Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Libur panjang pasca ujian semester bagi sebagian besar siswa SMP Pejuang Bangsa adalah waktu untuk berpelesir, menonton film di bioskop, atau sekadar nongkrong di kafe-kafe tenda yang mulai menjamur. Namun bagi Sandi, liburan adalah musim panen keringat. Ketika kawan-kawannya merayakan kelulusan naik kelas, Sandi justru menanggalkan seragamnya dan mengenakan "pakaian dinas" yang jauh lebih kasar.
Fajar belum benar-benar menyingsing di ufuk timur Jatinegara ketika Sandi sudah membelah kabin dingin pagi hari. Pukul 03.30 WIB, ia sudah berada di agen koran, menyusun lembaran-lembaran berita yang masih beraroma tinta basah. Dengan langkah cepat, ia menyisir lampu merah dan pelataran stasiun, menjajakan kabar dunia kepada orang-orang yang bahkan belum sepenuhnya terbangun.
"Koran, Pak! Koran, Bang! Berita hari ini!" serunya, suaranya parau beradu dengan deru mesin bus antarkota.
Menjelang siang, saat matahari mulai naik dan memanggang aspal, Sandi beralih peran. Ia menuju jantung Pasar Jatinegara. Di sana, ia bukan lagi siswa berprestasi peringkat dua; ia hanyalah nomor urut di barisan buruh panggul. Punggung atletisnya yang dulu sering didekap erat oleh Saskia, kini memikul karung-karung beras dan bal-bal pakaian seberat puluhan kilogram. Peluh mengucur deras, membasahi kaos oblongnya hingga lepek, meninggalkan bekas putih garam saat mengering. Setiap rupiah yang ia terima dari para pedagang ia simpan rapi di dalam saku celananya, membayangkan wajah ibunya yang akan tersenyum saat ia pulang membawa beras.
Sore hingga malam hari menjadi babak terakhir dalam rutinitas maratonnya. Dengan gitar kecil yang kayunya sudah mulai lapuk, Sandi naik dari satu bus ke bus lainnya. Ia menyanyikan lagu-lagu balada yang liriknya ia hafal di luar kepala, suaranya yang serak-serak basah bergema di dalam kabin bus yang pengap. Terkadang ia mendapat recehan, terkadang hanya tatapan sinis, namun ia tetap tersenyum.
Bahkan pada hari pembagian rapor—hari di mana namanya diumumkan sebagai salah satu lulusan terbaik yang naik ke kelas 3 dengan beasiswa penuh—Sandi tidak menampakkan batang hidungnya. Kursinya kosong. Wali kelasnya hanya bisa menggelengkan kepala sembari menyerahkan buku laporan pendidikan itu kepada ibunya yang datang dengan tangan yang masih kasar bekas cucian. Bagi Sandi, selembar nilai tidak lebih berharga daripada beberapa lembar uang lima ribuan yang bisa ia kumpulkan hari itu.
Waktu terus bergulir tanpa ampun. Tiga minggu liburan yang melelahkan itu akhirnya usai.
Pagi itu, udara Jakarta terasa sedikit lebih segar. Sandi kembali mengenakan seragam putih-birunya yang sudah mulai terasa sempit karena bahunya yang semakin bidang akibat kerja keras. Ia memanaskan mesin Ninja 2-taknya, knalpotnya menjerit pelan seolah menyapa kembali aspal menuju sekolah. Kini ia bukan lagi anak kelas 2 yang penuh keraguan; ia melangkah masuk ke gerbang sekolah sebagai siswa kelas 3 SMP Pejuang Bangsa.
Tatapan matanya lebih tajam, kulitnya sedikit lebih gelap terbakar matahari, dan hatinya... hatinya ia kunci rapat-rapat. Ia melangkah menuju ruang kelas barunya, melewati koridor yang sama tempat ia dulu sering bersenda gurau dengan Kelompok Sableng.
