Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Dua Dunia yang Berbeda
Rokok di jemari Hans Lesmana hampir habis terbakar, namun ia sama sekali tidak menyadarinya. Matanya terpaku pada layar ponsel. Angin malam di balkon membawa hawa dingin, namun justru menambah kegelisahan di hatinya.
Akhirnya, layar yang sedari tadi bisu itu menyala. Suara notifikasi yang lembut terdengar, namun bagi Hans, bunyi itu terasa sangat menggelegar. Ia menyambar ponselnya seketika, ujung jarinya memutih karena tekanan yang kuat.
Ia membuka pesan itu; permintaannya telah diterima.
Sudut bibir Hans terangkat sedikit, hampir tak terlihat. Heh, gadis kecilku akhirnya menambahkanku juga.
Ia melirik jam; tepat pukul sebelas malam, belum terlalu larut. Ia menimbang-nimbang sejenak sebelum mengirimkan pesan pertama: 【Belum tidur?】
Balasan datang dengan cepat: 【Lagi pakai masker wajah.】
Dalam benak Hans, ia langsung membayangkan wajah cantik Tania yang menggemaskan dengan masker putih menempel. Jakunnya naik-turun, dan tatapannya semakin dalam. Dia pasti terasa harum dan lembut.
Hans hanya membalas dengan: 【Mhm.】
Lalu ia menyambung: 【Besok pagi ada kuliah?】
【Iya, harus bangun pagi.】
【Biar aku yang jemput?】 Kali ini, nadanya membawa kepastian yang tak terbantahkan.
Namun, apa yang kembali dari seberang layar adalah penolakan lainnya:
【Tidak usah, tidak usah. Sopir rumah yang akan antar. Tidak perlu merepotkan Pak Hans.】
"Cih." Hans mendengus tidak puas. Makhluk kecil ini menolaknya lagi. Panggilan "Pak Hans" itu membuatnya semakin mengernyit; itu terlalu jauh dan formal.
Kapan ia akhirnya bisa mendekap gadis itu secara sah dan mendengar suara manisnya memanggil namanya?
Hans mengklik profil Tania dan menggulir linimasanya dengan teliti. Gadisnya memang sangat imut; unggahannya penuh dengan jejak kehidupannya yang penuh warna: toko roti yang baru ditemukan, kucing malas di sudut jalan, pelangi setelah hujan, dan foto-foto dirinya yang tersenyum cerah seperti bunga.
Setiap kata dan gambar bagaikan aliran air pegunungan yang jernih, perlahan menyirami hatinya yang sudah lama gersang. Ia sangat ingin masuk ke dalam dunia Tania dan mengklaim kemanisan unik ini sebagai miliknya sepenuhnya. Ia menyimpan setiap foto Tania ke dalam album ponselnya tanpa melewatkan satu pun.
Ibu jarinya mengusap lembut wajah tersenyum Tania di layar, dan rasa hampa yang aneh di hatinya seolah sedikit terisi. Ia menatap layar percakapan mereka, jarinya tertahan di atas kolom input untuk waktu yang lama. Ia ingin bicara lebih banyak, tapi takut Tania akan menganggapnya mengganggu.
Sikap hati-hati dan rasa takut kehilangan ini adalah sesuatu yang belum pernah Hans alami selama dua puluh enam tahun hidupnya. Dengan frustrasi, ia mengacak rambutnya lalu menghubungi nomor Yohan.
"Halo? Kak Hans? Abangku sayang, ada instruksi apa malam-malam begini?" Suara latar di tempat Yohan sangat bising, sepertinya ia sedang berada di kelab malam.
"Diam. Aku mau tanya sesuatu. Bagaimana caranya agar seorang gadis tidak menolak jemputanku?"
Yohan di seberang sana terdiam selama beberapa detik sebelum meledak dalam tawa yang sangat keras:
"Pffft, hahaha! Tidak mungkin, Kak! Sosialita mana yang sedang Kakak incar? Apa gadis yang Kakak gendong waktu itu? Itu gampang! Gunakan saja aura dominan Kakak yang tak tertandingi untuk mengintimidasi dia! Siapa yang berani tidak memberi muka pada Kakak?"
Urat di pelipis Hans berdenyut kesal: "Katakan sesuatu yang berguna."
