NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 - Pandangan Lain

Sudah dua minggu berlalu sejak insiden duel. Selama itu juga kami tak pernah bertemu Havren. Kabarnya pangeran bungsu itu sedang penyembuhan dan dia sama sekali tidak meninggalkan menara kediamannya.

Jujur saja, aku sangat marah dengan apa yang sudah dilakukan Jovienne. Dilihat bagaimanapun juga, kelakuan gadis itu sudah keterlaluan. Dia memang tampak sangat yakin dengan teorinya soal Havren, tapi, tetap tidak membenarkan sikapnya. Terlalu gegabah.

Sejak kembali dari arena duel itu aku nyaris tidak berhenti memarahinya. Walau, yah, apa boleh buat yang terdengar paling hanya ngeong-ngeong ribut.

Terlepas dari itu, tampaknya sedikit banyak Jovienne paham. Setiap kali aku mengeong marah-marah dan mencakarnya, gadis itu hanya menekuk wajah tapi tidak melawan ataupun memprotes. Bahkan tidak mengaduh sedikitpun. Seakan dia tahu bahwa dia pantas mendapatkannya.

Di penghujung hari selepas duel, Kaisar Lucerian memanggil Jovienne ke ruangannya. Separuh setuju dan separuh khawatir, diam-diam aku mengikutinya dan mengintip dari jendela.

Dalam kebanyakan cerita, melukai tubuh anggota keluarga kerajaan adalah kejahatan besar. Bahkan banyak yang berakhir dengan hukuman mati. Dengan posisi Jovienne yang adalah perwakilan negeri lain dan posisi yang juga tinggi, mungkin hukumannya tidak akan terlalu berat. Mungkin masalah ini akan jadi masalah politik; seperti ada ganti rugi kenegaraan yang perlu Jovienne persiapkan, misalnya.

Akan tetapi,

Di ruang pribadi Kaisar itu, mereka hanya berbincang. Dan obrolannya sama sekali tidak tampak tegang.

Jovienne memang ditegur untuk lebih berhati-hati.

Tapi.

Lalu.

Sudah.

Tidak ada hukuman. Tidak ada ancaman. Bahkan tidak tampak ada kemarahan.

Mereka malah lanjut membicarakan pedang kembar Jovienne, salah satu pusaka Kerajaan Solmara, dan bla bla bla.

Setelah itu Jovienne dipersilakan kembali ke kamarnya.

HAH!?

Sembari mengikuti gadis itu meninggalkan ruangan, aku tidak henti-hentinya mempertanyakan. Apa aku yang tidak paham dengan aturan istana dan pesan tersirat di antara obrolan, atau memang……

Jovienne meninggalkan ruang kaisar dengan langkah cepat. Seperti terburu-buru ingin ke suatu tempat. Namun, di koridor istana, ia justru berjalan mondar-mandir tanpa arah. Walau, pada akhirnya dia melanjutkan langkah tergesa menuju kediamannya.

“Aneh. Ini sangat aneh.”

Begitu pintu kamar tertutup, gadis itu bergumam keras. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi santai dan menatap langit-langit. Alisnya menukik tajam, tampak berpikir keras.

“Aku melukai pangeran mereka.” Ia berkata lagi. “Dan bukan hanya goresan, tapi benar-benar melukainya.” Nada suaranya mulai naik.

Ia menoleh ke arahku dengan ekspresi frustrasi.

“Dan Kaisar hanya menyuruhku berhati-hati?!”

Jovienne tiba-tiba berdiri dan mulai berjalan mengitari ruangan.

“Tidak masuk akal. Sama sekali tidak masuk akal. Bahkan bila aku melakukan ini di Solmara, pada keluargaku sendiri, seminimalnya ayah akan menyita senjataku dan mengurungku di kamar selama beberapa hari.”

“Tapi di sini,” Lagi, mata sewarna amber itu menatapku. Sedikit melebar sementara kedua tangannya terentang. “Tidak ada apa-apa.”

Suaranya terdengar semakin bingung.

“Apa mereka tidak berniat melindungi pangerannya sendiri?!”

...*...

...*...

...*...

