NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Surat Keputusan Akhir

****

Suasana di dalam ruang Kepala Sekolah yang kedap suara itu mendadak menjelma menjadi sebuah ruang hampa udara yang teramat sangat menyiksa bagi siapa pun yang berada di dalamnya. Keheningan yang tercipta pasca-ancaman maut yang dilontarkan oleh Saka Aditya terasa begitu pekat, kaku, dan sarat akan ketegangan yang siap meledakkan sisa-sisa harga diri keluarga besar Dirgantara. Alat perekam suara digital berwarna hitam dengan lampu indikator biru yang berkedip halus di atas meja kerja jati milik Pak Malik seolah menjadi sebuah bom waktu yang daya ledaknya mampu menghancurkan seluruh masa depan bisnis saham dan reputasi korporat yang selama ini diagung-agungkan oleh Bapak Dirgantara di dunia luar.

Bapak Dirgantara masih terduduk kaku di atas sofa kulit cokelat tuanya. Kedua telapak tangannya yang mulai keriput mencengkeram erat kepala tongkat perak miliknya hingga buku-buku jarinya memutih sempurna, memancarkan gurat kemarahan tingkat tinggi yang tertahan hebat di balik wibawa wajah paruh bayanya. Di sebelahnya, Devan Dirgantara tampak menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap kosong ke arah karpet merah ruangan dengan napas yang memburu frustrasi. Topeng ketenangan manipulatif nan dingin yang biasanya menjadi senjata andalan sang mantan Ketua OSIS untuk mengurung mentalku kini telah hancur lebur, menyisakan sesosok remaja kalah yang tak berdaya di depan dominasi taktis musuhnya.

Dua perwakilan resmi dari dinas pendidikan kota yang semula datang dengan membawa keangkuhan hukum draf pengaduan, kini saling berpandangan satu sama lain dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kebingungan yang luar biasa. Mereka tahu betul, jika rekaman audio berdurasi tiga puluh menit yang berisi tindakan pemerasan emosional, intimidasi psikologis, hingga percobaan pembunuhan di jalan raya yang dilakukan oleh anak seorang donatur utama sekolah ini sampai bocor ke media massa nasional, maka tidak hanya nama baik SMA Tunas Bangsa yang akan hancur, melainkan jabatan fungsional mereka di dalam struktur kedinasan kota juga akan ikut terseret ke dalam lubang kehancuran.

Pak Malik mendehem sangat berat, memecah kesunyian yang menekan tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar saat beliau meletakkan kacamata bacanya di atas meja. Beliau melirik ke arah Bapak Dirgantara, mencoba mencari isyarat keputusan dari sang penguasa modal sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Saka yang masih berdiri dengan tegak dan konstan di hadapan meja kerja beliau.

"Saka Aditya..." suara Pak Malik terdengar sangat rendah, parau, dan sarat akan beban kompromi yang mendalam. "Bapak meminta kamu untuk tetap tenang dan menjaga emosi kamu di dalam ruangan ini. Kita semua di sini adalah bagian dari institusi pendidikan yang menjunjung tinggi penyelesaian masalah secara kekeluargaan dan musyawarah."

Saka terkekeh sinis, sebuah tawa lirih yang terdengar sangat dingin, tajam, namun penuh dengan pesona berandal *red flag* yang tidak kenal rasa takut mati sedikit pun di bawah sistem kaku sekolah. Dia melipat kedua tangannya di depan dada bidang almamater birunya yang terkancing rapi, menatap Pak Malik dengan kilat mata elangnya yang mematikan.

"Musyawarah yang Bapak maksud itu musyawarah yang kayak gimana, Pak Malik?" tutur Saka dengan nada suara bariton yang serak, lambat, namun memiliki penekanan tak terbantahkan yang mengunci seluruh atensi orang di ruangan itu. "Apakah musyawarah di mana perwakilan hukum Yayasan Dirgantara Pendidikan bisa dengan bebas melangkah masuk ke ruang tata usaha tadi pagi untuk mengancam masa depan kuliah Mikaela? Atau musyawarah di mana orang-orang dinas kesiswaan di sebelah saya ini bisa dengan mudahnya mengeluarkan draf rekomendasi pemecatan permanen buat gue hanya karena gue merobek kertas kontrak pemerasan emosional tersebut, hah?!"

Mendengar konfrontasi verbal yang begitu berani dan menusuk langsung ke inti kemunafikan sistem sekolah, salah satu perwakilan dinas pendidikan kota langsung menurunkan draf berkas laporan pengaduannya ke atas meja kaca sofa dengan gerakan tangan yang sangat pelan. Wajah keangkuhannya kini telah menguap total, digantikan oleh senyuman canggung yang dipaksakan.

