cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
Langit sudah gelap, anak anak juga sudah tidur dikamar masing masing. Tapi Niya belum bisa terlelap karena menunggu suami yang belum kunjung pulang, padahal sudah pukul sembilan malam.
Niya menatap jam diponselnya. "Mas Riyan telat pulang?" gumamnya pada diri sendiri. Beranjak dari tempat tidur dan memilih duduk dikursi ruang tamu.
Hingga satu jam berlalu, Niya juga sudah berulangkali menguap, tetapi Riyan belum pulang juga. Niya berdiri, menyibak gorden dan menatap keluar jendela.
"Belum ada tanda tanda mas Riyan pulang. Lembur kah dia? Kenapa tidak menelfon dan memberitahuku,"
Niya menghela, menutup gorden lagi, memilih menuju kamarnya dan bermain ponsel. Seperti biasa, dia membuka aplikasi yang akhir akhir ini dia sukai. Selain merasa terhibur, Niya juga tengah belajar serta berjuang untuk impiannya.
Hingga tanpa terasa, matanya mulai berat, jemari jemarinya yang lentik berhenti mengetik, dan Niya pun tertidur dengan ponsel yang masih menyala, dan belum keluar dari aplikasi tersebut.
Diluar rumah, mobil warna hitam berhenti tepat digarasi. Tak lama, pintu mobil itu terbuka, Riyan keluar dari sana dengan wajah yang lelah, penuh keringat, serta tas yang tersampir dibahunya.
Riyan menutup pintu mobil, berjalan menuju rumah, membuka pintu dan menutupnya kembali, lalu menjatuhkan tubuh dikursi ruang tamu.
"Yang!"
"Aku pulang!" serunya.
Tapi tidak mendapat sahutan. Riyan mengambil ponsel ditasnya kemudian menilik jam disana. "Jam sebelas lebih, pantesan rumah sepi." Riyan menaruh ponsel didalam tas kembali, tangan satunya memijat keningnya yang terasa penat.
"Yang!"
"Yang, bangun!"
"Aku---hufff..."
Riyan baru menyadari jika Niya pasti sudah tidur dikamar, mengingat dia terlambat pulang, dan tidak sempat memberinya kabar. Riyan beranjak dari kursi, berjalan menuju kamarnya dan Niya. Begitu tangannya membuka pintu, dapat Riyan lihat jika Niya sudah terlelap ditempat tidur sana.
Bibirnya mengulas senyum tipis melihat kesayangan yang tidur dengan posisi terlentang dengan mulut sedikit terbuka, membuat rasa lelah serta penatnya mendadak menghilang.
Riyan menutup pintu sekaligus menguncinya. Menggantung tasnya dibelakang pintu kemudian melepas baju serta celananya. Meletakannya dikeranjang baju kotor. Badannya terasa lengket dan gerah, tapi dia terasa malas untuk mandi. Riyan memilih membaringkan badan disisi Niya dan hanya butuh waktu lima menit Riyan ikut terlelap dengan satu tangan memeluk Niya.
Tapi, baru saja merasakan enaknya tidur, getar ponsel yang terasa menggelitik perut membuat Riyan terbangun. Riyan terduduk dengan mata menyipit karena masih mengantuk. Dicarinya ponsel yang bergetar itu tadi.
"Sayang, kenapa sih suka sekali main ponsel sampai ketiduran," Setelah mendapati ponsel Niya yang menyala dan bergetar, Riyan mengambilnya. Riyan menggeleng karena ponsel Niya masih ada digenggamannya. Untung saja ponselnya tidak rusak karena tertindih oleh badannya.
Riyan semakin menyipitkan mata ketika membuka chat yang masuk diponsel Niya. Dan melempar ponsel itu pelan keatas nakas samping ranjang setelah mengetahui siapa yang mengiriminya pesan. Wajah Riyan yang masih mengantuk mendadak datar dan memilih kembali tidur dengan membelakangi Niya.
"Bundaaa...!"
"Bundaaa...!"
Sayup sayup, Niya mendengar suara Zona yang memanggilnya. Perlahan, Niya membuka kedua mata dengan mulut yang menguap. Dengan mata yang masih mengantuk, Niya beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.
"Bunda, Zona pipis dikasur," seru Zona ketika pintu sudah terbuka lebar.
