Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!
Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Sepasang mata indah itu nampak terbuka perlahan. Sinar mentari yang masuk dari balik jendela berkilau membuat iris matanya yang berwarna hazel mengkilap seakan ditaburi cahaya bintang. Wajah pucatnya nampak pulih. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sembari mengingat sesuatu.
"Apa aku sudah pindah dimensi lagi?" Monolognya dengan polos. Ia memandangi tubuhnya sendiri.
"Ah syukurlah perempuan lagi" Leganya dengan menghirup udara bebas.
"Lily?" Seru seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam ruangannya.
"HE?! ZEVAN?!" Teriaknya sambil menutup mulutnya kaget. Jadi ia belum pindah dimensi dong?!
"Gimana? Udah baikan?" Tanyanya lalu duduk ditepi ranjang. Lily nampak mengangguk ragu. Ternyata dia telah kembali ke kamarnya.
"Lo kenapa?" Tanyanya dengan tanpa ekspresi.
"Gak kak, cuma kaget aja tadi" Jawabnya ngasal tapi bener.
"Obatnya udah diminum?" Ia nampak mengambil botol obat kecil dilaci.
"Um... Udah!" Jawabnya cepat. Pasalnya ia tidak mau meminum obat yang pahit lagi.
"Jangan bohong" Pemuda itu_Zevan nampak menatap Lily tajam seakan bisa mencium aroma kebohongan.
"I-iya kok! Suer!" Lily mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V. Ia lantas tersenyum lebar juga menampakan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Lo taukan akibatnya kalo bohongin gue?" Tanyanya dengan nada dingin dan matanya terpejam. Lily meneguk salivanya berat saat merasakan aura hitam terasa keluar dari Zevan.
"Lily... Lihat gue"
Lily nampak mengerjap beberapa kali karena gugup. Ia tidak bisa menatap wajah seseorang bila sedang berbohong.
"Lo, bohong" Terdengar ia menghela nafasnya panjang lalu berdiri membelakangi Lily.
"Lily, siapa yang ngajarin lo bohong? Katakan" Suaranya begitu dingin dan menusuk! Apa sekarang Zevan sedang memarahinya karena dirinya tidak mau minum obat?!
"Anu kak, um.. Aku - Gak - suka - obat" Ujarnya dengan terbata-bata karena takut. Ia menautkan kedua tangannya erat dengan kepala menunduk.
Kreit
Ranjang itu sedikit bergerak ketika Zevan menaikinya. Ia menatap wajah Lily yang sedang ketakutan karena dirinya. Kenapa ia malah jadi suka?! Tapi cepat-cepat ia menyadarkan pikirannya yang mulai tidak benar. Sadarlah Zevan, begitu-begitu dia itu adikmu meskipun tiri. Pikirnya.
"Haha Lily, gue harap lo gak ngulangin kesalahan yang sama" Secara tiba-tiba ia berangsur menjauh dan meninggalkan Lily yang sedang mematung. Jantungnya tadi hampir copot! Zevan kan sedikit pshycho! Lily baru ingat itu! Ia baru menyadarinya kemarin saat ia mendengar suara aneh yang berasal dari kamar Zevan. Ya, dia punya kebiasaan memukul tembok bila sedang banyak masalah. Terkadang ia juga akan meminum obat penenang. Lily menjadi sedikit takut saat mengetahui fakta itu. Jika sekedar baca dinovel, itu rasanya biasa saja, karena Lily selalu menganggap bahwa mafia dan dunia kejam itu hanyalah bohongan belaka. Dan sekarang ia malah hidup didunia seperti itu.
"Kalo menurut novel, kak Zevan bakalan berubah setelah bertemu dengan tokoh gadis utama, kak Seyra. Apa sekarang mereka udah ketemu?" Lamunya saat mengetahui bahwa sekarang ia sudah sebulan dinovel itu. Ia semakin takut saat mengetahui beberapa hal fakta-fakta mengenai dunianya Zevan si antagonis pria dinovel. Bukankah sang penulis terlalu berlebihan mengenai keluarga Zevan ini? Ia tidak tau jika hidupnya akan terus-menerus dalam bahaya. Ahk penulis sialan yang malah mematikan Lily ditangan kakaknya sendiri!
