NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersama memberi signal

Dua bulan menghuni tubuh usia 24 tahun, aktivitas yang kujalani terasa lebih masuk akal karena ritmenya mulai menyerupai keseharianku di masa depan. Hanya saja, ada satu hal yang tidak bisa kutoleransi: rasa lelah yang abnormal. Jarak antara kos dan lokasi kerja terlalu jauh, menguras energi bahkan sebelum aku sempat menyapa meja kantor. Belum lagi isi lemariku—baju-baju yang tergantung di sana benar-benar sudah bukan seleraku lagi.

​Aku memahami kesulitan "Ayyara 24 tahun" yang asli. Ia harus berjuang mencicil pinjaman mahasiswa yang mencekik, sementara di lini kehidupanku yang dahulu, aku lulus dengan tabungan pribadi yang bebas hutang. Namun, aku yang sekarang tidak bisa membiarkan diriku terus-menerus tidak nyaman.

​Sejak kesadaran ini kembali, aku segera merombak seluruh struktur keuanganku. Bagiku, kelayakan hidup dan kenyamanan adalah prioritas utama. Aku memangkas jumlah cicilan bulanan; aku tidak peduli dengan bunga pinjaman yang sedikit membengkak, toh semuanya masih dalam batas wajar asalkan aku punya ruang napas untuk hidup lebih manusiawi.

​Aku mulai berbelanja. Beberapa set pakaian kerja yang elegan dan layak kubeli, tak luput tas, sepatu, hingga urusan perawatan diri seperti skincare, kosmetik, bahkan hairdryer dan catokan rambut. Aku menyingkirkan semua pakaian lama yang sudah tak layak pakai. Padahal, jika kulihat-lihat, saldo di rekening Ayyara 24 tahun ini sama sekali tidak buruk. Aku hanya bisa menggerutu pada diriku sendiri—betapa kaku dan terlalu perhitungannya versi diriku yang muda ini dalam urusan gaya hidup.

​Sekarang, pekerjaan rumah terbesarku adalah tempat tinggal. Jika aku bisa pindah ke area yang sama dengan tempat tinggalku di usia 34 tahun dulu, aku hanya perlu berjalan kaki maksimal dua puluh menit menuju kantor. Berjalan kaki adalah caraku membakar kalori sekaligus membuang stres. Namun, setelah menguras tabungan untuk "biaya kelayakan hidup", aku harus bersabar menunggu gaji bulan kedua.

​Sambil menunggu, aku mulai mencari pundi-pundi tambahan. Aku mulai menjajaki program afiliasi di platform daring—sebuah strategi untuk mencuri start sebelum ranah ini dipenuhi lebih banyak kreator. Aku ingat betul dulu banyak orang meraup keuntungan besar dari sini. Meski hasilnya tak instan, aku yakin konsistensi konten setiap hari akan berbuah manis kelak.

​Dua bulan terakhir ini, aku juga rajin memantau orang tuaku via telepon. Aku harus memastikan mereka tidak terjerumus penipuan media sosial yang semakin canggih, atau mengikuti komunitas yang ujung-ujungnya hanya mengeruk harta benda orang awam.

​Saat ini sebenarnya adalah masa keemasan bagi mereka. Aku sudah menyandang gelar sarjana dan mampu bertahan di kota besar. Bian lulus dengan predikat cumlaude—persis seperti prediksi orang-orang tentang si jenius itu—dan Cinta mulai fokus membangun kariernya sebagai Make-up Artist. Orang tuaku tak lagi perlu membiayai kami, mereka kini fokus menyusun ulang mimpi-mimpi lama.

​Ada kabar bahagia. Selama tujuh tahun terakhir, mereka berhasil mengumpulkan uang dan membeli sebuah kavling tanah untuk dibangun rumah. Lokasinya sedikit jauh dari keramaian, namun itu justru bagus—memberi jarak yang cukup untuk menghindari gosip dan pertikaian dari keluarga besar yang tinggal di tanah warisan saat ini.

