Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama atau kedua?
Tangan Alma mengepal erat, kakinya terasa berat untuk melangkah masuk, sementara Fanny begitu riang di sampingnya sudah bersiap membuka pintu ruangan itu dengan antusias.
"Masuk yuk, Al. Marsha pasti senang banget lihat kita datang," ajak Fanny sambil menggandeng tangan Alma, menariknya masuk ke dalam sambil mendorong daun pintu perlahan.
Alma sendiri menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Mengatur ekspresi wajahnya senatural mungkin meski hatinya bergemuruh hebat. Begitu pintu terbuka, Marsha tampak duduk di sisi ranjang sedang menyusui bayinya. Wanita itu langsung tersenyum lebar kala melihat kedatangan Fanny dan Alma.
"Hai, akhirnya kalian datang juga," sapa Marsha, wajahnya bersinar bahagia.
Namun, bagi Alma senyum dan wajah bahagia wanita di hadapannya itu, terasa seperti sedang mengejek dirinya. Ada rasa perih, marah, dan muak yang bercampur aduk dalam dadanya. Akan tetapi, ia paksa tetap berdiri tegak dan tersenyum meski terasa canggung.
"Bagaimana kabarmu, Sha?" tanyanya basa-basi setelah mereka cipika-cipiki.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Aku bahagia banget," jawabnya seakan tanpa beban.
"Wah, bayinya gemesin banget, ya." Fanny langsung menyela, "Kamu sendirian, Sha? Terus suamimu, atau keluargamu mana? Masa, nggak ada satu pun yang temani kamu di sini? Bagaimana kalau kamu menginginkan sesuatu?"
Marsha terkekeh pelan mendengar cecaran pertanyaan dari Fanny. Tangannya membelai lembut kepala bayi mungil dalam gendongannya. "Tadi ayah dan ibuku baru saja mengantar Nadine pulang. Kalau suamiku masih bekerja, mungkin sebentar lagi pulang. Dan pasti dia langsung ke sini, apalagi sejak tahu anaknya laki-laki. Dia jadi nggak mau jauh-jauh, jadi makin protektif banget," jawabnya panjang lebar, seolah sedang memamerkan kebahagiaan dalam rumah tangganya.
Fanny mengangguk-angguk paham. "Syukurlah, kalau begitu."
Sedangkan Alma memilih duduk di sofa, menahan diri sekuat tenaga berusaha menekan perasaannya. Ia mengalihkan perhatiannya ke sekeliling ruangan merasa jengah dengan situasi saat ini.
Fanny datang menghampirinya sambil menggendong bayi Marsha. "Al, coba deh, kamu lihat adik bayinya. Lucu, kan? Ayo, gendong sebentar, biar kamu juga cepat ketularan punya bayi!" ucapnya sengaja menggoda seraya menyodorkan bayi tersebut.
"Kamu kan, sudah lama nikah. Katanya sih, kalau sering gendong bayi yang baru lahir, bakal ikutan cepat dikasih kepercayaan punya momongan juga. Siapa tahu nggak lama, kamu langsung hamil deh, aamiin."
Kata-kata Fanny mungkin bermaksud baik, sebagai bentuk perhatiannya kepada sang sahabat. Namun, kata-kata itu justru menancap tajam ke ulu hati Alma yang terdalam. Ia bukan tak pernah hamil, tetapi dirinya mengalami keguguran di usia kehamilannya yang baru menginjak usia tiga bulan.
Alma memaksakan senyumnya, menatap bayi Marsha yang sangat mirip Nova. Jantungnya berdegup makin kencang hingga terasa sesak di dada. "Ah... iya... semoga saja begitu," jawabnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
Di tempat duduknya Marsha tampak tersenyum samar, tak ada yang menyadari arti senyumannya tersebut.
Alma pun perlahan menyentuh selimut yang menyelimuti bayi itu, tangannya terasa dingin dan gemetar.
Belum sempat Alma benar-benar mengangkat bayi itu dari gendongan Fanny, terdengar suara pintu ruangan terbuka dari luar. Alma langsung menoleh guna melihat siapa yang datang.
"Sa...!" Langkah Nova terhenti mendadak di ambang pintu. Ucapannya menggantung di udara, senyum di bibirnya seketika membeku, lalu perlahan lenyap sama sekali. Wajahnya berubah pucat pasi, matanya melotot tak percaya menatap sosok Alma yang berdiri di dekat sofa.
