NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Suara bantingan pintu yang keras masih bergema di seluruh penjuru rumah, menyisakan keheningan yang menyakitkan di teras. Bu Siti hanya bisa menghela napas panjang, mengusap dadanya yang terasa sesak oleh rasa sedih dan kecewa yang mendalam. Airin berdiri diam di samping ibunya, menatap pintu kamar kakaknya yang tertutup rapat dengan pandangan khawatir. Sementara itu, Rina yang sejak tadi menahan amarah dan rasa malu, mendengus kasar sebelum akhirnya melangkah cepat menyusul Dimas ke dalam rumah, meninggalkan ibu dan adik itu dalam kesunyian malam yang kelam.

Begitu masuk ke dalam kamar, Rina langsung mengunci pintu dari dalam dengan kasar, seolah ingin memisahkan diri mereka dari seluruh dunia yang menurutnya tidak adil dan memihak Ani. Ia berbalik menghadap Dimas yang sedang terjerembap di tepi ranjang, kepalanya tertunduk dalam di antara kedua telapak tangan, bahunya naik turun menahan emosi yang meluap-luap.

Wajah Rina yang tadi berpura-pura sedih dan tak berdaya di depan Bu Siti dan Airin, kini berubah drastis. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi raut ketakutan. Yang terlihat hanyalah wajah penuh kebencian, mata yang berkilat jahat, dan senyum miring yang mengerikan. Ia berjalan perlahan mendekati Dimas, lalu berjongkok tepat di hadapan kekasihnya itu.

"Mas... Sudah kan? Jangan dipikirkan omongan mereka. Ibu sama Airin itu sudah dibutakan oleh Ani. Mereka tidak pernah sayang sama Mas, mereka selalu saja membanding-bandingkan Mas sama wanita itu," bisik Rina lembut namun penuh racun, tangannya mengusap pelan lengan Dimas yang tegang kaku.

Dimas mengangkat kepalanya perlahan. Matanya merah menyala, bengkak, dan penuh amarah yang belum mereda. Tatapannya kosong namun mengerikan.

"Mereka semua salah, Rina... Semua orang salah... Kenapa sih mereka tidak pernah mengerti aku? Kenapa mereka selalu menyalahkan aku? Ani... lagi-lagi Ani... Seolah-olah dia wanita paling suci, paling benar, paling sempurna di dunia ini..." gumam Dimas dengan suara parau, penuh rasa sakit hati yang mendalam. "Padahal dia yang salah! Dia yang cari masalah! Dia yang datang merusak hidupku! Kalau saja dia tidak ada... Kalau saja dia mati atau hilang dari dunia ini... pasti hidupku bahagia, pasti semua orang sayang sama aku, pasti aku sukses dan kaya raya!"

Rina tersenyum puas mendengar kata-kata itu. Itulah yang ia inginkan. Ia ingin Dimas semakin membenci Ani, semakin menganggap Ani sumber segala bencana, hingga laki-laki itu rela melakukan apa saja untuk menyingkirkan wanita itu dari kehidupan mereka selamanya.

"Itu dia, Mas... Mas benar sekali. Ani itu memang sial. Ke mana pun dia pergi, ke mana pun dia berada, dia selalu saja bawa masalah buat Mas. Dulu waktu jadi istri Mas, Mas susah terus. Sekarang dia pergi, Mas sudah enak hidup, eh dia datang lagi, terus Mas jadi begini. Memang benar kata orang, dia pembawa sial buat Mas," ucap Rina memutarbalikkan fakta dengan begitu lihainya.

Ia berhenti sejenak, menatap mata Dimas lekat-lekat, lalu melanjutkan dengan nada bisikan yang lebih rendah dan berbahaya.

"Mas... Kita tidak boleh diam saja begini. Kita dipecat, nama kita rusak, kita dipermalukan di depan semua orang, dan sekarang Ibu sama adik Mas pun memusuhi kita... Semua gara-gara dia. Kalau kita diam saja, dia makin jadi. Dia makin merasa menang, dia makin merasa hebat. Nanti lama-lama dia bisa bikin Mas ditangkap polisi, atau dituntut ganti rugi seperti ancaman Pak Damar tadi. Mas mau sampai begitu?"

