“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”
Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.
Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SDUA 05
Sudah sepekan berlalu, akhirnya dua keluarga besar menyempatkan waktu untuk saling bertemu.
Di kediaman Dewangga. Rumah dengan sentuhan gaya semi modern terlihat elok nan memanjakan mata.
Di dalamnya, Nirmala tampak sibuk mempersiapkan hidangan dan jamuan untuk calon besan. Dibantu para bibi, adik ipar dan tentu saja Abimanyu ikut kerepotan.
Sementara di lantai dua, tepatnya di kamar Alyra. Perempuan berparas jelita tengah sibuk bersolek, merias diri, mempercantik penampilannya.
Rambut hitam pekatnya dibiarkan tergerai, polesan wajah tipis, ditambah perona bibir dan detail di area mata, sebuah bando sederhana disematkan pada pucuk kepala — sebagai pemanisnya.
“Untuk apa aku repot-repot merias diri? Untuk siapa aku bersolek?” gumamnya, helaan napas berat mengudara. “By the way … seperti apa rupa adiknya Ervino? Boro-boro rupa adiknya, lima tahun kami berpacaran, aku bahkan baru tahu kalau dia adalah putra sulung keluarga Pradana.”
Wajah berubah muram, begitu kesal bila dirinya menyebut nama mantan kekasihnya.
“Alyra! Cepat turun!”
Beberapa menit kemudian, Alyra melangkah pelan menuruni undakan tangga. Begitu anggun mengenakan gaun bercorak bunga mawar, berwarna kalem nan elegan, sangat pas di tubuh kurusnya, menyempurnakan kecantikannya yang paripurna.
Semua mata seolah terhipnotis, otomatis menatap, enggan berpaling.
“Wah … anak mama begitu mempesona,” puji mama Nirmala, tersenyum semanis gula.
Sementara di ruang keluarga, rombongan calon besan sudah berkumpul, duduk berjajar pada meja persegi panjang, dipenuhi macam-macam hidangan.
“Duduklah, Sayang.” Begitu lembut mama Nirmala menuntun putrinya, memintanya duduk di hadapan para rombongan.
Alyra menyapu rata dengan tatapan penasaran, batinnya sibuk menerka, yang manakah calon suaminya.
Yang hadir di sana, ada dua pria terlihat masih muda, cukup asing, mungkinkah salah satu di antaranya adalah calon suaminya?
“Kamu … terlihat cantik sekali, Alyra.” Tanpa sungkan Ervino memuji sang mantan tepat di hadapan istri sahnya. Dua hari yang lalu, dia dan Velisa telah resmi menikah.
Alyra hanya menatap enggan, membalas dengan senyuman. “Terima kasih, calon kakak ipar.”
Velisa menatap angkuh, tak sudi menyapa apalagi memuji penampilan Alyra.
“Yang manakah calon mempelai pria?” Abimanyu memandangi dua pemuda yang terbilang cukup menawan.
“Ini adalah keponakan-keponakan saya. Namanya Reno dan Fajar.” Dirham menunjuk pada pemuda berambut pirang, dan satunya lagi pemilik senyum ramah. “Putra kedua saya sedang dalam perjalanan. Dia memang sedikit bandel, memilih mengendarai motornya, tak mau berangkat bersama dengan rombongan,” jelasnya, disambung dengan tawa canggung yang dipaksakan.
“Ha ha ha!” Abimanyu ikut mengimbangi.
‘Dalam perjalanan? Lelaki macam apa dia? Tidak disiplin, padahal ini adalah malam yang penting.’ Alyra kembali menggerutu di dalam hati.
Tak lama kemudian, suara moge type Harley-Davidson terdengar merongrong di halaman rumah. Tanda kuda besi yang dikendarai sang pangeran telah tiba.
Alyra terlihat gugup, jantungnya tak mau berdetak tenang, terus memandangi arah pintu masuk.
“Assalamualaikum … maaf saya terlambat.”
“Waalaikumsalam ….”
Begitu sosok yang ditunggu-tunggu memasuki ruangan, Alyra seketika mendelik seolah tak percaya.
“Anda?” Wajahnya tercengang.
“Kau kah Erlando? Calon menantu saya?” Disambutnya hangat oleh Abimanyu, sosok rupawan berpakaian rapi, mengenakan setelan jas berwarna gelap.
Di belakangnya, sosok lain tak kalah rapi mengikuti seraya menenteng beberapa paper bag cukup besar.
Nirmala turut menyambut dengan senyuman sehangat mentari pagi. "Nak Erlan, silakan masuk."
