NovelToon NovelToon
TIDAK ADA MAAF

TIDAK ADA MAAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis Ringkas

Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.

Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.

Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.

Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.

Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.

Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.

Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Mulai Mengganggu

Kayla sama sekali tidak berniat menyentuh ponsel yang tergeletak diam di atas kasur itu. Ia hanya duduk kaku di depan meja rias kecilnya, menatap layar benda pipih itu yang perlahan meredup dan kembali gelap, seolah menyembunyikan pesan yang baru saja membuat hatinya bergemuruh hebat. Di balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, suara gemericik air terdengar samar dan konstan, menjadi satu-satunya penanda bahwa ada orang lain di ruangan itu bersamanya.

Bianca 🌹

Nama itu lagi. Nama yang akhir-akhir ini terlalu sering terlintas di telinganya, dan kini disertai dengan simbol bunga mawar kecil yang terasa begitu manis, namun entah kenapa justru membuat dada Kayla semakin terasa tidak nyaman, perih, dan sesak.

Kayla menundukkan wajah pelan, membiarkan rambutnya menutupi sebagian sisi wajah. Ia mencoba mengumpulkan akal sehatnya, mencoba bernegosiasi dengan dirinya sendiri agar tidak berpikir yang bukan-bukan.

Mungkin itu hal yang biasa saja. Mungkin memang begini gaya bercanda rekan kerja di kantor mereka sekarang. Mungkin aku yang terlalu sensitif dan berlebihan.

Ia terus berbisik pada hatinya, meyakinkan diri sendiri bahwa hubungan rumah tangga yang baik itu dibangun di atas kepercayaan. Bukankah hubungan tanpa kepercayaan hanya akan berakhir buruk dan hancur?

Namun malam itu, meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuang rasa curiga itu, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah… Kayla membaringkan tubuhnya di atas kasur besar itu dengan perasaan yang tidak tenang. Matanya lama sekali tak mau terpejam, pikirannya berputar tak berujung, dan rasa dingin perlahan merayap di sela-sela jemarinya.

 

Keesokan paginya, suasana di apartemen itu terasa lebih terburu-buru dari biasanya.

Adrian bergerak cepat, seolah sedang dikejar waktu. Ia bahkan hampir tidak menyentuh sarapan yang sudah disiapkan Kayla dengan rapi di meja makan. Piringnya masih penuh, kopinya masih mengepul hangat, namun pria itu sudah berdiri di dekat pintu dengan tas di tangan.

“Kamu pulang malam lagi?” tanya Kayla pelan, suaranya terdengar hati-hati sambil menuangkan air ke gelas.

“Mungkin,” jawab Adrian singkat, matanya sibuk mengecek jadwal di ponselnya.

“Kalau begitu… makan malam di rumah saja ya? Aku masak sesuatu yang kamu suka,” tawarnya penuh harap, berusaha mencari celah agar bisa bertemu suaminya lebih lama lagi hari ini.

“Nggak usah nungguin. Belum tahu jam berapa aku selesai,” potongnya cepat.

Jawaban tegas dan dingin itu kembali membuat dada Kayla terasa kosong, seolah ada bagian yang hilang dan jatuh berderai. Meski begitu, ia tetap mengangguk kecil, menelan segala rasa kecewa yang mulai naik ke kerongkongannya.

“Oke,” jawabnya pelan saja.

Adrian berdiri tegak, merapikan letak jam tangannya di pergelangan tangan. Sebelum melangkah keluar, matanya sempat melirik sekilas ke arah Kayla yang berdiri diam di dekat dapur. Wanita itu hanya mengenakan pakaian tidur sederhana, rambutnya diikat asal-asalan ke belakang kepala, dan wajahnya terlihat polos tanpa sedikit pun riasan.

Tatapan itu hanya berlangsung sepersekian detik. Namun dalam detik itu, tanpa sadar pikiran Adrian berkelana ke sosok lain. Ia membandingkan Kayla dengan Bianca yang selalu tampil rapi, wangi, berpenampilan modis, dan selalu terlihat cerah setiap kali mereka bertemu di kantor.

Pikiran itu muncul begitu saja, tiba-tiba dan jelas. Dan anehnya… Adrian sama sekali tidak merasa bersalah memikirkannya.

“Yaudah, aku berangkat dulu,” ucapnya datar, lalu berbalik badan.

Kayla tersenyum kecil, senyum yang berusaha sekuat tenaga tetap terlihat hangat.

“Hati-hati di jalan ya.”

