Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^35
Karena sebuah ketidak perdulian yang melekat pada diri, membuat jiwa menutup mata untuk memberikan pertolongan pada seseorang yang memang membutuhkan uluran tangan dari orang-orang di sekitar. Bukan berarti orang yang bertingkah seperti itu hanya ingin hidup sendiri. Tidak!! Melainkan sebaliknya. Dia juga butuh teman, dia juga butuh seseorang untuk menolongnya, dan dia hanya butuh kedamaian.
Tetapi, seseorang yang tidak peduli itu akan berlari secepat mungkin. Agar menjadi orang pertama untuk menjadi ksatria bagi sang ratu. Jika pun hubungan spesial di antara mereka tidak lagi ada.
Napas gusar sesekali pemuda itu keluarkan, tanpa mengalihkan pandangan dari dua insan yang terlihat tengah bertukar pikiran secara tenang. Ampuh mendatangkan hawa panas dalam tubuh sang pemuda. Anrey.
Pemuda itu juga tidak bisa melayangkan pukulan pada orang di sana, ataupun mengeluarkan kata kasar untuk sang gadis. Karena Anrey sangatlah sadar, jika hal itu akan menambah suasananya semakin suram.
"Jika kau lebih nyaman dengannya, aku akan terima. Karena Aldi juga tidak seburuk itu, Yuna. Dia orang yang sangat baik." Batin Anrey yang hanya bisa tersenyum kecil penuh kehampaan.
Saat kedua kakinya ingin memutar untuk pergi dari tempat itu, netra tajamnya tidak sengaja melihat keributan kecil yang baru saja di mulai. Membuat kening Anrey mengerut, karena satu di antara ketiga wanita dewasa itu sangat Anrey kenal.
"Ibu?" Gumam Anrey yang begitu spontan.
Kening Anrey semakin mengerut, berniat ingin menghampiri. Tetapi kedua matanya malah bertemu dengan milik salah satu wanita di sana, Rossi. Wanita yang telah melahirkan Anrey.
Sebentar melihat ke arah lawan bicaranya, sebelum berjalan menghampiri Anrey dengan raut wajah yang berusaha untuk tetap terlihat normal, walau Ara sangat terkejut akan kehadiran Anrey di sekitarnya saat malam hari seperti ini.
"Apa yang kau lakukan di sini? seharusnya kau langsung pulang ke rumah." Cetus Ara yang sebentar melihat dua wanita di sana.
"Bagimana dengan ibu sendiri? Apa ibu mengenal mereka?" Tanya Anrey yang tengah mencari kebenaran di mata Ara.
"Ibu baru saja beli makanan, kue kacang." Sekilas memperlihatkan paper bag sedang di tangan kanannya. "Dan ibu bertemu dengan mereka, teman sekolah ibu."
"Oh, benarkah?" Pelan Anrey yang entah kenapa merasa lega.
Tersenyum simpul, dengan kepala mengangguk, sembari mengambil alih kantong paper bag di tangan Ara. Kini berjalan beriringan bersama Anrey.
"Ibu harus membelinya saat ini juga, sebelum ayahmu pulang. Karena pria itu tidak menyukainya." Bukannya Ara mengadu, hanya saja Ara ingin memecahkan keheningan malam saat bersama Anrey.
"Jika ayah tidak menyukainya, kenapa ibu menikahinya?" Pertanyaan bodoh yang terlontar begitu saja dari mulut Anrey. Membuat Ara tertawa kecil.
Sanga pelan, Ara melingkarkan tangan kirinya di lengan Anrey yang menerimanya dengan hangat. "Karena ayah mu, ibu masih beratahan."
"Jika pun, ibu harus merelakan seseorang." Imbuh Ara dalam hati. Melengkungkan senyum simpulnya.
"Apa sebesar itu, ibu mencintai ayah?" Tanya Anrey, yang hanya ingin tahu.
"Ibu pernah menaruh hati pada seseorang. Dia sangat baik, dia tidak pernah membuat ibu marah. Tapi ibu lupa, jika kebaikannya itu bisa membuat ibu kecewa__"
"Mantan kekasih ibu? Ibu membicarakannya?" Potong Anrey yang merasa heran dengan Ara. Kenapa Ara membicarakan mantan kekasih di saat sudah menikah? Dan memiliki anak sebesar Anrey. Tidak mungkin jika Ara merindukan mantannya itu.
