Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Luka yang Tak Terlihat
Dua minggu setelah kejadian di Puncak, Ren dilaporkan ke polisi. Namun karena bukti yang kurang kuat—Baskara tidak mengalami luka fisik dan tes darah hanya menunjukkan sisa obat penenang yang bisa saja diklaim sebagai obat biasa—Ren hanya dikenai tahanan rumah sambil menjalani proses hukum yang panjang.
Arka memasang sistem keamanan baru di apartemennya. Ia juga mengubah jadwal jemput Baskara dari sekolah, dan untuk sementara waktu, ia memutuskan Baskara tidak akan bertemu Aisha di luar pengawasannya.
Aisha menerima keputusan itu dengan berat hati. Tapi ia mengerti. Kepercayaan memang sedang dalam posisi paling rapuh.
Hari ini, Aisha berada di ruang konseling. Bukan untuk Baskara, tapi untuk dirinya sendiri.
“Jadi, bagaimana perasaan Ibu setelah kejadian itu?” tanya konselornya, Bu Dewi, seorang psikolog yang sudah berpengalaman menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga dan trauma keluarga.
Aisha duduk di sofa, tangannya meremas tisu yang hampir hancur. “Saya merasa bersalah. Setiap hari. Setiap detik.”
“Rasa bersalah itu muncul karena Ibu merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Baskara?”
“Karena saya memang bertanggung jawab.” Aisha menegaskan. “Jika saya tidak berselingkuh dengan Ren, dia tidak akan pernah punya alasan untuk mendekati keluarga saya. Baskara tidak akan diculik. Arka tidak akan...”
“Tidak akan apa?”
Aisha diam. Kemudian ia berkata, “Arka tidak akan kehilangan kepercayaannya pada cinta.”
Bu Dewi mencatat sesuatu. “Ibu dan Arka sudah resmi bercerai?”
“Prosesnya masih berjalan. Tapi secara psikologis, kami sudah berpisah sejak malam Baskara tahu.”
“Dan bagaimana perasaan Ibu tentang itu?”
Aisha menunduk. “Saya tidak punya hak untuk merasa apa-apa. Saya yang menghancurkan pernikahan saya. Saya yang harus menerima konsekuensinya.”
“Ibu, mengakui kesalahan itu penting. Tapi menyalahkan diri sendiri secara berlebihan tidak akan membantu proses pemulihan—baik untuk Ibu maupun untuk Baskara.”
“Tapi saya pantas merasa bersalah.”
“Rasa bersalah yang sehat adalah motivasi untuk berubah. Rasa bersalah yang tidak sehat adalah hukuman yang tidak pernah berakhir. Mana yang Ibu inginkan untuk Baskara? Ibu yang berubah atau Ibu yang terus menghukum diri sendiri?”
Aisha tidak bisa menjawab.
Sesi konseling berakhir satu jam kemudian. Aisha keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Bu Dewi benar, tapi mengubah pola pikir tidak semudah membalik telapak tangan.
Di luar, ia melihat Arka sedang duduk di bangku taman. Pria itu memegang secangkir kopi, menatap langit yang mulai mendung.
“Arka?” Aisha mendekat. “Ada apa?”
Arka menoleh. Matanya lelah. “Aku di sini menunggu konseling Baskara.”
“Baskara ke psikolog?”
Arka mengangguk. “Dia tidak mau tidur sendiri. Mimpi buruk terus. Kadang teriak-teriak tengah malam. Aku sudah tidak bisa menenangkannya.”
Aisha merasakan dadanya sesak. “Kenapa kamu tidak bilang?”
“Kamu pikir kamu perlu tahu? Kamu sudah cukup banyak masalah.”
“Arka, dia anakku juga.”
“Ya, anakmu yang kau taruh dalam bahaya karena perselingkuhanmu dengan pria gila itu!”
Suara Arka meninggi. Beberapa orang di taman menoleh. Arka menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
“Maaf,” katanya setelah beberapa saat. “Aku tidak seharusnya... aku hanya lelah, Aisha. Lelah sekali.”