Niya tersenyum tipis. "Tidak apa apa. Ayo Bunda mandikan, biar Zona tidak bau,"
"Ayo Bunda," Mereka berdua menuju kamar mandi yang letaknya dekat dengan dapur. Begitu sampai disana Zona menatap Bundanya yang terlihat masih mengantuk. "Bunda! Bunda masih mengantuk ya?"
Niya tersenyum, mencubit pipi bakpao Zona dengan gemas. "Tentu saja, Sayang. Ini kan masih malam."
Zona menunduk, cemberut, merasa bersalah. "Maafkan Zona ya Bunda. Zona sudah mengganggu waktu istirahat Bunda."
"Tidak apa apa, Sayang. Tapi, Bunda ingin memberikan Zona paham." Sambil melepas semua pakaian Zona yang kotor itu, lalu mengguyur badan Zona dengan air dingin.
Zona berjengiiit karena merasa kedinginan. "Nasihat apa Bunda?"
"Jangan sering sering pipis dikasur ya, kan Zona sudah besar. Malu dong dengan teman teman disekolah Zona. Kalau ingin tidur, Zona harus selalu buang air dulu supaya tidak pipis di kasur, oke?"
Zona mengangguk, bibir mungil itu tersenyum. Membuat bocah kecil itu semakin terlihat sangat manis dan menggemaskan. "Okeee..."
Acara memandikan Zona dimalam hari sudah selesai. Setelah Zona sudah kembali tertidur dikamarnya, Niya kembali untuk melanjutkan tidur dikamarnya dengan sang suami. Begitu sudah berbaring ditempat tidur, Niya tersenyum melihat suaminya yang tidur sangat pulas. Niya tahu jika saat ini mas Riyan pasti kelelahan karena baru saja lembur.
Niya mencari ponselnya, dan dia menemukannya diatas nakas. Niya melihat jam diponselnya yang menunjukan pukul dua lebih lima menit.
"Baru jam dua pagi ternyata, masih terlalu pagi untuk membuat sarapan." lirihnya, Niya memilih kembali melanjutkan tidur setelah kembali menaruh ponselnya diatas nakas. Niya melingkarkan tangan, memeluk suaminya dari belakang dan tidak butuh waktu lama, Niya sudah kembali pulas.
Pagi harinya, Riyan membuka kedua mata, tangan kanannya terangkat untuk menutupi mulutnya yang menguap. Sebenarnya, Riyan masih sangat mengantuk, akan tetapi alarm diponselnya sudah berbunyi. Jadi, mau tidak mau Riyan harus bangun dari tidur nyenyaknya.
Riyan terduduk, menilik jam diponsel Niya yang ada diatas nakas. "Sudah pukul lima, berarti ini alarm yang bunyi ke tiga kalinya. Astaghfirullah, senyenyak itu kah tidurku semalaman,"
Riyan beranjak dari tempat tidur, dia memilih untuk mandi karena kemarin malam tidak sempat mandi. Gerakan itu membuat tidur Niya sedikit terusik, Niya mengucek kedua mata dengan mulut yang menguap, melihat suaminya yang akan keluar kamar, Niya memanggilnya.
"Mas Riyan,"
Riyan menoleh, mendapati Niya sudah terbangun. "Kenapa?"
"Kau lembur semalam? Semalam pulang jam berapa? Kenapa kau tidak memberitahuku?" Turun dari tempat tidur dan mendekati suaminya, memeluk manja dari samping, seperti biasanya.
"Suka suka aku ingin pulang jam berapa. Lagi pula kau senang kan tidak ada aku dirumah?"
Niya mengernyit, melepas pelukan, mendongak demi ingin menatap kedua mata suaminya, tangannya terulur membingkai wajah yang menurutnya selalu terlihat tampan itu. "Mas, ini masih terlalu pagi. Jadi tolong, jangan menggodaku seperti itu, oke?" Senyum terbaik Niya terbit, senyum yang biasa Riyan lihat selama ini.
Riyan terkekeh melihat senyum Niya yang selalu berhasil membuat hatinya menghangat. Senyum yang selalu berhasil membuatnya merasa sangat di cintai. Perlahan, kedua tangan Riyan terangkat, mencubit kedua pipi Niya dengan gemas, membuat perasaan Niya semakin berbunga. Tetapi rasa bahagia Riyan dipagi hari ini redup ketika satu pesan yang dia baca semalam terlintas di ingatan.
pesan dari siapa?