Lantai ubin kelas 3-A yang dingin seakan menjadi saksi bisu kembalinya formasi "Kelompok Sableng" di tahun ajaran terakhir mereka. Aroma sisa cairan pembersih lantai dan debu kapur yang beterbangan di bawah sinar matahari pagi memberikan atmosfer yang akrab bagi Sandi. Ia duduk di barisannya, mencoba menyesuaikan diri kembali dengan peran sebagai siswa setelah berminggu-minggu ototnya ditempa beban pasar dan aspal jalanan.
Anggita, yang biasanya paling berisik, tampak ragu-ragu saat mendekat. Ia menatap Sandi dengan pandangan yang tidak lagi menantang seperti di Ancol. "San," panggilnya pelan, menarik perhatian Sandi dari coretan di meja kayu yang kusam. "Gue... gue beneran minta maaf ya soal kejadian di Ancol itu. Gue tahu gue udah kelewatan dan bikin suasana jadi hancur. Gue nggak bermaksud bikin lo tersinggung soal status atau apa pun."
Sandi hanya menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Udah, lupain aja, Nggi. Gue juga minta maaf karena waktu itu emosi gue meledak nggak jelas. Kita anggep aja itu intermezo liburan yang gagal."
Anggita mengembuskan napas lega, diikuti cengiran dari Vino dan Andra yang sejak tadi menguping. Formasi mereka kembali utuh, siap menghadapi ujian kelulusan yang membayangi di depan mata. Namun, ketenangan itu hanya bertahan hingga bel masuk berdering nyaring, memecah keriuhan koridor.
Seorang wanita berwibawa dengan kacamata bertangkai perak masuk ke kelas. "Selamat pagi anak-anak. Sudah kenal dengan ibu kan? Saya ibu Wulan, wali kelas kalian yang baru. Ibu harap kelas 3 ini menjadi tahun yang produktif bagi kita semua," ucapnya tegas namun hangat. "Namun, sebelum kita mulai, kita kedatangan anggota baru di keluarga kelas ini. Silakan masuk."
Pintu kelas bergeser pelan. Detik itu juga, jantung Sandi seakan berhenti berdetak. Dunia seolah melambat saat seorang gadis dengan seragam putih-biru yang masih kaku melangkah masuk. Rambut panjangnya yang halus jatuh melewati bahu, dan wajahnya yang chubby tampak pucat karena gugup.
"Ayo, perkenalkan diri kamu," perintah Ibu Wulan.
Gadis itu meremas ujung roknya, suaranya bergetar halus. "Ha... halo, se... selamat pagi semuanya. Nama aku Saskia Fiana Putri. Aku pindahan dari SMP Bhayangkara. Dan... dan aku teman SD dari Sandi."
Deg!
Suasana kelas yang tadinya hening mendadak riuh oleh bisikan-bisikan nakal. Puluhan pasang mata serempak berbelok menatap Sandi. Vino dan Andra melongo, sementara Anggita menutup mulutnya karena sangat terkejut karena pertemuan mereka dengan Saskia terjadi dikelas mereka. Sandi yang merasa menjadi pusat perhatian dunia, hanya bisa menunduk dalam dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasanya ia ingin menghilang di balik retakan ubin lantai saat itu juga.
Ibu Wulan terkekeh kecil, melihat reaksi murid laki-lakinya yang biasanya paling tenang itu. "Wah, ternyata benar ya kalian teman lama. Nah, Saskia, karena kursi yang tersedia hanya tinggal satu di barisan paling belakang, kamu silakan duduk di sana." Ibu Wulan menjeda sejenak, menatap Sandi dengan binar jahil. "Dan berhubung kamu teman SD-nya Sandi, Ibu minta Sandi untuk pindah ke belakang dan menemani Saskia duduk di sana. Supaya Saskia lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru kita. Sandi! Kamu dengar Ibu?"
Sandi membuka tangannya perlahan, menatap Ibu Wulan dengan pasrah. "Ngerti, Bu," jawabnya pendek. Ia berdiri, menarik tas ranselnya yang sudah mulai tipis, dan berjalan menuju meja paling belakang. Di depannya, Vino dan Andra menahan tawa sampai wajah mereka memerah, sementara Anggita hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Saskia mulai melangkah menyusuri lorong antar meja. Namun, kutukan "Oneng" sepertinya memang tak pernah lepas. Baru saja ia melewati barisan tengah, ujung sepatunya tersangkut kaki meja. Bruk! Tubuh Saskia limbung ke depan. Seluruh kelas menahan napas, namun sebelum wajah Saskia menyentuh lantai, Sandi yang sudah berada di dekat meja belakang dengan sigap melesat dan menahan dahi Saskia tepat di telapak tangannya yang kapalan.
