Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 — Tangan yang Tak Jujur
Studio tari privat itu tenang di siang hari, hanya diisi suara napas dan desir pakaian latihan yang bergesekan dengan lantai kayu.
Di ruang yang luas itu, hanya ada dua orang.
Guru Larasati berdiri tepat di belakang Citra Lestari — seorang dosen muda dari Fakultas seni Tari Universitas S, sekaligus nama yang sudah cukup disegani di lingkaran tari klasik dalam negeri. Ia mengenakan pakaian latihan hitam yang pas di tubuhnya, rambut panjang diikat rapi ke belakang, memperlihatkan leher yang ramping dan anggun. Temperamennya tenang, setiap gerak-geriknya memancarkan profesionalisme yang sudah terbentuk bertahun-tahun.
Tangannya kini bertumpu lembut pada pinggang Citra Lestari.
"Tarik napas dalam-dalam... Ya, arahkan rentangan lenganmu..." Suaranya tenang dan menyenangkan, setiap instruksi tepat sasaran.
Citra Lestari mengenakan pakaian tari merah muda teratai yang pas di tubuhnya. Rambut panjangnya diikat tinggi, memperlihatkan dahi yang halus. Di sini, ia tidak lagi membutuhkan penyamaran berupa kacamata.
Ia mengikuti setiap bimbingan dengan patuh.
Namun di mata Guru Larasati, gerakannya masih jelas terlihat canggung. Postur statisnya saja belum cukup standar, apalagi gerakan dinamis — transisi antar langkah terasa kaku, seperti seseorang yang baru pertama kali mengenali tubuhnya sendiri melalui tari. Gadis ini sama sekali tidak memiliki dasar.
Tapi Guru Larasati harus mengakui satu hal: gadis ini punya daya tarik tersendiri yang sulit diabaikan.
Terutama saat ia menginstruksikan Citra melakukan peregangan membungkuk ke depan, diikuti gerakan berdiri yang lembut. Citra membungkuk dengan patuh — pinggangnya melengkung lentur, garis pinggulnya yang penuh terangkat, bergoyang dengan cara yang memukau di balik kain latihan yang ketat. Rasio pinggang-pinggul itu seolah lahir dari tangan pencipta yang terlalu royal; transisi antara ramping dan berisi terasa alami, memiliki daya tarik yang mengusik tanpa perlu berusaha.
Tatapan Guru Larasati tertahan di sana, seperti magnet.
*Posturku sendiri termasuk yang terbaik di industri ini,* pikirnya. *Bertahun-tahun latihan keras. Dua jam yoga dan latihan kekuatan setiap hari tanpa henti, menahan nyeri otot, hanya untuk mempertahankan garis tubuh ini.*
Namun gadis di depannya ini...
Ujung jari Guru Larasati tanpa sadar mengencang, mencubit daging lembut di pinggang Citra hingga sedikit cekung.
Gadis itu mengeluarkan rintihan kesakitan yang pelan.
Guru Larasati tersadar. Ia segera melepaskan tangannya, wajahnya dengan cepat kembali menunjukkan ekspresi profesional: "Maaf, terlalu banyak tenaga."
"Pertahankan posisi ini — rasakan peregangan di punggung bagian bawah, supaya kau bisa bangkit dengan mulus setelahnya."
Suaranya tidak menunjukkan kelainan apa pun.
Tapi di dalam hatinya, kepahitan dan kecemburuan tumbuh liar seperti tanaman yang tak tahu batas.
*Mengapa?* Batin Guru Larasati. *Ia tidak punya dasar. Tidak punya pengorbanan. Hanya mengandalkan dermawannya yang menghambur-hamburkan uang untuk mempekerjakan orang sepertiku — demi melatih gadis kecil ini seorang diri.*
*Mengapa ia bisa memiliki fisik sesempurna itu tanpa mengorbankan apa pun?*
Pinggang itu. Pinggul itu. Lekuk tubuh itu... memang diciptakan untuk menggoda.
Guru Larasati bahkan bisa membayangkan bagaimana tubuh di hadapannya ini disayangi dan dipuja-puja oleh Tuan Muda dari Keluarga Pratama yang angkuh dan berkuasa itu di malam hari.
Sungguh keberuntungan yang luar biasa.
Usia Meraka Tidak Terpaut Jauh. Tapi Guru Larasati harus berjuang menjaga bentuk tubuhnya, harus menahan tangan-tangan usil para investor panggung hanya untuk bisa meniti kariernya setapak demi setapak. Sementara gadis ini — terhubung langsung ke pria kelas atas, jalannya terbuka begitu saja.
*Ini tidak adil.*
"Ayo, angkat tubuh ke atas. Jaga inti tubuhmu tetap stabil." Guru Larasati melangkah maju, suaranya tetap tenang dan profesional.
Namun saat Citra Lestari berusaha keras, tangan Guru Larasati — dengan dorongan kecil yang penuh niat jahat — menepuk puncak pinggul Citra yang montok dengan kekuatan sedang.
Secara kasat mata, itu hanyalah seorang guru yang menguji kestabilan inti siswa. Tapi siapa yang benar-benar tahu?
"Memukul!"
Suara itu bergema jernih di ruang latihan yang sepi.
*Burung kenari yang dimanjakan seperti itu,* pikir Guru Larasati, *paling hanya fisik untuk pamer. Lemas dan terkulai saat dielus.*
Tapi sensasi yang menjalar ke ujung jarinya membuat pikiran jahatnya membeku di tempat.
Itu bukan kelemahan lemas yang ia bayangkan.
Di balik lekuk tubuhnya yang sempurna terdapat kekencangan dan elastisitas yang lembut, penuh vitalitas — sama sekali berbeda dari dugaannya. Seolah tubuh itu menyimpan sesuatu yang tidak terlihat dari luar.
*Ini... bagaimana mungkin?*
Terkejut oleh tepukan itu, Citra secara naluriah mengecilkan tubuhnya, lalu berbalik menatap Guru Larasati dengan sedikit kebingungan, wajah kecilnya memerah: "Guru Larasati?"
Guru Larasati cepat menarik tangannya. Ujung jarinya seperti masih menyimpan ingatan akan kelenturan yang menakjubkan itu.
Ia menekan rasa cemburu yang lebih dalam di dadanya dan memaksakan senyum: "Inti dirimu masih belum stabil — kau goyah hanya karena tepukan itu?"
"Lanjutkan! Tahan!"
Suaranya sedikit lebih kasar dari sebelumnya, mengandung kejengkelan yang tak sepenuhnya tersembunyi.
*Demi reputasiku. Demi tidak menyinggung Arjuna Pratama di belakang gadis ini.* Ia harus mengajari Citra sampai hasil yang diinginkan tercapai.
Tapi menghadapi gadis beruntung ini — yang bahkan surga sendiri seolah berlomba memberinya segalanya, yang tubuhnya telah menjadi senjata sempurna tanpa pernah berusaha...
Api kecemburuan di hati Guru Larasati semakin berkobar, dipicu oleh satu tepukan yang tidak seharusnya.
---