“Maaf, Tante, saya terlambat. Sebab harus mampir ke toko membelikan buah tangan untuk calon istri saya.” Erlando memandangi Alyra dengan tatapan jenaka.
Yang dipandangi terlihat bingung. Berusaha mencerna, sorot matanya masih belum percaya.
‘Bukankah … dia si curut itu?’ Ia mengingat awal pertemuan tak menyenangkan dengan calon suaminya.
“Ma, apa-apaan ini?” Alyra menuntut kejelasan dari mamanya.
“Dia Erlando, adiknya Ervino. Calon suamimu, Sayang,” sahut mama Nirmala santai. “Duduklah, Nak Erlan.” Ia beralih ke calon mantu.
Kedua keluarga terlihat hangat bercengkrama, meski di antaranya ada yang berwajah muram, kesal, malas dan enggan berlama-lama.
‘Erlando … Ervino … kebetulan macam apa ini?’ batin Alyra.
Dadanya naik-turun menahan kesal, begitu dongkol hatinya setiap kali menatap wajah tampan Erlan yang jenaka. Sejak awal bertemu, keduanya memang tak memperlihatkan kecocokan, beradu mulut, saling melempar tatapan sinis.
“Alyra mau ke toilet dulu, Ma,” bisiknya pada sang mama yang duduk di sebelahnya.
“Baiklah, jangan lama-lama.”
Alyra memundurkan kursi, beranjak dan melangkah pergi.
Erlan diam-diam mengawasi, ia turut bangkit, mengikuti langkah Alyra menuju kamar mandi.
Ervin yang menyadari menatap penasaran, sorot matanya mengawasi gerak-gerik adik laki-lakinya. ‘Mau ke mana mereka? Dan mau apa?’
Sementara di ruang lain, Alyra baru saja selesai dengan urusan di toilet. Begitu membuka pintu keluar, ia dikejutkan dengan hadirnya sosok tinggi berbadan tegap.
Berdiri menyandarkan bahu di dinding berwarna abu-abu.
Erlan menoleh, menatap penuh maksud. “Hai, Calon Istriku.”
“Dih!” Alyra merespon tak suka.
“Akhirnya kita bertemu lagi. Kau masih mengingatku, ‘kan? Macan betina?” Alis tebal Erlan naik turun disertai seringai mengejek.
Alyra hanya menatap jengah.
“Ada yang ingin saya bicarakan, berdua saja,” ujar Erlan, menatap dingin pada calon istri.
“Tentang apa?”
“Saya tidak suka basa-basi, jadi, mari kita bicarakan langsung ke intinya.” Pemuda tampan itu menegakkan tubuh, tangan terselip di saku celana, menatap tegas Alyra. “Kita akan menikah dan bercerai setelah satu tahun. Saat anakmu telah lahir—”
“Oke.” Tanpa mendengar kalimat lebih lanjut. Alyra langsung menjawab untuk setuju.
“Kau tak ingin mendengar alasanku menerima perjodohan ini?” Erlan menatap heran, alisnya terangkat sebelah.
“Nggak perlu. Saya yakin … kita berdua memiliki tujuan dan alasan masing-masing untuk menerima perjodohan gila ini.” Sudut bibir Alyra terangkat tipis. “Siapa pula yang sudi menikahi gadis yang telah dinodai oleh kakaknya? Selain nggak waras, pria itu pasti memiliki rencana untuk memanfaatkan si wanita.”
Erlan terdiam, hanya mengamati dengan raut wajah tenang, namun isi kepala sudah pasti bergemuruh.
'Gadis ini ... Cukup unik,' batin Erlan. 'Bila perempuan lain, ia pasti akan menodong kesepakatan dengan jaminan menjanjikan. Uang milyaran, rumah mewah, mobil atau aset lain yang bernilai cukup tinggi.' Dahinya berkerut terheran.
“Biar saya tegaskan. Nggak masalah kalau Anda ingin memanfaatkan status pernikahan kita, selama masih saling menguntungkan.” Alyra menatap berani, seolah sorot mata dingin Erlan tak sedikitpun membuatnya terintimidasi. “Tapi Anda harus tahu batasan. Jangan libatkan perasaan di antara kita berdua, anggap saja ... semacam pernikahan bisnis.”
“Ha ha ha!” Wajah yang semula kaku tanpa ekspresi, seketika tertawa lepas. “Kau lucu sekali, Nona Alyra.”
Alyra tak merespon, tatapan masih membidik tegas.
