Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Sejak Kapan Punya ini Semua
Restu langsung menutup telepon, wajahnya berubah dingin dan tajam. Ada api kemarahan yang mulai menyala di dadanya. Berani-beraninya orang ini mengganggu istrinya dan merendahkannya di depan orang sakit!
Tanpa membuang waktu, Restu langsung menelepon nomor Direktur Utama Rumah Sakit Metro yang baru saja menjadi miliknya.
Tuuut...
"Halo Direktur, ini Restu. Saya pemilik baru rumah sakit ini. Saya sedang dalam perjalanan ke sana. Pastikan semua siap menyambut saya. Dan siapkan juga data kepangkatan dan jabatan seorang dokter yang bernama dokter Rian Purnomo,"
Restu mendengus pelan karena memang dia tahu.kalau.sejak.dulu, Rian Purnomo.selalu.mengejar-ngejar istrinya,
"...Dokter Rian."
"Siap Pak! Segera kami siapkan! Kami tunggu kedatangan Bapak!"
jawab suara di seberang sana dengan panik dan hormat.
Restu langsung memerintahkan sopirnya melaju kencang menuju Rumah Sakit Metro.
Di Ruang Rawat Inap...
Ayah mertua Restu, Pak Sutrisno, sudah sadar sepenuhnya. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi pagi. Di samping tempat tidur, berdiri seorang pria tampan dengan jas dokter putih yang rapi, kacamata mahal, dan gaya yang sangat sombong. Itu adalah Dokter Rian, mantan gebetan Rina yang kini menjabat sebagai Kepala Poli.
Rian sedang duduk di tepi tempat tidur, berbicara manis namun menusuk kepada Rina yang berdiri di dekat jendela.
"Rin... lihat deh keadaanmu sekarang. Kasihan sekali kamu hidup sama laki-laki tidak berguna itu. Dia itu apa sih? Cuma karyawan rendahan, miskin, tidak punya masa depan. Kamu cantik dan baik, sayang sekali kalau habis umurmu cuma buat menyesal sama dia."
Rina mencoba menahan emosi.
"Dokter Rian, tolong jangan bicara seperti itu. Dia suami saya dan dia yang sudah menolong ayah saya."
"Ah itu cuma kebetulan Rin! Mana mungkin orang miskin punya uang ratusan juta? Pasti dia pinjam sana-sini atau cari uang jalan yang salah!"
Potong Rian sinis seperti menyakinkan Rina tentang siapa suami Rina.
"Coba lihat aku Rin, aku sekarang sudah jadi dokter terkenal, gajiku puluhan juta sebulan, tabungan sudah milyaran! Kalau kamu mau meninggalkan dia dan mau sama aku, aku janji hidupmu bakalan seperti ratu! Aku bisa belikan apa saja yang kamu mau, dan ayahmu juga aku jamin perawatannya gratis selamanya!"
Rian semakin berani, bahkan mencoba memegang tangan Rina yang langsung menarik tangannya sedangkan Rian tambah semangat untuk menggoda Rina.
"Percayalah Rin, suamimu itu sampah! Dia tidak pantas memilikimu. Kamu milikku..."
BRUKK!!
Pintu ruangan terbuka dengan keras.
Masuklah Restu dengan aura mengerikan yang membuat suhu ruangan seketika menjadi dingin. Wajahnya datar tapi matanya menatap tajam seperti elang yang siap menerkam mangsa.
"Dasar sampah mulutmu ya Rian!, Berani-beraninya kamu mengganggu istri orang dan menjelekkan suaminya di depan ayah mertuaku sendiri!"
Hardik Restu lantang membuat Rian terkejut namun dia berusaha tenang karena dia menang status di bandingkan Restu
Sementara itu, Rina langsung berlari memeluk lengan suaminya setelah melihat suaminya datang dan.kini.dirinya merasa aman kembali. "Bang..."
Rian terkejut lalu tertawa mengejek melihat penampilan Restu.
"Wah wah wah... yang bicaranya besar baru datang. Hei 'suami yang hebat', kamu dengar kan apa yang aku katakan? Memang benar kan kalau kamu itu tidak berguna? Lihat penampilanmu! Lusuh dan miskin! Bandingkan sama aku! Aku dokter! Aku kaya! Kamu cuma beban keluarga!"
Rian mendekati Restu dengan wajah congkak.
"Mending kamu sadar diri saja, ceraikan Rina dan pergi jauh! Jangan menghalangi kebahagiaan dia!"
Restu tersenyum miring, senyum yang sangat menakutkan.
"Kau pikir kau siapa bicara seperti itu padaku? Kau bilang kau kaya raya dan hebat? Itu semua cuma mimpi di siang bolong buat orang sepertimu."
"Apa maksudmu?!"
Bentak Rian dengan coba membuat dirinya sehebat mungkin di hadapan Restu
"Maksudku... mulai detik ini juga, kau tidak lagi jadi dokter di sini. Bahkan kau tidak akan bisa bekerja sebagai dokter di rumah sakit manapun di kota ini!"
Rian tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Gila ya orang ini? Kamu kira kamu siapa?! Pemilik rumah sakit ini ya?!"
"Tepat sekali!"
