NovelToon NovelToon
GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: RISMA AYINI SAFITRI

seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.

apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29. PERANG URAT SARAP DENGAN KE BAR-BAR AN AYINI.

"Mas sayang nggak sama Ayini? Jawab!"

Jantung Alvaro kembali berdegup liar.

Dag-dig-dug itu muncul lagi, menghancurkan kewibawaannya dalam sekejap.

Kedekatan mereka yang hanya beberapa inci membuat pertahanan Alvaro runtuh untuk kesekian kalinya.

"Saya... saya sangat sayang padamu, Ayini," ucap Alvaro akhirnya, suaranya parau.

Ia tidak bisa lagi berbohong di depan kejujuran istrinya yang meledak-ledak.

"Nah! Kalau sayang, kenapa mukanya kayak kanebo kering terus?" Ayini melepaskan kerah baju Alvaro, tapi ia tetap duduk di atas meja.

"Senyum! Sekarang! Kalau nggak, Ayini bakal lari ke lapangan basket sekarang juga terus teriak pakai pengeras suara kalau Gus Alvaro suka pake baju pink!"

Alvaro membelalakkan mata. "Ayini, jangan tantrum lagi!"

"Satu... dua..." Ayini sudah bersiap melompat dari meja.

"Iya! Iya!" Alvaro akhirnya menyerah.

Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan, lalu perlahan menurunkannya dan memberikan senyum terpaksa yang kemudian berubah menjadi senyum geli yang tulus karena tingkah ajaib istrinya.

"Kamu benar-benar gadis bar-bar yang tidak bisa diatur."

"Nah, gitu dong! Manis kan?" Ayini kembali tertawa riang, jiwanya yang sempat layu kini mekar kembali.

"Ayo Mas, jangan takut sama surat itu. Ayini yang sekarang bukan Ayini yang dulu. Kalau ada yang berani ganggu kita, biar Ayini yang tabrak pake motor!"

Alvaro menggeleng-gelengkan kepala.

Ia menarik tangan Ayini agar turun dari meja. "Cukup saya yang menjaga, kamu jangan menabrak orang. Itu dosa."

"Hehe, iya deh Mas Bayi Sayang..." Ayini kembali menggoda, kali ini ia dengan berani mencubit pipi Alvaro yang kaku.

Alvaro langsung memerah padam. Ia beristighfar panjang sambil memalingkan muka, namun kali ini ia tidak pergi dari kamar.

Ia justru menarik kursi Ayini agar mendekat ke arahnya. Meskipun surat misterius itu masih menjadi ancaman yang nyata, namun Alvaro sadar bahwa menjauh dari Ayini bukanlah cara untuk melindunginya.

"Ayini... berjanjilah satu hal," ucap Alvaro serius.

"Apa Mas?"

"Jangan pernah sembunyikan apapun dari saya. Termasuk jika masa lalumu kembali datang mengetuk pintu," Alvaro menatap istrinya dalam-dalam.

Ayini mengangguk mantap. "Janji, Mas. Ayini bakal jadi tameng Mas, dan Mas jadi pedang Ayini. Kita lawan mereka bareng-bareng di tanah Barito ini."

Malam itu, ketegangan berakhir dengan sebuah kesepakatan baru. Namun di balik kebahagiaan mereka, pengirim surat itu baru saja merencanakan langkah selanjutnya—sebuah jebakan yang akan memaksa Ayini untuk memilih antara cintanya pada Alvaro atau keselamatan nama baik pesantren Al-Hidayah.

Pagi di Barito Utara biasanya diawali dengan lantunan merdu ayat suci dari pengeras suara masjid yang memecah kabut sungai.

Namun, ketenangan itu hancur berantakan ketika sebuah suara raungan mesin motor sport yang dimodifikasi ekstrem memecah kesunyian di depan gerbang utama Pondok Pesantren Al-Hidayah.

Tiga pemuda dengan jaket kulit hitam, celana jins robek, dan aroma alkohol yang samar, turun dari motor mereka dengan gaya menantang.

Di tengah mereka berdiri Raffi. Wajahnya penuh dendam, matanya merah menatap papan nama pesantren yang megah itu. Di tangannya, ia memegang sebuah pengeras suara kecil.

"Woi! Keluar kalian semua! Keluarin itu cewek yang sok suci di dalem! Keluarin Ayini!" teriak Raffi dengan suara serak yang bergema ke seluruh area asrama putra dan putri.

Para santri yang sedang melakukan piket pagi langsung ketakutan. Para ustadz bergegas menuju gerbang, mencoba menenangkan situasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!