NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:620
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Film Horror~

Malamnya, hujan benar-benar turun.

Deras. Gemericik air membasahi daun-daun petunia di halaman, menabrak genting dengan ritme yang justru membuat suasana semakin hangat di dalam rumah.

Adea sudah berganti dengan piyama longgar berwarna krem motif beruang. Rambutnya yang panjang telah kering, terurai lembut ke bahu. Ia duduk bersila di sofa ruang tengah, remote TV di tangan, matanya berbinar melihat daftar film horor yang tersedia.

"Anggaaaaa~" panggilnya dengan keras.

Dari dapur, Angga yang sedang membuat teh jahe menghela napas. Ia tahu nada itu. Nada itu berarti permintaan yang tidak bisa ditolak.

"Apa lagi?" teriaknya balik.

"Temenin gue nonton film horor! Plis plis plis~"

Angga membawa dua cangkir teh jahe ke ruang tengah. Asap mengepul tipis di udara dingin. Ia meletakkan satu cangkir di meja dekat Adea, satu lagi di sisi kursinya.

"Lu suka horor?" tanya Angga skeptis. "Biasanya lu takut."

"Gue gak takut! Gue cuma... kaget," bantah Adea cepat. Terlalu cepat.

Angga tersenyum kecil. Ia duduk di samping Adea, lalu mengambil selimut tebal berwarna abu-abu dari ujung sofa. Dengan gerakan lembut, ia menyelimuti tubuh mungil gadis itu hingga hanya tersisa wajahnya yang chubby dan kedua tangannya yang memegang remote.

"Udah, tonton aja. Tapi jangan teriak-teriak nanti ganggu tetangga."

"Ya enggak lah~"

Adea memencet play.

Film mulai bergulir. Judulnya Pengabdi Setan yang lama, versi 1980-an, karena Adea tidak suka film horor modern katanya "terlalu banyak CGI, gak seram."

Angga duduk di sampingnya dengan santai. Kaki diselonjorkan ke depan, bersandar pada bantal besar. Ia tidak benar-benar menonton. Matanya sesekali tertuju ke layar, sesekali ke samping. Ke arah Adea yang mulai tenggelam dalam cerita.

Cumi ikut pindah dari kasur ke ruang tengah. Kucing abu-abu gembul itu melompat ke pangkuan Angga, berputar dua kali, lalu rebahan dengan posisi meringkuk sempurna.

"Kamu juga ikut nonton, Cum?" bisik Angga sambil mengelus pelan kepala kucing itu.

Cumi hanya mendengkur sebagai jawaban. Atau mungkin dia hanya sedang nyaman.

---

Tidak ada rasa takut pada gadis itu. Benar kata Adea, dia tidak takut.

Tapi sesekali...

"ASTAGAAAAAA!!!"

Adea berteriak kencang ketika wajah hantu tiba-tiba memenuhi layar penuh. Tubuhnya melompat sedikit, selimut yang tadinya rapi jadi kusut. Ia mengumpat kesal sambil menunjuk layar dengan jari telunjuk.

"NAH KAN! NAH KAN GUE BILANG! HANTU NYEBELIN BANGET SIH, NGINTIP TERUS TAUBAT LO YA?!"

Kemudian gadis itu menoleh ke samping, menatap Angga dengan mata membelalak mencari pembelaan. Seolah-olah Angga bisa membantunya melawan hantu di dalam televisi.

Angga menahan tawa. Bibirnya bergetar menahan gelak.

"Iyaa~ hantunya emang nyebelin!" ucap Angga membela gadis itu, suaranya dibuat serius meski matanya tidak bisa menyembunyikan sorot gemas.

"IH SERIUSAN TADI GUE JANTUNGAN, ANGGA~!" Adea memukul lengan Angga pelan. Kerasnya seperti ditepuk kucing.

"Iya iya. Gue belain lu kok. Hantunya goblok."

"Bener tuh. GOBLOK!" teriak Adea ke arah layar seolah hantu itu bisa mendengar.

Angga hanya menggeleng. Tangannya tidak berhenti mengelus bulu lebat Cumi yang mendengkur halus di pangkuannya. Detak jantung kucing itu terasa tenang, berbeda dengan Adea yang jantungnya mungkin sedang berpacu kencang.

Film berlanjut.

Adea sesekali berkomentar, sesekali berteriak, sesekali menutup mata dengan kedua tangan lalu membuka sedikit celah di antara jari-jarinya. Polahnya persis seperti anak kecil yang menonton film horor untuk pertama kalinya.

Angga tidak bosan menontonnya.

Bukan filmnya. Tapi Adea.