Suasana hening merayap penuh ketegangan menyelimuti ruangan itu. Nova menelan ludah dengan susah payah, jantungnya berpacu liar di dalam dada. Pria itu berusaha sekuat tenaga menguasai dirinya. Dia segera mengubah raut wajahnya, menampilkan ekspresi terkejut yang wajar seolah benar-benar tak menyangka akan bertemu Alma di tempat tersebut. Perlahan dia melangkah masuk, sambil memasang senyuman terbaiknya untuk menutupi kegugupannya.
Dari tempat tidurnya Marsha tersenyum tenang, sambil mengamati keadaan seakan tak ada hal janggal sama sekali. Ia menatap Nova sekilas seolah memberi kode, lalu beralih ke arah Fanny dan Alma dengan sikap santai.
"Kenapa kalian jadi kaget gitu, sih?" ujarnya mencairkan suasana.
"Oh ya, Al. Kamu jangan cemburu, ya. Mas Nova ini kembaran suamiku, loh. Tadi suamiku barusan mengirim pesan dan bilang kalau dia lembur. Karena kebetulan mereka satu kantor, jadi meminta Mas Nova yang datang kemari, menggantikannya berjaga-jaga di sini kalau aku butuh sesuatu," ucap Marsha ringan, seolah tak ada beban.
"Baik banget kan, orangnya. Seharusnya kamu bangga, punya suami seperti itu," tambahnya menegaskan.
Nova yang menangkap arah main Marsha, langsung mengangguk samar, lantas ikut bermain peran.
"Eh... iya benar apa kata Marsha, Sayang. Aku mendapat amanah dari saudaraku, jadi pulang kantor langsung ke sini. Tadinya aku pengin ngajak kamu, eh malah sudah ketemu di sini," timpal Nova, suaranya sedikit bergetar, meski ia coba menyamarkan.
Fanny yang sama sekali tak tahu apa-apa, hanya menatap mereka bergantian lalu menyeletuk. "Wah, ternyata Mas Nova hebat juga, ya. Baik banget mau bantuin urusan rumahtangga kembarannya. Kamu pasti bangga menjadi istrinya ya, Al."
Nova tertawa kecil, tertawa yang dipaksakan sekuat tenaga agar terdengar wajar. "Ah, itu sudah kewajiban saya sebagai saudara saling membantu saja, kok."
Sementara itu, Alma masih diam mematung. Ia menyaksikan adegan itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Mereka begitu luwes, begitu tenang, dan sangat meyakinkan seolah kebenaran ada di pihak mereka. Tak ada rasa bersalah, atau pun takut ketahuan. Semuanya seperti sudah terencana rapi, sebuah lakon sempurna yang sudah mereka hafal betul naskahnya.
Alma menatap Nova yang berusaha menjaga sikap, lalu menatap Marsha yang tersenyum penuh kemenangan tetapi tersamarkan dengan rapi. Ia menyadari betul sekarang -- mereka berdua sama-sama hebat dalam hal ini. Nova yang di rumah selalu merayunya, mengatakan dialah satu-satunya wanita di hatinya. Sedangkan Marsha berperan sebagai istri yang sabar dan bahagia, seolah tak ada yang mengganggu keutuhan rumah tangga mereka.
Plok
Plok
Plok
Suara tepuk tangan itu terdengar nyaring, memecah suasana yang tadinya dipenuhi basa-basi palsu. Semua mata tertuju padanya. Nova menegang hebat, wajahnya yang tadi tersenyum itu kembali memucat. Marsha berhenti tersenyum, matanya menyipit menatap wanita yang sebenarnya menjadi rivalnya itu.
Alma tersenyum, senyum yang paling dingin dan tajam yang pernah mereka lihat. Lalu ia berkata dengan suaranya terdengar lembut, tetapi menusuk hingga ke tulang.
"Wow... Selamat ya, buat kalian berdua. Akting kalian benar-benar sangat sempurna. Mungkin kalian mengira aku masih Alma yang bodoh dan nggak tahu apa-apa. Tapi sayangnya aku sudah mengetahui semua dusta kalian."
"Sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur, Nova! Aku ini istrimu yang pertama atau kedua?"
.
Hai gaes.. Kalian mau dobel up atau cukup 1 saja sehari? Komen ya. 🤗