Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Dena
Setelah beberapa menit akhirnya berlalu, tak lama kemudian terdengar suara mobil Rola masuk ke area halaman depan.
Begitu Rola turun dari mobilnya, tuh anak buru-buru masuk ke dalam rumah sambil bawain obat asam lambung buat Dena.
Sekaligus batagor pesanan si yang udah kelimputan setengah gila.
Sementara Dena yang sudah dibuat menunggu cukup lama, akhirnya sontak tersenyum gembira.
"Akhirnya gue bisa makan!" serunya.
Sambil tak lupa bilang terima kasih, segera Dena melahap batagor kesukaannya itu, terus disusulin pake obat cair di sela-sela ia mengunyah manja.
"Maaf ya," ucap Rola sembari merebahkan diri di sofa, yang empuknya kadang bikin badan jadi males gerak.
"Gue lama banget gara-gara Mamang batagor langganan lo itu gerakannya terlalu slowmo, Den..."
"Lo pasti ngerti dong?" lanjutnya sambil melepas jaket corduroy warna coklat tua, dan hanya menyisakan tanktop crop warna biru muda garis-garis.
Dena ngangguk-ngangguk aja, sembari masih sibuk mengunyah-ngunyah ia merasa tidak apa.
"Ah iya, Rol. nggak apa-apa, kok. Santai aja," sahutnya.
Lalu hening, saat semuanya masih terasa normal-normal saja.
Tapi, tak lama dari itu Dena seperti tersadar kan satu hal yang menurutnya agak janggal. Alisnya yang lentik, spontan mengernyit.
Saat batagor itu?
"Rol?"
"Hm?"
"Kok, batagornya alot?" tanyanya.
Sembari gadis itu keheranan ia juga memastikan ulang tekstur batagornya.
Rola menoleh sekilas. "Alot?"
"Hooh, kayak belum bener-bener mateng, Rol!" kata Dena.
"Masak sih?"
Dena ngangguk-ngangguk, pipinya menggembung imut. "Cobain deh!"
"Perasaan lo doang kalik," kata Rola lalu segera buang muka. Takut yang mukanya lagi nahan buat nggak ketawa malah keceplosan nyengir macam kuda.
Dena lalu berpikir sejenak. Masak iya cuma perasaannya aja? Kayaknya enggak ah.
"Tapi, ini beneran alot, Rol!"
"Sumpah!" Dena sudah teramat yakin.
Micin pun sama, merasa batagor itu memang belum mateng sepenuhnya. Micin reflek menoleh Rola saat kali ini ia sependapat dengan Dena.
"Iyaaa. Ini kayak emang yang belum bener-bener mateng Rola, dalemnya kayak masih mentah!" ujarnya.
"Alot banget lagi!"
"Tuh kan!"
"Masak iya sih..."
Dena reflek melepeh batagor yang sejak tadi dikunyah-kunyah, tapi kelewatan sukar buat ditelan walau sudah dipaksakan.
"Rola, jujur aja deh. Batagornya masih setengah mateng kan?!" tekan Dena.
"Mateng, Den!"
"Kalau mateng kenapa alot, Rol?" Dena semakin curiga. Apalagi melihat Rola yang sejak tadi terus menatap ke arah yang berseberangan dengannya.
"Kalau setengah mateng buat apa batagornya gue beli?" balas Rola.
"Iya juga sih..."
Sejenak Dena tampak diam, lalu ngunyah, dan batagor itu rasanya malah semakin alot.
"Gue makan apa sih?! Karet?!" dengusnya.
Rola yang pada akhirnya tidak kuasa menahan gelak tawanya, sontak mengaku pada Dena jika batagor itu memang belum matang sepenuhnya—alias masih setengah matang.
Rola kemudian bercerita kenapa hal itu bisa terjadi, yang kurang lebih pake trik kotor ala Dena buat ngibulin si Mamang penjualnya yang kelewatan lemot.
Yah, Dena langsung melotot. Bukan karena idenya yang dicuri tanpa izin sama Rola, tapi gara-gara—masak iya dia yang nyiptain idenya, dia sendiri juga yang kena! Kan rasanya gimana ya?
"Lo gila ya, ngasih makan anak orang makanan yang belum mateng!" sengak Dena yang langsung kehilangan selera makan begitu mendengar cerita Rola.
Rola cekikikan.
"Gue kan cuma ngikutin cara lo, Den," kikiknya.