"Ehem, oke, yang berguna adalah," Yohan berusaha keras menahan tawa dan berdehem, "gadis itu mungkin merasa belum terlalu akrab, atau... dia memang tidak ingin Kakak jemput. Kakak harus pelan-pelan. Tunjukkan sisi lembut dan perhatian Kakak. Misalnya, beri kejutan harian kecil, tunjukkan perhatian pada kuliah dan hidupnya..."
Hans tidak sanggup mendengar lebih lama lagi dan menutup telepon. Lembut dan perhatian? Dalam kamus masa lalunya, yang ada hanya ambisi dan kekuasaan. Tapi dengan Tania Santoso, ia tidak sanggup bersikap kasar.
Di sisi lain, Tania melepas maskernya dan menepuk-nepuk pipinya yang kenyal di depan cermin dengan puas. Ia mengambil ponsel dan membuka riwayat percakapan dengan Hans; hanya ada beberapa baris singkat.
Ia memang menolaknya secara insting. Bukannya ia takut merepotkan, tapi... mereka memang belum seakrab itu. Terlebih lagi, mobil mewah Hans yang terlalu mencolok—Tania tidak ingin menjadi pusat perhatian seluruh kampus karena hal itu.
Yang lebih penting, aura Hans terlalu kuat. Tekanan yang tak terlihat itu membuatnya merasa sangat gugup jika harus berduaan dengannya.
Tania keluar dari ruang percakapan dan, seolah terhipnotis, mengklik linimasa Hans Lesmana.
"Pfft." Saat melihat isinya, ia tidak bisa menahan tawa kecil.
Persis seperti dugaannya, persis seperti kesan yang ia berikan... sangat membosankan.
Unggahan terbarunya, tanpa pengecualian, semuanya tentang bisnis Grup Lesmana: 【Grup Lesmana berhasil memperluas pangsa pasar energi terbarukan di Eropa】, 【Proyek kawasan komersial terintegrasi di Jakarta Selatan telah selesai dan mulai beroperasi】, 【Grup telah mencapai kesepakatan akuisisi strategis dengan perusahaan multinasional XX】... Setiap postingan berjarak sepuluh hari atau setengah bulan, teratur seperti mesin.
Foto yang menyertai semuanya adalah rapat bisnis, upacara peletakan batu pertama, atau penandatanganan kontrak. Tidak ada satu pun foto kehidupan pribadi, bahkan tidak ada foto pemandangan, apalagi swafoto.
"Hidup seperti apa yang dia jalani?" gumam Tania pelan. "Bahkan lebih membosankan dari linimasa Kak Titan yang gila kerja. Setidaknya Kakakku masih memposting foto olahraga atau mengeluh sesekali soal lembur."
Apakah ini keseharian pria yang berada di puncak rantai makanan? Hambar, menjemukan, isinya hanya kerja, tanpa ada jejak kehidupan normal!
Tania mencibir kecil, merasa bahwa ia dan Hans hidup di dua dunia yang benar-benar berbeda. Yang satu penuh warna dan hangat, sementara yang lain berada di tempat tinggi yang tak terjangkau, seolah tidak berasal dari dunia yang sama.
Ia melemparkan ponselnya ke atas nakas dan memutuskan untuk berhenti memikirkan pria yang aneh dan terlalu dominan itu. Besok ia harus bangun pagi; istirahat adalah hal terpenting.
Sudah pukul 11.20 malam. Hans memperkirakan Tania sudah selesai dengan maskernya dan harus tidur lebih awal. Maka, jemari panjangnya mengetuk layar ponsel dua kali:
【Dek?】
Hans menatap kata "Adek" yang baru saja ia kirimkan. Ada binar antisipasi yang bahkan tidak ia sadari melintas di matanya yang dalam. Ini pertama kalinya ia memanggilnya seperti itu.
Saat itu, Tania baru saja akan terlelap ketika mendengar suara notifikasi lagi. Ia menebak itu mungkin Hans. Ia segera menyambar ponsel dan melihat pesan itu seketika.
"Adek?"
Panggilan itu adalah sebutan yang sudah ia dengar sejak kecil dari keluarganya, tapi melihat kata itu muncul di kolom percakapan Hans Lesmana—ditambah bayangan wajah dingin nan tampannya serta tatapan membara yang diberikan padanya—pipi Tania langsung memanas hebat.
Kenapa dia juga memanggilnya begitu? Kedengarannya... sangat intim.