Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Persiapan Acara Kartini
Pintu taksi tertutup, meredam hiruk-pikuk suara klakson dan riuh sekolah di belakang mereka. Yasmin duduk di dekat jendela, memperhatikan jalanan. Ray duduk di sampingnya, masih merasa sedikit bersalah karena telah "menculik" Yasmin dari jam pelajaran.
"Yasmin, Ayah kamu... masih marah padaku?" tanya Ray hati-hati. Suaranya terdengar agak berat, menyiratkan beban yang masih menggantung sejak kejadian di pasar tempo hari.
Yasmin menoleh, menatap Ray dengan binar mata yang jernih. "Ray jangan takut. Aku sudah bilang kok kalau Ray itu orang baik. Aku bilang ke Ayah, kalau waktu itu Ray cuma sedang kaget."
Ray menghela napas panjang, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Meskipun ia tahu Pak Danang bukan tipe orang yang mudah luluh hanya dengan satu kalimat, mendengar pembelaan Yasmin membuatnya merasa perjuangannya tidak sia-sia.
"Terima kasih, Yas. Aku benar-benar tidak enak hati. Aku tidak mau Ayahmu menganggap aku cowok kurang ajar," gumam Ray sambil membenarkan posisi ikat kepalanya yang sedikit miring.
"Ray..." panggil Yasmin pelan.
"Ya?"
"Baju ini... beneran mau cari kebaya? Kenapa nggak ke rumah aku aja buat ambil baju Ibu yang lain?"
Ray menggeleng mantap. "Nggak, Yas. Kebaya Ibu pasti tetap kebesaran buat kamu. Lagipula, aku mau kamu pakai sesuatu yang pas, yang beneran bikin semua orang di aula nanti nggak bisa kedip."
Ray terdiam sejenak, lalu ia menoleh ke arah Yasmin dengan tatapan serius. "Oh ya, sebenarnya... ada yang mau ketemu kamu."
"Siapa?" Yasmin mengernyitkan dahi, tampak heran.
"Kita ke tempatnya sekarang ini. Kamu pasti suka. Dia... orang yang sangat berarti buat aku," jawab Ray penuh rahasia.
Yasmin tidak bertanya lagi. Ia hanya memperhatikan jalanan yang mulai memasuki kawasan pertokoan kelas atas di pusat kota. Di dalam kepalanya, Yasmin menebak-nebak siapa orang yang dimaksud Ray, sementara Ray diam-diam merasa berdebar.
Hari ini bukan hanya tentang Hari Kartini. Bagi Ray, hari ini adalah pembuktian. Ia ingin menunjukkan Yasmin ibunya dan setelah selesai acara di sekolah, dia ingin menyatakan perasaannya. Baginya, ini kesempatan yang tepat.
...****************...
Suasana di ruang OSIS pagi itu terasa seperti pusat komando yang sedang siaga satu. Para pengurus sibuk mondar-mandir memastikan setiap detail persiapan akhir tidak meleset. Tahun ini, skala perayaan memang dinaikkan levelnya. Juri yang diundang bukan sekadar guru senior, melainkan para praktisi ahli untuk menilai lomba busana nanti.
Namun, yang paling membuat suasana memanas adalah keberhasilan mereka mengundang Goliath, grup musik yang tengah populer, untuk mengisi acara penutup.
"Apa ini, Dean?" Vyan menatap lembar susunan acara. "Goliath? Bagaimana bisa kalian mendatangkan mereka? Berapa besar anggaran yang kita habiskan?"
Dean yang sedang merapikan berkas menoleh tenang. "Masalah itu, Fifi yang ambil tanggung jawab penuh. Sepertinya dia sudah memperhitungkan semuanya dengan matang."
Vyan mengalihkan pandangannya ke arah Fifi. Gadis itu tersenyum bangga. "Gitarisnya itu teman Kakak gue, Vyan. Jadi tenang saja, soal biaya tidak ada masalah. Ini kejutan buat anak-anak lain."
"Termasuk kejutan buat gue?" Vyan menyipitkan mata, mulai tertarik.
"Iya. Justru ini memang disiapkan sebagai kejutan buat lo juga," jawab Fifi mantap.