Aisha duduk di sampingnya, menjaga jarak. “Aku bisa bantu. Aku bisa jaga Baskara malam-malam. Aku bisa—”
“Tidak.” Arka memotong. “Baskara masih belum stabil. Setiap kali namamu disebut, dia diam. Dia tidak marah, tidak sedih. Hanya diam. Dan itu lebih menakutkan.”
Aisha menunduk. Tangannya gemetar.
“Arka, aku tahu aku tidak punya hak untuk meminta apa pun. Tapi tolong... jangan jauhkan aku dari Baskara. Aku tidak akan selamat jika aku kehilangan dia.”
Arka menatapnya lama. “Kau tahu, Aisha, aku dulu berpikir bahwa cinta adalah tentang memiliki. Tentang memiliki rumah, memiliki keluarga, memiliki pasangan yang setia. Tapi setelah semua ini, aku belajar bahwa cinta juga tentang melepaskan. Melepaskan ekspektasi, melepaskan kekecewaan, dan menerima bahwa kadang, tidak ada yang bisa diperbaiki.”
“Aku tidak percaya itu tidak bisa diperbaiki.”
“Kau percaya? Atau kau hanya tidak mau kehilangan?”
Pertanyaan itu menusuk. Aisha tidak bisa menjawab.
Sebelum mereka sempat bicara lebih lanjut, pintu ruang konseling terbuka. Baskara keluar dengan seorang konselor yang tersenyum padanya. Baskara tersenyum kecil—senyum yang cepat hilang begitu matanya menangkap sosok Aisha.
Wajah anak itu berubah. Tidak marah, seperti yang Arka katakan. Hanya datar. Kosong.
“Ayah, aku sudah selesai,” kata Baskara, berpura-pura tidak melihat ibunya.
“Baskara,” Aisha berdiri. “Ibu datang. Ibu... Ibu kangen.”
Baskara berhenti. Ia menatap Aisha, dan untuk sesaat, Aisha melihat kilasan emosi di mata anak itu. Tapi dengan cepat, Baskara menunduk.
“Aku mau pulang, Ayah.”
“Nak, tolong, lihat Ibu sebentar.”
Baskara mengangkat wajahnya. Matanya kering. Tidak ada air mata. Tidak ada kemarahan. Hanya tembok tinggi yang sengaja ia bangun.
“Ibu,” katanya pelan. “Aku tidak bisa sekarang. Maaf.”
Lalu ia berjalan menuju mobil Arka.
Arka berdiri, menatap Aisha dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Kami akan pulang dulu.”
“Arka, tolong...”
“Aku akan kirim jadwal konseling Baskara. Kau bisa datang jika psikolognya mengizinkan. Itu yang terbaik yang bisa aku lakukan sekarang.”
Arka berjalan pergi. Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan Aisha di taman.
Ia berdiri di sana, di tengah orang-orang yang lalu lalang, merasa seperti satu-satunya makhluk paling sendirian di dunia.
Malam itu, Aisha tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon apartemennya, memandang lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Di kejauhan, ia bisa melihat gedung apartemen tempat Arka dan Baskara tinggal. Lampu di lantai 27 masih menyala.
Aisha mengangkat ponselnya. Menekan nomor Baskara.
Panggilan diteruskan ke pesan suara. Seperti biasa.
“Nak, ini Ibu. Ibu hanya ingin... Ibu ingin minta maaf. Bukan hanya untuk kesalahan dulu, tapi juga untuk hari ini. Ibu datang tanpa bilang, memaksamu untuk bicara. Ibu tidak seharusnya melakukan itu. Ibu tahu kamu butuh waktu. Ibu akan menunggu. Berapa pun lama.”
Aisha berhenti. Napasnya tersengal.
“Ibu sayang kamu, Baskara. Ibu tidak akan berhenti mencintaimu. Tidak peduli seberapa lama kamu membenci Ibu. Ibu akan tetap di sini. Menunggu.”
Ia menutup telepon. Air matanya jatuh diam-diam.
