Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angkat Wajahmu
"Minum," perintah Lucas singkat dan mengulurkan gelas yang berisikan air mineral.
Keysa menatap gelas itu dengan ragu, lalu ia meraih gelas kristal tersebut. Namun, karena tenaganya sudah terkuras habis oleh tangisan dan ketakutan, gelas itu berdenting keras saat bersentuhan dengan giginya.
Lucas yang melihat hal itu, secara tak terduga mengulurkan tangannya dan memegang dasar gelas untuk membantu Keysa menstabilkan tangannya hingga air itu terminum habis.
"Luc, lo beneran bikin kita semua kena serangan jantung," suara Aldi akhirnya memecah keheningan setelah tidak tahan dengan aura serius di meja itu.
"Dua miliar, gue aja waktu beli mobil sport baru harus mikir dua hari, lo cuma butuh dua detik buat beli... well, malaikat kecil ini," lanjut Aldi.
Lucas hanya melirik Aldi sekilas, tatapan yang cukup untuk membuat Aldi menutup mulutnya kembali.
"Nama kamu Keysa?" tanya Widia dengan suara lembut dan mencoba mencairkan suasana.
"Jangan takut, ya. Lucas ini memang tampangnya menyeramkan kayak mau makan orang, tapi dia tidak akan menyakitimu kok," lanjut Widia, Keysa hanya sanggup mengangguk pelan tanpa berani mengangkat wajah.
'Jadi, nama orang yang membeliku Lucas,' batin Keya.
"Kenapa ada luka di sudut bibirmu?" tanya Lucas tiba-tiba dan suaranya terdengar sangat dekat di telinga Keysa.
Keysa tersentak. Secara refleks, ia mencoba menutupi luka itu dengan rambutnya. "Jatuh... saya jatuh, Tuan," dustanya dengan suara parau.
Lucas tahu jika Keysa berbohong, ia tahu betul jika luka itu bukan karena jatuh. Tapi, bekas tamparan lalu matanya melirik ke arah Mami Rosa yang masih berdiri tak jauh dari sana dengan wajah gelisah.
"Aldi, ambilkan obat di mobil," ucap Lucas.
"Hah? Oh, oke, oke. Bos besar memerintah, rakyat jelata bergerak," balas Aldi sambil berdiri dan bergegas keluar, mencoba mencairkan ketegangan.
Selama menunggu Aldi, Lucas tetap duduk diam. Ia tidak menyentuh Keysa lebih dari sekadar membantu minum tadi, namun kehadirannya terasa sangat dominan.
Lucas menatap wanita yang batu saja ia beli seharga dua miliar, 'Tujuh tahun lalu, aku hanya bisa mengagumimu dari jauh saat kamu membantu seorang nenek di jalanan dan sekarang kamu dihadapanku, menjadi wanitaku,' batin Lucas.
Tak lama kemudian, Aldi kembali membawa kotak kecil. Lucas mengambilnya, mengeluarkan kapas dan cairan antiseptik. Secara perlahan, tanpa memedulikan tatapan tak percaya dari ketiga sahabatnya, Lucas meraih dagu Keysa.
"Angkat wajahmu," ucap Lucas.
Keysa terpaksa mendongak dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, mata mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat. Keysa melihat sepasang mata elang yang tajam, namun di dalamnya tersimpan kilatan emosi yang tidak ia mengerti.
Sedangkan Lucas, ia merasa hatinya berdenyut nyeri melihat wajah yang dulu selalu tersenyum, kini dipenuhi memar dan ketakutan.
Saat kapas basah itu menyentuh luka di bibir Keysa, gadis itu mengerang kecil dan memejamkan mata.
"Tahan sebentar," bisik Lucas, jemarinya yang kasar namun hangat menyangga dagu Keysa dengan sangat hati-hati.
"Ini serius Lucas? Mereka beneran baru ketemu hari ini?" bisik Marco pada Evan yang berada di sampingnya.
Evan hanya mengedikkan bahu, ikut terheran-heran melihat sisi manusiawi Lucas yang biasanya terkubur di bawah tumpukan dokumen kontrak triliunan.