Pintu tertutup rapat. Bunyi kunci diputar terdengar pelan. Dan sekali lagi, apartemen kecil itu kembali tenggelam dalam keheningan yang panjang.

 

Siang harinya, saat Kayla sedang sibuk melipat tumpukan pakaian kering di ruang tengah, ponselnya bergetar di sebelahnya. Nama Celine terpampang jelas di layar, sahabat dekatnya sejak masa kuliah dulu.

“Halooo, nyonya muda!” suara ceria dan renyah Celine langsung memenuhi telinga Kayla begitu ia mengangkat telepon.

Kayla tersenyum kecil, sedikit terhibur mendengar suara itu. “Apaan sih, teriak-teriak,” jawabnya pelan.

“Kamu ngapain aja sih di rumah terus? Nggak bosan apa ngadep tembok terus?” tanya Celine tanpa jeda.

“Biasa saja. Ada-ada saja kerjanya,” jawab Kayla santai.

“Bohong besar. Aku kenal kamu lho,” tuduh Celine dengan nada bercanda tapi serius.

Kayla diam sejenak, tangannya berhenti melipat kaos milik Adrian. Celine memang mengenalnya terlalu baik, lebih baik dari siapa pun, bahkan mungkin lebih baik dari Adrian sekarang.

“Ayo dong keluar sebentar sama aku! Aku lagi ada di mal yang dekat banget sama apartemenmu, nih,” bujuk Celine dengan nada memohon.

“Nggak ah. Males keluar,” tolak Kayla pelan.

“Alasan saja! Kamu males dandan ya? Nah, itu dia masalahnya! Kamu sadar nggak sih, akhir-akhir ini kamu kayak ngilang gitu aja dari dunia luar? Kayak nggak ada kehidupan lain selain rumah dan suami,” ucap Celine sedikit menegur tapi tetap lembut.

Kalimat itu menohok tepat ke hati Kayla. Ia diam, menunduk menatap pakaian di tangannya.

“Iya ya…” gumamnya lirih.

“Duh, ayolah! Keluar sebentar saja. Aku kangen ngobrol sama kamu, lama banget nggak ketemu. Sekali-sekali hibur diri sendiri, dong,” rayu Celine lagi.

Akhirnya, setelah dibujuk cukup lama dan tak kuat menolak lagi, Kayla pun mengalah.

 

Satu jam kemudian, Kayla sudah duduk di sebuah sudut kafe yang nyaman dan sejuk di dalam mal itu. Ia mengenakan blus putih sederhana yang longgar, dan sedikit mengoleskan pewarna bibir yang warnanya lembut, barang yang hampir sudah lama tak disentuhnya di dalam laci.

Dan perubahan kecil itu ternyata sudah cukup membuat mata Celine terbelalak tak percaya begitu melihatnya datang.

“NAH KAN! Benar kan apa kata aku?” seru Celine heboh sambil menunjuk wajah sahabatnya itu. “Cantik banget gini malah dikurung-kurungin di rumah. Sayang banget tahu nggak?”

Kayla langsung tersipu malu, menunduk sambil membetulkan ujung bajunya. “Berlebihan banget sih kamu. Cuma pakai baju rapi sedikit saja,” elaknya.

“Serius, Kay. Kamu tuh dasarnya emang cantik, pinter, segalanya. Kamu cuma capek saja dan lupa merawat diri. Lihat tuh, kalau begini kan cemerlang lagi matanya,” puji Celine tulus.

Kayla tersenyum kecil. Rasanya sudah sangat lama sekali tidak ada yang mengatakan hal-hal manis dan membanggakan seperti itu padanya. Sudah lama sekali ia hanya dianggap sebagai pelengkap rumah tangga saja.

Mereka mengobrol panjang lebar, membahas banyak hal, sampai akhirnya Celine berhenti bicara. Matanya menyipit curiga, menatap lekat-lekat wajah Kayla.

“Kay…”

“Hm?”

“Rumah tangga kamu… baik-baik saja kan? Kamu kelihatan beda banget lho, bukan cuma penampilan tapi auranya juga.”

Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba dan langsung pada intinya.

Kayla refleks memainkan sedotan minumannya, matanya menatap ke mana-mana kecuali ke arah Celine. “Baiklah. Biasalah, gitu-gitu saja,” jawabnya berusaha santai.

Celine langsung mendecakkan lidah kesal. “Aku kenal kamu kayak kenal telapak tangan sendiri, Kay. Kamu nggak bisa bohongin aku. Ada apa? Cerita saja.”