Dena melemaskan kedua bahu, spontan nyender di sofa gara-gara sudah hilang nafsu.
"Tapi, kan gue lagi sakit, Rol—"
"Sakit karena ulah lo sendiri kan?"
Dena terdiam. Mutlak, kali ini ia kalah telak. Sial!
"Udah nggak usah kebanyakan protes. Yang penting kan sekarang lo udah bisa makan! Belajar bersyukur, Den!" ujar Rola kayak orang nggak punya dosa.
"Bersyukur sih iya," dengus Dena manyun-manyun. "Tapi nggak gini juga, Njing!"
Rola tertawa lagi saat Dena sudah benar-benar kehilangan selera.
Wajah gadis itu jadi kelihatan ditekuk-tekuk kayak mau marah-marah tapi udah kehabisan tenaga.
Beberapa menit kemudian hening terjadi cukup lama, ketika Dena dan Micin masih saja sibuk berkutat dengan batagor alot mereka yang tetep aja dimakan, katanya buat ngehargain Rola yang udah beliin dan biar nggak dikata buang-buang makanan.
Elsa yang sejak tadi nggak ikut makan dan cuma diam memperhatikan. Sampai sekarang gadis itu masih saja curiga pada Dena yang ia pikir sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Tapi, Elsa tidak sampai hati untuk memaksa-maksa Dena mengaku, padahal sejak tadi Dena selalu berkata jika dirinya memang lagi nggak ada masalah apa-apa. Elsa jadi canggung untuk menekan Dena lebih dalam. Sedangkan, Elsa akhirnya mulai percaya, sepertinya Dena memang sedang tidak berusaha membohonginya.
Dena mulai menyadari, sejak tadi Elsa terus menatapnya.
"Lo mau, Ca?" tanya Dena sambil menyodorkan seporsi batagornya. Ya, walaupun alot gini, setidaknya kealotan itu tetap harus dibagi-bagi.
Elsa langsung geleng-geleng kepala. "Nggak ah, Den. Udah jam segini. Gue ngantuk, mau pulang," tolaknya secara halus.
"Lo nggak asik ah. Masak baru jam setengah dua belas udah mau balik sih, Ca?" sambar Micin.
"Gue masih punya rumah, Mi. masak iya gue nggak balik," sahut Elsa.
Micin meletakkan sumpit di meja dan langsung menatap sinis ke arah Elsa, si cantik berambut bondol itu.
"Sekali-kali nginep lah... Lo kan belum pernah nginep di rumah Rola, Ca," bujuknya.
"Ya nggak, Rol?"
Rola ngangguk-ngangguk aja.
Elsa menggeleng. "Nggak ah, Mi. Kalau gue nginep di sini, ntar kasian Mak gue yang cuma sendirian di rumah."
"Ntar gue suruh pengawal buat jagain Mak lo deh," bujuknya lagi.
"Nggak usah, Mi. Gue balik aja," tolak Elsa yang tetep kekeh dengan prinsipnya. Enggan menginap di rumah siapapun bagaimana pun keadaannya.
Micin mendengus. "Lo beneran nggak asik deh!"
"Emang! Kenapa? Lo nggak suka?" Elsa melotot tajam ke arah Micin.
Micin langsung nyengir-nyengir, rupanya si cungur toa musala itu masih punya rasa takut ama si Elsa yang kalau ngamuk suka nggak kira-kira ganasnya.
"Suka kok, Ca, hehe...Batagor, Ca? Masih anget, mau cobain nggak?"
"Nggak!" hardik Elsa, Micin spontan kicep.
"Bentar!" sela Dena tiba-tiba. Semua mata jadi reflek menatapnya, karena kalau Dena sampai menyela sebuah pembicaraan, biasanya ada suatu perkara yang berbeda.
"Kenapa, Den?"
"Tadi lo bilang sekarang udah jam berapa, Mi?" tanya Dena menata serius.
"Setengah dua belas, itu juga udah tadi. Kalau sekarang kayaknya udah lebih deh. Kenapa emangnya?"
"Wah gawat!" resah Dena yang wajahnya mula-mula kelihatan santai kayak lagi di pinggir pantai, seketika jadi kayak orang kesamber gledek di tengah-tengah pesawahan.
"Apanya yang gawat?"
"Eh, enggak kok. Nggak apa-apa. Tapi, ini beneran? Sekarang udah hampir lewat tengah malam?!"