Vyan tertawa lebar, rasa puas terpancar dari wajahnya. "Lo emang hebat, Fi! I love you!"
Senyum Fifi mengembang lebar. "I love you too!" seru Fifi sambil merentangkan tangan, berniat memeluk Vyan. Namun, Agil dengan gesit bergeser maju tepat ke depan Vyan, membuat Fifi justru menabrak dan memeluk Agil.
"Senangnya ... I love you, Fi ...," goda Agil jenaka saat Fifi mendorongnya dengan wajah sebal.
"Males banget ...!" Fifi mencibir.
"Gue serius. Kalau Vyan, dia mah ke siapa saja bisa bilang I love you kalau lagi senang. Jangan baper," tambah Agil sambil terkekeh mengikuti Fifi yang bergegas ke aula.
Di tengah keriuhan itu, Dean terdiam. Pikirannya melayang pada percakapannya dengan Pak Yanto.
'Sebenarnya, aku punya kejutan lain yang bahkan nggak bisa aku sampaikan ke Kak Vyan,' batin Dean. Dia bersyukur Vyan tidak mengecek ulang daftar pemenang Kartini SMA.
...****************...
Taksi berhenti di depan sebuah bangunan elegan dengan papan nama minimalis yang memancarkan kesan mewah. Yasmin menatap ragu ke arah jendela kaca besar yang menampilkan manekin-manekin dengan gaun pesta yang berkilauan.
"Ray, ini kan bukan tempat sewa kebaya?" bisik Yasmin ragu saat mereka melangkah masuk.
Ray hanya tersenyum bangga. "Percaya sama aku, Yas."
Begitu pintu kaca terbuka, aroma parfum ruangan yang mahal langsung menyambut mereka. Beberapa pegawai butik tampak terkejut melihat Ray datang dengan pakaian pangsi Sunda, namun mereka segera membungkuk hormat.
"Eh, Mas Ray? Ibu ada di ruang kerja," sapa salah satu pegawai.
Ray membawa Yasmin langsung ke area koleksi eksklusif. Matanya menyisir deretan gaun, hingga ia berhenti di sebuah manekin yang mengenakan atasan dari bahan french lace berwarna nude lembut dengan kerah tinggi ala bangsawan, dipadukan dengan kain tenun sutra yang melilit pinggul.
"Mama!" seru Ray.
Bu Desi keluar dari ruangannya, tampak anggun dengan setelan kerja yang modis. Begitu melihat Ray membawa seorang gadis, langkahnya terhenti. Matanya langsung tertuju pada Yasmin, memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan seorang desainer profesional.
"Ray... jadi ini yang namanya Yasmin?" tanya Bu Desi dengan suara yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ray hanya mengangguk dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Yasmin," Ray menyentuh bahu Yasmin dengan lembut, memperkenalkannya. "Kenalkan, ini Mamaku. Mama Desi."
Yasmin tertegun. Matanya membulat menatap Ray lalu berpindah ke wanita di depannya. "Ma... Mama?" gumam Yasmin terbata. Ia segera membungkuk hormat, tangannya gemetar sedikit saat mencoba meraih tangan Bu Desi untuk bersalaman. "Se... selamat siang, Tante. Nama saya Yasmin."
"Ya ampun, Sayang... jangan kaku begitu. Kamu manis sekali," ucap Bu Desi. Setelah bersalaman dia memegang kedua bahu Yasmin. Sentuhannya hangat, tidak sedingin yang Yasmin bayangkan. "Ray sering bercerita tentang kamu, tapi ternyata aslinya jauh lebih cantik. Matamu jernih sekali."
"Ma, Yasmin nggak punya baju buat acara Kartinian di sekolah. Mama punya sesuatu yang pas, kan?"
Bu Desi mendekati Yasmin, membuat gadis itu sedikit gugup. Bu Desi menyentuh dagu Yasmin dengan lembut, memutar wajahnya ke kiri dan ke kanan. "Wajahmu murni sekali, Sayang. Struktur tulang pipimu... sangat klasik Indonesia."