"Hati-hati, Sas. Lantai ini nggak salah apa-apa, jangan lo cium," bisik Sandi datar saat membantu Saskia berdiri kembali.
"Saskia? Kamu nggak apa-apa?" teriak Ibu Wulan dari depan, suaranya penuh kekhawatiran.
"Maaf, Ibu... aku nggak apa-apa," jawab Saskia dengan wajah merah padam karena malu. Ia kemudian duduk di sebelah Sandi dengan gerakan kaku.
Pelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Ibu Wulan sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Pejuang Bangsa dan merangkap sebagai wali kelas 3-A membagikan lembaran materi untuk di estafet ke belakang. Di tengah keheningan kelas yang hanya diisi suara gesekan pulpen dan penjelasan guru, Sandi merasakan tarikan halus di ujung pinggang seragamnya—gerakan yang sangat ia kenali dari parkiran Velodrome dan jalanan Ancol.
Sandi menoleh dingin. Saskia menatapnya dengan senyum manis yang dipaksakan, namun Sandi segera membuang muka kembali ke kertas materinya. Merasa diabaikan, keberanian Saskia muncul. Ia merampas kertas dari tangan Sandi, memaksa laki-laki itu menatapnya.
"San! Kamu kenapa sih?" bisik Saskia dengan nada memohon yang tertahan. "Aku mau minta maaf soal ucapan aku di Ancol. Aku ngerasa bersalah banget, beneran. Aku udah ceritain semuanya ke Mama dan Papa—kejadian di Velodrome, sampai pertengkaran kita di Ancol. Aku bilang ke mereka kalau aku cuma ngerasa aman kalau ada di dekat kamu. Makanya Mama sama Papa mutusin buat pindahin aku ke sini supaya aku nggak ketakutan lagi dan ada yang jagain aku. Mereka juga pengen banget ketemu kamu, San."
Sandi mendengus kasar, suaranya terdengar sinis meski hanya berbisik. "Emang gue sepenting itu di mata lo? Emang gue ini baby sitter sewaan keluarga lo yang musti siap siaga 24 jam?"
Saskia tersentak. Matanya seketika berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan tangis yang siap meledak. "Aku... aku minta maaf, San. Aku tahu aku udah jahat, aku udah salah ngomong waktu itu. Tapi tolong, jangan benci aku... jangan marah kayak gini. Kamu itu... kamu itu satu-satunya orang yang bisa bikin aku nyaman, San."
Sandi merasakan dadanya sesak, ada pergulatan antara harga diri yang masih terluka dan rasa ibanya yang selalu muncul jika melihat Saskia menangis. Namun, egonya menang. Ia beranjak berdiri tanpa mempedulikan Saskia yang air matanya mulai menetes di atas meja.
"Bu, permisi. Sandi izin ke toilet," ucapnya dengan nada keras yang memutus penjelasan Ibu Wulan.
"Iya, silakan, Sandi," jawab Ibu Wulan bingung melihat wajah tegang muridnya.
Sandi melangkah keluar kelas dengan cepat, meninggalkan Saskia yang kini menunduk dalam, mencoba menyembunyikan isak tangisnya di balik lembaran materi Bahasa Indonesia yang kini basah oleh air mata. Di koridor sepi, Sandi mengepalkan tangannya, berjuang melawan perasaan tak beraturan yang kembali mengacak-acak dunianya.
Dinginnya air keran di wastafel toilet sekolah sedikit meredam gejolak di dada Sandi. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin yang agak buram, melihat bulir-bulir air jatuh dari dagunya. Di antara aroma pembersih lantai yang tajam, Sandi berbisik pada dirinya sendiri, "Ngapain lo sampai pindah ke sini sih, Sas? Ini bukan dunia lo..."