Salah satu tugas besar Jovienne selama tinggal di Astryion adalah untuk mempelajari budaya dan nilai-nilai Kaelros. Salah satu kegiatannya ialah mengunjungi wilayah-wilayah di luar istana untuk melihat kehidupan sehari-hari rakyat Kaelros. Kegiatan itu dilakukan rutin setidaknya satu bulan sekali.

Karena bosan, biarpun aku belum benar-benar memaafkannya, aku melompat ke pundak gadis itu sewaktu dia sedang bersiap pergi.

Tidak dipungkiri, berada di luar istana rasanya membuat bisa bernapas lebih lega. Kehidupan orang-orang yang berbelanja di toko, mengobrol di kursi taman, dan anak-anak yang bermain di alun-alun adalah pemandangan menyegarkan. Seperti liburan sejenak. Padahal aku bahkan tidak dituntut melakukan apa-apa selama di istana.

Kunjungan kali ini, Jovienne pergi lebih jauh dari pusat kota, yaitu menuju Desa Sorwyn yang terletak antara wilayah pusat kerajaan dan dataran subur selatan. Tujuan utama kunjungan kali ini ialah untuk melihat salah satu produksi wine tersohor di Kaelros. Kontras dengan kehidupan di pusat kota dan juga kota dagang Eldemere, Sorwyn memberikan atmosfir yang khas. Ladang anggur yang terbentang di bawah bukit terlihat damai. Air sungai yang mengalir di perbatasannya begitu jernih. Udaranya segar. Di langit, sesekali terlihat burung elang melintas. Ritme kehidupan terasa stabil, nyaris sunyi, seakan waktu bergerak lebih lambat di tempat ini.

Ketika sedang berjalan-jalan di pasar, kami mendengar obrolan warga tentang Havren. Lebih tepatnya, tentang duelnya baru-baru ini.

Aku lupa menyebutkan, setiap kali meninggalkan istana, Jovienne selalu melakukan penyamaran; ia mengenakan pakaian warga kelas menengah Kaelros, tanpa perhiasan, dan tudung menutupi kepala. Di sampingnya, Jovienne hanya ditemani oleh satu pelayan yang juga menyamar (dan aku), sementara empat orang pengawal mengikuti dari kejauhan, berpencar dan membaur dengan keramaian. Sehingga, tidak ada dari warga di pasar itu yang menyadari bahwa salah satu yang sedang mereka bicarakan sedang ada di sana.

Yang menarik adalah, isi obrolan di sini berbeda dengan yang biasa terdengar di istana dan ibu kota. Orang-orang ini tidak terdengar mengejek selama membahas duel itu. Alih-alih mereka terdengar khawatir. Malah ada yang mengkritik keras tindakan Jovienne.

Tidak bisa lagi menahan diri, Jovienne pun melibatkan diri dalam percakapan itu. “Sepertinya semua orang di sini mengkhawatirkan Pangeran Havren.”

Ucapannya itu sontak membuat mereka menoleh. Beberapa diantaranya sempat menatap bingung dan sedikit…. menghakimi.

“Tentu saja, Nona. Kami tidak ingin terjadi hal yang buruk pada Pangeran Havren.”

Mereka menjawab seolah itu adalah hal yang sudah seharusnya.

“Aku kira semua orang tidak menyukai Havren?” Jovienne bertanya, separuh menguji.

Mereka tertawa kecil.

“Apa kau pendatang, Nona? Atau dari ibu kota?” salah satu di antaranya berdecak sembari menggelengkan kepala.

“Aku tidak pernah mengerti apa yang dibicarakan para bangsawan itu. Mereka selalu saja mengkritisi Pangeran Havren.”

“Pangeran Havren selalu membantu desa ini setiap tahun. Bahkan aku pernah melihatnya datang sendiri, sewaktu tanggul besar di hulu sungai itu rusak akibat gempa.”

“Sewaktu wabah menyerang dan Desa Taford terpaksa diisolasi, aku dengar bantuan tetap datang dari Pangeran Havren. Padahal semua orang nyaris yakin desa itu sudah ditelantarkan dan tidak ada yang berani mendekat.”

“Sebenarnya, memang tidak pernah ada pengumuman resmi bahwa bantuan itu dari Pangeran Havren.”

“Kau benar. Kebakaran di awal tahun kemarin juga begitu. Kurasa wajar kalau Nona ini tidak tahu.”

