Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Masa Lalu Arlan
Kebahagiaan malam itu tak bertahan lama setelah ponsel Arlan bergetar. Kedua bola mata Arlan membulat menatap layar ponselnya.
Safa yang berdiri di sampingnya sempat mengintip nama yang tertera pada panggilan itu. Seketika, seluruh kebahagiaan yang baru saja dirasakannya runtuh.
'Bianca'. Sebuah nama yang mampu membuat Arlan mematung dengan tatapan berkaca-kaca.
'Siapa dia? Apa dia kekasih Mas Arlan?' batin Safa bergemuruh.
"Safa, Mas ... " ucap Arlan tiba-tiba terhenti.
Safa menatap lekat sang suami. Seolah paham dengan situasi yang terjadi, ia hanya menatap Arlan dengan pandangan nanar dan pasrah.
"Maaf, Safa. Mas harus pergi. Pulanglah dulu bersama Egar, nanti aku akan jelaskan semuanya," ujar Arlan sambil berlalu.
Belum sempat Safa membalas ucapannya, Arlan buru-buru berlari menuju mobil dan melesat secepat kilat.
Farah, Egar, dan Luna bahkan melongo melihat Arlan yang begitu panik, hingga tega meninggalkan Safa di tengah momen kebahagiaan mereka.
Melihat tubuh Safa yang mulai limbung, Farah dan Luna segera berlari menghampiri. Mereka memapah Safa menuju tempat duduk di depan wahana biang lala.
"Ada apa, Safa? Kenapa Arlan pergi begitu saja?" tanya Farah tampak cemas.
Bukannya menjawab, Safa justru terisak. Air matanya luruh membanjiri pipi.
Pelukan hangat dari Farah justru membuat pertahanan Safa runtuh, ia menangis kencang hingga sesegukan. Sakit, rasanya begitu menyakitkan hingga ia tidak sanggup melontarkan satu kata pun.
Farah tak tega melihat sang sahabat hancur. Ia pun ikut menangis bersama, membuat Egar yang melihat mereka menjadi semakin bingung.
Lily yang memegang tangan ayahnya mengeratkan genggaman. "Ayah, kenapa Tante Farah dan Tante Safa menangis? Apa Om Arlan nakal sama Tante Safa?"
Egar mengangguk lemah. "Sepertinya iya, Lily. Om Arlan memang keterlaluan."
Egar merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Ia mendekat dan duduk di kursi dekat mereka.
"Melihat ekspresi panik Arlan tadi, mungkin dia kembali?" ucap Egar yakin.
Farah menoleh kesal. "Siapa yang kamu maksud?"
"Wanita itu. Kekasih Arlan."
Deg. Serasa ada beban berton-ton yang menghantam tepat di jantung Safa. Kenapa kebahagiaannya harus kembali direnggut secepat ini?
Seakan tak terima, Farah bangkit dengan napas menggebu-gebu. "Tapi sekarang dia sudah punya istri! Harusnya dia sudah mengakhiri hubungan itu, dong!"
"Dan kenapa sekarang wanita itu tiba-tiba datang lagi setelah sekian lama? Apa mereka tetap menjalin hubungan di belakang Safa selama ini?" cecar Farah kesal.
"Hubungan mereka sebenarnya sudah lama berakhir, jauh sebelum Safa datang. Tapi, tidak ada kata putus di antara mereka," sahut Egar.
Kedua mata Farah membelalak. "Apa? Kenapa bisa begitu?"
"Saya akan ceritakan semuanya. Saya tahu betul sejarah cerita mereka," timpal Luna yang tiba-tiba mendekat.
Egar mengangguk setuju, memberikan ruang bagi Luna.
Luna menghela napas panjang sebelum memulai ceritanya.
Beberapa tahun yang lalu, Arlan pernah meminta izin kepada keluarganya untuk menikah dengan kekasihnya, seorang model bernama Bianca.
Namun, rencana pernikahan itu ditolak mentah-mentah oleh keluarga Kusuma. Mengingat profesi dan latar belakang Bianca, mereka tidak ingin Arlan nantinya ditinggalkan begitu saja.
Luna bahkan menceritakan bahwa keluarga Kusuma meminta Bianca untuk menjauhi Arlan, bahkan sempat mengancam akan menghancurkan kariernya.
Karena Bianca sangat mencintai profesinya sebagai model, ia akhirnya memilih pergi dan meninggalkan Arlan. Saat itu, Arlan sangat terpuruk dan memilih menjauh dari keluarga. Bahkan pada acara pernikahan yang telah diatur oleh keluarganya pun, ia enggan datang.
Selama masa-masa kelam itu, Arlan tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun hingga akhirnya ia menikah dengan Safa. Luna bahkan sempat heran sekaligus lega saat Arlan mulai memperlakukan Safa dengan hangat—sebuah pertanda bahwa Arlan yang dulu telah kembali.
Namun, tiba-tiba wanita dari masa lalunya datang mengusik rumah tangga mereka. Luna pun tidak bisa berkata banyak jika ternyata Arlan masih menyimpan rasa. Bagaimanapun juga, mereka dulu saling mencintai dengan begitu dalam.
