NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Keana Mulai Lelah

​Gedung Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di kawasan Jakarta Timur pagi ini memancarkan aura birokrasi yang kaku dan tak tertembus. Pukul 08.45 WIB. Lima belas menit sebelum sidang paripurna pimpinan LPSK mengesahkan status Justice Collaborator Maia Anindita secara permanen.

​Aku melangkah keluar dari mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh salah satu anak buah Komisaris Herman. Ujung gaun sutra hitam—hadiah duka cita dari Maia—menyapu lantai paving blok yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Di sisiku, Ghazali berjalan dengan postur tegap yang menentang segala hukum medis. Lengan kanannya yang tersembunyi di balik jas hitam bespoke itu masih menguarkan hawa panas akibat peradangan luka bakar kimia, namun wajah pualamnya tak membiarkan satu pun raut kesakitan lolos ke permukaan.

​Saat kami berdua melangkah melintasi lobi gedung, setiap mata yang ada di sana refleks berbalik menatap kami. Udara di sekitarku mendadak berubah menjadi tebal dan memabukkan.

​Aroma minyak esensial mawar hibrida Perancis—parfum eksklusif yang sengaja kusemprotkan di pergelangan tangan dan leherku—menguar tajam, menginvasi sistem ventilasi ruangan. Bagi orang awam, itu hanyalah wewangian mewah. Namun bagi wanita yang sedang menunggu kemenangannya di lantai atas sana, aroma ini adalah sirine kematian.

​Kami memasuki lift bersama pengacara Leo Sastra yang sudah menunggu dengan koper berisi dokumen cetak hasil laboratorium semalam.

​"Mereka mengadakan rapat pleno di Ruang Sidang Utama lantai lima," lapor Leo dengan suara pelan namun sarat adrenalin. "Ketua LPSK, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim, dan tim kuasa hukum Maia sudah berada di dalam. Jika palu diketuk, Maia akan kebal dari segala tuntutan hukum terkait pembunuhan kakekmu, Ghazali."

​"Palu itu tidak akan pernah diketuk," jawab Ghazali dingin. Ia menoleh padaku, tangan kirinya bergerak mencari tanganku, lalu menggenggam jemariku erat-erat. "Tarik napas, Istriku. Tunjukkan pada mereka bagaimana caranya sang malaikat maut berpakaian."

​Pintu lift terbuka berdenting.

​Kami berjalan menyusuri koridor berkarpet merah. Tanpa mengetuk atau menunggu protokoler, Ghazali mendorong pintu kayu ganda Ruang Sidang Utama itu dengan bahu kirinya.

​BRAK!

​Pintu terbuka lebar, menghentikan seluruh aktivitas di dalam ruangan luas tersebut. Tujuh orang komisioner LPSK yang duduk berjejer di meja oval menoleh dengan terkejut. Di sisi kanan meja, Jenderal Bareskrim berdiri mematung.

​Dan di tengah ruangan, duduklah Maia Anindita.

​Wanita itu sedang memegang pena, ujung penanya hanya berjarak satu inci dari dokumen perjanjian imunitas di atas meja. Begitu ia menoleh dan melihat kami berdiri di ambang pintu, pena di tangannya terlepas, jatuh menggelinding mengotori kertas negara itu dengan tinta hitam.

​Mata Maia terbelalak. Pupilnya membesar hingga nyaris menelan seluruh iris matanya.

​Tatapan wanita itu tidak tertuju pada wajah Ghazali, melainkan terkunci padaku. Pada gaun sutra hitam yang melekat pas di tubuhku. Dan saat sistem pendingin ruangan membawa aroma parfum mawar hibrida itu ke penciumannya, wajah Maia yang tadinya merona oleh kemenangan seketika berubah sepucat kertas HVS.

​"Selamat pagi, Yang Mulia para Komisioner," suara Ghazali menggelegar, mengisi setiap inci kekosongan di ruang sidang itu. "Maaf menginterupsi perayaan ini. Namun saya datang sebagai warga negara dan penegak hukum untuk mencegah institusi mulia ini dari melakukan blunder sejarah yang memalukan."

​"Jaksa Ghazali! Dokter Keana!" Jenderal Bareskrim melangkah maju, wajahnya merah padam. "Apa-apaan ini?! Kalian sedang dalam masa penangguhan penahanan! Ini adalah sidang tertutup! Penjaga, keluarkan mereka!"

​"Sentuh klien saya, dan saya akan memastikan Bareskrim dituntut atas pasal perusakan alat bukti dan pelanggaran HAM di pengadilan internasional!" Leo Sastra maju layaknya serigala yang siap menerkam, menghentikan langkah dua petugas provost yang hendak mendekat.

​Leo melemparkan lima rangkap dokumen tebal berstempel merah PRO JUSTITIA ke atas meja oval para komisioner. Suara tumpukan kertas yang menghantam meja kayu itu berbunyi sangat keras.

​"Sesuai Pasal 10A Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014, dan SEMA Nomor 4 Tahun 2011," Ghazali mengambil alih forum dengan artikulasi tajam yang merobek dominasi siapa pun di ruangan itu. "Syarat mutlak bagi seorang tersangka untuk mendapatkan status Justice Collaborator adalah: ia tidak boleh berstatus sebagai pelaku utama (Intelectuele Dader) dalam kejahatan tersebut."

