Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insting Membunuh
Bau alkohol dan asap rokok memenuhi ruangan bawah tanah itu, lampu berkedip pelan di langit-langit, membuat bayangan orang-orang di dalam ruangan tampak seperti monster tanpa wajah.
Musik berdentum keras, tapi tak mampu menutupi suara transaksi ilegal yang terjadi di setiap sudut.
Alessandro duduk diam di sofa kulit hitam, tatapannya begitu dingin. Tangannya memegang gelas whiskey, yang belum disentuh sejak lima belas menit lalu.
Di depannya, Viktor Karev berbicara dengan beberapa pria bertato. Bahasa Rusia bercampur Italia terdengar samar.
Alessandro tidak peduli, pikirannya ada di tempat lain. Tentang Nadira, tentang surat berdarah yang muncul beberapa hari lalu. Tentang nama Valerio yang kembali diburu banyak orang, dan yang paling mengganggu, tentang dirinya sendiri.
"Alu nggak suka tempat kayak gini."
Suara wanita membuat Alessandro mengangkat kepalanya, seorang wanita berdiri di dekat meja biliar.
Rambut hitam panjang, tatapan tajam, jaket kulit gelap melekat di tubuhnya.
Namanya Elena Marquez. Wanita misterius yang muncul tiba-tiba beberapa minggu terakhir. Dan terlalu banyak tahu tentang keluarga Valerio.
"Ternyata kamu tetap datang," ucap Alessandro datar.
Elena tersenyum tipis, "Aku penasaran dengan pewaris monster yang paling legendaris itu."
Alessandro menatapnya datar, kalimat itu seharusnya membuatnya marah. Tapi anehnya tidak, karena semakin hari, dia mulai takut kalau semua orang benar.
Bahwa darah Leonardo Valerio memang mengalir dalam dirinya.
Viktor berjalan mendekat, sambil memasukkan kedua tangan ke saku mantel hitamnya.
"Ada masalah kecil," katanya santai.
"Masalah kecil versi kamu biasanya berarti ada mayat."
Viktor terkekeh pelan, "Anak pintar."
Tatapan pria itu lalu berubah serius, "Salah satu mantan anggota RED ASHES, menjual informasi tentang lokasi ibumu."
Tubuh Alessandro menegang, "Siapa yang berani melakukan itu semua?"
"Namanya Marco Feretti."
Nama itu terdengar familiar, Alessandro pernah melihat pria itu dede foto lama Leonardo. Salah satu tangan kanan ayahnya dulu.
"Di mana dia sekarang?"
Viktor tersenyum samar, "Dia ada di gudang pelabuhan bagian timur."
"Jangan bilang kamu mau datang ke sana," potong Elena cepat.
"Aku cuma mau bicara."
Viktor tertawa kecil saat mendengar itu, tatapan matanya penuh ejekan. "Kamu benar-benar masih percaya, bahwa semua masalah bisa di selesaikan dengan bicara?"
Alessandro berdiri, "Karena ku nggak seperti Leonardo."
Kalimat itu membuat Viktor diam beberapa detik, lalu pria itu mendekat perlahan.
"Belum saatnya," bisiknya pelan.
Gudang pelabuhan timur terlihat tua dan hampir runtuh, suara rantai besi bergesekkan tertiup angin malam.
Alessandro masuk bersama Viktor dan dua pria bersenjata. Elena mengikuti dari belakang dengan wajah penuh kekhawatiran.
Di tengah gudang, Marco Feretti duduk terikat di kursi. Wajahnya babak belur, darah mengering di sudut bibirnya.
Begitu melihat Alessandro, pria tua itu tertawa serak.
"Jadi... ini anak dari Leonardo?"
Alessandro berjalan mendekat, "Aku cuma mau tahu, siapa yang sudah menyuruhmu?"
Marco meludah ke lantai, "Kamu pikir, dunia akan takut sama bocah kaya raya sepertimu?"
Viktor menyandarkan tubuh ke meja kayu sambil menikmati situasi, dan Alessandro berusaha agar tetap terlihat tenang.
"Ada orang yang berusaha ingin memburu ibuku, siapa yang sudah menyuruhmu?"
Marco tersenyum sinis, "Leonardo pantas kehilangan semuanya."
"Aku tanya sekali lagi," ucapnya dingin. "Siapa yang sudah menyuruhmu?"
Marco malah tertawa lebih keras, "Kamu mempunyai mata yang sama seperti ayahmu."
Alessandro mengepalkan tangannya, sedangkan Marco terus berbicara.
"Ayahmu seorang monster, dan dia sudah membunuh banyak keluarga."
"DIAM!"
Suara Alessandro menggema di dalam gudang, semua orang langsung terdiam. Bahkan Elena terlihat terkejut.