​"Bapakmu sudah beli pasir untuk buat batako juga, Ra," suara Ibu terdengar renyah di seberang telepon. "Nanti Bapak sama Ibu mau pelan-pelan nyicil buat batako sendiri. Benar katamu, rumahnya tidak perlu besar, yang penting bisa ditempati sendiri."

​Aku teringat sketsa yang kubuat saat jiwaku terlempar ke usia 17 tahun dulu. Aku merancang rumah minimalis untuk mereka. Kelak, saat anak-anaknya mandiri, mereka tidak butuh banyak kamar seperti rumah peninggalan yang kami tempati saat kecil. Cukup dua kamar: satu untuk orang tua dan satu kamar kecil dengan ranjang susun untuk anak-anak yang sesekali berkunjung. Dapur dan ruang keluarga tanpa sekat untuk meminimalkan biaya pembangunan. Bagi kami, yang terpenting bukan luasnya, melainkan rasa aman dan nyaman.

​Aku sudah berpesan pada mereka: saat hari kepindahan itu tiba, jangan bawa apa pun dari rumah lama kecuali diri sendiri dan perlengkapan yang benar-benar layak. Aku ingin mereka memulai lembaran yang benar-benar bersih.

​Namun, Cinta membocorkan sisi lain. Ternyata keluarga besar di sana banyak yang menggunjingkan orang tuaku. Mereka dianggap aneh karena tidak mengikuti kebiasaan setempat—seperti membuat acara peringatan leluhur yang besar atau bergabung dengan komunitas tertentu. Hari-hari mereka yang dihabiskan untuk bekerja sering dilabeli sebagai "pengejar dunia fana", apalagi hidup mereka terlihat tetap sederhana di mata orang lain.

​"Ibu sering menangis diam-diam, Kak," bisik Cinta. Namun, Bapak selalu menjadi benteng yang kuat. Beliau selalu mengingatkan Ibu bahwa mengikuti keinginan orang lain pun belum tentu membuat mereka bahagia. Fokusnya hanya satu: mewujudkan rumah impian mereka.

​Aset tanah yang dibeli tujuh tahun lalu pun sudah berkali-kali panen sayur-mayur. Lucunya, saham yang Bapak beli atas saranku dulu tak pernah sekalipun ia periksa. Beliau menunggu aku yang menanyakannya lebih dulu, takut mengganggu pekerjaanku di kota.

​Aku tersadar akan satu hal yang menyesakkan dada. Selama merantau kuliah hingga bekerja sekarang, ternyata aku—versi Ayyara yang asli—belum pernah sekalipun pulang ke rumah. Astaga, pantas saja cicilan mahasiswanya hampir lunas dan saldonya masih tersisa; ternyata segini hebatnya Ayyara 24 tahun menekan kerinduan demi penghematan.

​"Bu, nanti kalau Ara sudah lewat masa training di perusahaan ini, Ara mau pulang beberapa hari," ucapku lirih.

​Reaksi sangat gembira yang meledak di ujung telepon seketika membuat air mataku menetes. Di balik semua ambisi dan perjalanan lintas waktu ini, ternyata hal sesederhana pulang adalah yang paling mereka nantikan.

​Sepertinya Ayyara versi 24 tahun ini benar-benar seorang "pejuang hemat" yang militan, ya? Sampai tidak pulang demi saldo rekening.Batinku.

Tempat tinggal Sewa

​Aku menyusuri trotoar yang sangat tidak asing. Di masa depan, jalanan ini akan menjadi saksi bisu langkah kakiku sebagai seorang wanita karier yang mapan. Banyak bangunan yang masih sama, namun ruang-ruah kosong di antaranya kini masih berupa lahan tidur yang kelak akan berdiri ruko-ruko megah.

​Langkahku terhenti tepat di titik di mana unit seharusnya area tempat tinggal sewaku berada. Aku tertegun. "Apa? Masih proyek bangunan?" gumamku kaget melihat kerangka beton yang masih setengah jadi, dikelilingi pagar seng dan tumpukan material.

​Di dekat gerbang proyek, aku melihat seorang pria paruh baya yang tampak seperti mandor, namun wajahnya familier, dia Pak Wisnu, pemilik bangunan ini di masa depan. Ia sedang asyik mengobrol dengan seorang pria berpakaian formal yang membelakangiku.

