NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Probabilitas Keberhasilan 100%

Pecahan layar kaca itu menggores ujung jari telunjuk Sri. Meneteskan setitik darah ke atas meja kayu.

"Kita tidak mencari untung malam ini, katamu?" Suara wanita itu pecah. Serak.

Ia baru saja membanting ponselnya. Napasnya memburu. Menguras habis sisa oksigen di ruangan sempit itu.

Jalur mereka mati. Semuanya. Pintu-pintu baja birokrasi mendadak terkunci rapat.

Pejabat distrik yang pagi tadi tersenyum ramah mendadak memblokir nomor teleponnya. Menolak bertemu.

Pemasok armada kargo yang sudah bersalaman tanda sepakat mendadak menarik armada mereka. Mundur teratur tanpa alasan masuk akal.

Persetujuan lisensi gudang mereka dibekukan. Beku tanpa tenggat waktu.

Secara logika jalanan, mereka sudah habis. Tenggelam sebelum mesin kapal sempat dipanaskan. Kalah telak tanpa satu peluru pun ditembakkan.

Fais hanya bersandar di dinding. Mengamati.

Ia membiarkan Sri meraup wajahnya sendiri dengan frustrasi. Ia mengamati gerak tubuh wanita itu. Mengamati keputusasaan yang merayap naik dari ujung sepatu hingga ke ubun-ubun.

Pikiran Fais bekerja cepat. Lebih cepat dari mesin hitung.

Ia menyusun pola. Pola bicara birokrat. Perubahan sikap para vendor yang serentak. Arah tekanan yang terlalu rapi untuk disebut sebagai nasib sial.

Ada tangan besar yang menyapu papan catur mereka. Tangan yang mengatur bidak-bidak kecil di kota ini.

Garis-garis digital merobek udara di depan wajah Fais. Teks melayang.

[Intervensi Eksternal Terdeteksi]

Teks itu berkedip lambat. Menyapu kornea mata Fais dengan cahaya statis.

[Pihak Dominan: Wawan]

Nama itu muncul. Singular. Jelas.

Fais menelan ludah pelan. Udara mendadak terasa kering di tenggorokannya. Ia menatap angka-angka probabilitas yang sejak tadi menetap di angka nol mutlak.

Nol persen. Tidak ada celah. Tidak ada celah. Tidak ada sama sekali.

Ia merasakan keraguan kecil menyengat pangkal lehernya. Apakah ia salah langkah? Apakah insting jalanannya sudah tumpul berhadapan dengan meja kerja?

Tidak. Ini bukan salah perhitungan. Ini pembajakan takdir.

Panel sistem bergeser. Menampilkan satu baris opsi terakhir. Opsi yang sejak awal ia simpan rapat-rapat.

[Aktifkan Probabilitas Absolut?]

Fais mematung. Matanya menatap peringatan kecil di sudut pandangannya.

[Sisa Penggunaan Harian: 1/1]

Satu peluru. Hanya satu peluru tersisa di kamar senjatanya hari ini.

Jika ia menarik pelatuknya sekarang, ia akan telanjang bulat di hadapan bahaya apa pun yang mengintai hingga tengah malam nanti. Tidak ada kartu truf. Tidak ada jaring pengaman.

Tapi jika ia menahan peluru ini, gudang itu akan menjadi kuburan permanen. Semuanya berhenti di sini. Uang mereka hangus. Leher mereka diikat sanksi.

"Sri."

Fais memanggil. Suaranya datar. Kosong dari kepanikan.

Wanita itu menoleh. Matanya merah. Bahunya turun seolah memikul karung pasir basah.

"Semua akan baik-baik saja."

Sri tertawa sumbang. Tawa hampa yang menusuk gendang telinga. "Baik-baik saja? Kau gila. Kita sudah tamat."

Fais tidak membantah. Ia memusatkan pandangannya pada kotak dialog di udara.

Ia membuat keputusan.

"Aktifkan."

Kata itu meluncur dari bibir Fais. Nyaris seperti bisikan.

Dunia tidak meledak. Langit tidak terbelah. Tidak ada kilatan cahaya atau suara guntur yang memekakkan telinga.

Semuanya terlihat sama. Bau debu ruangan itu masih sama. Detak jam dinding masih sama.

Tapi di lapisan realitas yang tidak kasat mata, roda gigi semesta mulai berputar paksa. Menggilas hukum sebab-akibat. Membengkokkan logika.

Lima belas kilometer dari sana. Di jalan aspal yang mendidih.

Seorang kurir motor melaju kencang membawa map berisi dokumen penolakan resmi. Map yang akan mengunci nasib Fais.

Ban depan motornya melindas sepotong besi karatan berujung tajam. Besi yang entah bagaimana terpental dari bak truk semenit sebelumnya.

Karet ban robek. Angin menyembur keluar. Motor itu terpelanting menabrak trotoar. Kurir itu selamat, tapi mapnya terlempar ke selokan berlumpur. Dokumen itu hancur. Pengiriman terlambat.

Panel di mata Fais berderak.

[Probabilitas Keberhasilan: 13%]

Di gedung birokrasi pusat. Lantai lima.