Wajah Dimas seketika berubah ketakutan mendengar kata "ditangkap" dan "dituntut". Masalahnya belum selesai. Damar sudah bilang akan menuntut ganti rugi atas kerugian perusahaan. Itu berarti mereka tidak hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga bisa kehilangan harta benda yang mereka punya, bahkan kebebasan mereka. Rasa takut itu bercampur dengan amarah, membuatnya semakin kalap.

"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak akan biarkan dia melangkah lebih jauh lagi!" bentak Dimas, tangannya mencengkeram bahu Rina erat hingga wanita itu meringis sedikit, tapi ia tetap tersenyum licik.

"Kalau begitu, Mas harus bertindak. Kita harus buat dia sadar, bahwa bermain sama Mas Dimas itu bahayanya maut. Kita harus buat dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tidak bisa bersembunyi di balik nama Damar, tidak bisa bersinar-sinar lagi," ucap Rina penuh penekanan. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Dimas, berbisik rencana jahat yang sudah ia susun sejak sore tadi saat mereka diusir dari kantor.

"Mas tahu kan... Ani itu sekarang hidup enak, tinggal di apartemen mewah, pakai barang bagus, dikagumi orang-orang, dan dianggap wanita baik . Itu yang bikin dia sombong. Itu yang bikin dia berani lawan Mas. Kalau semua itu hilang... kalau dia kembali miskin, kembali hancur, kembali jadi wanita yang dikasihani dan tidak punya apa-apa... dia pasti akan runtuh, Mas. Dia pasti akan menangis, dia pasti akan menyerah, dan dia akan pergi jauh dari kota ini selamanya."

Dimas menyimak dengan saksama, matanya berkilat penuh minat. "Tapi bagaimana caranya? Damar melindunginya, dia punya banyak teman sekarang, dia berhati-hati sekali setelah kejadian tadi..."

Rina tertawa kecil, tawanya dingin dan menyeramkan. "Mas lupa ya? Dunia ini luas, tapi juga sempit. Mas lupa, dulu sebelum dia jadi istri Mas... atau waktu dia masih di kampung... ada berapa banyak aib dan masalah dia? Atau... kalau tidak ada, kita bisa buat saja aib baru. Orang seperti dia, yang tiba-tiba hidup mewah dan dekat sama bos besar... orang mudah sekali percaya hal-hal kotor, Mas. Cukup sedikit isu, sedikit foto, sedikit cerita yang dibumbui... nama baiknya hancur seketika."

Rina mengeluarkan ponselnya, membuka beberapa foto diam-diam yang ia ambil hari-hari belakangan. Foto Ani sedang berbicara dengan Damar, foto Ani masuk ke dalam mobil Damar, foto Ani tersenyum... semua diambil dari sudut pandang yang salah, seolah mereka sedang berbuat sesuatu yang tidak pantas.

"Lihat ini, Mas. Kalau foto-foto ini kita sebarkan, kita kasih judul 'Wanita penggoda bos', 'Mantan istri yang tidak tahu malu', 'Wanita yang cari hidup enak dengan jalan pintas'... Apa kata orang? Siapa yang akan percaya dia wanita suci lagi? Pak Damar pun, walaupun dia bela Ani di depan, kalau nama baik perusahaan dan nama baik dia sendiri ikut tercoreng... dia pasti akan menjauhkan Ani demi kebaikan dirinya sendiri. Begitu Ani ditinggal Damar, dia tidak ada apa-apanya, Mas. Dia pasti jatuh, pasti hancur, dan kita menang telak."

Dimas menatap foto-foto itu dengan saksama. Rencana itu licik, kotor, dan kejam... tapi baginya, itu satu-satunya jalan balas dendam yang tersisa. Egonya yang hancur menuntut kepuasan semacam ini. Ia tidak peduli lagi benar atau salah, halal atau haram. Yang ia tahu, ia sakit hati, dan ia ingin orang yang ia anggap penyebabnya ikut merasakan sakit yang sama atau bahkan lebih parah.

