NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Perjamuan Sisa-Sisa

Perjamuan Sisa-Sisa

​Rumah ini tidak pernah terasa sedingin ini. Pagi setelah malam perayaan anniversary itu, suasana terasa mencekam dalam keheningan yang dipaksakan. Aku turun ke dapur dengan mata yang bengkak dan langkah yang terasa berat, seolah setiap jengkal lantai rumah ini mengingatkanku pada suara derit ranjang dari kamar sebelah semalam.

​Di meja makan, Siska sedang duduk dengan anggun, menyesap teh melatinya. Dia mengenakan silk robe yang sedikit terbuka di bagian leher, sengaja memperlihatkan beberapa bercak kemerahan—tanda kepemilikan yang ditinggalkan Gavin dengan brutal semalam.

​"Pagi, Arum. Tidurmu nyenyak?" tanya Siska. Suaranya tenang, datar, tapi matanya menatapku dengan kilatan yang sangat tajam.

​Aku terdiam, tanganku gemetar saat menuang air putih. "Lumayan, Mbak."

​"Syukurlah. Karena Mbak dan Mas Gavin benar-benar lelah semalam," Siska tersenyum tipis, lalu berdiri dan berjalan mendekatiku. Dia meletakkan tangannya di bahuku, jarinya yang dingin menyentuh kulitku. "Kadang, suami itu butuh diingatkan siapa pemilik rumah yang sebenarnya, kan?"

​Aku tersentak, menjauhkan bahuku dari sentuhannya. "Maksud Mbak apa?"

​Siska tidak menjawab. Dia hanya tertawa kecil, suara tawa yang tidak sampai ke mata, lalu dia berjalan menuju pintu depan untuk menyambut Gavin yang baru saja selesai berolahraga pagi.

​Gavin masuk dengan keringat yang membasahi kaos presbody-nya, memperlihatkan otot-otot yang semalam kulihat bergerak liar di atas tubuh Siska. Dia melihatku, tapi tatapannya segera beralih pada Siska yang langsung menyambutnya dengan handuk kecil dan sebuah kecupan di dahi.

​"Mas, Arum katanya tidurnya nyenyak semalam. Padahal aku takut kita terlalu... berisik," celetuk Siska sambil merapikan rambut Gavin yang berantakan.

​Gavin sempat mematung. Matanya melirik ke arahku—sebuah tatapan yang penuh dengan rasa bersalah yang amat dalam, namun bercampur dengan sisa-sisa gairah yang belum padam. Dia tahu. Dia tahu aku mendengar segalanya. Tapi dia tetap diam. Dia memilih untuk tetap berada di dalam sandiwara Siska.

​"Aku mau mandi dulu," ucap Gavin pendek, lalu berlalu melewatu aku tanpa sepatah kata pun. Bau keringatnya yang maskulin tertinggal di udara, mencekik paru-paruku.

​Di Kampus - Sore Hari

​Aku duduk di bawah pohon beringin yang sepi, tidak ingin bertemu siapa pun. Namun, Bella dan Tiara tetap menemukanku. Kali ini mereka tidak datang dengan tawa. Bella datang dengan wajah yang sedikit murung, sementara Tiara tampak bingung.

​"Rum, gue harus jujur sama lo," Bella duduk di sampingku. "Gue sama Raka... kita makin deket. Tapi tiap kali gue sama dia, dia selalu nanyain kabar lo. Gue ngerasa kayak... gue ini cuma obat pelarian buat dia."

​"Baguslah kalau dia masih mikirin gue. Berarti dia belum bener-bener jadi milik lo, kan?" sahutku sinis.

​Bella menghela napas. "Lo jahat, Rum. Lo nggak mau sama dia, tapi lo nggak rela dia bahagia sama orang lain. Lo itu lagi ngerusak hidup semua orang, termasuk diri lo sendiri."

​"Lo nggak tahu apa-apa, Bel!" teriakku. "Lo nggak tahu rasanya ngeliat orang yang lo cinta bercumbu sama kakak lo sendiri tepat di depan mata lo!"

​Bella dan Tiara terdiam. Mereka melihat kehancuran di mataku.

​"Arum... itu namanya takdir," bisik Tiara. "Gavin itu suami Siska. Sesakit apa pun lo, itu kenyataannya."

​"Gue bakal bikin kenyataan itu berubah," bisikku pelan, hampir seperti janji pada iblis.

​Malam Hari - Pukul 23.00

​Aku tidak bisa tidur. Aku keluar dari kamar, berjalan menuju dapur untuk mencari alkohol di lemari simpanan papa. Aku butuh sesuatu untuk membungkam otakku.

​Saat aku sedang menuang sisa wine ke dalam gelas, sebuah tangan besar merebut gelas itu dariku.

​"Jangan jadi pemabuk, Arum," suara berat Gavin terdengar tepat di belakang telingaku.

​Aku berbalik, menatapnya dengan mata yang berapi-api. Dia hanya mengenakan celana tidur, telanjang dada, memperlihatkan bekas cakaran kuku Siska di punggungnya yang belum kering.

​"Kenapa? Takut aku mati? Bukannya itu yang Mas mau? Biar Mas bisa hidup tenang sama Mbak Siska tanpa ada gangguan dari 'adik ipar murahan' ini?" tantangku.

​Gavin mencengkeram rahangku, memaksaku menatap matanya yang gelap. "Berhenti bertingkah seperti ini. Aku sudah memberikan apa yang Siska butuhkan semalam sebagai suaminya. Itu tugasku!"

​"Tugas? Mas sebut percumbuan panas semalam itu cuma tugas?!" aku tertawa histeris. "Mas menikmatinya! Mas menginginkannya! Dan Mas sengaja melakukannya biar aku denger, kan?!"

​Gavin menekan tubuhku ke pinggiran meja dapur. Wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajahku. "Aku melakukannya karena aku harus melupakanmu, Arum! Setiap kali aku menyentuh Siska, aku membayangkan itu kamu! Setiap desahan yang keluar dari mulutku adalah namamu yang aku tahan di ujung lidah! Apa itu yang mau kamu dengar?!"

​Aku tertegun. Napasku tertahan.

​"Puas?!" Gavin membentak pelan. "Aku tersiksa, Arum. Aku mencintai Siska sebagai istriku, tapi aku menginginkanmu seperti orang gila. Dan Siska... dia tahu. Dia tahu semuanya. Itulah kenapa dia sengaja membiarkan pintu itu terbuka semalam."

​Duniaku serasa berhenti berputar. Jadi benar... Siska sengaja.

​"Dia bukan malaikat yang kamu kira, Arum. Dia adalah wanita yang sedang mempertahankan miliknya dengan cara yang paling kejam," Gavin melepaskan cengkeramannya. Dia menatapku dengan pandangan yang penuh kehancuran. "Kita berdua hanyalah bidak di tangannya."

​Gavin berbalik, hendak pergi, tapi aku menarik tangannya. Aku memeluk punggungnya dari belakang, menyandarkan wajahku di punggungnya yang penuh bekas luka cakaran itu.

​"Kalau gitu, ayo kita hancur bareng-bareng, Mas..." bisikku. "Jangan biarkan dia menang sendirian."

​Gavin tidak bergerak, tapi aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang di punggungnya. Keheningan malam itu terasa mematikan, sebuah awal dari pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!