Setelah membersihkan luka di bibir Keysa, Lucas meletakkan kapas itu kembali ke dalam kotak. Lucas kemudian berdiri, ia tidak menarik tangan Keysa dengan kasar, ia justru mengulurkan tangannya dan menunggu Keysa menyambutnya.
Keysa menatap telapak tangan lebar itu dengan ragu. Baginya, tangan pria mana pun malam ini adalah ancaman. Namun, saat ia melihat mata Lucas, ia tidak menemukan nafsu menjijikkan seperti pria-pria lain di barisan lelang tadi. Yang ia temukan adalah kemarahan yang tertahan dan mungkin, secercah perlindungan.
Dengan pelan, Keysa pun meletakkan tangannya di atas telapak tangan Lucas. Seketika, jemari kuat Lucas menggenggamnya dan memberikan sensasi hangat yang merambat hingga ke jantung Keysa.
"Gue pergi," ucap Lucas singkat kepada para sahabatnya.
"Woi, Luc! Langsung dibawa pulang nih? Nggak mau mampir makan dulu?" teriak Aldi yang masih tak percaya dengan kecepatan pergerakan Lucas.
"Nggak," jawab Lucas.
Lucas tidak menoleh, ia menuntun Keysa keluar dari area eksklusif itu dan melewati koridor remang-remang, di mana Mami Rosa berdiri membungkuk dalam-dalam dengan keringat dingin di dahi, Lucas sempat berhenti sejenak tepat di samping wanita itu.
"Satu hal lagi, jika ada sehelai rambutnya yang hilang karena orang-orangmu sebelum aku membawanya pergi, kau akan tahu mengapa mereka menyebutku iblis dalam bisnis," ucap Lucas dengan suara yang cukup rendah hingga hanya Mami Rosa yang bisa mendengarnya, hingga membuat Mami Rosa hanya bisa mengangguk tanpa berani mengeluarkan suara.
Angin malam yang dingin menusuk hingga ke tulang saat Lucas menuntun Keysa keluar dari pintu belakang club, di mana sebuah mobil Rolls-Royce hitam mengkilap sudah menunggu dengan mesin yang halus, Johan asisten pribadi Lucas yang selalu sigap, segera membukakan pintu belakang.
"Masuk," ucap Lucas.
Keysa masuk ke dalam kabin mobil yang sangat luas dan beraroma mewah, ia duduk di pojok dan meringkuk di dalam balutan jas Lucas yang kebesaran. Tak lama, Lucas masuk dan duduk di samping Keysa dengan memberikan jarak, namun tetap terasa mengintimidasi karena auranya yang kuat, lalu mobil pun meluncur membelah jalanan kota yang mulai sepi.
"Bagaimana? Apa kontraknya sudah diurus?" tanya Lucas.
"Sudah, Tuan. Dengan adanya kontrak ini, mereka tidak akan bisa mencampuri urusan Nyonya lagi dan Nyonya sepenuhnya milik anda," ucap Johan dan diangguki Lucas.
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gerbang raksasa yang terbuka otomatis. Di balik gerbang itu, terbentang halaman luas dengan deretan pohon pinus yang tertata rapi, menuju sebuah bangunan megah bergaya modern klasik dengan pilar-pilar tinggi yang menjulang.
Rumah itu tampak seperti istana dan begitu mobil berhenti di depan lobi utama, Johan turun lebih dulu untuk membukakan pintu lalu Lucas melangkah keluar lalu berbalik dan mengulurkan tangannya pada Keysa. Dengan tubuh yang masih dibalut jas besar milik Lucas, Keysa turun dengan langkah gontai dan menunduk, ia tak berani menatap kemegahan di hadapannya.
Pintu jati ganda yang besar terbuka, menampakkan ruang tamu dengan lampu gantung kristal yang berkilauan, dan seorang wanita paruh baya berseragam rapi sudah berdiri menyambut dengan kepala tertunduk hormat.
"Bi Lita," panggil Lucas, suaranya menggema di ruangan yang luas itu.
"Iya, Tuan?" jawab Bi Lita.
"Antar dia ke kamar tamu, siapkan pakaian yang layak, air hangat untuk mandi dan pastikan dia makan. Jangan biarkan dia keluar kamar malam ini tanpa izin saya," perintah Lucas tanpa menoleh ke arah Keysa.
"Baik, Tuan," jawab Bi Lita.
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...