Elsa mengangguk-angguk sambil menunjuk ke arah jam almari jam kuno di sudut ruang tamu, sebelah tangga rumah.
"Tuh! Lo liat aja sendiri."
Dena terbelalak.
"Iyaa, sekarang emang udah hampir tengah malam, Den," kata Rola.
"Kenapa sih?"
Sedangkan Dena yang seketika teringat sesuatu, sontak tersentak sambil buru-buru nyari keberadaan ponselnya.
Takut, sekaligus gelisah saat ia baru teringat, ada jawaban yang harus ia katakan pada Alvaro sebelum tengah malam lewat begitu saja.
"Kenapa sih lo?" tanya Elsa keheranan melihat Dena kelimputan sendiri mengorek-orek isi tas selempangnya.
Sial! Ponselnya justru malah nggak ketemu setelah berulang kali Dena mengeceknya. Ilang kemana sih? Diambil jin apa ya? Pikir Dena sambil garuk-garuk kepala.
Sementara Elsa terus memperhatikan.
"Heh! Lo kenapa?"
"Ada yang liat hp gue nggak?" tanya balik Dena.
"Ilang?"
"Iya nih... dimana ya?"
Rola sebagai tuan rumah langsung ikutan panik. "Tadi lo taruh di mana?"
"Seingat gue sih di tas, tapi sekarang nggak ada!" Dena terlihat jelas semakin paniknya, terlebih lagi di saat sebentar lagi tengah malam akan segera lewat. Wah ini sih beneran gawat!
Akan tetapi, Elsa yang sudah teramat hafal dengan sikap teledor Dena yang sudah mendarah daging, langsung menghela napas ringan sembari meraih tas milik Micin yang tergeletak di sebelah si empunya.
Dan benar saja, Elsa yang curiga Dena sudah pasti salah memasukkan ponselnya sendiri ke dalam tas selempang Micin, seketika langsung terbukti.
"Ini hp siapa?" Elsa mengangkat sebuah ponsel dengan layar retak-retak yang dibalut casing berwarna kuning.
"Hp gue!" Dena langsung kembali cerah.
Kebetulan, baru ketika Elsa hendak memberikannya pada Dena, tiba-tiba satu panggilan masuk sudah lebih dulu terdengar.
"Eh, ada yang nelpon, Den!" kaget Elsa.
"Hah! Siapa, Caaa?" Dena tertohok.
"Nggak tau sih, nggak ada namanya," ujar Elsa sambil membalik layar.
Dena spontan memejamkan kedua bola matanya, curiga. Wah, kayaknya itu si Alvaro deh.
"Sini!" Dena buru-buru merebut ponsel itu dari tangan Elsa.
"Iya, halo?" Dena menjawab dengan sangat hati-hati dan suara seorang laki-laki yang tidak sama sekali Dena lupa, seketika terdengar dari seberang udara.
"Jam berapa sekarang?" tanya orang itu, dingin, tenang, dan nyaris terdengar seperti penuh ancaman.
Tidak salah lagi, itu adalah suara Alvaro Yubel.
Sialan!
Di detik yang sama, Dena buru-buru langsung berpindah tempat, setidaknya untuk sedikit menjauh dari teman-temannya saat ia tidak mungkin berbicara dengan Alvaro langsung di depan wajah mereka.
Yah, karena bisa sangat gawat kalau mereka sampai mengetahui hal apa yang akan ia bicarakan dengan sang CEO menyebalkan itu.
Elsa memperhatikan gelagat aneh Dena yang semakin terlihat jelas tidak seperti biasanya. "Lo mau kemana sih?"
"Timbang jawab telpon doang pake ngejauh dari kita?"
Sayangnya Dena tidak menjawab apa-apa dan langsung lari terbirit-birit ke arah pintu lalu keluar begitu saja.
"Dena!" teriak Rola yang ikut terheran-heran.
"Tuh anak kenapa sih, Ca?" tanya Rola sambil menatap Elsa yang sedang fokus mengamati langkah terbirit-birit Dena.
Elsa hanya mengendikan kedua bahu. Mengendik tidak tau walau sejujurnya ia cukup penasaran dan ingin segera mencari tau.
Micin? Nggak usah ditanyain. Soalnya tuh anak masih saja sibuk sama batagor alotnya—yang sekalinya digigit, ngunyahnya bisa sampai lebaran tahun depan.