Bu Desi kemudian berjalan ke deretan koleksi terbaru yang belum dipajang. Ia menarik sebuah busana berbahan brokat chantilly putih tulang dengan potongan kerah sabrina yang dimodifikasi. Modelnya menyerupai kebaya kutubaru namun dengan sentuhan modern yang sangat chic.
"Ini sebenarnya koleksi gaun pesta semi-formal, tapi kalau dipadukan dengan kain batik tulis koleksi Mama yang ini..." Bu Desi mengambil selembar kain jarik halus motif parang warna cokelat tua. "...ini akan menjadi kebaya modern paling cantik yang pernah ada di sekolahmu."
"Ma, Ray mau Yasmin jadi yang paling cantik di aula nanti," pinta Ray sungguh-sungguh.
Bu Desi tertawa kecil, ia menoleh pada asistennya. "Susi, bawa Yasmin ke ruang ganti. Dandani dia dengan konsep natural dewy. Jangan terlalu tebal, biarkan kecantikan alaminya bicara. Dan pastikan rambutnya disanggul modern yang sedikit messy."
"Baik, Bu."
Yasmin ditarik oleh para staf ke ruangan dalam. Ray duduk di sofa tunggu dengan perasaan tak sabar. Bu Desi duduk di samping putranya, menepuk bahu Ray.
"Pilihanmu hebat, Ray. Dia punya 'aura' yang jarang Mama temui di sini," gumam Bu Desi.
"Jelas, Ma. Yasmin bukan cuma cantik. Dia baik."
Bu Desi tersenyum lalu memperhatikan penampilan Ray.
"Ray, kamu benar-benar tidak mau ganti baju sekalian?" tanya Bu Desi. "Baju Sunda itu bagus, tapi rambutmu nggak matching... ya ampun, Ray. Itu rambut atau sarang burung? Ikat kepalamu jadi miring terus karena rambut gimbalmu itu."
Ray tertawa sambil membetulkan ikat kepalanya yang memang tidak pernah bisa duduk tegak di atas rambutnya yang gimbal. "Nggak apa-apa, Ma. Ray mau jadi asisten Yasmin aja hari ini. Yang penting Yasmin yang cantik."
Bu Desi menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu Ray tidak akan bisa tampil "rapi" sesuai pakem sekolah sekeras apa pun ia mencoba. Jiwa Ray terlalu bebas untuk diredam.
"Ma... rencananya, habis acara Ray mau bilang perasaan Ray ke Yasmin. Gimana?"
Bu Desi tersenyum. "Bagus, Ray. Mama dukung. Baiknya kamu emang gerak cepat daripada keduluan Vyan."
Ray tersenyum memikirkan Vyan saat ini mungkin sibuk dengan acara hari Kartini. Jadi, dia akan punya banyak waktu bersama Yasmin. Yang pasti, dia tidak akan biarkan Vyan mendekat hari ini.
Hampir empat puluh menit berlalu sampai akhirnya pintu ruang ganti terbuka. Ray berdiri seketika, dan napasnya seolah terhenti.
Yasmin berdiri di sana. Atasan brokat putih itu melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan garis lehernya yang jenjang. Kain batik yang dililit dengan teknik khusus membuat langkahnya terlihat anggun namun tetap leluasa. Rambutnya disanggul ke atas dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang dipulas makeup tipis merona.
Ia bukan lagi Yasmin si gadis polos yang sering dibully di sekolah. Ia tampak seperti seorang putri keraton yang baru saja melangkah keluar dari lukisan.
"Ray... ini nggak terlalu berlebihan?" tanya Yasmin pelan, pipinya merona melihat tatapan Ray yang tak berkedip.
"Kamu..." Ray menelan ludah, suaranya tercekat. "Kamu cantik banget, Yas. Kayak bukan Yasmin yang aku kenal."
Bu Desi tersenyum puas. "Sekarang, kalian harus cepat kembali ke sekolah. Mama mau dengar kabar kalau semua orang di sana jatuh pingsan karena melihat menantu Mama—maksud Mama, teman Ray ini."
Ray tersipu malu mendengarnya, sementara Yasmin hanya tertegun mencoba memahami maksud ucapan Bu Desi.