"Nak Saka Aditya... tolong jangan salah paham terlebih dahulu," ucap petugas dinas tersebut dengan intonasi suara yang mendadak melunak, mencoba meredakan ketegangan psikologis yang kian membakar ruangan. "Kedatangan kami dari pihak dinas kesiswaan kota ke sini sebenarnya bukan untuk langsung menjatuhkan sanksi sepihak kepada kamu. Kami datang hanya untuk meninjau ulang laporan insiden perusakan dokumen yang dilaporkan oleh pihak yayasan. Namun, setelah mendengar penjelasan mendalam dan adanya draf bukti rekaman audio cadangan yang kamu miliki... kami dari pihak dinas menilai bahwa masalah internal asmara dan organisasi ini sebaiknya diselesaikan sepenuhnya di tingkat kebijakan sekolah tanpa perlu melibatkan jalur hukum luar dinas."

Saka tidak membalas kalimat manis dari petugas dinas tersebut dengan kata-kata. Dia hanya menaikkan sudut bibir kanannya, membentuk sebuah seringai sinis ugal-ugalan yang seolah mempertegas bahwa gertakan mental korporat mereka sama sekali tidak bernilai di depan amunisi perang psikologis yang dia bawa dari pangkalan IPS belakang pasar lama.

Bapak Dirgantara akhirnya perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari tongkat perak miliknya. Dia menegakkan posisi duduknya, menatap lurus-lurus ke arah sosok tegap Saka dengan pandangan mata seorang pengusaha berpengalaman yang tahu kapan harus mundur demi menyelamatkan aset terbesar yang dia miliki—nama baik dan legalitas hukum perusahaannya di media publik.

"Cukup," ucap Bapak Dirgantara dengan nada suara yang sangat berat, datar, dan sarat akan kepasrahan yang mendalam akibat kekalahan telak sore ini. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Pak Malik dengan gurat wajah yang mengeras. "Pak Malik... selaku donatur utama dan perwakilan resmi dari pihak keluarga besar Dirgantara, saya menyatakan menarik kembali seluruh laporan pengaduan terkait insiden perusakan dokumen di ruang tata usaha tadi pagi secara resmi dari meja sekolah."

"Ayah?! Tapi dia udah merusak dokumen kita dan mempermalukan Devan!" Devan refleks mendongakkan kepalanya dengan mata membelalak lebar, memotong kalimat ayahnya dengan suara yang melengking frustrasi menahan rasa tidak terima yang luar biasa hebat meletup-letup di dalam dadanya.

"Diam kamu, Devan!" bentak Bapak Dirgantara keras, memukul pegangan sofa kulit hingga menimbulkan suara dentuman yang nyaring, seketika membungkam protes frustrasi dari anak kesayangannya tersebut hingga Devan kembali tertunduk kaku dengan rahang mengatup rapat menahan malu. Ayah Devan kemudian kembali menatap Saka dengan pandangan yang sedingin es. "Dan untuk masalah bantuan dana beasiswa penuh milik siswi atas nama Mikaela... pihak Yayasan Dirgantara Pendidikan menjamin tidak akan ada pencabutan, pemotongan, ataupun draf klausul tambahan apa pun terkait hubungan personalnya di sekolah ini. Surat keputusan akhir beasiswanya akan dikirimkan ke rumahnya besok pagi dalam bentuk draf bersih tanpa syarat."

Bapak Dirgantara bangkit berdiri dari atas sofa kulit cokelat tuanya, membetulkan letak jas abu-abu mahalnya dengan gerakan tangan yang kaku. Dia melirik ke arah dua petugas dinas pendidikan kota dan memberikan isyarat pendek untuk segera meninggalkan ruangan. "Urusan kita di sekolah ini sudah selesai seutuhnya, Pak Malik. Selamat siang."

Tanpa sudi melirik Saka sedikit pun, Bapak Dirgantara melangkah lebar membelah ruangan menuju pintu keluar, diikuti oleh dua perwakilan dinas yang tampak mengembuskan napas panjang lega karena terbebas dari ancaman publikasi media. Devan bangkit berdiri dari kursinya dengan langkah kaki yang terasa sangat lemas dan merosot. Sebelum dia melangkah melewati ambang pintu kaca, mata elangnya yang redup sempat melemparkan tatapan penuh kebencian mendalam dan luka dikalahkan yang teramat pekat ke arah Saka, sebuah tatapan musuh yang kini telah resmi kehilangan seluruh taring kekuasaannya di sekolah ini.