Kayla terdiam. Keheningan menyelimuti meja mereka beberapa detik yang terasa panjang.

“Adrian… akhir-akhir ini dia sibuk banget,” jawabnya pelan, suaranya bergetar sedikit.

“Cuma sibuk kerja? Atau ada hal lain?” desak Celine lembut.

Kayla ingin menjawab cepat, ingin membela suaminya. Namun entah kenapa, tenggorokannya terasa berat sekali, seolah ada benjolan besar yang menghalangi kata-katanya keluar.

“Aku nggak tahu, Cel… aku beneran nggak tahu…”

Dan untuk pertama kalinya, di depan sahabatnya itu, ia mengakui keraguannya dengan suara keras.

Celine menatapnya lama, matanya penuh rasa iba dan perhatian. Ia mengulurkan tangan, menggenggam jemari Kayla pelan di atas meja.

“Dengar ya. Kalau ada apa-apa, apa pun itu, atau kalau kamu cuma butuh tempat cerita atau nangis, selalu ada aku di sini ya. Jangan dipendam sendiri.”

Kayla mengangguk pelan sambil tersenyum haru. Namun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, rasa takut itu mulai tumbuh besar. Ia mulai takut dengan jawaban yang mungkin akan ia temukan nanti.

 

Malam harinya, Kayla memutuskan untuk berjuang lagi. Ia memasak lebih banyak dan lebih teliti dari biasanya. Ia membuat pasta carbonara, makanan favorit Adrian yang butuh waktu lama untuk menyiapkannya. Bahkan sebelum suaminya pulang, ia sempat berdandan sedikit, tidak berlebihan, hanya merapikan rambutnya dan mengenakan gaun rumah lembut berwarna krem yang dulu sering dipuji Adrian.

Ia ingin mencoba lagi. Ia berharap hubungan mereka hanya sedang lelah, sedang di fase jenuh, dan butuh sedikit usaha ekstra untuk kembali hangat. Bukankah pernikahan memang harus diperjuangkan oleh kedua belah pihak?

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam ketika suara kunci diputar akhirnya terdengar. Pintu terbuka. Adrian masuk.

Kayla langsung berdiri menyambutnya, jantungnya berdebar penuh harap. “Kamu pulang.”

Namun langkah kakinya terhenti di tengah jalan. Hidungnya menangkap aroma parfum yang samar menempel di baju Adrian. Aroma yang manis, mewah, dan jelas bukan miliknya.

Adrian terlihat sangat lelah, wajahnya kusam, sambil melepas jas kerjanya dan menggantungkannya sembarangan.

“Kamu masak lagi?” tanyanya datar, melihat meja makan yang tertata indah.

“Iya. Aku bikin pasta favorit kamu, lho. Lama banget masaknya,” jawab Kayla riang, berusaha menutupi kegelisahannya.

Adrian duduk di kursi, namun tangannya langsung meraih ponsel yang tak pernah lepas dari genggamannya. “Nanti saja aku makannya.”

“Nanti dingin lho, nggak enak lagi rasanya…” bujuk Kayla pelan.

“Aku nggak terlalu lapar. Capek saja,” potongnya singkat tanpa menoleh.

Kayla berdiri diam beberapa detik, rasa kecewa itu kembali datang. Perlahan ia menarik kursi di hadapan Adrian dan duduk menatapnya.

“Adrian…”

“Hm?”

“Kita… akhir-akhir ini kenapa ya? Rasanya kita makin jauh.”

Pertanyaan yang sudah lama tersimpan itu akhirnya keluar juga, meluncur dari bibirnya dengan penuh rasa sakit.

Adrian perlahan mengangkat kepala. Dan untuk pertama kalinya malam itu, raut wajahnya terlihat jelas, bukan hanya lelah, tapi juga terlihat kesal dan terbebani.

“Nggak ada apa-apa. Kamu saja yang berlebihan,” jawabnya ketus.

“Tapi kamu berubah, Adrian. Kamu dingin, kamu sibuk, kamu jarang ada waktu buat aku…”

“Kayla,” Adrian mengembuskan napas kasar, memotong ucapannya. “Aku kerja capek-capek tiap hari buat kita. Aku cari uang, aku pikirin masa depan. Jangan mulai drama, can you? Aku lagi nggak mau ribut.”

Kalimat itu melayang di udara, lalu menghantam dada Kayla tepat di ulu hati.

Drama.

Jadi segala perasaannya, segala kekhawatirannya, segala usahanya… semuanya dianggap drama sekarang.

