NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Panggung

Rabu pagi menyapa dengan hujan gerimis yang membuat kaca-kaca gedung di Sudirman terlihat seperti sedang menangis. Di dalam lift menuju lantai lima belas, aku menatap pantulan diriku di dinding stainless steel. Tidak ada lagi Arelia yang menunduk, menyembunyikan lelahnya di balik tumpukan berkas milik orang lain. Aku mengenakan setelan celana kain dengan potongan high-waist berwarna charcoal dan kemeja sutra berwarna krem. Sederhana, namun memancarkan otoritas yang selama tujuh tahun ini kutenggelamkan demi menjaga ego pria lain.

​Begitu pintu lift terbuka, suasana kantor sudah terasa berbeda. Bisik-bisik di meja resepsionis berhenti seketika saat aku melangkah masuk. Aku tahu apa yang mereka bicarakan. Berita tentang Kaivan yang dimarahi habis-habisan oleh Pak Dimas kemarin sore sudah menyebar seperti api di atas tumpahan bensin.

​Aku duduk di kubikelku. Baru saja menyalakan komputer, aku mendapati sebuah cup kopi sudah ada di mejaku. Bukan dari Kaivan. Ada catatan kecil di sampingnya dengan logo Adhitama Group.

​“Kopi hitam tanpa gula untuk analis paling tajam di kota ini. Semoga harimu menyenangkan, Arelia. - B”

​Aku tersenyum tipis. Bastian tahu cara menghargai hal-hal kecil tanpa membuatnya terasa seperti beban. Aku menyesap kopi itu, merasakan pahit yang menyegarkan, saat tiba-tiba sebuah bayangan menutupi mejaku.

​Kaivan berdiri di sana. Rambutnya tidak tertata rapi seperti biasanya. Matanya merah, dan kemejanya terlihat sedikit kusut di bagian kerah. Ia menatap cup kopi di tanganku dengan tatapan yang nyaris seperti rasa benci.

​"Jadi sekarang dia mengirimkan kopi ke kantormu?" suaranya rendah, serak, dan penuh dengan nada menuduh.

​"Bastian hanya bersikap sopan, Kaivan," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor.

​"Sopan? Rel, kamu jangan naif! Laki-laki seperti Bastian Adhitama tidak melakukan hal 'sopan' tanpa maksud tertentu. Dia ingin kontrak kita, dia ingin data kita, dan dia menggunakanmu sebagai jalannya!" Kaivan memukul meja pembatas kubikel kami, membuat cup kopi itu sedikit berguncang.

​Aku berhenti mengetik. Perlahan, aku mendongak dan menatapnya. "Jika dia menggunakan aku sebagai jalannya, itu artinya aku memiliki nilai yang cukup besar untuk diperhitungkan. Sesuatu yang selama tujuh tahun ini tidak pernah kamu akui."

​"Aku mengakuinya, Rel! Selama ini kita selalu sukses karena kamu ada di sampingku!"

​"Bukan di sampingmu, Kaivan. Tapi di belakangmu," koreksiku tajam. "Kamu yang berdiri di panggung, kamu yang menerima tepuk tangan, sementara aku yang memastikan panggung itu tidak runtuh saat kamu lupa membaca naskahnya."

​Kaivan terdiam, napasnya memburu. Sebelum ia sempat membalas, Pak Dimas keluar dari ruangannya dengan wajah yang sangat serius.

​"Arelia, Kaivan, ke ruang rapat sekarang. Bastian Adhitama akan melakukan conference call mendadak soal audit vendor sektor B."

​Ruang rapat itu terasa sangat dingin. Pak Dimas duduk di kepala meja, sementara aku dan Kaivan duduk berseberangan. Di layar proyektor, wajah Bastian muncul. Ia mengenakan kaos polo kasual, sepertinya ia sedang berada di luar kantor, namun aura kepemimpinannya tetap terasa menembus layar digital itu.

​"Selamat pagi, Pak Dimas. Arelia. Dan... Kaivan," sapa Bastian. Ia menyebut namaku dengan nada yang sedikit lebih lembut, sebuah detail yang kulihat membuat rahang Kaivan mengeras.

​"Selamat pagi, Pak Bastian. Ada hal mendesak?" tanya Pak Dimas.

​"Sangat mendesak. Saya baru saja meninjau draf audit yang dikirimkan Kaivan kemarin sore secara mandiri," Bastian terdiam sejenak, ia menyesap kopinya di layar. "Ada selisih angka sekitar dua miliar rupiah pada proyeksi logistik. Kaivan, bisa Anda jelaskan dari mana angka itu muncul?"

​Hening menyelimuti ruangan. Aku melirik Kaivan. Ia tampak gugup, jari-jarinya sibuk membolak-balik berkas di hadapannya dengan gerakan yang sangat tidak yakin.

​"Itu... itu adalah angka antisipasi kenaikan harga BBM, Pak Bastian. Kami menggunakan draf dari tahun lalu sebagai pembanding," Kaivan mencoba menjelaskan, suaranya sedikit bergetar.

​"Draf tahun lalu? Anda menggunakan data basi untuk proyek bernilai triliunan?" Bastian tertawa hambar, suara yang membuat Pak Dimas seketika menatap Kaivan dengan tatapan maut. "Arelia, apa pendapatmu soal angka ini?"

​Aku menarik napas panjang. Selama tujuh tahun, di momen seperti ini, aku akan segera masuk, memberikan alasan teknis yang rumit namun masuk akal untuk menyelamatkan muka Kaivan. Aku akan berpura-pura bahwa itu adalah kesalahan input dan segera memberikan angka yang benar yang sudah kusiapkan secara diam-diam.

​Tapi hari ini, aku tidak melakukannya.