Napas Alessandro memburu, darah di tubuhnya terasa mendidih. Marco masih tersenyum, Senyum yang membuat sesuatu dalam diri Alessandro perlahan retak.
"Lihat?" Marco berbisik pelan. "Kamu sama saja seperti dia."
Seketika Alessandro menarik kerah pria itu, dan menghantamnya ke kursi. Suara benturan keras terdengar, dan Elena langsung bergerak maju.
"Alessandro, berhenti!"
Tapi dia tidak mendengarnya, yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri.
Cepat.
Panas.
Brutal.
Marco tertawa sambil batuk darah, "Aku sangat kenal dengan tatapan itu."
Alessandro memukul wajahnya, darah mulai mengalir dari hidung Marco.
Sedangkan Viktor, ia hanya memperhatikan tanpa berniat untuk menghentikannya.
"Cukup! Hentikan semua ini!" Elena mencoba menarik Alessandro.
Namun tanpa sadar, Alessandro malah mendorongnya. Tubuh Elena hampir jatuh, dan itu membuat seluruh ruangan membeku.
Alessandro menoleh pelan, tatapan Elena berubah. Bukan marah, tapi ada rasa takut padanya.
Untuk pertama kalinya, Alessandro melihat ketakutan yang sama seperti yang pernah ada di mata Nadira saat memandang Leonardo.
Dadanya terasa sesak, tangannya berlumuran darah.
Marco terbatuk sambil tertawa lemah, "Seorang monster, selamanya akan tetap menjadi monster."
Kalimat itu menjadi pemicu terakhir, dalam satu gerakan cepat, Alessandro mengambil pistol dari pinggang salah satu anak buah Viktor.
Dan menodongkannya tepat ke kepala Marco. Semua terjadi terlalu cepat.
"Ale, jangan!" teriak Elena.
Namun jari Alessandro sudah berada di pelatuknya.
Dan Marco masih saja tersenyum, seolah sedang menantangnya. Seolah ia ingin membuktikan sesuatu, bahwa darah Valerio memang tidak pernah berubah.
Detik itu terasa sangat lambat, tatapan Alessandro begitu kosong. Lalu...
DOR!
Suara tembakan menggema di dalam gudang, burung-burung beterbangan dari atas tua.
Tubuh Marco terkulai diam, darah menetes ke lantai semen.
Alessandro berdiri membeku sambil memegang pistol, tangannya gemetar kecil. Dia baru saja membunuh seseorang, bukan karena terpaksa, bukan karena sedang membela diri. Tapi karena sebuah amarah.
Perutnya terasa mual, Elena menatapnya tak percaya. Sedangkan Viktor tersenyum pelan. Senyum bangga yang begitu mengerikan.
"Akhirnya," gumamnya lirih.
Alessandro menoleh pelan, "Apa?"
Viktor mendekat sambil menatap mayat Marco, "Insting itu akhirnya bangun kembali."
"Aku bukan dia, jadi jangan sama kan aku dengannya," balas Alessandro dengan tatapan tajam.
Viktor tertawa kecil, "Apa kamu yakin?"
Kalimat itu menghantam kepalanya, Alessandro mundur satu langkah. Pemandangan di depannya terasa kabur. Darah, mayat, dan juga pistol di tangannya.
Namun di balik rasa mual itu, ada sesuatu yang lebih mengerikan lagi.
Perasaan puas yang muncul tepat setelah peluru ditembakkan, dan Alessandro sangat membencinya.
Elena berjalan mendekat, tatapannya masih di penuhi dengan ketakutan.
"Alessandro."
Suara wanita itu pelan, seolah sedang berbicara dengan hewan yang liar.
"Sudah jelas itu bukan diri kamu."
Namun Alessandro tidak langsung menjawab, karena kali ini ia tidak merasa yakin.
Viktor mengambil pistol dari tangan Alessandro dengan santai. "Kota ini akan segera tahu, bahwa pewaris Valerio akhirnya sudah menumpahkan darah."
"Aku nggak mau masuk ke dunia mafia," potong Alessandro cepat.
"Tapi dunia mafia sangat menginginkanmu, Tuan Muda.
"Berhentilah memanggilku dengan panggilan itu," ucap Alessandro dingin.
Namun Marco tidak menjawab, ia hanya tersenyum penuh kepuasan.
Alessandro menatap mayat Marco sekali lagi, lalu tanpa berkata apa-apa, ia berjalan keluar dari gudang.
Langkahnya begitu cepat, seolah ingin melarikan diri dari dirinya sendiri.
Namun suara Viktor kembali menghentikan langkahnya.
"Leonardo dulu juga seperti itu, setelah pembunuhan pertamanya."
Alessandro berhenti, rahangnya menegang. Dan Viktor tersenyum tipis sebelum melanjutkan.
"Setelah itu... dia tidak pernah bisa berhenti untuk menumpahkan darah siapa pun."