"Kau juga akan melakukannya. Jika kau punya kekasih, dan hubungan kalian berakhir. Kau pasti menceritakan kebaikannya pada anak mu kelak." Sangat rendah, Ara melontarkan kalimatnya.
Diam, Anrey kini tengah mengalaminya. Mengakhiri hubungan bersama orang yang sangat Anrey rindukan saat ini. Mungkin ini juga salah Anrey, yang terlalu menuruti perkataan Yuna. Seharusnya Anrey melanggarnya, agar momentnya bersama Yuna tidak sesingkat ini.
Tapi Anrey juga tidak bisa menyimpan dendam pribadi kepada Yuna. Karena alasan Yuna memutuskannya juga sangat jelas, jika gadis itu tidak ingin melukai siapapun yang dekat dengan Anrey. Di saat Anrey masih terikat hubungan dengan Yuna.
Dan, Yuna juga ingin lebih fokus pada pendidikannya. Karena Yuna tidak ingin menyia-nyikan waktu belajarnya.
Jika tessa ditakdirkan untuk Anrey, sesulit apapun itu jalannya pasti akan ada kunci untuk mempersatukan mereka kembali. Tapi, jika itu sebaliknya. Anrey akan merelakan Yuna bersama laki-laki lain.
"Seseorang pernah bicara padaku, bu. Jika kau ingin bersama ku, kau harus bisa menyeimbangi kehidupanku." Diam sejenak, Anrey menelan ludanya. "Tapi jika kau tidak mampu, jangan pernah bermimpi kau bisa memiliki ku."
"Kalimat itu terdengar kejam." Rendah Ara.
"Benar, sangat kejam. Tapi itu membuat ku sadar. Aku harus bekerja keras, jika ingin mendapatkannya." Tersenyum masam. Anrey merasa nyeri pada dadanya.
"Tapi sebelumya kau harus membahagiakan dirimu sendiri, sebelum membuat orang lain tersenyum." Rossi menepuk pelan lengan Anrey. "Bagi ibu, untuk apa kau mendapat pasangan yang kau inginkan jika dia tidak menghargai mu?"
"Dia memang sangat dingin, dan wajahnya begitu datar saat marah. Tapi dia tidak pernah melukai seseorang." Anrey tercekat akan tatapan dari Ara tersenyum penuh arti.
"Walau, perkataannya, sangat tajam. Tapi bukan berarti dia pernah memakiku." Sambung Anrey dengan senyumannya. Sekilas kepala Anrey pun juga ikut mengangguk.
"Sebenarnya siapa yang kau bicarakan? Emm--" Tanya Ara, yang semakin membuat lidah Anrey merasa keluh. Sulit memberi jawaban.
"Seseorang__" Anrey sangat ragu mengatakannya. Karena Anrey tidak ingin Ara menggodanya terus-menerus jika dirinya ternyata sudah memiliki kekasih. Tapi tidak untuk saat ini. Anrey tidak lagi ada hubungan apapun dengan Yuna.
"Yang pernah menjadi kekasihku." Pada akhirnya pun Anrey tetap mengatakannya.
"Kenapa kau baru memberitahu ibu? Jika kau sudah memiliki kekasih." Sedikit menyerukan suaranya. Tapi tidak bermaksud menghakimi Anrey.
"Itu_"
"Kau masih berhubungan baik dengan kekasihmu itu? Atau, kau sudah mengakhirinya?" Ara mulai menunjukkan sikap jahilnya kepada Anrey. Itu sangat terlihat jelas dari senyumannya.
"Kenapa ibu ingin tahu sekali? Itu membuat ku malu." Anrey akan berusaha menghindar dari tatapan Ara. Karena Anrey tidak ingin membuka suara tentang siapa mantan kekasihnya itu.
"Tapi__ jika di lihat caramu bicara tadi. Sepertinya hubunganmu dengan gadis itu memang sudah berakhir. Kau ingin bekerja keras karena masih mencintainya, bukankah seperti itu?"
"Hubungan ku dengannya baik-baik saja." Cepat Anrey, yang memang tidak ingin mengakuinya.
"Benarkah?" Senyum Ara memang berniat ingin masih menggoda Anrey. Akan tetapi, saat melihat kembali wajah lelah Anrey, membuat Ara memilih mengakhirinya. "Jika begitu, ibu hanya bisa berharap, kau tidak salah mengambil keputusan."
"Mempertahankan seseorang yang memang tidak ingin bersamamu itu akan menyiksa batinmu." Sambung Ara yang kini benar-benar mengakhiri argumennya bersama Anrey untuk malam ini.