bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.
sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.
namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?
novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kelas pertama
Mobil hitam Kinan melaju pelan di jalanan beraspal mulus menuju Alessandra High School. Dari balik kaca film gelap, Alessandra mengamati bangunan-bangunan yang mulai tampak di kejauhan.
Sekolah itu berdiri megah di atas lahan seluas 10 hektar. Alessandra mengingat saat dia menandatangani izin pembangunannya tiga tahun lalu tanpa pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana. Arsitek dan kontraktornya dari luar negeri, dan biaya totalnya mencapai 200 miliar. Semua demi "sekolah untuk rakyat", begitulah pidatonya saat peresmian.
Dia menarik sudut bibirnya.
Ironis. Pemilik sekolah sekarang menyamar sebagai murid pindahan.
"Kita hampir sampai, Nona," ucap Kinan.
"jangan panggil Nona di sini," potong Alessandra dingin. "Mulai sekarang panggil Vale. Atau Al. Terserah."
"Baik... Vale."
Mobil memasuki area gerbang utama. Dua penjaga keamanan berseragam hitam langsung membungkuk seuatu kebiasaan mereka saat melihat mobil mewah. Pintu besi otomatis terbuka lebar.
Dan di balik gerbang itu...
Kerumunan.
Puluhan siswa berkumpul di plaza depan, mungkin sedang menunggu jam masuk. Seragam hitam-putih dengan almamater bergambar burung gagak memenuhi area. Beberapa duduk di bangku taman, beberapa berdiri sambil bercanda, beberapa sibuk dengan ponsel.
Namun saat mobil hitam Kinan melintas, semua kepala menoleh.
"Wah, mobilnya siapa itu?"
"Mewah amat. Itu Lexus terbaru kali."
"Tamu kali. Atau guru baru?"
"Guru mah gak pake mobil semewah itu."
Alessandra tidak peduli. Matanya justru menilai bangunan sekolah dengan saksama. Gedung utama setinggi 5 lantai dengan arsitektur modern dengan kaca dan beton hitam mendominasi. Di sebelah kanan, gedung olahraga dengan atap melengkung seperti gelombang. Di sebelah kiri, gedung seni dan acara yang biasanya digunakan untuk pentas tahunan.
Lumayan, pikirnya. Setidaknya arsiteknya tidak main-main.
Mobil berhenti di area parkir VIP dekat pintu timur. Kinan mematikan mesin.
"Aku tunggu di sini sampai jam pulang, Vale. Kalau ada apa-apa, tekan cincin."
"Baik."
Alessandra membuka pintu. Udara pagi yang masih sejuk langsung menyambutnya. Dia menggenggam sebuah buku tebal di lengannya sebuah database tentang sejarah Ateris yang sengaja dia bawa agar terlihat seperti kutu buku.
Dia berjalan.
Tap. Tap. Tap.
Sepatu pantofel hitamnya berbunyi pelan di paving block plaza.
Dan diam-diam, semua mata tertuju padanya.
Rambut hitam sebahu terikat kecil di belakang, pita merah menyala seperti titik darah di tengah lautan gelap. Kacamata rimless dengan rantai emas bergelantung anggun di pipinya. Seragam hitam-putih terlihat pas di tubuhnya dengan rok di atas lutut memperlihatkan kaki jenjang yang tegap, kemeja putih lengan panjang sedikit menegang di lengan atas karena otot-otot kecil yang tersembunyi di baliknya.
Dia berjalan tegap, tidak menunduk seperti kebanyakan gadis, tidak melihat kanan-kiri seperti orang bingung. Matanya yang coklat terang hanya fokus ke depan, menilai, mengamati, menghakimi.
Sesekali, jari telunjuknya menyentuh ujung kacamata, mendorongnya sedikit ke atas suatu gerakan singkat yang terlihat sepele, tapi entah kenapa terlihat sangat anggun dan dingin.
"Aduh..."
"Gila, cewek itu..."
"Cantik banget. Wajahnya kayak bidadari."
"Tapi dingin amat. Liat deh, mukanya kayak mau bunuh orang."
"Model baru, kali. Pindahan ya?"
"Gue belum pernah liat dia sebelumnya."
Kerumunan mulai berbisik. Beberapa siswa berhenti berjalan, menatap dengan mata membelalak. Beberapa yang sedang duduk di bangku taman langsung tegak, berusaha terlihat keren.
Seorang siswa kelas XII, kapten tim basket, bersiul pelan. "Wah, cewek itu bakal jadi queen of the school dalam waktu seminggu."
Temannya mengangguk. "Tapi dinginnya minta ampun. Kayak es batu berjalan."
Alessandra mendengar semuanya.
Tapi dia tidak peduli.
Jari telunjuknya menyentuh kacamata lagi dengan pelan, penuh arti. Malas. Semua ocehan ini membuatnya malas.
Dia terus berjalan, melewati air mancur di tengah plaza, melewati pohon sakura yang sedang mekar (dia sendiri yang memerintahkan pohon itu didatangkan dari luar negeri), hingga akhirnya tiba di pintu masuk gedung utama.
Di sana, berdiri seorang guru perempuan dengan rautan wajah tegas.
"Ibu Dewi," sapa guru itu. "Wali kelas XII MIPA 1. Kamu murid pindahan, ya? Valeria Allegra?"
Alessandra mengangguk kecil. "Iya, Bu."
Sopan, tapi dingin. Tidak ada senyum.