•
•
•
Selang beberapa hari kemudian, Lily mengetuk pintu kamar Zevan. Ia ingin menanyakan sesuatu.
"Masuk" Sahutnya dari dalam. Dengan hati-hati, Lily pun membuka knop pintu dengan pelan seakan tak ingin mengeluarkan suara sedikit pun.
"Ada apa?" Tanyanya to the point saat melihat Lily dibibir pintu kamarnya.
"Um, kak! Aku udah boleh masuk sekolah gak?" Tanyanya dengan pelan. Ia takut kakaknya akan marah lagi seperti kemarin-kemarin yang malah mengurungnya digudang seharian. Zevan memang kejam!
"Gak!" Jawabnya dengan ketus dan terus fokus pada layar monitornya.
"Kenapa kak? Kan aku udah sembuh" Ucapnya dengan kecewa. Ia bosan dirumah terus apalagi tinggal bersama dengan kakak yanderenya itu.
"Nantinya lo bakalan ngerepotin gue lagi"
Lily mengerucutkan bibirnya kesal. Apa dia gak mikir kata-katanya sangat menusuk ulu hatinya?! Kenapa Zevannya berubah lagi jadi dingin? Plin-plan sekali.
"Kak.."
"Diam, atau mau gue kurung lagi di gudang?" Ia mulai menoleh dengan wajah yang setengah menggelap. Bahkan nada bicaranya pun mulai dingin seperti kutub es. Ia memang tidak berteriak, tapi suara bas rendahnya seakan mampu menciutkan nyali siapapun.
"Kakak jahat!" Lily pun langsung berlari menuju kamarnya dengan menahan air matanya. Sudah cukup, ia sebenarnya adalah gadis yang cengeng. Zevan yang tersadar pun membelalakan matanya atas apa yang ia katakan tanpa sadarnya tadi. Kenapa harus seperti ini?!
"Lily! Lily!" Zevan menyusulnya kekamar. Namun pintunya sudah dikunci dari dalam.
"Lily maafin gue! Gue cuman gak mau lo disakitin orang lain lagi! Cukup kejadian hari itu adalah yang terakhir, gue gak mau kehilangan lo!" Teriaknya dari luar kamar berharap gadis itu membuka pintunya.
Didalam sana, Lily terlihat mengusap air matanya yang mulai menetes deras. Ia tidak percaya Zevan akan mengurungnya seperti ini. Kenapa rasanya Lily semakin yakin bahwa yang harus ia hindari adalah Zevan, kakaknya. Apakah mungkin dulu Lily bandel karena sebenarnya ia tidak ingin bersama kakaknya ini? Apakah ada hal lain yang tidak Lily ketahui mengenai kehidupan Lily dari novel? Sialnya kenapa penulis menceritakannya sedikit?!
"Lily... Buka pintunya" Suara lembut namun seperti memerintah itu seakan menusuk gendang telinganya.
"Lily... Jangan biarin gue ngedobrak pintunya, oke?"
Dengan satu gerakan, Lily pun berlari dan membuka pintunya cepat. Ia merapikan wajahnya yang terlihat berantakan agar tidak terlihat sudah menangis.
"Maaf kak"
Tanpa permisi, Zevan langsung masuk kedalam kamarnya Lily dan menutup kembali pintunya bahkan menguncinya! Ya Tuhan! Apa yang akan dilakukan Zevan padanya sekarang!
"Lily... Kenapa lo keliatannya takut sama gue?" Tanyanya dengan suara iblis. Ya, Lily tak suka mendengarnya. Ia memundurkan tubuhnya saat tubuh Zevan turut mendekatinya.