Tiga hari kemudian, Aisha menerima pesan dari Arka. Baskara bersedia bertemu, tapi hanya di ruang konseling dengan psikolog yang mendampingi.
Aisha datang. Ia memakai pakaian yang paling disukai Baskara—kemeja biru muda yang dulu selalu Baskara bilang membuat ibunya terlihat cantik.
Di ruang konseling, Baskara duduk di kursi yang jauh dari Aisha. Psikolog, Pak Hendra, duduk di antara mereka.
“Baskara, hari ini Ibu kamu datang karena dia ingin bicara dengan kamu. Kamu bersedia?” tanya Pak Hendra lembut.
Baskara mengangguk kecil.
“Baskara,” Aisha memulai. “Ibu minta maaf. Ibu tahu maaf tidak cukup. Tapi Ibu ingin kamu tahu, Ibu sangat menyesal. Bukan hanya karena kejadian dengan Om Ren, tapi karena Ibu telah membuatmu kecewa. Ibu telah menghancurkan kepercayaanmu.”
Baskara diam.
“Ibu tidak akan memintamu untuk memaafkan Ibu sekarang. Ibu tidak akan memaksamu untuk melupakan. Ibu hanya ingin kamu tahu, Ibu ada di sini. Kapan pun kamu siap, Ibu akan ada.”
Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu. Pak Hendra melirik Baskara, memberi isyarat bahwa ini adalah waktunya.
Akhirnya Baskara berbicara. Suaranya kecil, nyaris berbisik.
“Ibu, aku takut.”
Aisha mencondongkan tubuh. “Takut apa, Nak?”
“Aku takut... suatu hari nanti Ibu akan kembali melakukan hal yang sama. Aku takut Ibu akan meninggalkan aku dan Ayah lagi. Aku takut Ibu tidak benar-benar berubah.”
Aisha merasakan jantungnya remuk. Ia menahan tangisnya.
“Baskara, Ibu tidak bisa menjanjikan bahwa Ibu akan sempurna. Tapi Ibu bisa menjanjikan satu hal: Ibu tidak akan pernah berbohong lagi. Ibu tidak akan pernah menyembunyikan apa pun lagi. Dan setiap hari, Ibu akan berusaha menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Bukan karena Ibu ingin kamu memaafkan Ibu, tapi karena Ibu ingin pantas menjadi ibumu.”
Baskara menunduk. Bahunya bergetar. Anak itu menangis diam-diam.
“Aku masih sayang Ibu,” isaknya. “Aku benci karena aku masih sayang Ibu. Aku ingin benci Ibu selamanya, tapi aku tidak bisa. Dan itu membuatku marah. Marah sama Ibu, marah sama diri aku sendiri.”
Aisha ingin memeluk anaknya. Tapi Pak Hendra menggeleng pelan. Beri ia ruang.
“Tidak apa-apa marah, Nak,” kata Aisha. “Ibu juga marah pada diri Ibu sendiri. Tapi ingat, apa pun yang terjadi, Ibu tidak akan berhenti mencintaimu. Tidak akan pernah.”
Baskara mengangkat wajahnya. Matanya merah, basah. “Ibu janji?”
“Ibu janji. Sumpah.”
Untuk pertama kalinya sejak kehancuran itu, Baskara tersenyum. Senyum kecil, rapuh, tapi nyata.
“Aku belum bisa memaafkan Ibu,” katanya. “Tapi aku tidak mau benci Ibu lagi. Itu terlalu melelahkan.”
Aisha tersenyum, air matanya mengalir. “Tidak apa-apa. Ibu tunggu.”
Pak Hendra tersenyum melihat mereka. “Bagus sekali, Baskara. Kamu sudah sangat berani hari ini.”
Sesi itu berakhir dengan Baskara dan Aisha berjalan keluar bersama. Baskara tidak memegang tangan Aisha, tapi ia juga tidak menjaga jarak.
Arka menunggu di luar. Melihat mereka keluar, ia mengangkat alis bertanya.