---

Ketika jam menunjukkan pukul 12.00 di jam tangan casio lawas milik Angga, pria itu bangun dari sofa dengan gerakan pelan agar tidak mengganggu Cumi yang sedang tidur pulas di pangkuannya. Tapi Cumi tetap terbangun. Kucing itu menguap lebar, memperlihatkan gigi-gigi kecilnya, lalu melompat turun dan meregangkan badan.

"Yuk, tidur. Besok ada kelas," ucap Angga sambil mengulurkan tangannya pada Adea.

Adea menatap Angga.

Matanya memohon. Bibirnya sedikit maju ke depan. Ekspresi manja yang sudah ia kuasai sejak kecil.

"Bentar lagi ada film Suzzanna~" rengeknya. "Yang Sundel Bolong. Itu film klasik, Angga. Sekali-sekali nonton yang rada gimana gitu~"

Suaranya naik turun. Manja. Berharap.

Angga memutar bola mata malas. Ia menyugar rambutnya yang sedikit panjang, hampir menutup mata. Rambut hitam itu jatuh kembali ke tempatnya setelah disisir jemari kasar miliknya.

"Dasar..." gumamnya.

Lalu tanpa peringatan, Angga membungkuk. Tangannya meraih tubuh Adea. Satu tangan di punggung, satu tangan di bawah lutut. Ia mengangkat gadis itu seperti mengangkat karung beras, tapi lebih lembut. Lebih hati-hati.

"AAAA~ ANGGA JATOHIN GUE LO GUE SEPAK!" teriak Adea, tubuhnya tergantung di pelukan Angga.

"Diem. Udah malem."

Adea merengek tidak jelas. Sesuatu antara protes dan tawa. Tangannya secara refleks melingkar di leher Angga karena takut jatuh.

Angga berjalan ke kamar Adea dengan langkah tenang. Cumi berjalan di depan mereka seolah memandu jalan, ekornya tegak lurus.

Begitu sampai di kamar, Angga merebahkan Adea ke atas kasur. Gadis itu jatuh dengan lembut di atas sprei krem. Angga langsung menyelimutinya, menarik selimut tebal hingga hampir ke dagu, merapikan ujung-ujungnya.

Kemudian ia mengambil boneka panda besar yang selalu ada di sudut kasur. Boneka itu seukuran tubuh Adea, hadiah dari Angga saat ulang tahunnya yang ke-17. Angga meletakkan boneka itu di tangan Adea yang masih merengek.

"Tapi Suzzanna..." rengek Adea lemah.

"Suzzanna-nya besok. Sekarang tidur."

Angga mematikan lampu utama.

Ruangan menjadi gelap, hanya tersisa lampu tidur kecil di meja samping yang menyala oranye hangat. Cahayanya jatuh ke wajah Adea yang masih merengut, bibir masih sedikit cemberut.

Angga berjalan ke arah pintu.

"Goodnight, Adea," ucapnya lembut.

Lalu ia menutup pintu. Tidak rapat. Sedikit terbuka, seperti biasa. Agar Adea tidak merasa sendirian.

---

Di kamarnya yang ada di seberang lorong, Angga duduk di tepi kasur sejenak. Ruangannya lebih sederhana dari kamar Adea. Dinding polos, beberapa sketsa setengah jadi menempel di dinding, tumpukan buku ekonomi di meja belajar.

Cumi melompat ke kasur dengan lincah. Kucing itu berjalan mendekati Angga, menggesekkan kepalanya ke tangan pria itu, lalu rebahan di dekat bantal.

"Kamu gak mau tidur sama Adea?" tanya Angga pelan.

Cumi hanya mendengkur.

Angga tersenyum kecil.

Ia merebahkan diri di kasur, menarik selimut tipis ke dadanya. Di sampingnya, Cumi meringkuk di lekuk lengannya, mendengkur halus seperti mesin kecil yang menenangkan.

Di luar, hujan masih turun. Suaranya menjadi lagu tidur bagi tiga makhluk di rumah kecil itu.

Tapi Angga tidak bisa tidur.

Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Di balik dinding tipis itu, Adea sedang tidur atau mungkin masih merengek soal Suzzanna dalam mimpinya.

Angga ingat janji yang ia buat dulu.

"Pokoknya gua tunggu lu sampe lulus."

Dan sekarang, Adea sudah lulus. Sudah kuliah. Sudah tinggal bersamanya.

Tapi Angga belum mengatakan apa-apa.

Ia hanya menunggu. Seperti biasa.

"Ck..." ia menghela napas dan menutup mata.

Cumi bergerak sedikit, lalu kembali mendengkur.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!