Ada rasa bersalah yang mencubit hati saat mengingat mata berkaca-kaca Saskia tadi, namun ego dan luka di Ancol masih menyisakan dinding tipis. Sandi menarik napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar, lalu melangkah kembali ke kelas 3-A yang mulai bising karena jam pelajaran akan segera usai.
Begitu Sandi mendaratkan bokongnya di kursi kayu, sebuah tarikan halus—namun penuh tekad—kembali menyentak ujung seragam putihnya. Sandi menoleh perlahan, mendapati Saskia yang menatapnya dengan bibir bergetar.
"Sas... tangan lo," tegur Sandi, suaranya lebih lembut namun tetap datar.
Saskia menggeleng cepat, cengkeramannya justru semakin kuat. "Maafin aku dulu."
Sandi membuang muka ke arah papan tulis, mencoba mengabaikan kehadiran gadis di sampingnya. Namun, ia membiarkan tangan mungil itu tetap bergelantungan di ujung seragamnya hingga bel istirahat berdering nyaring, memecah suasana kaku di antara mereka.
Saat Sandi hendak berdiri untuk menyusul Andra dan kawan-kawan, tarikan di seragamnya mendadak menjadi kuat, memaksanya terduduk kembali dengan sentakan kecil.
"Oneng! Gue mau istirahat, lo ngapain nahan-nahan gue?" keluh Sandi, mulai gemas dengan kelakuan teman SD-nya ini.
Saskia menatapnya dengan mata yang kembali basah. "Maafin aku dulu, San. Aku nggak mau kamu benci aku. Aku beneran nggak bisa tenang kalau kamu kayak gini."
Sandi melirik ke arah depan kelas. Di sana, Vino, Andra, dan Anggita—si Kelompok Sableng—tengah menonton drama di pojok belakang itu dengan ekspresi beragam; dari yang menahan tawa sampai yang penasaran setengah mati.
"Iya, iya, gue maafin," ucap Sandi cepat, berharap drama ini segera berakhir.
"Iiiih, yang tulus maafinnya! Masa mukanya ditekuk gitu!" protes Saskia, masih belum melepaskan seragam Sandi.
Tak!
Sandi menyentil kening Saskia dengan gerakan akurat. "Gue udah maafin dengan tulus, Oneng! Apalagi mau lo?"
"Itu nggak tulus, San!"
Sandi menghela napas panjang, kali ini ia memutar tubuhnya menghadap Saskia sepenuhnya. Ia menatap mata gadis itu dalam-dalam, mencoba membuang sisa gengsinya. "Iya, gue maafin lo. Gue juga minta maaf karena udah kasar sama lo waktu di Ancol. Udah, ya? Jangan nangis lagi."
Mendengar kalimat itu, pertahanan Saskia runtuh. Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya tumpah, namun kali ini diikuti senyum lega. Tanpa memedulikan puluhan pasang mata di kelas, Saskia menghamburkan pelukannya ke bahu Sandi. "Makasih ya, San... Makasih banget."
Sandi tersentak, tubuhnya kaku seperti papan. Ia melirik kawan-kawannya. Vino dan Andra langsung buang muka sambil memegang perut menahan tawa, sementara Anggita hanya mengangkat jempolnya dengan seringai tipis.
"Udah, udah... jangan peluk-peluk kayak koala begini. Malu dilihatin orang, dikira gue lagi ngapa-ngapain lo," Sandi mendorong pelan bahu Saskia agar tercipta jarak. "Gue mau ke kantin. Lo... mau ikut nggak?"
Mata Saskia seketika berbinar-binar, ia mengangguk mantap seperti anak kecil yang diajak jajan. "Mau!"
Hari itu, koridor SMP Pejuang Bangsa menjadi saksi lahirnya dinamika baru. "Kelompok Sableng" yang biasanya hanya berempat, kini berjalan menuju kantin dengan formasi lima orang. Ada Sandi yang berjalan paling depan, dan di belakangnya, seorang gadis cantik yang tampak sangat bahagia sambil terus mengekor—si anggota baru yang paling 'Oneng' di antara mereka semua.