NovelToon NovelToon
Bayi Kesayangan Caelan

Bayi Kesayangan Caelan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Single Mom
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: Ann Soe

Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 5

“Aku akan memenuhi tuntutanmu untuk bertanggung jawab terhadap Emi.”

“Maksudmu?”

“Aku akan menjadi ayah bagi Emi menggantikan Henry.”

“Aku masih tidak mengerti.”

Amelia masih menatap Caelan dengan bingung.

“Begini, aku memiliki penawaran padamu. Emi adalah anak Henry, berarti dia adalah keponakanku. Sudah menjadi kewajibanku untuk merawatnya seperti anak sendiri, karena Henry tidak bisa melakukan kewajiban tersebut. Aku akan mendampingi Emi dan melakukan apa saja yang menjadi tanggung jawab seorang ayah. Bukan hanya secara finansial, tapi aku akan andil dalam kehidupan Emi. Aku ingin membesarkan Emi seperti anakku sendiri.”

Pidato panjang Caelan mengungkapkan banyak hal. Di satu sisi, Amelia senang karena Emi tidak akan hidup kekurangan, karena paman gadis kecil itu bersedia bertanggung jawab secara finansial. Di sisi lain, Amelia takut dengan pernyataan Caelan yang ingin andil dalam kehidupan Emi.

Dada Amelia seperti diremas ketika memikirkan Caelan akan membawa pergi Emi darinya. Amelia memandang ke arah Emi yang terbangun dan melambaikan tangan serta kaki dengan gembira dalam box bayi.

“Apa maksudmu dengan ikut andil dalam kehidupan Emi dan membesarkannya seperti anak sendiri?” Jantung Amelia berdebar kecang saat bertanya.

“Aku ingin terlibat dalam kehidupan Emi, selayaknya seorang ayah yang terlibat.”

“Kau ingin mengambil hak asuh Emi?” tanya Amelia dengan nada bergetar.

“Tidak, tidak, bukan itu yang kuinginkan.” Caelan menggeleng. “Kau jangan salah sangka. Aku tidak akan mengambil Emi darimu, aku tahu betapa kau sangat menyayanginya dan ingin mengurusnya.”

Seketika Amelia merasa lega. Setidaknya, untuk saat ini ia masih bisa mengurus Emi tanpa perlu berebut hak asuh dengan Caelan.

Amelia mengangguk perlahan. “Aku ingin mengurus Emi walau dengan semua keterbatasanku. Aku tidak ingin menyerahkannya ke panti asuhan atau membiarkannya diadopsi, meskipun harus menjual rumah ini, aku akan tetap mengurus Emi.”

“Ya, aku mengerti hal itu. Aku pun merasa demikian, meskipun baru bertemu dua kali dengannya, aku ingin menjaganya. Kita memiliki perasaan yang sama terhadap gadis kecil ini, dan itu membuat situasi kita menjadi rumit.”

Amelia menelengkan kepala. “Serumit apa?”

Caelan memandangi Emi. “Memangnya mengurus seorang bayi bukan hal rumit?” Caelan balas bertanya.

Amelia hanya bisa menghela napas. “Kau benar, hal itu memang benar-benar rumit, tapi mari kita buat ini lebih sederhana.”

Amelia menikmati ekspersi kebingungan di wajah Caelan saat memerhatikannya mengangkat Emi dari box. “Sayangku, saatnya kau berkenalan dengan Pamanmu. Katakan halo pada Om Caelan.”

Kemudian Amelia meletakkan Emi di pangkuan Caelan. Untuk beberapa detik pertama Caelan tampak terkejut dan kikuk.

“Tidak apa-apa, Emi tidak akan pecah,” ujar Amelia setelah melihat ekspresi Caelan ketika Emi mengeliat-geliat di pangkuan pria itu. “Dia akan resah kalau kau gugup dan takut. Usahakan untuk tetap tenang.”

Caelan tersenyum sedikit putus asa. “Ini lebih sulit dibandingkan mengerjakan sketsa gedung.”

“Hanya awalnya saja, kalau sudah terbiasa akan mudah,” sahut Amelia.

“Apakah kepalanya harus kusangga?” tanya Caelan.

“Tidak, Emi sudah lebih kuat sekarang. Dia lebih suka dipangku dengan posisi duduk dibandingkan berbaring. Kau hanya perlu memerhatikan bagian tulang belakangnya.”

Caelan mengikuti instruksi Amelia dan memangku Emi dalam posisi duduk. Bayi kecil itu terlihat senang. Tangannya bergerak-gerak menggapai udara, kakinya pun aktif menendang.