Aku memberanikan diri mendekat untuk menyapa, berniat menanyakan kapan hunian ini siap huni.

​Namun, kalimatku tertahan di tenggorokan saat pria formal itu berbalik. "Rain? Kamu ada di sini?" tanyaku dengan mata terbelalak.

​Pak Wisnu langsung menimpali bahwa bangunan ini paling cepat selesai tiga bulan lagi, itu pun belum tentu siap huni. "Semua unit sudah ada daftar pesanan, Mbak," tambahnya.

Ternyata, Rain juga sedang mencari tempat tinggal di sini. Padahal, setahuku rumah keluarganya tidak terlalu jauh dari pusat kota.

​Sabtu siang yang terik itu akhirnya membawa kami melipir ke sebuah warung makan sederhana. Di bawah putaran kipas angin tua, kami menikmati es jeruk dan semangkuk bakso. Suasana di antara kami kini jauh lebih cair, tidak lagi seformal saat kami menjadi rekan kerja di masa depan. Kedekatan yang kami bangun di Cafe Kids—tempat kerja paruh waktu kami saat kuliah dulu, membuat obrolan mengalir tanpa sekat.

​"Jadi kamu berencana tinggal di Jalan Pahlawan juga, Rain?" tanyaku. Pilihan itu memang logis karena dekat dengan kantor Natural & Balance dan harganya masih masuk akal untuk kantong kami saat ini.

​"Iya. Dulu aku tinggal di Jalur F, tapi sekarang di sana masih tanah kosong. Ternyata cari tempat tinggal di tahun 2019 tidak semudah yang kubayangkan. Para pemilik lahan masih sibuk menyusun rencana pembangunan," keluh Rain.

​"Tapi bukannya ini terlalu jauh dari lokasimu sekarang? Kamu yakin mau memesan unit yang baru akan dikosongkan anak Pak Wisnu beberapa bulan lagi?"

​Rain mengangguk mantap, lalu menyesap es jeruknya. "Aku sedang mengubah alur," jawabnya santai. Aku hanya mengangguk pelan, menunduk tanda mengerti. Mengubah alur kini telah menjadi alternatif hidup kami yang paling nyata.

​"Ra," suara Rain mendadak serius. "Aku punya rencana untuk datang ke kampus pengembangan teknologi di pinggir kota. Katanya banyak ilmuwan berkumpul di sana. Ada seorang kenalan yang bisa mengajak kita masuk dan melihat-lihat.

Kamu tertarik ikut?"

​Aku tersentak. Aku memang sempat mencari informasi tentang tempat itu, tapi jaraknya cukup jauh. Namun, tanpa pikir panjang, aku menyetujuinya.

​Menjelang sore harinya, kami sudah berada di dalam bus antarkota. Perjalanan empat jam itu menyuguhkan pemandangan yang kontras di balik jendela, mulai dari pesisir pantai, barisan pegunungan, hingga padang rumput yang luas.

​Sesampainya di terminal, sepasang lansia menyambut kami dengan hangat. Kakek Andrew adalah adik dari nenek Rain, dan istrinya Nenek Elia dulu sempat merawat Rain sewaktu kecil. Wajah mereka memiliki garis keturunan Barat yang sangat kental.

Sekarang aku semakin yakin, ketampanan blasteran yang dimiliki Rain memang murni genetik keluarganya.

​Mereka mengantarkan kami ke universitas yang dimaksud. Di sana, kami bertemu Marko, anak Kakek Andrew yang bekerja sebagai staf ahli.

Kami berkeliling layaknya wisatawan, namun langkahku terhenti pada sebuah ruangan yang tampak seperti perpustakaan eksklusif. Aku memberi kode pada Rain; instingku mengatakan ada sesuatu di sana.

​Beruntung, Marko dengan bangga menggunakan hak istimewanya untuk memasukkan kami ke sana. Kami ditinggalkan berdua dengan kartu tamu resmi di dada. Kami menjelajahi rak-rak berisi jurnal dan buku-buku teknis yang tidak akan ditemukan di toko buku biasa.

