NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Deru Mesin Penopang Nyawa

Ssshhh-up... pfff... Ssshhh-up... pfff...

Suara mekanis mesin ventilator bergaung ritmis, mengisi setiap sudut sunyi ruang High Intensive Care Unit (HICU) Rumah Sakit Medika Utama.

Suara itu begitu konstan, begitu dingin—satu-satunya sekat yang menahan Alika Pradipta agar tidak tergelincir ke dalam keabadian.

Di atas ranjang khusus ICU, Alika terbaring kaku.

Sebuah selang endotrakeal (endotracheal tube) berukuran tujuh milimeter kini menghujam masuk menembus belahan bibirnya yang pucat, terhubung langsung dengan mesin penopang nyawa di samping tempat tidur.

Wajahnya yang pagi tadi dipoles riasan tebal kini sepenuhnya terekspos ruam merah keunguan berbentuk sayap kupu-kupu tampak semakin pekat di atas kulitnya yang sewarna kapur, seolah menjadi stempel pengkhianatan sistem imun yang sedang membakar raganya.

Kedua matanya terpejam rapat di bawah pengaruh obat penenang (sedatif) dosis tinggi yang disuntikkan tim medis.

Jarum infus bertumpuk di vena kedua lengannya, mengalirkan gumpalan steroid, antibiotik, dan cairan pelindung lambung secara konstan. Alika tidak lagi punya kendali atas tubuhnya sendiri.

Hidupnya kini sepenuhnya didikte oleh angka-angka digital yang berkedip pada monitor pemantau vital.

Di luar bilik kaca steril itu, Narendra Pradipta berdiri mematung.

Pria yang biasanya memancarkan aura dominasi mutlak itu kini tampak begitu ringkih, seperti patung lilin yang nyaris meleleh di bawah siraman lampu koridor yang temaram.

Kedua tangannya menempel pada permukaan kaca yang dingin, matanya tidak sedetik pun beralih dari sosok Alika yang dikelilingi kabel dan selang.

Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana dada Alika naik-turun secara tidak alami, dipaksa oleh tekanan udara yang ditiupkan mesin ventilator.

"Maafkan aku, Alika..." Kalimat itu meluncur dari bibir Narendra dalam bentuk bisikan lirih yang langsung lenyap ditelan keheningan koridor.

Pikiran Narendra melayang kembali pada bulan-bulan awal pernikahan mereka.

Alika adalah wanita penuh energi, seorang Head of Public Relations yang mampu mengendalikan krisis korporat terbesar hanya dengan senyuman taktis dan untaian kalimat diplomatisnya.

Narendra selalu mengagumi kekuatan itu, namun egonya yang sakit memilih untuk menundukkannya, mengurungnya dalam sangkar emas, dan menganggap penyakitnya hanyalah dalih untuk mencari perhatian.

Kini, wanita yang sama sedang bertaruh nyawa karena kebodohannya.

Rasa bersalah itu datang bergelombang, menghantam ulu hati Narendra dengan rasa perih yang jauh lebih menyiksa daripada luka fisik mana pun.

Ia teringat bagaimana Alika menyembunyikan gumpalan rambutnya di saku jubah mandi, bagaimana Alika merangkak menahan nyeri sendi yang menusuk, dan bagaimana ia—dengan kejamnya—memaksa wanita itu menelan pil besi yang justru merobek dinding lambungnya.

Narendra memejamkan mata, membiarkan keningnya bersandar pada kaca steril.

Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi permukaan kaca, meninggalkan jejak-jejak basah yang buram laksana masa depan rumah tangga mereka yang kini berada di ujung tanduk.

Langkah kaki tegas memecah kesunyian koridor HICU.

Dr. Raditya berjalan mendekat, masih mengenakan pakaian scrub hijau khas ruang operasi, lengkap dengan penutup kepala.

Wajah dokter spesialis itu tampak kuyu, dengan lingkaran hitam yang menegaskan bahwa ia telah menguras seluruh energinya demi mempertahankan detak jantung Alika.

Raditya berhenti tepat di samping Narendra. Ia tidak menatap sang CEO pandangannya lurus tertuju pada monitor vital Alika di dalam bilik.

"Proses intubasi berjalan lancar, namun itu baru permulaan dari pertempuran yang sesungguhnya," suara Raditya terdengar datar, namun sarat kelelahan yang mendalam.

"Terapi pulse-dose Metilprednisolon sudah masuk. Kami sedang berusaha menjinakkan badai sitokin di dalam tubuhnya."

