalak.

"Dapur? Nyonya, seorang istri dari Tuan Al-Ricci tidak diperbolehkan menginjakkan kaki di dapur. Itu adalah tempat para pelayan dan koki profesional."

"Persetan dengan aturanmu," Alesha melangkah pergi, mengabaikan seruan panik Marcello.

Ia mengikuti instingnya dan aroma bawang putih yang samar menuju bagian belakang Villa.

Begitu ia membuka pintu dapur yang luas dan modern, empat orang koki berseragam putih bersih langsung mematung.

Mereka menatap Alesha seolah-olah ada alien yang baru saja mendarat.

"Siapa yang sedang memasak? Aku butuh kompor," ujar Alesha sambil menyingsingkan lengan kausnya.

"Tapi... tapi Nyonya..." salah satu koki mencoba memprotes.

"Geser," perintah Alesha dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Dengan gerakan cekatan yang hanya dimiliki oleh orang yang sering bertarung di dapur, Alesha menyambar sebuah wajan besi.

Ia mengambil nasi sisa dari penanak nasi besar, memotong bawang putih dengan kecepatan tinggi, dan mengocok dua butir telur.

Para koki hanya bisa menonton dalam diam, ngeri melihat seorang wanita bangsawan sedang "berperang" dengan minyak panas.

Sepuluh menit kemudian, aroma harum nasi goreng yang tajam dan menggoda memenuhi dapur.

Tapi Alesha belum selesai. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi sambal terasi buatan ibunya yang sempat ia selundupkan dari kopernya.

"Nah, ini baru namanya makanan," gumam Alesha puas.

Ia membawa piring porselennya yang berisi nasi goreng menggunung, lengkap dengan telur mata sapi yang pinggirannya garing, kembali ke ruang makan.

Marcello yang menunggunya di depan pintu hampir pingsan melihat Nyonya mudanya membawa piring sendiri tanpa alas nampan.

Alesha mendorong pintu ruang makan yang berat dan melangkah masuk. Di sana, di ujung meja yang jauh, Matteo sudah duduk di kursi rodanya.

Pria itu sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca koran ekonomi. Ia terlihat sangat rapi, sangat tenang, dan sangat membosankan.

Brak!

Alesha meletakkan piringnya di atas meja tepat di depan kursi yang ia pilih, tepat di samping Matteo, bukan di ujung meja yang jauh.

Matteo perlahan menurunkan korannya. Hidungnya berkerut saat aroma tajam bawang putih dan terasi menusuk udara ruang makan yang biasanya hanya berbau bunga lili segar.

Ia menoleh ke samping, menatap gundukan nasi goreng di piring Alesha, lalu menatap Alesha yang sedang sibuk menuangkan sambal dari botol kecilnya.

"Apa yang kau lakukan?" suara Matteo terdengar datar, namun ada nada kebingungan yang terselip di sana.

"Makan pagi. Kau punya mata, kan?" jawab Alesha ceplas-ceplos.

Ia menyendok nasi goreng dalam porsi besar dan memasukkannya ke mulutnya dengan nikmat.

"Hmm... enak sekali. Kau mau? Tapi mungkin lidah bangsawannmu akan terbakar kalau mencoba sambal ini."

Matteo menatap istrinya dengan pandangan tak percaya. Alesha makan dengan sangat tidak anggun.

Ada butiran nasi di sudut bibirnya, kakinya satu naik ke kursi meskipun ia segera menurunkannya setelah tersadar, dan suaranya saat mengunyah kerupuk terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu.

Marcello berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat pasi, siap untuk memanggil tim pembersih atau mungkin pengusir setan.

Baginya, perilaku Alesha adalah penghinaan terhadap sejarah keluarga Al-Ricci selama berabad-abad.

Matteo tetap diam.

Ia memperhatikan bagaimana Alesha makan dengan penuh semangat, seolah-olah itu adalah makanan terakhirnya di dunia.

Selama bertahun-tahun, meja makan ini hanya diisi oleh keheningan yang menyesakkan, bunyi denting sendok perak yang sopan, dan laporan-laporan bisnis yang kaku.

Rumah ini adalah monumen bagi martabat dan kedinginan.

Namun sekarang, wanita di sampingnya ini menghancurkan segalanya hanya dengan sepiring nasi.

Alesha mendongak, menyadari Matteo terus memperhatikannya.

"Apa? Kau mau memarahiku karena tidak pakai gaun pagi yang gatal itu? Atau karena aku memasak sendiri? Lakukan saja, tapi habiskan dulu kopi pahitmu itu. Kau terlihat butuh sedikit kebahagiaan dalam hidupmu, Matteo."

Alesha kemudian mendorong sepiring kecil kerupuk ke arah Matteo.

"Coba ini. Setidaknya hidupmu akan ada sedikit suaranya."

Matteo menatap kerupuk itu, lalu menatap Alesha. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan yang merenggut kemampuan berjalannya, Matteo merasakan sesuatu yang berbeda di dalam dadanya.

Bukan amarah, bukan juga rasa jijik.

Ia merasa ada "kehidupan".

Ada warna merah yang berani yang tiba-tiba terciprat ke atas kanvas abu-abunya yang membosankan.

Matteo kembali mengambil kopinya, namun kali ini sudut bibirnya berkedut sangat tipis hampir tidak terlihat.

"Kau benar-benar bencana bagi rumah ini, Alesha."

"Terima kasih atas pujiannya, Suamiku," jawab Alesha sambil nyengir, menunjukkan giginya yang putih sebelum kembali menyerang nasi gorengnya.

Matteo kembali membuka korannya, namun fokusnya tidak lagi pada angka-angka saham.

Ia mendengarkan suara kunyahan Alesha, menghirup aroma terasi yang aneh itu, dan menyadari bahwa penjara emasnya mungkin baru saja mendapatkan penghuni yang akan merobek semua aturannya.

Dan entah kenapa, ia tidak merasa keberatan.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!