seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. GEMA WAHYU DAN PERTEMUAN TAK TERDUGA.
Gema selawat berkumandang di seluruh penjuru aula besar tempat diadakannya lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) antar pondok pesantren se-Kabupaten Barito Utara.
Acara ini merupakan ajang bergengsi, dan Pondok Pesantren Al-Hidayah menjadi tuan rumahnya.
Bendera-bendera kecil dan dekorasi islami menghiasi setiap sudut, menciptakan suasana yang megah namun tetap religius.
Ayini duduk di barisan peserta putri dengan wajah yang ditekuk. Ia mengenakan gamis berwarna cokelat susu dan jilbab senada yang dipakaikan paksa oleh Umi Ayisah pagi tadi agar terlihat lebih anggun.
Meskipun sifatnya bar-bar, tak bisa dipungkiri bahwa Ayini memiliki suara yang sangat indah dan kemampuan tajwid yang mumpuni—warisan dari kakeknya yang seorang qori besar.
"Gue nggak habis pikir, kenapa Abi Vero maksa gue ikut ginian," gerutu Ayini pada Layila yang duduk di sampingnya.
"Ayini, ini kesempatan kamu buat tunjukin kalau kamu bukan cuma jago bikin rusuh, tapi juga jago baca Al-Qur'an. Liat tuh, Gus Alvaro aja jadi dewan juri kehormatan," bisik Layila sambil menunjuk ke arah panggung utama.
Di sana, Gus Alvaro duduk dengan tegak. Wajahnya tetap datar, namun matanya fokus menatap naskah di depannya.
Ia tampak begitu berwibawa, membuat banyak santriwati dari pondok lain diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
Namun, seperti biasa, Alvaro tetap menjaga pandangannya dengan ketat.
Saat giliran jeda istirahat sebelum pengumuman finalis, Ayini merasa sesak di dalam aula.
Ia memutuskan untuk keluar sebentar menuju area taman belakang gedung acara, tempat yang agak sepi dari kerumunan.
"Astagfirullah alazim, panas banget sih ini jilbab," keluh Ayini sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
Namun, langkah Ayini terhenti seketika saat ia melihat seorang pemuda berdiri di dekat pohon pule, mengenakan baju koko berwarna biru tua dan sarung.
Jantung Ayini seolah berhenti berdetak sesaat. Wajah itu... wajah yang selama satu tahun ini menghilang tanpa kabar.
"Raffi?" bisik Ayini tak percaya.
Pemuda itu menoleh. Matanya membelalak. "Ayini? Kamu... kamu ada di sini?"
Raffi adalah kekasih Ayini di Muara Teweh sebelum ia dikirim ke pesantren. Raffi menghilang begitu saja tanpa membalas satu pun pesan Ayini, dan ternyata, pemuda itu juga bernasib sama: dikirim paksa ke pondok pesantren yang berbeda oleh orang tuanya.
"Satu tahun, Raffi! Satu tahun kamu hilang kayak ditelan bumi! Nggak ada kabar, nggak ada penjelasan, dan sekarang tiba-tiba muncul di sini pakai baju koko?" suara Ayini mulai meninggi, kemarahannya yang selama ini terpendam meledak.
"Ay, dengerin dulu. HP aku disita, aku nggak bisa apa-apa di pondok sana," jawab Raffi mencoba mendekat.
"Halah! Alasan klasik! Kalau mau, kamu bisa kirim surat atau apa pun. Tapi kamu pengecut!" teriak Ayini pedas.
Pertengkaran itu semakin memanas. Ayini yang bermulut pedas terus menghujat Raffi, sementara Raffi mencoba memegang tangan Ayini untuk menenangkannya.
Ayini menghindar dengan jijik.
Tiba-tiba, dari arah lorong samping, Gus Alvaro muncul.
Ia sedang berjalan menuju ruang panitia untuk mengambil berkas nilai. Ia tidak sengaja mendengar keributan itu dan bermaksud untuk melerai agar tidak mengganggu ketenangan acara.
Ayini yang melihat sosok Alvaro langsung mendapatkan ide gila. Sebuah rencana untuk membalas dendam pada Raffi sekaligus menunjukkan bahwa ia sudah "move on" dari si Raffi.