"Kak..." Panggil Lily seakan menyadarkannya.
"Hm?" Sahutnya sambil terus memojokkannya hingga Lily harus terduduk ditepi ranjangnya. Ia mendongak menatap wajah Zevan yang nampak datar. Cahaya lampu membuat bayangan gelap disebagian wajahnya yang menjadikannya terlihat misterius. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu. Bibirnya sedikit terbuka seakan ada sesuatu yang sulit ia ucapkan. Sorot matanya mengkilat di kegelapan bayangan beberapa rambutnya yang jatuh diantara keningnya.
"Kenapa wajah takutmu itu sangat begitu lucu?" Tiba-tiba Zevan tersenyum miring. Lily berdecak kesal karena merasa dirinya dipermainkan. Apa-apaan itu!
"Tenang aja, gue gak bakalan nyakitin lo" Ucapnya dengan tertawa pelan lalu mengusap matanya yang terasa berair.
"Lily pengen sekolah kak"
Ucapan Lily sontak membuatnya berhenti tertawa. Kenapa Zevan begitu menakutkan dengan ekspresi wajahnya yang sangat cepat berubah itu?!
"Ah lo masih gak ngerti, ya?" Ia menghela nafasnya panjang dan berjalan menuju sofa yang ada dikamar itu. Ia kemudian duduk di sana dengan tenang.
"Aku bakalan ketinggalan banyak mapel kak"
"Lo ingat hari itu? Saat lo pesen makanan murahan online aja nyawa lo malah dalam bahaya" Tuturnya dengan wajah muram. Tatapanya begitu sulit diartikan bagi Lily.
"Sedetik aja lo hilang dari pengawasan gue, nyawa lo mungkin..."
Lily meneguk salivanya sulit. Ia memejamkan matanya. Bahkan dinovel saja dirinya lah sebenarnya yang akan membunuhnya. Bagaimana bisa Zevan akan terus melindunginya?! Lily tak tau Zevan seperti ini.
"Papa sangat sayang sama lo, dia sangat mendambakan anak perempuan. Bahkan lo lebih disayang daripada gue. Mungkin nyawa lo lebih berarti dari pada hidup gue sekalipun"
"Gak kak, papa pasti..."
"Menurutlah, ini juga buat lo" Ujarnya lalu beranjak untuk membuka pintu. Lily hanya melongo melihat tingkah aneh Zevan.
"Dan, satu lagi. Mulai hari ini, gue akan melakukannya dengan suka rela"
Ceklek
Blugh
Lily tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Zevan. Dengan suka rela? Apanya yang suka rela?
• • • •
Beberapa hari pun berlalu. Kini Lily sudah bisa masuk sekolah dengan tiga bodyguard yang menjaganya kemanapun dia pergi. Sebenarnya Lily menolak, karena ia tak nyaman jika terus diikuti dan gerak geriknya diawasi. Lily bukan anak kecil lagi!
"Kalian pulang aja napa, aku kan butuh ketenangan! Malu kalo ada kalian!" Usirnya saat dirinya ditoilet sekolah pun dijaga. Aish ia menjadi pusat perhatian sekarang.
"Heh! Ish!" Lily menggerutu pelan. Apapun itu, seberapa keras ia mencoba pun tetep nihil hasilnya. Kakaknya Zevan begitu keras kepala untuk memberikan Lily bodyguard ketika hendak keluar rumah. Kemana pun itu ia pergi.
"Kenapa kalian gak suka jawab aku sih? Kalian hatter's nya aku ya di tik tok?!"
Tak ada jawaban lagi.
"Kalian mau ikutan joget juga? Kicau maniak?"
Masih hening. Bahkan wajah mereka semua tetap datar.
"Ish gak asik! Kalian ini kaku kayak robot!" Lily membuka aplikasi tik toknya. Namun sepertinya ada yang aneh, kenapa acountnya susah dibuka?
"AKUN AKU KENA HACK?!"
TBC