Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Yang Mengetuk dari Dalam
Kabut menutup semuanya.
Tidak ada jalan.
Tidak ada arah.
Tidak ada atas atau bawah.
Hanya putih.
Pekat.
Menelan.
Kinasih melangkah.
Pelan.
Namun—
tidak ada suara langkah.
Tidak ada tanah.
Tidak ada permukaan.
Seolah ia berjalan… di antara sesuatu yang tidak punya bentuk.
Namun—
ia tidak sendirian.
Bayangan-bayangan itu ada.
Banyak.
Mengelilinginya.
Tidak menyentuh.
Tidak mendekat.
Namun—
mengikuti.
Seperti rombongan.
Seperti… pengiring.
“Kita sudah mulai…”
Suara itu muncul lagi.
Dari dalam dirinya.
Tenang.
Dingin.
Tidak terburu.
Kinasih tidak menjawab.
Ia hanya berjalan.
Dan setiap langkah—
kabut di sekitarnya berubah.
Menjadi lebih gelap.
Lebih padat.
Seperti sesuatu… mulai terbentuk.
“Di mana ini…” bisiknya pelan.
Suara itu tidak langsung menjawab.
Seperti… menikmati kebingungannya.
Lalu—
pelan.
“Di antara.”
“Di antara apa…”
Sunyi sejenak.
“Di antara hidup… dan yang belum selesai.”
Kinasih berhenti.
Tubuhnya menegang.
Dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah—
ia merasa takut lagi.
Takut yang berbeda.
Lebih sunyi.
Lebih dalam.
Karena—
tidak ada yang bisa ia lawan.
“Kita mau ke mana…”
bisiknya.
Suara itu tertawa kecil.
“Kita tidak ke mana-mana…”
Kabut di depan mulai bergerak.
Terbuka.
Perlahan.
“…mereka yang datang.”
Dan dari dalam kabut itu—
muncul sesuatu.
Satu sosok.
Lalu dua.
Lalu banyak.
Semua berjalan pelan.
Menuju Kinasih.
Wajah mereka—
tidak jelas.
Namun—
tubuh mereka…
terlihat.
Penuh luka.
Retak.
Kotor.
Seperti digali dari tanah.
Dan—
semua menatapnya.
“Selamat datang…”
bisik mereka serempak.
Suara itu masuk ke kepala Kinasih.
Menekan.
Menggema.
“Kamu… siapa…”
Salah satu dari mereka melangkah maju.
Lebih dekat.
Wajahnya mulai terlihat.
Dan—
Kinasih membeku.
Karena—
itu dirinya.
Versi lain.
Dengan luka di wajah.
Dengan mata kosong.
Dengan senyum yang retak.
“Kami kamu…”
bisiknya.
“…yang tidak sempat selesai.”
Sosok-sosok lain ikut mendekat.
Dan—
semua wajah itu…
berubah.
Menjadi wajah Kinasih.
Puluhan.
Ratusan.
Semua… dirinya.
“Kami yang ditinggal…”
“Kami yang dilupakan…”
“Kami yang tidak pernah keluar…”
Suara mereka bertumpuk.
Menjadi satu.
Menjadi tekanan.
Masuk ke kepala.
Menghancurkan.
Kinasih menutup telinganya.
Namun—
tidak membantu.
Karena—
itu bukan suara luar.
Itu dari dalam.
“Aku bukan kalian…”
bisiknya lemah.
Namun—
mereka tersenyum.
“Sekarang… kamu juga.”
Sekejap—
kabut berubah.
Menjadi gelap.
Dan tanah muncul.
Basah.
Lembek.
Kinasih terjatuh.
Tangannya menyentuh tanah itu.
Dingin.
Dan—
bergerak.
Ia menarik tangannya.
Namun—
terlambat.
Karena—
tanah itu hidup.
Dan dari dalamnya—
tangan muncul.
Lagi.
Banyak.
Menarik.
Menahan.
“Kami ingin keluar…”
bisik suara itu.
“Dan kamu… pintunya.”
Kinasih menjerit.
Ia berusaha berdiri.
Namun—
tanah itu menahannya.