Pejabat gendut yang sudah menerima suap dari Wawan sedang duduk santai. Menunggu waktu pulang.

Tiba-tiba telepon meja di ruangannya menjerit. Telepon merah. Jalur khusus.

Panggilan rapat darurat dari badan pengawas kota. Ada laporan audit bocor. Wajah pria itu sepucat kertas. Ia berlari keluar ruangan hingga menjatuhkan kursi kerjanya.

Satu jam kemudian, meja itu diisi oleh pejabat pengganti sementara. Pria muda berseragam rapi yang tidak tahu menahu soal suap. Pria yang bekerja murni berdasarkan panduan prosedur.

Angka di udara bergeser naik. Bergerak cepat tanpa ampun.

[Probabilitas Keberhasilan: 39%]

Di ruang server lantai bawah tanah gedung yang sama.

Seorang teknisi baru saja mengetik kode perintah untuk memasukkan nama perusahaan Fais ke dalam daftar hitam. Jarinya mengambang di atas tombol eksekusi.

Kabel daya utama di dinding bergesekan dengan pipa bocor. Air menetes tepat ke sirkuit panel.

Korsleting sesaat. Listrik berkedip sepersekian detik. Server lokal mengalami gagal muat. Kode perintah itu berubah format menjadi korup.

Sistem otomatis menendang nama perusahaan itu keluar dari antrean penolakan, memindahkannya kembali ke antrean persetujuan yang tertunda.

Bilah angka di pandangan Fais menyala terang. Menusuk retinanya.

[Probabilitas Keberhasilan: 67%]

Di sebuah kantor logistik pelabuhan.

Manajer vendor yang tadi membatalkan kontrak sepihak sedang minum kopi. Ia puas. Uang tutup mulut dari Wawan cukup tebal.

Ponselnya berdering. Suara asistennya dari ujung telepon menjerit panik.

Mitra kerja terbesar mereka, sebuah pabrik baja, baru saja digerebek otoritas pajak. Seluruh aktivitas bongkar muat dibekukan. Ratusan truk kargo mereka mendadak menganggur. Biaya sewa harian menumpuk puluhan juta per jam.

Manajer itu tersedak kopi panas. Ia butuh klien pengganti. Klien yang butuh rute besar hari ini juga. Detik ini juga.

Ia membongkar tumpukan berkas. Hanya ada satu nama yang siap jalan. Gudang milik Fais. Itu satu-satunya pilihan logis untuk menyelamatkan perusahaannya dari denda harian.

Semua kejadian itu terpisah ruang dan jarak. Tidak saling mengenal. Tidak saling terhubung.

Tapi ujung benangnya ditarik serentak ke arah yang sama. Mengikat satu titik temu yang mustahil.

Garis biru di mata Fais mengunci kesimpulannya. Stabil. Permanen.

[Probabilitas Keberhasilan: 100%]

Teks itu menghilang layaknya asap ditiup angin. Mengembalikan pandangan Fais pada dinding kusam di depannya.

Lalu. Ponsel Sri yang layarnya retak itu bergetar hebat di atas meja. Mengeluarkan nada dering nyaring yang memecah kesunyian mematikan ruangan itu.

Sri berjengit. Ia menatap layar ponsel itu seolah benda itu adalah granat aktif.

Ia mengangkatnya ragu. Menempelkan speaker ke telinganya.

"Halo," suara Sri nyaris hilang tertiup udara.

Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik berlalu.

Bola mata Sri terbuka lebar. Kelopak matanya tertarik mundur seakan urat di kepalanya baru saja ditarik. Mulutnya sedikit menganga.

Bibirnya memutih.

"Ya. Paham. Terima kasih."

Sri menjatuhkan ponsel itu kembali ke meja. Benda itu berbenturan dengan kayu menghasilkan suara keras.

Ia memutar tubuhnya menghadap Fais. Wajahnya kehabisan warna darah. Kulitnya sepucat mayat yang baru diangkat dari lemari pendingin.

"Lisensi kita..." Napas Sri tercekat. "Lisensi kita lolos. Vendor menelepon balik. Mereka memberikan potongan harga. Pusat arsip memproses segalanya otomatis."

Sri melangkah mundur satu langkah.

Ia menyadari sesuatu. Otaknya memproses runtutan kejadian gila dalam dua jam terakhir. Secara hitungan manusia waras, kembalinya semua jalur itu tidak mungkin terjadi berurutan. Peluangnya lebih kecil dari tersambar petir tiga kali berturut-turut.

Kecuali ada yang mengatur semesta ini dari balik tirai hitam.

Sri menatap lurus ke mata Fais. Tatapannya bukan lagi tatapan pada rekan bisnis.

Itu tatapan ketakutan yang murni. Ketakutan yang merayap di sumsum tulang.

Ia sekarang yakin seutuhnya. Fais bukan preman jalanan. Fais memiliki dukungan kekuatan yang jauh lebih mengerikan dari apa pun yang bisa ia bayangkan.

Fais hanya balas menatap mata wanita itu. Tidak mengatakan apa-apa.

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!