"Bagus... Bagus sekali, Rina," gumam Dimas pelan, senyum jahat perlahan terukir di bibirnya. "Kamu memang paling mengerti aku. Lakukan. Lakukan apa saja yang perlu dilakukan. Sebarkan berita ke mana saja, ke teman-teman kantor yang masih ada, ke tetangga, ke siapa saja. Biar seluruh kota tahu siapa sebenarnya Ani di mata kita. Biar dia tahu, harga diri dan nama baik itu mahal harganya, dan sekali rusak... tidak akan bisa diperbaiki lagi."

Rina tersenyum puas, seolah baru saja memenangkan piala kemenangan. "Siap, Mas. Dan bukan cuma itu. Kita juga bisa kirim pesan-pesan ancaman, surat kaleng, telepon-telepon mengganggu... biar dia tidak tenang tidurnya, biar dia selalu ketakutan. Kalau dia sudah gila karena takut, dia akan pergi sendiri dari sana, tanpa kita usir."

"Tapi hati-hati... Jangan sampai ada jejak yang mengarah ke kita," tambah Dimas dengan mata menyipit, penuh perhitungan.

"Tenang saja, Mas. Aku sudah atur semuanya. Aku pakai nomor baru, aku minta orang lain yang sebarkan, aku pakai nama samaran. Tidak ada yang akan tahu itu kita. Semuanya akan terlihat seperti kemarahan orang-orang yang tidak suka sama kelakuan dia. Kita cuma penonton, Mas. Kita cuma orang yang paling disayangkan dalam kisah ini," jawab Rina dengan percaya diri.

Malam itu, di dalam kamar yang gelap itu, dua hati yang penuh dosa kembali bersekongkol. Kehancuran yang baru saja mereka alami tidak membuat mereka sadar dan bertobat, malah membuat mereka semakin keras hati dan berniat buruk. Mereka mengira kejahatan bisa diselesaikan dengan kejahatan lain, mereka mengira kebencian bisa membuahkan kemenangan.

Di luar kamar, Bu Siti dan Airin masih duduk diam di ruang tengah, mendengar bisikan-bisikan samar dan tawa kecil yang mengerikan dari balik pintu kamar itu. Ibu dan anak itu saling pandang, sama-sama merasakan hawa buruk yang menyelimuti rumah itu. Mereka tahu persis, rencana jahat apa yang sedang disusun di dalam sana.

"Bu..." bisik Airin pelan, matanya berkaca-kaca takut. "Mas Dimas sama Rina... mereka tidak akan berhenti sampai di sini kan? Mereka pasti akan berbuat sesuatu ke Mbak Ani. Kita harus bilang ke Mbak Ani, Bu. Kita harus peringatkan dia."

Bu Siti mengangguk pelan, air mata kembali menetes di pipinya. "Iya, Nak. Ibu tahu. Malam ini juga Ibu akan hubungi Ani. Ibu tidak boleh diam saja. Bagaimanapun juga, Dimas anak Ibu, tapi Ani tidak pernah berbuat salah sama kita. Ibu tidak akan biarkan anak Ibu menghancurkan hidup orang lain lagi. Kalau Dimas mau hancur karena kejahatannya sendiri... biarlah. Tapi Ibu harus selamatkan Ani. Dia wanita baik, dia pantas bahagia, dan dia pantas dilindungi."

Namun, Bu Siti juga sadar, tugasnya tidak akan mudah. Dimas dan Rina sudah terlalu jauh terperosok dalam kebencian dan kecemburuan. Benih-benih kejahatan itu sudah tertanam kuat di hati mereka, dan siap disebarkan ke mana saja. Perang antara kebenaran dan kejahatan belum selesai. Justru, babak yang paling gelap dan berbahaya baru saja dimulai. Dan Ani, wanita yang sedang tidur tenang di apartemennya dengan hati yang damai, belum tahu bahwa badai kebencian yang jauh lebih dahsyat sedang bersiap menghantamnya, datang dari orang yang pernah menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.

bersambung ,,,,

1
partini
kasih tau dong biar ani waspada baru mantan mertua punya hati, OMG dasar iblis Kalian berdua Ani apes kamu
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
syahriel Adhitama
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!