Menariknya masuk.
Pelan.
Ke bawah.
“Kamu sudah buka…”
suara itu melanjutkan.
“…sekarang kamu harus biarin kami lewat.”
Kinasih menggeleng.
“Tidak…”
Namun—
tubuhnya tidak mendengar.
Karena—
sesuatu di dalam dirinya…
setuju.
Ia merasakan tangannya bergerak.
Sendiri.
Menyentuh tanah itu.
Dan—
tanah itu terbuka.
Lebih lebar.
Seperti mulut.
Dan dari dalam—
mereka keluar.
Satu per satu.
Perempuan-perempuan itu.
Namun—
lebih buruk dari sebelumnya.
Kulit mereka robek.
Mata mereka kosong.
Dan—
mulut mereka…
terbuka terlalu lebar.
“Kita pulang…”
bisik mereka.
Kinasih menangis.
Air matanya jatuh.
Namun—
ia tidak bisa berhenti.
Karena—
semakin mereka keluar—
semakin ringan tubuhnya.
Semakin… kosong.
“Berhenti…”
bisiknya.
Namun—
suara di dalam dirinya menjawab.
“Kenapa berhenti…”
“…kalau ini tujuanmu?”
Kinasih membeku.
“Tujuan…?”
Suara itu tertawa.
“Kamu pikir kamu korban…”
Kabut di sekitarnya berubah.
Menjadi bayangan.
Kenangan.
Potongan-potongan kejadian.
Cermin.
Lemari.
Koin.
Pintu.
Semua muncul.
Berputar.
Mengelilinginya.
“…padahal kamu yang buka semuanya.”
Kinasih menatap.
Matanya membesar.
“Tidak…”
Namun—
ia melihatnya.
Satu momen.
Yang tidak pernah ia ingat.
Dirinya.
Berdiri di depan cermin.
Namun—
bukan yang kemarin.
Lebih lama.
Lebih tua.
Dan—
ia melihat sesuatu di cermin itu.
Sesuatu yang tidak ia ceritakan.
Yang tidak ia sadari.
Yang—
memanggil.
Dan—
ia menjawab.
“Kalau kamu ada…”
“…tunjukkan saja.”
Suara itu.
Yang memulai semuanya.
Kinasih mundur.
Tubuhnya gemetar.
“Jadi…”
bisiknya.
“…ini semua karena aku?”
Sunyi.
Lalu—
jawaban itu datang.
Pelan.
Namun—
kejam.
“Iya.”
Sekejap—
semua sosok itu berhenti.
Menatapnya.
Dan—
tersenyum.
“Terima kasih…”
bisik mereka.
Serempak.
Kinasih menjerit.
Ia mencoba lari.
Namun—
tidak ada arah.
Tidak ada jalan.
Karena—
tempat ini…
dibuat dari dirinya.
“Tidak… tidak…”
Ia jatuh.
Menutup wajahnya.
Menangis.
Dan saat itu—
sesuatu berubah.
Suara itu—
di dalam dirinya—
tidak lagi dingin.
Tidak lagi tenang.
Melainkan…
lapar.
“Kamu sudah buka…”
bisiknya.
“…sekarang kamu kasih semua.”
Kinasih membeku.
“Apa maksud kamu…”
Tidak ada jawaban.
Karena—
jawaban itu muncul dalam bentuk rasa.
Tubuhnya.
Mulai berubah.
Kulitnya…
retak.
Pelan.
Seperti kering.
Seperti… pecah dari dalam.
“Aaaaa—”
Ia menjerit.
Namun—
retakan itu tidak berhenti.
Dari tangannya.
Ke lengannya.
Ke lehernya.
Dan dari dalam retakan itu—
sesuatu keluar.
Kabut.
Hitam.
Pekat.
Hidup.
Dan—
dari kabut itu—
wajah.
Wajah-wajah.
Mereka.
Yang belum keluar.
“Kami juga…”
“…mau hidup.”
Kinasih terjatuh.
Tubuhnya hampir tidak bisa bergerak.
Karena—
semakin banyak yang keluar—
semakin sedikit yang tersisa darinya.