...***...
Setibanya Dena di area taman sebelah rumah. Dena langsung menempelkan ponselnya ke telinga sambil deg-degan, ketika sambungan telpon itu ternyata masih terhubung dengan Alvaro.
Suara laki-laki itu kemudian kembali terdengar. Persis seperti sebelumnya, tenang, dingin, dan terasa sangat mengancam.
"Waktu lo habis!" ucapnya tepat ketika waktu sudah menunjukkan pukul...
00.00
"Dan sebaiknya segera tentukan pilihan lo sebelum terlambat!" tekan Alvaro.
Dena menelan ludahnya kasar.
"Bersedia jadi istri gue atau mau coba-coba cari masalah?" tanya Alvaro sambil sedikit tertawa kecil di detik kemudian.
"Silahkan memilih..."
Dena jantungnya langsung berdegup tidak beraturan. Ketika tiba waktu dimana ia harus segera mengambil keputusan terbesar di sepanjang ia bernapas.
"Om!"
"Bagaimana?"
Sial, Dena semakin dibuat bingung. Apalagi ia tidak sekalipun menyangka Alvaro ternyata sudah memiliki nomor ponselnya.
"Audrea Dena Prasella... will you marry me?"
Kalimat itu membuat Dena merinding sebadan-badan, persis seperti di saat pertama kalinya ia mendapat tawaran yang sama, untuk menikah dengan laki-laki tampan itu.
"Om, tolong kasih sayang tambahan waktu, please!" pintanya mencoba-coba.
"Saya mohon, Om—"
"Untuk apa? Kabur?"
Permohonan Dena terpenggal oleh perkataan Alvaro. Sial!
"Enggak, Om—"
"Atau lo harus gue jemput paksa?" potongnya.
Dena tersentak.
"Jl. Purbayasa nomor 11. Mansion keluarga Sasmita..."
"Sekarang lo lagi ada di tempat itu kan?"
Dena melotot. "Om? tau alamat ini—"
"Kebetulan sekali, ibu tiri lo juga sedang berada tidak jauh dari sana ... sungguh kebetulan yang tidak biasa, ya?" Alvaro tertawa lagi. "Atau, lo pengen suasana di tempat itu jadi lebih meriah?"
"Om?! Jangan macam-macam deh!"
"Saya bisa laporin Om ke polisi!" ancam Dena.
"Oh ya? Yang udah lo bully dan lo palak uangnya pengennya juga gitu. Tapi ... gue larang," balas Alvaro.
"Atau? Gue iya-in aja biar lo dikurung di lapas remaja?"
"Sialan!" desis Dena terhimpit oleh kenyataan.
"Hahaha..."
Dena langsung keki.
"Kalau begitu segera tentukan pilihan lo... Gue hitung mulai dari sepuluh!"
"Sepuluh detik mana cukup, Om—"
"Sepuluh..."
"Beneran?!" Dena mendengus kesal. Kini ia benar-benar seperti sedang diancam, tapi ia sendiri juga bingung bagaimana harus melawan.
"Om, kasih saya waktu satu hari lagi, please—"
"Sembilan..."
Jantung Dena semakin terpompa, kencang!
"Delapan..."
"Please! Om!"
"Tujuh..."
"Enam..."
"Om!"
"Lim..."
"Iyaaa!" teriak Dena sekencang-kencangnya. Keputusan besar akhirnya gadis itu ambil dengan kesadaran penuh di lima detik yang tersisa.
"Iya?"
"Iyaa. Saya mau nikah sama, Om!" putusnya sambil menghela napas sedikit ngos-ngosan, padahal yang lari kesana-kemari cuma pikirannya.
Tapi rasa capek itu lebih dari nyata.
Tiba-tiba terdengar suara tawa lirih Alvaro dari seberang udara. Seolah, laki-laki itu sedang merayakan kemenangan.
"Pilihan yang cerdas, Dena," katanya, lalu hening sejenak datang.
"Kalau begitu, besok malam setelah matahari terbenam, lo bakal dijemput orang-orang gue," lanjut Alvaro, tak lama.
Dena terdiam, mengerinyit. Perkataan Alvaro membuatnya tegang.
"Besok—"
"Sampai bertemu di acara lamaran kita ... sayang," potong Alvaro.
Lalu...
Tut!
Panggilan itu berakhir begitu saja.