Kayla buru-buru menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai memerah dan berair. Ia tak ingin Adrian melihatnya menangis.

“Aku cuma… pengen ngobrol biasa saja. Pengen kita kayak dulu lagi…” suaranya terdengar parau dan lemah.

“Aku lagi pusing, tolong diam dulu ya,” jawab Adrian sambil mengusap pelipisnya kasar.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan menjadi penanda waktu.

Beberapa detik kemudian, Adrian berdiri dari kursinya, meninggalkan makanan yang masih utuh di piringnya.

“Aku mandi dulu. Mau istirahat,” ucapnya dingin.

Dan sekali lagi, persis seperti malam-malam sebelumnya…

Kayla ditinggalkan sendirian di meja makan itu, di antara hidangan yang sudah mulai dingin, dan pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

 

1
falea sezi
laki serakah dikira pusat dunia istrimu cm. kamu🤣 wahai tukang selingkuh
Agus Tina
Baru sadar kau Adrian, memang orang akan selalu menggebu2 ketika mengejar sesuatu tapi akan lupa setelah mendapatkannya, bahkan terkadang malah menyia2kan yg sudah m3njadi miliknya bahkan ada yg berusaha untuk menggapai lagi sesuatu yg berbeda ...
Agus Tina
Ceritanya bagus ...
Titien Prawiro
Tinggal kabur sono k Luar Negri biar suamimu klabakkan. apa mungkin tambah senang klo kamu tinggal.
wiwi: sabar sabar🤭
total 1 replies
Titien Prawiro
Balas omongan Suamimu Kayla, kamu juga jgn dekat2 sama Bianca
wiwi: iya kak🤣
total 1 replies
Uthie
Penasaran bagaimana keputusan Kayla . apakah akan tetap mempertahankan.... atau kah.. melepaskan 😏😏😏😏
wiwi: ikuti terus yah Kak, ini update tiap hari kok
total 1 replies
Uthie
Laki egois 😡
harus nya lebih banyak lagi tadi di balikin kata-kata soal kedekatan antara laki dan perempuan kepada si Adrian yg kemarin dia lebih parah deketnya sama si ulet Bianca itu 😡😡👍
Titien Prawiro
Kasih gebrak kan untuk Kayla thor, melawan Adrian gitu atau diemin jgn diajak bicara. meremehkan istri penurut.
Titien Prawiro
Kamu masih muda Kayla, sebelum terlambat mending selidiki suamimu, kalau dia selingkuh lepaskan, dan raihlah cita2mu. jgn mengharap suami gk jujur.
Titien Prawiro
Lelaki klo sdh berubah pasti ada sesuatu. gercep gitu lho.
wiwi: iya kak🤭
total 1 replies
Titien Prawiro
Selidiki jgn lemot gitu, nanti menyesal.
wiwi: makasih udah mampir🙏
total 1 replies
Titien Prawiro
Kalau aku suami seperti itu diemin saja, jgn diladeni apapun itu sarapan minum bahkan jgn diajak bicara, diamkan saja. pengumuman tahu reaksinya.
Titien Prawiro: pengin tahu kok jadi tulisan bisa pengumuman.
total 1 replies
Titien Prawiro
coba selidiki, cobalah intai di kantornya, atau sewa detektif swasta, biar lekas tahu kelakuan suamimu. punya perempuan lagi.
falea sezi
bukti uda ada ss sebagai bukti cerai🤣
falea sezi
cerai aja kay laki mu paleng jg selingkuh
wiwi: iya nih kak🤭
total 1 replies
Agus Tina
Mampir dan di awal cerita bagus ... lanjjut
Uthie
lanjuuttttt lagiiiii Thor 🔥🔥🔥
wiwi: iya kak🤭
total 1 replies
Uthie
Kadang seseorang itu gak nyadar, kalau diri nya juga melakukan hal yg sama😡

dan saat hal tsb di lakukan oleh pasangan nya, dia gak terima..dan merasa sakit!!
tapi sebenarnya jauhh sebelumnya, dia sendiri melakukan hal tsb jauhhh lebih menyakitkan 😡😡
wiwi: betul banget itu kak😄
total 1 replies
Santi Seminar
kesuwen
wiwi: makasih udah mampir kak😍
total 1 replies
Uthie
Ayooo Kayyy... lebih tegas ambil langkah mu 💪😡

biar si Adrian benar2 sadar dia...bahwa telah menyia-nyiakan cinta tulus dan pengabdian kamu selama menjadi istrinya 💪😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!