​Alih-alih menemukan pencerahan, yang kami dapatkan hanyalah sakit kepala. Bahasa yang digunakan di sana sangat teknis, penuh dengan istilah fisika kuantum yang tidak masuk akal. Beberapa orang di sudut perpustakaan tampak memperhatikan tingkah kami yang kebingungan sambil tersenyum tipis, seolah menertawakan orang awam yang tersesat.

​"Rain, apa orang-orang pintar tidak bisa membuat bahasa yang lebih mudah dimengerti?" bisikku lirih setelah setengah jam mencoba membedah satu jurnal.

​Rain tertawa pahit. Kami benar-benar tidak menemukan apa pun.

​Malam itu, Nenek Elia bersikeras agar aku menginap di rumah mereka daripada di hotel. Kami menghabiskan malam dalam suasana keluarga yang hangat. Makan malam yang mereka sajikan luar biasa nikmat. Dari sini terlihat jelas bahwa Rain tidak berasal dari keluarga sederhana seperti aku. Namun, ia tetap memilih menjalani hidup yang sama lelahnya: bekerja paruh waktu, meminjam biaya kuliah, dan sekarang sibuk mencari sewa kos.

​Pagi harinya, Marko mengajak kami menghadiri beberapa kelas yang diisi oleh para ilmuwan. Ini adalah kartu terakhir kami. Kami mencoba memunculkan diri, berharap salah satu dari mereka adalah orang yang kelak terlibat dalam proyek mesin waktu di masa depan.

​Marko memperkenalkan kami sebagai saudaranya yang tertarik pada dunia sains. Kami bahkan tidak segan menyatakan bahwa kami adalah "penggemar berat" ide mesin waktu.

Kami memaparkan imajinasi kami tentang proses lompatan waktu dengan berapi-api. Bagi Marko, itu hanya imajinasi, tapi bagi kami, itu adalah kesaksian.

​Para ilmuwan itu ternyata merespons dengan antusias. Mereka mulai mengeluarkan rumus-rumus rumit yang tentu saja melampaui pemahaman kami. Namun, ada satu kalimat yang menarik perhatianku. Salah satu dari mereka berkata, "Jika seseorang kembali dari masa depan, masalah tersulitnya adalah posisi tubuh ganda jika mereka bertemu."

​Pakar lain menyahut, "Belum tentu. Bisa jadi mereka menyatu dalam satu paket. Energi besar dari masa depan akan menutupi jiwa dari masa lalu."

​Aku segera menyela, "Energi besar itu seperti apa? Apakah seperti ada frekuensi berdenging yang membuat telinga sakit sampai kehilangan kesadaran? Seperti gardu listrik yang meledak?"

​Sebelum mereka menjawab, aku menceritakan pengalamanku mendengar dengingan frekuensi tinggi hingga pingsan. Aku bahkan menunjukkan video saat kami tak sadarkan diri lima tahun lalu. Mereka menontonnya dengan raut wajah yang sangat serius.

​Kami memberikan salinan video itu, berpura-pura sebagai orang yang sangat penasaran dengan fenomena tersebut. Sebenarnya, kami sedang menebar umpan. Kami ingin video ini tersebar di kalangan ilmuwan, agar orang di masa depan yang nanti terlibat dalam mesin waktu bisa mengenali keberadaan kami.

​"Jika mesin waktu itu nyata, seharusnya ada sistem komunikasi antar-waktu untuk memandu penjelajahnya," cetusku sebelum obrolan itu berakhir.

​Tanpa terasa, diskusi itu menjadi sangat mengasyikkan hingga tiba waktunya mereka kembali ke aktivitas normal.

Setelah berpamitan dan mengambil beberapa foto kenang-kenangan di ikon wisata kota bersama Kakek dan Nenek, aku dan Rain memutuskan untuk pulang.

Kami pulang dengan membawa harapan baru, bahwa pesan botol yang kami lempar ke laut sains ini suatu saat akan sampai ke tangan yang tepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!