“Aku…”
bisiknya lemah.
“…hilang…”
Suara itu menjawab.
“Tidak…”
“…kamu jadi lebih banyak.”
Dan untuk pertama kalinya—
Kinasih merasa sesuatu yang lebih buruk dari mati.
Dibagi.
Dipecah.
Menjadi banyak.
Menjadi semua itu.
“Tolong…”
Ia memohon.
Namun—
tidak ada yang menolong.
Karena—
semua yang ada di sini…
adalah dirinya.
Dan mereka—
tidak ingin berhenti.
“Kita hampir selesai…”
bisik suara itu.
“…tinggal satu.”
Sunyi.
Semua sosok itu berhenti.
Menoleh ke arah yang sama.
Kabut di depan terbuka.
Dan—
sesuatu muncul.
Satu sosok.
Berbeda.
Tidak seperti yang lain.
Lebih utuh.
Lebih tenang.
Lebih… kuat.
Ia berjalan pelan.
Menuju Kinasih.
Dan—
saat wajahnya terlihat—
Kinasih membeku.
Karena—
itu dirinya.
Yang asli.
Yang dulu.
Yang sebelum semua ini.
Matanya hidup.
Wajahnya utuh.
Tidak retak.
Tidak kosong.
Ia berhenti di depan Kinasih.
Menatapnya.
Lama.
“Kamu masih di sini…”
bisiknya.
Kinasih menangis.
“Iya…”
Sosok itu tersenyum.
Lembut.
“Bagus…”
Ia mengulurkan tangan.
“Ayo… kita keluar.”
Kinasih ragu.
Namun—
ia mengangkat tangannya.
Perlahan.
Hampir menyentuh.
Namun—
suara itu muncul lagi.
Keras.
“JANGAN!”
Semua sosok lain menjerit.
Serempak.
“DIA AKAN MENUTUP!”
“KITA AKAN HILANG!”
Kinasih membeku.
Tangannya berhenti.
Di antara dua pilihan.
Keluar.
Atau—
tetap.
Dan untuk pertama kalinya—
ia sadar.
Ini bukan tentang bertahan.
Ini tentang memilih.
Ia menatap sosok itu.
Dirinya.
Yang asli.
Yang masih tersisa.
“Kalau aku ikut kamu…”
bisiknya.
“…semua ini selesai?”
Sosok itu mengangguk.
“Semua.”
Sunyi.
Beberapa detik.
Lalu—
Kinasih tersenyum.
Pelan.
Lemah.
“Maaf…”
Dan—
ia menarik tangannya.
Menjauh.
Sosok itu membeku.
“Kenapa…”
Kinasih menatapnya.
Air matanya jatuh.
“Karena…”
Ia melihat ke sekeliling.
Semua dirinya.
Semua yang belum selesai.
“…aku nggak bisa ninggalin mereka.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
sosok itu terlihat… sedih.
Namun—
ia mengangguk.
Pelan.
“Kalau itu pilihanmu…”
Ia mundur.
Perlahan.
“…maka kamu tahu akhirnya.”
Kinasih menutup mata.
Mengangguk.
“Iya…”
Sekejap—
semua sosok itu bergerak.
Mendekat.
Mengelilinginya.
Dan—
menyatu.
Masuk.
Ke dalam dirinya.
Satu per satu.
Semua.
Dan—
dalam beberapa detik—
Kinasih berdiri.
Sendiri.
Namun—
tidak sendirian.
Matanya terbuka.
Gelap.
Dalam.
Tak berujung.
Dan—
senyum itu muncul.
Lebih lebar dari sebelumnya.
Lebih hidup.
Lebih… penuh.
“Kita selesai…”
bisik suara itu.
Namun—
sekarang—
itu bukan satu suara.
Itu—
banyak.
Menjadi satu.
Dan—
di kejauhan—
sesuatu menunggu.
Lebih besar.
Lebih dalam.
Lebih… nyata.
Dan Kinasih—
melangkah.
Menuju sana.
Tanpa ragu.
Karena—
ia bukan lagi korban.
Ia—
awal.