"Baik, ikut Ibu. Anak-anak di kelas sudah mulai datang."
Alessandra mengikuti Ibu Dewi melewati koridor lebar dengan lantai marmer mengkilap. Di dinding, terpampang plakat marmer: "Alessandra High School — Didirikan oleh Valeria Alessandra, untuk masa depan Kaldora."
Dia berhenti sejenak, membaca namanya sendiri di plakat itu.
Rasanya aneh, pikirnya. Menjadi penguasa di kerajaanku sendiri yang tidak mengenali rajanya.
"Ada apa, Allegra?" Ibu Dewi menoleh.
"Tidak ada, Bu," jawab Alessandra datar, lalu melanjutkan langkah.
Di dalam kelas XII MIPA 1, suasana sudah ramai.
Sekitar tiga puluh siswa sudah duduk di kursi masing-masing. Beberapa membaca buku, beberapa bercanda, beberapa sibuk dengan ponsel. Dua di antaranya duduk di barisan belakang, dekat jendela.
Dua gadis dengan buku tebal di atas meja.
Mutiara seorang gadis cerdas dengan kacamata bundar tebal, rambut keriting diikat asal. Dia sedang membaca novel terjemahan.
Laras seorang gadis sporty dengan poni pendek dan anting perak di telinga kanan. Dia sedang mengasah pensil dengan pisau lipat kecil.
Mereka berdua adalah satu-satunya teman Valeria Allegra.
Dan mereka sudah tidak tenang sejak seminggu Vale hilang.
"Teman Vale ngasih kabar belum?" bisik Laras.
Mutiara menggeleng. "Belum. Aku udah chat berkali-kali. Gak dibalas."
"Jangan-jangan Vale gak akan kembali ke sekolah..."
Pintu kelas terbuka.
Ibu Dewi masuk, diikuti oleh sosok tinggi dengan pita merah di rambut.
Laras dan Mutiara menoleh bersamaan.
Dan mereka membeku.
"Perhatian, anak-anak!" Ibu Dewi bertepuk tangan. "Kita kedatangan murid pindahan. Tolong sambut dengan baik."
Gadis itu melangkah maju ke depan papan tulis. Kacamata rimless dengan rantai emas berkilauan di bawah lampu neon. Wajahnya dingin, matanya tajam, posturnya tegap dan tidak terlihat gentar sedikit pun.
Dia meletakkan buku tebal di atas meja guru pelan, anggun, seperti orang yang tidak pernah terburu-buru.
"Perkenalkan namaku..."
Dia berhenti sejenak.
"Valeria Allegra. Panggil Vale. Atau Al. Terserah."
Kerumunan di kelas mulai berbisik.
"Valeria? Kayak nama pemilik sekolah?"
"Iya, sama persis. Tapi yang ini Allegra, bukan Alessandra."
"Tapi wajahnya... kayak familiar."
"cantik banget sih. Awas aja, bakal jadi rebutan cowok nih."
Dan di barisan belakang, Mutiara dan Laras saling pandang dengan mata membelalak.
"Itu... Vale?" bisik Laras tidak percaya.
Mutiara menggigit bibir. "Secara fisik... iya. Wajahnya sama. Tapi..."
"Tapi Vale tidak setinggi itu. Dan Vale tidak pernah..."
"Seberani itu."
Mutiara mengamati sahabatnya dari kejauhan. Vale yang dulu selalu menunduk, selalu membungkukkan bahu, selalu berjalan seperti ingin menghilang ke dalam tanah.
Tapi yang berdiri di depan kelas sekarang...
Seperti seorang ratu yang tersesat di antara rakyat jelata.
"Allegra, silakan duduk di..." Ibu Dewi melihat sekeliling, mencari bangku kosong.
"Di belakang, Bu," potong Alessandra dingin. Dia sudah melihat dua sosok yang dikenalnya dari foto yaitu Mutiara dan Laras. "Saya ingin duduk di samping mereka."
Ibu Dewi mengerjap sedikit terkejut dengan ketegasan murid baru ini, tapi tidak berkomentar. "Baik, silakan."
Alessandra berjalan ke barisan belakang. Setiap langkahnya diikuti oleh bisik-bisik dan tatapan kagum.
Dia duduk di kursi kosong di sisi kanan Mutiara.
Dan untuk pertama kalinya, dia menoleh pada dua sahabat Allegra.
"Lo berdua Mutiara sama Laras, kan?" suaranya pelan, hanya cukup untuk mereka dengar.
Mutiara mengangguk kaku. "I-ia. Lo... lo beneran Vale?"
"Siapa lagi?"
"Tapi lo beda," potong Laras langsung. "Beda banget. Lo lebih tinggi, lo tegas, lo..."
"Trauma," jawab Alessandra singkat. "Seminggu hilang bisa mengubah orang."
Dia merapikan kacamatanya sekali lagi.
"Dan mulai sekarang, gue bukan Vale yang dulu. Jadi jangan bawa gue ke masa lalu."
Mutiara dan Laras saling pandang. Ada sesuatu yang aneh. Sangat aneh.
Tapi di mata Vale yang baru itu... ada rasa sakit yang tersembunyi. Valeri Alessandra merupakan orang yang sangat pintar dalam bermain peran.
Sakit yang membuat mereka tidak berani bertanya lebih jauh.
Bel masuk berbunyi.
Hari pertama dimulai.
Alessandra High School tidak tahu bahwa seorang mafia berdarah dingin baru saja bergabung.