Setelah kepergian kubu keluarga Dirgantara, atmosfer di dalam ruang Kepala Sekolah mendadak terasa jauh lebih lengang dan bersih dari racun manipulasi psikologis. Pak Malik menarik napas dalam-dalam, bersandar pada kursi kerjanya sambil menatap Saka dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kagum yang samar terhadap kecerdasan taktis berandal di hadapannya ini.

"Saka Aditya... sanksi skorsing dua minggu untuk Devan tetap berjalan mutlak, dan draf pemecatan kamu resmi Bapak robek dan musnahkan dari arsip sekolah hari ini," ucap Pak Malik dengan nada suara yang melunak seutuhnya. "Sekarang, kamu ambil kembali alat perekam suara kamu di atas meja ini, dan silakan kembali ke kelas kamu. Bapak harap tidak ada lagi pergerakan ugal-ugalan dari anak-anak pangkalan IPS yang bisa mengganggu ketertiban umum sekolah setelah hari ini."

Saka mengangguk sopan, memberikan penghormatan singkat dengan gerakan tangan yang sangat rapi dan tertata mematuhi aturan sekolah—sebuah formalitas luar biasa dari seorang berandal patuh aturan yang baru saja sukses meruntuhkan dinasti kekuasaan donatur utama sekolah. Dia mengulurkan tangan kokohnya, mengambil kembali alat perekam suara digital hitam dari atas meja kerja Pak Malik, lalu memasukkannya dengan aman ke dalam saku almamater birunya.

"Terima kasih banyak atas kebijaksanaannya, Pak Malik. Selamat siang," ucap Saka dengan suara baritonnya yang mantap dan konstan.

Saka berbalik tubuh, lalu melangkah lebar meninggalkan ruang Kepala Sekolah dengan gerakan kaki yang sangat kokoh dan dipenuhi oleh aura kemenangan mutlak yang tak terbantahkan. Pintu kaca buram itu berayun menutup di belakang punggung tegapnya, menandakan bahwa tirai peperangan babak kedua di dalam sekolah telah resmi diturunkan dengan kehancuran total di pihak sang mantan Ketua OSIS posesif, dan aku... kebebasanku beserta masa depan kuliahku kini telah resmi dikunci dengan aman di bawah lingkaran perlindungan keagresifan tulus milik si berandal patuh aturan seutuhnya di luar sana.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> **Oh my god, kepuasan hakiki tingkat dewa bener-bener pecah berhamburan di Bab 31 ini, guys!** Sumpah, merinding dan puas banget pas ngetik bagian di mana Bapak Dirgantara sendiri dipaksa bertekuk lutut dan menarik seluruh laporan pengaduannya di depan taktik konfrontasi tingkat tinggi milik Saka Aditya! Karakter *bad boy* versi rapi-posesif dari seorang Saka di bab ini bener-bener membuktikan kalau pesona perlindungan agresifnya memiliki level kecerdasan kalkulatif yang gak bisa disentuh oleh kekuatan modal raksasa mana pun di dunia nyata.

> Keberhasilan Saka membungkam Devan dan mengamankan draf bersih beasiswa kuliah Mikaela tanpa syarat bener-bener jadi bukti kalau cinta berkarakter *red flag* penuh proteksi tulus miliknya adalah perisai paling kokoh yang membuat hubungan mereka makin erat dan tak terbantahkan lagi. Selamat buat bersatunya kembali kebebasan Mika seutuhnya dari jeratan kurungan emas!

> Kira-kira setelah kekalahan telak dan memalukan di depan Kepala Sekolah hari ini, apa yang bakal dilakukan oleh Devan selama sisa masa skorsing dua minggunya di rumah untuk menyusun serangan balik yang lebih licik di luar sekolah? Yuk, ikuti terus perkembangan kelanjutan kisah asmara ugal-ugalan penuh adrenalin ini setiap harinya dengan cara klik tombol **Like** di bawah, berikan **Vote** yang banyak untuk kelancaran kontrak cerita kita, dan ramaikan kolom **Komentar** dengan sorak kemenangan kalian buat Saka! Dukung terus perkembangan novel **RED FLAG** ya! Sampai berjumpa di bab berikutnya besok pagi, *keep reading, stay sharp, and stay alert, guys!*

>

1
Indah Sari Nurwahyuningtyas
tapi bagus ga si kalo si saka sama devan kerja sama buat dapetin Mikaela kan jadi seru
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!