"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pagi di Balik Selimut yang Sama
Sinar matahari menyusup melalui celah gorden sutra, menggelitik kelopak mataku. Aku mengerang pelan, mencoba menarik selimut lebih tinggi, namun tanganku justru menyentuh sesuatu yang hangat dan keras. Bukan bantal, melainkan... lengan seseorang.
Aku membuka mata sepenuhnya. Jantungku hampir melompat keluar saat melihat wajah Liam hanya berjarak beberapa sentimeter dariku. Dia masih terlelap. Wajahnya yang biasanya kaku dan penuh ancaman kini terlihat sangat tenang, hampir seperti malaikat jika aku lupa dia adalah CEO kejam yang ditakuti seluruh negeri.
[Dia masih tidur... wajahnya saat tenang begini cantik sekali. Haruskah aku bangun sekarang? Tapi aku tidak mau melepaskan momen ini. Aku ingin memandangnya lebih lama. Blair... kenapa kau tiba-tiba membiarkanku sedekat ini?]
Aku tersentak. Suara hatinya! Ternyata dia sudah bangun?
Aku melirik Liam. Matanya masih tertutup rapat, napasnya teratur. Oh, jadi dia sedang berpura-pura tidur? Aku menahan senyum geli. Ternyata Tuan Alexander yang terhormat ini punya hobi mengintip istrinya di dalam hati.
"Bangun, Liam. Aku tahu kau sudah sadar," ucapku sambil menyenggol lengannya.
Liam tersentak, kelopak matanya terbuka lebar dengan ekspresi panik yang tertahan. Ia langsung menarik tangannya seolah baru saja menyentuh bara api.
"Aku... aku baru saja bangun," sahutnya kaku, suaranya serak khas orang bangun tidur yang terdengar sangat seksi.
"Benarkah? Padahal suara hatimu bilang kau sudah lama memperhatikanku," batinku tertawa.
"Kau tidak mengusirku semalam," Liam duduk di tepi ranjang, membelakangiku. Punggungnya yang lebar terlihat sangat tegap, namun bahunya sedikit tegang.
"Kenapa aku harus mengusir suamiku sendiri? Itu melelahkan," aku beranjak duduk, merapikan rambutku yang berantakan. "Dan mulai sekarang, lupakan kamar tamu itu. Kecuali kau memang lebih suka tidur sendiri dengan bantal dingin."
Liam menoleh sedikit, menatapku dengan tatapan tak percaya. "Kau serius? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu untuk membiusku lalu kabur dengan Andreas, kan?"
Aku menghela napas panjang, menatapnya dengan tatapan tajam yang dibuat-buat. "Liam, kalau aku mau kabur, aku sudah melakukannya sejak kemarin. Berhenti menjadi paranoid. Andreas itu hanya masa lalu yang memuakkan. Mengerti?"
Liam terdiam. Secara lahiriah dia hanya mengangguk pelan, tapi di kepalaku...
[DIA MEMANGGILKU 'SUAMIKU'! Dan dia bilang Andreas memuakkan! Ya Tuhan, apakah aku harus memberikan bonus 200% untuk semua karyawan hari ini? Aku ingin menari! Aku ingin membelikannya pulau pribadi! Dia benar-benar milikku sekarang!]
"Cepat mandi," ucapku sambil melempar bantal ke arahnya agar dia tidak terus melamunkan bonus karyawan. "Aku akan menyiapkan sarapan. Dan pastikan Axelle juga sudah siap. Aku tidak mau dia berangkat sekolah dengan perut kosong lagi."
"Kau mau memasak lagi?" tanya Liam, alisnya bertaut. "Ada koki di rumah ini, Blair."
"Masakan koki tidak punya bumbu rahasia sepertiku," balasku sambil melangkah menuju kamar mandi.
"Bumbu rahasia apa?"
"Cinta," jawabku asal sambil menutup pintu kamar mandi.
Aku bisa mendengar suara gedebuk pelan dari luar. Sepertinya Liam baru saja jatuh dari pinggir ranjang karena terkejut.
[CINTA?! Dia bilang bumbu rahasianya cinta? Blair... kau benar-benar ingin membunuhku dengan serangan jantung, ya?]
...****************...
Tiga puluh menit kemudian, di ruang makan.
Suasana pagi ini jauh lebih hangat. Aroma nasi goreng mentega dan telur mata sapi memenuhi ruangan. Axelle sudah duduk di kursinya, wajahnya tampak lebih segar meskipun luka di bibirnya masih ada.
"Pagi, Axelle," sapaku sambil meletakkan sepiring nasi di depannya.
Axelle mendongak, matanya menatapku dengan binar yang berbeda. Tidak ada lagi kebencian yang meluap-luap, meski rasa canggung itu masih ada. "Pagi... Ma."
Tanganku gemetar sedikit. Dia memanggilku 'Ma'. Bukan 'Nyonya' atau 'Penyihir'. Hanya 'Ma'.
Liam menyusul masuk ke ruang makan, sudah rapi dengan setelan jas hitamnya yang sangat berwibawa. Namun, saat melihatku, tatapannya langsung melembut—sesuatu yang membuat para pelayan di sekitar kami saling lirik dengan wajah heran.
"Duduklah, Tuan CEO. Sarapanmu sudah siap," ucapku.
Kami makan dalam diam, namun ini bukan kesunyian yang mencekam seperti kemarin. Ini adalah kesunyian yang nyaman. Sampai tiba-tiba, seorang pelayan masuk dengan terburu-buru.
"Tuan... itu... di depan ada Tuan Andreas. Beliau memaksa masuk dan ingin bertemu dengan Nyonya Blair," lapor pelayan itu dengan wajah pucat.
Prang!
Liam menjatuhkan garpunya. Auranya seketika berubah menjadi sangat gelap dan dingin. Matanya berkilat penuh amarah, dan tangannya mengepal kuat di atas meja.
[BERANI-BERANINYA DIA! Pria parasit itu berani menginjakkan kaki di rumahku setelah Blair bilang dia muak? Aku akan menghancurkannya! Aku akan memastikan dia tidak bisa melihat matahari besok!]
Axelle juga langsung menegang, tangannya gemetar memegang sendok. Ia menatapku dengan tatapan takut, seolah-olah ia berpikir aku akan langsung berlari ke pelukan Andreas dan meninggalkannya lagi.
Aku mengusap bibirku dengan serbet, lalu berdiri dengan tenang. "Biar aku yang hadapi."
"Tidak!" Liam berdiri, menahan lenganku. "Biar pengawalku yang mengusirnya. Kau tidak perlu melihatnya."
[Jangan temui dia, Blair. Kumohon... jangan pergi padanya lagi. Hatiku tidak akan sanggup jika melihatmu tersenyum padanya setelah semua kebaikanmu pagi ini.]
Aku menangkup tangan Liam yang memegang lenganku. Matanya yang penuh ketakutan itu membuatku ingin menangis. "Tenanglah, Liam. Aku hanya ingin membereskan sampah agar rumah kita tetap bersih. Kau tetaplah di sini bersama Axelle."
Aku memberikan senyum paling manis yang pernah kuberikan pada Liam, lalu melangkah menuju pintu depan dengan langkah yang mantap.
"Andreas, ya?" gumamku sambil mengepalkan tangan. "Mari kita lihat bagaimana rasanya berurusan dengan pegawai bank yang paling ahli menghadapi nasabah nakal!"
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/