Narendra langsung memutar tubuhnya, menatap Raditya dengan tatapan mengemis yang belum pernah ia tunjukkan pada manusia mana pun di dunia ini. "Bagaimana dengan paru-parunya? Dan pendarahan di lambungnya? Apakah sudah berhenti?"

Raditya menarik napas panjang, lalu mengeluarkan selembar kertas grafik laboratorium terbaru dari saku pakaiannya.

Ia membacanya dengan dahi yang berkerut dalam.

- Saturasi Oksigen: Berhasil dinaikkan ke angka 94% dengan bantuan ventilator mekanis penuh (full-support).

- Fungsi Ginjal (Kreatinin): Mulai menunjukkan tren peningkatan, mengindikasikan adanya hantaman awal dari Lupus Nephritis akibat peradangan yang tidak diredam.

- Hemoglobin (Hb): Drop ke angka 8,2 g/dL akibat pendarahan lambung akut yang terjadi siang tadi.

"Kami sudah memasang nasogastric tube (NGT) untuk mengosongkan cairan lambung dan memantau pendarahannya," jelas Raditya, suaranya kini beralih menjadi dingin dan profesional.

"Cairan yang keluar dari lambungnya masih berwarna kecokelatan, artinya perdarahan belum sepenuhnya berhenti, tapi intensitasnya mulai berkurang berkat IV Omeprazole dosis tinggi. Masalah terbesar kita sekarang adalah ginjalnya."

Narendra menahan napas. "Ginjalnya? Apa maksudmu?"

Raditya akhirnya menoleh, menatap lurus ke dalam manik mata Narendra dengan sorot mata yang menghujat. "Antibodi Alika mulai menyerang glomerulus di ginjalnya. Jika dalam dua puluh empat jam ke depan produksi urinenya terus menurun dan kadar kreatininnya melewati batas aman, kita tidak punya pilihan selain melakukan hemodialisis atau cuci darah darurat."

Mendengar kata "cuci darah", seluruh persendian Narendra seolah lolos dari tempatnya.

Ia terhuyung satu langkah ke belakang, bersandar pada pilar koridor agar tidak jatuh terjungkal. "Cuci darah... Alika masih terlalu muda untuk itu, Raditya..."

"Penyakit autoimun tidak pernah peduli dengan usia, Narendra! Dia juga terlalu muda untuk dikurung dan diracuni dengan instruksi medis yang keliru oleh suaminya sendiri!" bentak Raditya, volume suaranya meninggi sebelum ia mengingat bahwa mereka berada di area HICU.

Ia menurunkan intonasi suaranya, namun tekanannya semakin mematikan. "Dua puluh empat jam ke depan adalah fase kritis. Tubuh Alika sedang berada di perbatasan antara bertahan hidup atau menyerah total. Jika organ vitalnya mengalami kegagalan multisistem (MODS), mukjizat sekalipun akan kesulitan untuk menariknya kembali."

Raditya berbalik, bersiap untuk kembali ke ruang jaga dokter untuk terus memantau grafik vital Alika secara real-time.

Namun, sebelum ia melangkah jauh, suara Narendra yang bergetar menghentikannya.

"Apakah... apakah aku boleh masuk ke dalam? Sebentar saja. Aku hanya ingin memegang tangannya," pinta Narendra dengan nada yang sepenuhnya hancur.

Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan dari pria yang memimpin Artha Group di sana.

Raditya berhenti, namun ia tidak menoleh. "Secara regulasi, ruang HICU memiliki jam kunjung yang ketat. Tapi melihat kondisinya... masuklah setelah perawat selesai mengganti kantung infusnya. Pakai pakaian steril."

Raditya terdiam sejenak sebelum menambahkan kalimat terakhirnya yang laksana godam menghantam kesadaran Narendra. "Masuklah dan lihat apa yang telah kau lakukan pada wanita yang kau klaim sebagai milikmu. Lihat bagaimana keangkuhanmu bertransformasi menjadi mesin penopang nyawa di samping ranjangnya."

Langkah kaki Raditya menjauh, meninggalkan Narendra sendirian di depan bilik kaca. Pria tiran itu menatap kembali ke arah Alika.

Di dalam sana, di bawah deru mesin ventilator yang dingin, Alika terus berjuang sendirian di ambang batas kematian, sementara Narendra dipaksa menghadapi kenyataan bahwa musuh terbesar yang menghancurkan hidup istrinya bukanlah dr. Raditya, bukan pula penyakit Lupus itu sendiri, melainkan dirinya sendiri.

1
SecretS
Penyesalan memang selalu di akhir kalau di awal itu pencegahan 👍
SecretS
Lanjut kak, Alika bakal selama apa enggak itu.. 😯😯
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!