"Farah, aku mau pulang ke rumahmu malam ini ... hiks ... hiks ... " isak Safa di dalam pelukan Farah.
Farah mengusap-usap kepala Safa, mencoba menyalurkan ketenangan. "Iya, malam ini kamu menginap di rumahku saja. Biarkan saja Arlan menyesal karena sudah meninggalkan istri sebaik kamu."
Egar dan Luna hanya bisa pasrah. Melihat keadaan Safa yang sangat terpukul, Egar segera mengajak mereka semua untuk pergi dari sana.
Mobil melaju pelan membelah jalanan malam. Safa akhirnya terlelap di kursi belakang dalam dekapan Farah.
Egar melirik beberapa kali melalui kaca spion tengah untuk memastikan kondisi Safa baik-baik saja.
'Sialan kamu, Arlan. Bisa-bisanya kamu pergi begitu saja. Padahal aku tahu betul kalau di hatimu saat ini sudah mulai tumbuh rasa untuk Safa,' batin Egar sambil menggelengkan kepala, menyayangkan sikap sahabatnya.
Setengah jam berlalu, mobil berhenti tepat di depan rumah Farah. Egar sempat terpukau melihat betapa megahnya rumah sahabat Safa itu.
Rumah berlantai tiga dengan gaya klasik modern itu berdiri kokoh di atas halaman yang luas. Egar baru menyadari bahwa Farah ternyata anak dari keluarga kaya raya.
Safa dan Farah segera turun dari mobil. Farah terus mendekap tubuh Safa, khawatir jika sahabatnya itu tiba-tiba jatuh pingsan.
"Ya sudah, terima kasih ya. Aku masuk dulu," pamit Farah kepada Egar dan Luna.
Luna mengangguk. "Tolong jaga Non Safa, ya. Tolong kabari saya jika terjadi sesuatu dengannya."
Farah mengangguk, lalu berjalan perlahan sambil memapah Safa memasuki halaman rumah.
Begitu mereka melewati pintu gerbang, seorang petugas keamanan rumah segera berlari menghampiri.
"Loh, Non Farah? Ini Non Safa kenapa?" tegur sang penjaga cemas.
"Mang, tolong ambilkan kursi roda di gudang penyimpanan sekarang, ya?"
Petugas keamanan itu mengangguk cepat dan langsung berlari melaksanakan perintah.
Tak lama kemudian, ia kembali sambil mendorong sebuah kursi roda.
"Safa, duduklah di sini. Aku akan membawamu masuk ke atas," tutur Farah lembut.
Safa menggeleng lemah. "Tidak usah, Fa. Aku tidak apa-apa."
Namun Farah tetap bersikeras. Ia menarik pelan tangan Safa dan membimbingnya untuk duduk.
Dengan pasrah, Safa akhirnya menurut. Dengan wajah lesu dan tatapan kosong, ia didorong masuk ke dalam rumah.
Begitu mereka melangkah masuk, sang ibu yang tengah bersantai menonton televisi langsung tersentak kaget. Beliau bangkit dan bergegas menghampiri Farah dan Safa.
"Loh, Safa? Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya panik.
Farah menatap sang mama, lalu memberikan isyarat gelengan. "Nanti aku ceritakan, Bu. Sekarang aku mau bawa Safa naik ke atas dulu untuk istirahat."
"Ya sudah, ya sudah. Cepat bawa Safa istirahat," ujar ibunya sambil mengusap dada, merasa iba.
Farah mendorong kursi roda Safa menuju lift, lalu naik ke lantai tiga tempat kamarnya berada. Di sana, Safa langsung merebahkan tubuhnya yang terasa sama sekaLi tak bertenaga.
"Kasihan sekali ... Safa pasti sedang patah hati," lirih Farah hampir berbisik.
Setelah memastikan sahabatnya agak tenang, Farah membersihkan diri. Ia mengganti pakaiannya dan menyiapkan pakaian ganti untuk Safa.
Satu setel pakaian yang telah terlipat rapi itu diletakkannya di ujung ranjang. "Safa, pakailah ini kalau kamu sudah merasa agak tenang, ya? Aku turun ke bawah dulu menemui Ibu. Nanti aku bawakan makan malam ke kamar."
Farah melangkah menuju pintu.
"Farah ... terima kasih," ucap Safa parau.
Farah berbalik dan melempar senyum tulus. "Iya, sama-sama."
Begitu sosok Farah menghilang di balik pintu, tanggul pertahanan air mata Safa kembali jebol. Ia kembali terisak pilu saat bayangan suaminya melintas di benak.
Arlan memang tidak memukul ataupun membentaknya dengan kata-kata kasar, namun keputusannya untuk pergi malam ini rasanya sanggup mencabik-cabik hatinya hingga hancur. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia jatuh cinta, dan tragisnya, ini juga kali pertama ia merasakan patah hati yang teramat hebat.
Bayangan saat Arlan berbalik dan meninggalkannya terekam begitu jelas. Lagipula, pernikahan mereka sejak awal hanyalah karena perjodohan, bukan atas dasar cinta.
"Ayah, aku lelah. Aku ingin Ayah ada di sini ... " isaknya pilu sambil meringkuk, meremas bantal di pelukannya erat-erat.