“Apakah di wajahku ini terlihat ada ketertarikan terhadapmu? Jangan ngawur, saya sama sekali tak tertarik.” Erlan masih berdiri, kemudian mengulurkan tangan. “Baiklah, mari berjabat tangan untuk tanda kesepakatan.”
.
.
.
Suara denting sendok beradu dengan piring masih menggema di ruang luas berhias lukisan pegunungan di dinding rumah Dewangga.
Alyra menekuk wajah, sama sekali tak menikmati jamuan yang dihidangkan. Meski Mama Nirmala tak menggunakan bawang putih, bumbu yang biasanya memicu rasa mualnya, tetap saja, selera makannya hilang begitu saja.
“Kamu lagi nggak enak badan, Sayang?” Mama Nirmala berbisik, tangan menyentuh dahi sang putri.
Alyra menggelengkan kepala. “Nggak, Ma.”
Sementara di seberangnya, sosok rupawan duduk memasang raut wajah tanpa ekspresi, tatapan tak lepas dari Alyra.
‘Apa maunya? Mengapa menatapku seperti itu? Udah kayak mau menerkamku hidup-hidup!’ batin Alyra.
“Bagaimana, kapan pastinya tanggal pernikahan ditentukan?” Abimanyu kembali membuka suara, memastikan.
“Besok. Saya akan menikahi Alyra besok!” Kini Erlan menatap yakin pada Abimanyu.
“Besok?” Nirmala membelalak.
“Mengapa buru-buru?” Ervin menyela, wajahnya menegang penuh tanya.
“Kenapa? Bukankah lebih cepat justru lebih baik?” Erlan masih tampak tenang, sorot matanya tak berubah sedikit pun, tetap setajam sebelumnya.
“Apa yang membuatmu begitu yakin sehingga ingin mempercepat pernikahanmu dengan putriku, Erlando Pradana?” Tak ada raut teduh, Abimanyu menatap tegas.
“Tentu saja saya yakin karena ….” Erlan menggantung kalimat, memandang lekat calon istrinya. “Karena Alyra begitu cantik, membuat saya ingin segera memilikinya seutuhnya.”
“Hah? Apa?” Tentu saja Alyra terkejut tak percaya.
“Kalau begitu, kita sepakati saja tanggal 30, besok malam,” ujar Dirham sambil menatap satu per satu anggota keluarga.
“Besok?” Alyra tampak masih belum yakin. “Cepat sekali.”
“Semakin cepat, semakin baik,” sahut Erlan lagi, tatapan mata mencoba meyakinkan. “Lagipula semua persiapan inti sudah hampir selesai.”
“Hampir selesai?” Kini Dirham menatap penuh tanya pada putra keduanya. “Siapa yang mengurusnya?”
“Andi sudah mengatur semuanya.” Erlan menatap bangga pada asistennya. “Ya, 'kan, Andi?”
“Benar, Tuan. Saya sudah mengatur gedung dan vendor untuk acara besok malam,” sahut Andi, duduk di kursi paling ujung.
“Ku akui, Erlan lebih pemberani dibanding kamu, Vin,” bisik Velisa tepat di sisi telinga suaminya. “Dia juga sat set,” tambahnya lagi.
Ervin tak menanggapi, sibuk mengendalikan diri, dadanya terasa sesak sekali.
“Entah keturunan siapa Erlando itu. Padahal ayahnya tak pernah bersikap senekat itu,” gumam Zaskia, yang sejak tadi diam, kini mulai bersuara lirih.
Mama Nirmala mengangguk pelan. Tapi sorot matanya masih penuh tanya. “Sudah disiapkan semuanya, secepat itu?”
“Iya, Tante. Karena saya tak ingin lagi menunda-nunda, takut bila Alyra berubah pikiran dan menolak perjodohan. Saya … sudah jatuh hati padanya saat pertama kali melihat fotonya, saya tak sanggup bila harus merelakannya.” Erlan mengulum senyum, menatap penuh damba pada calon istrinya.
‘Tak kusangka … pria jenaka ini sangat pandai bersandiwara.’ Alyra memicingkan mata. 'Baru beberapa menit yang lalu dia memintaku untuk bercerai setelah menikah selama satu tahun. Dan sekarang ... Dia berkata semanis itu dan menipu semua orang.' Dia menggeleng pelan.
Suasana mendadak hening beberapa detik, hingga Abimanyu kembali bersuara.
“Jadi, semuanya setuju?”
‘Orang waras mana yang mau menikah paksa secepat itu?’ batinnya berteriak tak setuju, tetapi kepalanya mengangguk. Alyra kembali menunduk.
*
*
Bersambung.