“Emi sudah bisa berdiri dan melompat di pangkuanmu, tapi jangan terlalu lama karena dia mudah lelah setelah aktif bergerak.”

“Bagaimana aku tahu seberapa lama bisa membiarkannya melakukan hal itu?” tanya Caelan panik sehingga membuat Amelia tertawa.

“Jika sudah lelah Emi akan berhenti. Jika sudah lelah, dia akan kelaparan lalu ingin tidur.”

“Bagaimana aku mengetahui kapan dia lapar dan ingin tidur?” Caelan bertanya lagi masih dengan nada panik.

“Emi akan memberitahumu,” jawab Amelia sambil melangkah menjauh.

“Kau mau ke mana?” tanya Caelan, kepanikan pria itu sudah naik ke tingkat waspada saat melihat Amelia beranjak pergi.

“Kamar mandi. Kau keberatan?”

Caelan mengembuskan napas. “Tidak. Pergilah, tapi-“

“Tapi?”

“Cepatlah kembali.”

Amelia hanya mengangguk, lalu melanjutkan langkah. Ia perlu waktu sendiri untuk mencerna semuanya. Caelan ternyata bukan ayah Emi seperti yang Amelia kira, tapi pria itu tetap ingin menjadi ayah bagi Emi. Situasi ini memang rumit seperti yang dikatakan Caelan tadi. Mereka harus menemukan pengaturan yang pas agar Caelan tetap bisa menjadi ayah bagi Emi tanpa harus memisahkan Amelia dari bayi kecil itu. Karena jujur saja, jika Emi tidak ada, rasanya sulit bagi Amelia untuk tetap bisa menjalani hidup.

Amelia baru kembali setengah jam kemudian dan menemukan Caelan asyik bermain dengan Emi yang dibaringkan di box bayi. Caelan langsung menoleh ketika mengetahui kehadiran Amelia. Pria itu mengembangkan senyum dan berkata, “Aku tidak berani menggendongnya lebih lama, jadi kuletakkan saja. Untungnya dia tidak menangis. Dia sangat pengertian.”

Amelia menghampiri, ikut memerhatikan Emi yang asyik memainkan boneka kelinci merah muda. Ia membelai pipi Emi. “Kau sengaja memperlihatkan sisi baikmu pada Om Caelan ya.”

Emi terkekeh-kekeh, seolah mengiyakan perkataan Amelia.

“Dia sangat manis,” ucap Caelan lirih dengan mata yang tidak pernah lepas dari Emi.

“Dia memang manis. Setidaknya, sampai kau harus menghadapinya saat kelaparan atau ingin ganti popok,” sahut Amelia sembari mengambil botol susu dan menyiapkan susu hangat untuk Emi. Menyadari Caelan memerhatikannya dengan saksama, Amelia menjelaskan, “Sebentar lagi dia akan berteriak meminta susu.”

“Benarkah?” Caelan memandangi Emi yang masih asyik bermain.

“Mau belajar membuat susu?” Amelia menawarkan.

Caelan mengangguk antusias dan langsung menghampiri Amelia. Pria itu mengikuti semua instruksi Amelia dengan baik, mulai dari menakar susu bubuk, memasukkan air panas hingga mengocok susu di botol sampai tercampur rata.

“Harus tunggu hangat dulu baru boleh diberikan pada Emi,” ujar Amelia.

Caelan membawa botol susu menghampiri Emi. Mata Emi berbinar melihat botol susu itu. Boneka kelinci langsung dilepaskan dan kedua tangan Emi terangkat meminta botol susu.

“Tunggu sebentar, masih panas,” ucap Caelan. Namun, Emi tidak setuju dan mengeluarkan rengekan, mulanya pelan lalu berubah menjadi teriakan.

Amelia tertawa melihat Caelan yang kaget dan mundur selangkah.

“Dia bisa menangis sekeras itu?”

Baru bersama dengan Emi kurang dari dua jam, Caelan sudah dibuat takjub dengan bayi mungil itu. Menit sebelumnya Emi manis dan pengertian, sekarang sudah jadi bayi kecil pemarah karena lapar.

“Ya, dan jika kau tidak memberikan susunya segera, Emi akan mengamuk.”

“Bagaimana ….” Caelan kebingungan.

“Duduklah di sofa ruang tamu, di sana lebih nyaman untuk memangku Emi dan menyusuinya. Aku akan membawa Emi ke sana. Setelah ini, kau akan belajar menyusui.”

Amelia tidak menyangka Caelan menjadi sangat penurut. Semua instruksi Amelia diikuti pria itu dengan baik tanpa bertanya. Melihat Caelan yang kooperatif, sepertinya setelah ini mereka dapat bekerjasama dengan baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!