Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas yang Dibuka Kembali (END SEASON 1)
Pintu SUV hitam itu terbuka di garasi mansion Upper East Side. New York menyambut dengan udara dingin bulan Oktober yang menusuk tulang.
Lucifer keluar lebih dulu. Ia tidak menoleh, tidak memberi perintah. Ia hanya berdiri, menunggu. Semua anak buah di garasi menunduk dalam, tidak ada yang berani bernapas terlalu kencang. Terakhir kali, mansion ini adalah medan perang. Dan semua orang tahu, perang itu disebabkan oleh gadis yang sekarang akan turun dari mobil.
Dengan gerakan ragu, Florence melangkah keluar. Pucat. Kusut. Daster lusuh dan sandal jepit. Salib kayu kecil ia genggam erat di tangan, seolah itu satu-satunya jangkar di dunia asing ini.
Tidak ada yang menyangka. Ini gadis yang membuat Raja Neraka menyisir dunia? Namun, ketika Florence mendongak sedikit karena silau lampu, semua paham. Mata coklat itu — kosong, takut, tetapi di dalamnya ada api kecil yang menolak padam. Mata yang pernah menatap Lucifer Azrael tanpa tunduk.
Reginald, kepala pelayan, langsung memberi isyarat kepada yang lain. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bertanya. Mereka hanya membuka jalan, menunduk, memberi hormat. Bukan pada Lucifer. Pada gadis di belakangnya.
Perjalanan dari garasi ke lantai tiga berlangsung dalam keheningan yang memekakkan telinga. Florence berjalan di samping Lucifer. Pria itu tidak menarik lengannya, tidak mendorongnya. Ia hanya berjalan, menjaga jarak setengah langkah. Seolah takut jika ia menyentuh, Florence akan hancur seperti debu. Atau mungkin takut jika ia menyentuh, dirinya yang hancur.
Di dalam lift, keheningan itu menjadi siksaan. Florence menatap angka lantai yang terus naik. Jantungnya berdegup kencang. Hukuman apa yang menungguku? Kamar tanpa jendela? Rantai?
Pintu lift terbuka. Lorong sayap timur. Karpet tebal meredam langkah mereka. Sampai di depan sebuah pintu kayu jati berukir, Lucifer berhenti. Ia membukanya.
Bukan basement. Bukan kamar tahanan.
Kamar itu luas. Jendela setinggi dinding menghadap Central Park yang menguning. Ranjang besar dengan seprai sutra putih. Lampu temaram yang hangat. Ada meja rias, lemari besar, dan pintu menuju kamar mandi dalam. Di atas meja, ada vas kosong. Tidak ada mawar.
Florence berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk. Ini seratus kali lebih mewah dari kamar penjaranya di pulau. Namun, justru karena itu, kakinya terasa terpaku.
Sangkar yang lebih indah tetaplah sangkar.
Lucifer bersandar di kusen pintu, menatapnya. Berbulan bulan ia membayangkan wajah ini. Sekarang wajah itu ada di depannya, nyata, tetapi terlihat lebih jauh daripada saat ia mengintai dari dermaga Bira Tengah.
“Mandi,” kata Lucifer akhirnya. Suaranya datar, rendah. Ia menunjuk ke arah kamar mandi. “Air hangat sudah disiapkan.”
Florence tersentak. Dari semua kalimat yang ia siapkan di kepala — ‘berani sekali kamu kabur’, ‘kamu akan bayar ini’ — ia tidak menyangka akan mendengar itu.
“Makan,” lanjut Lucifer. “Ada sup di meja. Makan. Lalu tidur.”
Tiga perintah. Sederhana. Tidak ada ancaman. Tidak ada cengkeraman di dagu. Tidak ada kunci yang diputar dua kali dari luar.
Florence mendongak, bingung. Bibirnya bergetar, membuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Matanya bertanya: _itu saja? Tidak ada hukuman? Setelah aku kabur, setelah aku bikin kamu cari sampai setengah mati?_
Lucifer menangkap tatapan itu. Rahangnya mengeras. Ia ingin menjawab, ingin menjelaskan, tetapi kata-kata lain tidak pernah ia pelajari. Kejujuran adalah bahasa asing bagi Raja Neraka.
Ia hanya menjawab dengan kalimat yang sudah pernah ia ucapkan di pulau. Namun, nadanya berbeda. Dulu dingin karena perhitungan untung rugi. Sekarang dingin karena ia tidak tahu cara mengatakannya dengan hangat.
“Kalau kamu mati di sini,” bisiknya, “aku yang rugi.”
Ia berbalik sebelum Florence bisa mencerna kalimat itu. Ia menutup pintu kamar. Pelan. Tidak dikunci. Tidak ada suara klik yang memenjarakan.
Di luar, ia berhenti sebentar. Mendengar. Tidak ada suara tangis. Tidak ada suara benda dibanting. Hanya keheningan.
Ia memberi isyarat kepada Marco, kepala keamanannya. “Satu orang jaga di ujung lorong. Jangan di depan pintu. Jangan menatap ke arah kamar. Kalau dia butuh sesuatu, penuhi. Kalau dia... kalau dia coba apa-apa ke dirinya sendiri, dobrak pintu itu.”
Marco mengangguk, paham. Jaga, bukan kurung.
Lucifer berjalan ke ruang kerjanya. Di sana, ia membuka laci meja. Mengeluarkan salib kayu kecil milik Florence yang ia ambil dari rumah Kakek Samin. Diletakkannya di atas meja, tepat di sebelah foto ibunya.
Dua wanita. Dua benda suci. Satu sudah mati karena dirinya tidak cukup kuat. Satu lagi hampir mati karena dirinya terlalu kuat.
Ia menatap Central Park dari balik kaca. Kerajaannya gemerlap di bawah. Dua bulan lalu, semua ini terasa hampa tanpa Florence. Sekarang Florence ada di dalam bangunan ini. Di dalam sangkar emas yang ia buat sendiri.
Namun, neraka di dadanya tidak kunjung padam. Justru semakin panas. Karena mawar itu sudah kembali, tetapi ia tidak tahu cara menyiramnya tanpa membuat akarnya busuk. Sentuhannya selama ini hanya tahu cara menghancurkan.
Dan di dalam kamar, Florence masih berdiri di tengah ruangan. Ia menatap ranjang mewah itu, lalu menatap pintu yang tidak terkunci.
Ia bebas melangkah ke mana pun di dalam kamar ini. Tetapi ia tahu, ia tidak bebas keluar dari mansion. Ia tidak bebas dari Lucifer.
Bedanya, kali ini iblis itu tidak melempar sapu tangan ke lantai. Kali ini iblis itu meletakkannya di pangkuan, dan berkata “Ber-darah” dengan suara yang nyaris seperti khawatir.
Sangkarnya kini emas. Namun, sangkar tetaplah sangkar. Dan burung yang sayapnya sudah patah dua kali, tidak akan berani terbang lagi, meski pintunya dibuka.
---