Jawab Restu dingin yang membuat Restu tertawa sedangkan bagi Rina, ini adalah Sarkas buat Rian agar dia tidak mengganggu istrinya lagi hingga Rini coba ikut menambahi kata-kata suaminya
"Memang Rumah sakit milik.suami ku.jadi kau itu.hanya kerja pada suami ku"
"Apa?"
Belum sempat Rian memproses kata-kata itu, tiba-tiba terdengar langkah kaki ramai. Masuklah Direktur Rumah Sakit, seluruh Kepala Divisi, dan perawat-perawat kepala dengan wajah panik. Mereka langsung berbaris rapi dan membungkuk dalam-dalam ke arah Restu.
"Selamat datang Pemilik Baru! Selamat datang Bapak Restu! Mohon maaf atas keterlambatan kami!"
Suasana hening total.
Dokter Rian terbelalak, matanya hampir keluar dari tempatnya. Ia menatap Direktur yang begitu hormat pada pria lusuh di depannya.
"Di... Direktur... apa-apaan ini? Kenapa kalian membungkuk pada orang ini?" tanya Rian terbata-bata.
"Diam kau Rian!"
Hardik Direktur dengan marah kepada Rian karena mereka sempat mendengar kata-kata Rian yang begitu sombong sama pemilik Rumah Sakit yang baru ini.
"Kau sudah gila ya?! Berani-beraninya kau menghina dan mengancam Bapak Restu?! Dia bukan orang sembarangan! Dia adalah PEMILIK RUMAH SAKIT INI! Dia yang punya gedung ini! Dia bos kita semua!"
GLEK!
Jantung Rian seakan berhenti berdetak. Kakinya lemas seketika.
"Pemilik... pemilik rumah sakit? Dia?"
"Benar!"
Sambung Restu sambil melangkah perlahan mendekati Rian yang sudah gemetar ketakutan.
"Kau tadi bilang kau kaya raya punya uang milyaran? Coba cek rekeningmu vs asetku. Asetku di rumah sakit ini saja ratusan milyar! Dan kau bilang aku miskin dan rendahan?"
Restu menatap tajam ke arah Direktur yang mulai resah melihat apa yang sudah terjadi karena Rian berani membandingkan penghasilan dirinya dengan pemilik Rumah Sakit ini.
"Pak, orang ini sudah menghina pemilik, mengganggu keluarga pemilik, dan merusak citra rumah sakit. Apa hukuman yang pantas dia dapat?"
"Dipecat seketika Pak! Dan kami akan laporkan ke organisasi dokter agar lisensinya dicabut selamanya!"
Jawab Direktur Rumah Sakit sigap yang membuat Rian tidak terima.
"TIDAKKK!! TIDAK BISA GITU PAK RESTU! SAYA MOHON! SAYA SUDAH SALAH!"
Rian langsung berlutut di depan Restu, menangis ketakutan.
"AMPUNI SAYA PAK! SAYA TIDAK TAU KALAU ANDA BOS BESAR! SAYA HANYA BERCANDA PAK!"
Restu menatap jijik orang yang sudah mengganggu istrinya ini bahkan menjelekan dirinya di hadapan istri dan ayah mertuanya
"Keluarkan dia dari sini sebelum saya marah besar. Dan pastikan dia tidak pernah bisa bekerja lagi sebagai dokter!"
"Siap Pak! Satpam!!"
Dua orang satpam langsung menyeret Rian yang menangis histeris keluar dari ruangan itu, meninggalkan rasa malu yang tak terhingga sedangkan Restu kini di sambut baik oleh direktur dan semua pegawai yang datang ke kamar ayah Mertua Restu di rawat
"Baik, semua orang sudah tahu.kalau saya pemilik utama Rumah Sakit Metro ini jadi saya mau tidak ada kejadian seperti ini lagi kepada siapa pun"
"Siap"
"Baik, sekarang tinggalkan kami.di sini dan.satu jam saya mau pertemuan dengan para dokter dan semua pegawai"
"Siap pak"
Kini semua dokter dan pegawai meninggalkan ruang tempat ayah Restu di rawat hingga saat ini tinggalah Restu, Rina, dan Ayah mertuanya.
Pak Sutrisno yang menyaksikan semua itu dari tempat tidur menatap menantu laki-lakinya dengan air mata kebanggaan. Ia mencoba bangun dan memegang tangan Restu.
"Restu... anakku... Maafkan Ayah... Maafkan keluarga Ayah yang selama ini meremehkanmu... Ternyata engkau adalah pangeran yang menyamar..."
Restu tersenyum hangat, menggenggam tangan mertuanya.
"Tidak apa-apa Yah. Yang penting Ayah sembuh. Dan ingatlah satu hal... Istri saya adalah milik saya, dan tidak ada yang berani mengganggunya sedikitpun selama saya masih ada."
Rina memeluk suaminya erat, hatinya penuh cinta dan rasa bangga yang tak terhingga namun tiba-tiba dia mencubit Restu
"Aduu sakit"
Restu memegang perutnya sambil melihat Rina yang menatap Restu
"Jadi benar, Rumah sakit ini milik mu dan ku pikir hanya menakut-nakuti Rian tapi ternyata benar-benar milikmu, jadi sejak kapan abang bisa punya ini semua?"
tinggalkan jejak sobat ya
makasi