“Ayah,” kata Baskara. “Aku mau minta Ibu ikut makan malam. Boleh?”
Arka terdiam. Ia menatap Aisha, lalu Baskara.
“Boleh,” katanya akhirnya. “Tapi kita makan di restoran ya. Di tempat umum.”
Mereka bertiga berjalan ke mobil Arka. Baskara duduk di kursi depan. Aisha di kursi belakang.
Di dalam mobil, tidak ada yang bicara. Radio diputar pelan, mengisi keheningan.
Tapi itu bukan keheningan yang dingin seperti sebelumnya. Ini adalah keheningan yang hangat. Keheningan yang penuh harap.
Aisha menatap punggung Baskara di kursi depan. Ia melihat bagaimana anak itu menggenggam erat ponselnya—ponsel yang selama berminggu-minggu digunakan untuk mengabaikan panggilan ibunya.
Kini ponsel itu tergeletak di pangkuan Baskara, layar menyala pada halaman kontak dengan nama “Ibu ❤️”.
Baskara belum menghapus hati itu. Dan bagi Aisha, itu adalah keajaiban kecil.
Di restoran, mereka memesan makanan favorit Baskara. Ayam goreng, sup jagung, dan es krim cokelat untuk pencuci mulut.
Baskara makan dengan lahap. Sesekali ia melirik Aisha, lalu tersenyum kecil.
Setelah makan, Arka membayar tagihan. Mereka berjalan keluar bersama. Hujan mulai turun lagi, seperti biasa di Jakarta.
“Ibu,” Baskara berkata sebelum naik ke mobil. “Besok aku mau main ke apartemen Ibu. Boleh?”
Aisha menoleh pada Arka. Arka mengangguk pelan.
“Boleh, Nak. Ibu akan siapin makanan favorit kamu.”
“Nasi goreng?” tanya Baskara, matanya mulai berbinar seperti dulu.
“Nasi goreng.”
Baskara tersenyum. Senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. Dan untuk sesaat, Aisha melihat bayangan anak kecil yang dulu selalu berlari ke pelukannya.
Mereka berpisah di depan restoran. Aisha berjalan ke mobilnya, Arka dan Baskara ke mobil mereka.
“Bu!” teriak Baskara dari kejauhan.
Aisha menoleh.
“Besok jangan lupa kasih kecap manisnya banyak, ya!”
Aisha tertawa. Air matanya jatuh, tapi kali ini, air mata bahagia.
“Iya, Nak. Banyak.”
Mobil Arka melaju perlahan, Baskara melambai dari jendela. Aisha melambai kembali hingga mobil itu hilang di tikungan.
Ia berdiri di tengah hujan gerimis, basah kuyup, namun hatinya terasa hangat untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.
Jalan menuju pemulihan masih panjang. Aisha tahu itu. Ada banyak luka yang belum sembuh, baik di hatinya, di hati Arka, maupun di hati Baskara.
Tapi malam ini, di bawah hujan yang dingin, Aisha merasakan sesuatu yang selama ini hilang: harapan.
Bukan harapan bahwa segalanya akan kembali seperti dulu. Itu tidak mungkin.
Tapi harapan bahwa dari puing-puing kehancuran, ia bisa membangun sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih jujur. Sesuatu yang lebih kuat.
Ia menyalakan mobilnya, mengusap rambut basahnya, dan tersenyum di depan kaca spion.
“Terima kasih, Nak,” bisiknya. “Karena masih memberiku kesempatan.”
Pukul dua dini hari, Aisha terbangun oleh suara ponselnya yang berdering keras. Ia meraihnya dengan mata masih setengah terbuka.
Layar menunjukkan nama Arka.
Ia langsung bangkit, jantungnya berdebar kencang. Arka tidak pernah menelepon tengah malam.
“Arka? Ada apa?”
Suara Arka di seberang sana terdengar terputus-putus, seperti ia berlari atau sedang panik.
“Aisha, Baskara... dia tidak ada di kamarnya.”
Dunia Aisha kembali berhenti.
Bersambung