​"Pendapat saya, Pak Bastian," kataku sambil menatap langsung ke arah kamera proyektor. "Angka itu memang salah. Jika kita menggunakan draf tahun lalu, kita mengabaikan efisiensi jalur distribusi baru yang sudah disepakati bulan lalu. Selisih dua miliar itu sebenarnya tidak ada. Itu hanya kesalahan analisis data primer."

​Kaivan menatapku dengan mata membelalak. Ia tidak percaya aku baru saja menelanjanginya di depan klien paling penting kami.

​"Tepat sekali," ucap Bastian puas. "Pak Dimas, saya rasa saya sudah cukup jelas menyampaikan ini sebelumnya. Saya ingin Arelia yang memegang penuh kendali atas audit keuangan dan risiko. Kaivan... saya rasa ia lebih cocok menangani bagian operasional lapangan yang tidak melibatkan banyak data strategis."

​"Saya mengerti, Pak Bastian. Kami akan segera melakukan restrukturisasi tim untuk proyek ini," jawab Pak Dimas dengan nada tegas.

​Setelah panggilan video berakhir, Pak Dimas berdiri tanpa menatap Kaivan. "Kaivan, ke ruangan saya setelah ini. Arelia, kerjakan revisinya sekarang juga. Saya ingin data yang benar ada di meja saya dalam satu jam."

​Saat Pak Dimas keluar, Kaivan langsung berdiri dan membanting map kerjanya ke atas meja rapat.

​"Kamu puas sekarang?" teriaknya. "Kamu sengaja menjatuhkan aku di depan klien! Kamu tahu aku nggak sempat cek data distribusi baru itu karena aku harus menemani Nadine ke imigrasi!"

​Aku tidak bergeming. Aku mengumpulkan berkas-berkasku dengan tenang. "Kamu yang menjatuhkan dirimu sendiri, Kaivan. Kamu lebih memilih menjadi asisten pribadi Nadine daripada menjadi analis profesional. Jangan salahkan aku karena aku menolak untuk terus menjadi cadanganmu."

​"Aku butuh kamu, Rel! Kita ini 'Nyaris Jadi Kita', kamu lupa?" ia mencoba menggunakan taktik emosional lagi. Ia berjalan mendekat, mencoba meraih lenganku. "Tolong, bantu aku bicara sama Pak Dimas. Bilang kalau tadi itu hanya salah paham."

​Aku melepaskan tangannya dengan gerakan yang mantap. "Kita tidak pernah 'Nyaris', Kaivan. Kamu hanya pria yang terlalu takut untuk sendirian, dan aku adalah wanita yang terlalu bodoh untuk percaya bahwa aku dibutuhkan karena cinta, bukan karena kegunaan."

​Aku berjalan keluar dari ruang rapat, meninggalkan Kaivan yang terpuruk di kursinya. Di lorong kantor, aku melihat Maya berdiri sambil bersedekap, sebuah senyuman bangga terukir di wajahnya.

​"Gila, Rel. Lu beneran 'membakar' panggung tadi," bisik Maya.

​"Aku nggak membakar panggung, May. Aku cuma berhenti memadamkan api yang dibuat orang lain," jawabku.

​Malam harinya, kantor sudah sepi saat aku menyelesaikan revisi terakhir. Aku berjalan menuju lobi, merasa lelah namun puas. Saat aku sedang menunggu taksi online, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depanku.

​Bastian keluar dari mobil. Ia tidak memakai jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung. Ia tampak sangat kontras dengan suasana malam Jakarta yang basah.

​"Naiklah. Aku akan mengantarmu," ucapnya.

​"Bastian, ini sudah di luar jam kerja. Aku bisa—"

​"Aku tahu. Dan karena ini di luar jam kerja, maka ini bukan perintah klien. Ini ajakan teman," ia membukakan pintu untukku.

​Di dalam mobil, keheningan terasa sangat berbeda dari keheningan saat aku bersama Kaivan. Tidak ada beban untuk menyenangkan, tidak ada ketakutan untuk salah bicara.

​"Kamu melakukan hal yang benar hari ini, Arelia," ucap Bastian sambil fokus pada jalanan. "Memberikan kebenaran adalah bentuk penghargaan tertinggi pada diri sendiri."

​"Terasa aneh," aku menyandarkan kepalaku di jok mobil. "Tujuh tahun aku menjadi penopangnya. Saat aku berhenti, aku merasa seperti meruntuhkan bangunan yang aku bangun sendiri."

​"Bangunan yang dibangun di atas fondasi kebohongan memang sudah seharusnya runtuh, agar kamu bisa membangun gedung yang lebih megah di atas tanahmu sendiri," Bastian menoleh sekilas, menatapku dengan binar yang membuat dadaku berdesir. "Mulai besok, panggung itu milikmu sepenuhnya. Jangan biarkan siapapun mencuri cahayamu lagi."

​Saat aku sampai di depan apartemen, aku melihat Kaivan berdiri di lobi. Ia tampak sedang menunggu seseorang—Nadine. Wanita itu ada di sampingnya, memegang lengannya dengan manja. Begitu melihat aku turun dari mobil Bastian, wajah Kaivan berubah menjadi pucat, sementara Nadine menatapku dengan tatapan menilai yang tajam.

​Aku tidak menoleh. Aku tidak menyapa. Aku berjalan melewati mereka dengan kepala tegak, masuk ke dalam lift yang membawaku ke lantai atas.

​Di dalam pantulan cermin lift, aku melihat seorang wanita yang baru saja memenangkan pertempuran paling sulit dalam hidupnya: pertempuran melawan rasa bersalahnya sendiri.

​Nyaris jadi kita? Tidak. Kali ini, ini adalah tentang aku yang baru saja memulai pertunjukanku yang sesungguhnya. Tanpa naskah dari siapapun.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!