Jovienne mendengarkan mereka berbicara bergantian, sebelum kembali bertanya, “Lalu bagaimana kalian yakin kalau itu dari Pangeran Havren?”

Sejenak mereka terdiam dan saling berpandangan. Tampak berpikir.

“Selalu ada lambang bunga Hawthorn di kereta mereka.” Seseorang kemudian berkata.

“Tidak ada keluarga bangsawan yang memakai lambang itu.”

Mereka mengangkat bahu dan mengangguk-angguk kecil, seperti berkata: siapa lagi kalau bukan Havren?

Hawthorn.

Simbolisasi yang muncul pada lagu populer mengenai tiga pangeran Kaelros.

Peoni merah untuk sang putra mahkota, iris ungu gelap untuk sang jenderal perang, lalu hawthorn putih untuk pangeran bungsu.

Tidak ada jaminan bahwa Pangeran Havren sungguhan yang mengirimkan bantuan. Namun, siapapun mereka, besar kemungkinan berada di pihak dan mengatasnamakan Havren.

...*...

...*...

...*...

Kunjungan itu selesai setelah dua hari kami menginap di Sorwyn. Membawa pulang beberapa botol anggur, kami seharusnya mencapai istana sebelum matahari terbenam.

Sayangnya, ada sedikit masalah dalam perjalanan menuju ibu kota. Malam sebelumnya terjadi longsor yang menyebabkan batu besar menghalangi jalur kereta, sehingga langit sudah gelap sebelum kami mencapai gerbang ibu kota.

Tawaran untuk kembali menginap di luar istana tidak disetujui Jovienne. Akhirnya kami hanya beristirahat sebentar di salah satu kedai untuk makan malam.

Kami baru saja selesai bersantap dan hendak kembali menuju kereta, ketika tiba-tiba saja ada yang menyerang. Segerombolan orang bertudung menyergap dari belakang dan mendorong kami ke tembok gelap. Aku berusaha menggigit dan mencakar, tapi mereka dengan mudah menepis dan melemparku dengan kasar.

Mengekspektasi tumbukan keras pada tembok atau tanah, aku tertegun ketika yang kurasakan adalah dekap lengan kokoh.

Aku mendongak dan tidak kuasa menahan seruan senang menyadari siapa yang baru saja menangkapku.

Raien!

“Aah, rupanya kau tidak butuh bantuanku.”

Mendengar perkataannya, aku kembali menoleh ke arah gerombolan tadi. Ternyata orang-orang itu sudah dihabisi Jovienne. Sejumlah dari mereka terkapar di tanah—entah hanya pingsan atau sudah menyebrang ke alam lain. Sementara satu orang berada dalam cengkraman sang putri; ujung belati terhunus di lehernya, siap memutus nadi.

“Pangeran Raien.” Jovienne berseru kala menyadari keberadaan lain di sana. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Raien mengedikkan bahu ringan. “Misi di luar istana,” sahutnya. “Kebetulan aku melihat gelagat mencurigakan. Mereka dari komplotan bandit yang sedang kami kejar, sebenarnya.” Dia lantas menggestur pada tato yang menghiasi leher orang-orang itu.

Komplotan bandit…

Berada sedekat ini dengan ibu kota....

“Mereka sungguh sial karena menyerangmu.” Raien menambahkan sembari tertawa.

Aku sempat lupa kalau pangeran yang selalu tampak menyeramkan ini juga bisa tertawa. Sepertinya aku sudah terlalu terbiasa dengan kehidupan di dunia ini, sampai-sampai melihat tawa itu saja sudah membuatku terkejut. Aku mulai berpikir seperti orang-orang di sini.

Seolah belum cukup membuat terkejut, Raien berjalan mendekati Jovienne. Tangan besarnya terangkat lalu menepuk puncak kepala gadis itu. “Baguslah. Kau bisa melindungi Havren,” ujarnya.

Aku tidak menyalahkan Jovienne yang menatapnya dengan mata membulat. Aku yakin ekspresiku juga tidak jauh beda. Tidak lama kemudian, Jovienne menggerutu soal betapa dia tidak mau harus jadi pengawal anak kecil.

Biarpun jalanan itu cukup gelap, hanya diterangi obor yang dinyalakan berjauhan, aku yakin melihat wajah Jovienne bersemu merah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!