​Ghazali menunjuk lurus ke arah Maia yang kini napasnya mulai tak beraturan.

​"Wanita yang sedang duduk di hadapan kalian itu, mengklaim bahwa ia hanya pion yang diancam oleh Nyonya Ratna Mahendra untuk meracuni kakek saya dan pelayan kami. Namun, dokumen di depan Anda membuktikan hal yang sebaliknya."

​Ketua LPSK mengerutkan dahi, perlahan menarik salah satu map tersebut dan membukanya.

​"Itu adalah hasil uji spektrometri massa (GC-MS) dari laboratorium independen Badan Intelijen Negara," kali ini giliranku yang bersuara. Aku melangkah maju, membiarkan ujung gaun sutra hitamku berdesir elegan. Aku menatap langsung ke arah mata Maia yang mulai memancarkan teror absolut.

​"Kami telah melakukan ekshumasi pada makam seorang anak yatim piatu tak bernama di Panti Asuhan Kasih Mahendra yang meninggal enam tahun lalu. Seorang balita yang kematiannya dipalsukan sebagai serangan jantung bawaan," ucapku, setiap kata yang meluncur dari bibirku dilapisi oleh es yang membekukan.

​Tangan Maia yang bertumpu di atas meja mulai gemetar hebat. Ia mencoba menyembunyikannya di bawah meja, namun kepanikannya terlalu masif untuk ditutupi.

​"Saya mengekstraksi pulpa dari gigi geraham balita tersebut. Lapisan email gigi adalah brankas biologis terkuat yang tidak bisa ditembus oleh dekomposisi bakteri," lanjutku, menyudutkan Maia dengan fakta medis yang tak terbantahkan. "Di dalam pulpa gigi balita malang itu, kami menemukan residu Digoxin—ekstrak racun murni Digitalis—dengan konsentrasi tiga kali lipat dari dosis letal untuk orang dewasa. Profil senyawa pelarutnya identik dengan racun yang dibeli oleh saudari Maia Anindita di pasar gelap Glodok."

​"Itu fitnah!" jerit Maia tiba-tiba, suaranya melengking kehilangan kontrol. Ia berdiri dengan kasar hingga kursinya terdorong ke belakang. "Itu bukti palsu! Mereka mengambil mayat sembarangan untuk menjebakku!"

​"Kami memiliki rekaman CCTV saat kau menyerahkan uang kepada Koh Bong untuk racun itu, Maia!" Ghazali menggebrak meja, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau tidak membunuh balita itu atas perintah ibuku! Ibuku bahkan tidak tahu-menahu soal uji coba itu! Kau membunuh balita panti asuhan itu secara independen sebagai tikus percobaan, murni inisiatifmu sendiri untuk menakar dosis sebelum kau meracuni Kakek!"

​Ketua LPSK dan Jenderal Bareskrim saling pandang dengan raut wajah horor membaca kesimpulan dokumen laboratorium tersebut. Fakta bahwa seorang pengacara menggunakan balita sebagai subjek eksperimen racun mematikan adalah kejahatan sosiopatik yang berada di luar batas toleransi hukum mana pun.

​"Karena Saudari Maia Anindita adalah inisiator tunggal, perencana, sekaligus eksekutor atau pelaku utama dalam pembunuhan balita panti asuhan tersebut..." Ghazali menegakkan tubuhnya, melipat tangan kirinya di dada. "...maka seluruh syarat imunitasnya sebagai Justice Collaborator gugur demi hukum!"

​Ruang sidang paripurna itu seolah kehilangan gravitasinya.

​Maia menatap kosong ke arah dokumen di atas meja. Bibirnya bergetar. Keringat dingin merusak riasan wajah sempurnanya. Wanita yang selalu mengandalkan kelicikan hukum itu akhirnya terperangkap dalam jaring sains yang tak bisa disuap.

​Aku melangkah mendekatinya, berhenti tepat di sampingnya. Aku menundukkan kepalaku sedikit ke arah telinganya.

​"Terima kasih atas gaun dan parfumnya, Maia," bisikku dengan nada yang sangat pelan, namun cukup tajam untuk mengiris kewarasannya. "Kau benar. Keadilan selalu tahu ke mana ia harus berpihak. Dan wangi mawar ini... ternyata adalah wangi dari bangkai masa lalumu sendiri."

​Maia memejamkan mata rapat-rapat. Lututnya kehilangan tenaga. Ia merosot jatuh kembali ke kursinya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang bergetar. Pertahanan mental wanita iblis itu hancur seutuhnya.

​"Jenderal," Ketua LPSK menutup map tersebut dan menatap perwira Bareskrim itu dengan raut wajah muak. "Lembaga ini tidak akan pernah memberikan perlindungan pada pembunuh anak-anak. Sidang paripurna ini dibatalkan. Status Justice Collaborator Saudari Maia Anindita resmi kami tolak."

​Jenderal Bareskrim mengangguk kaku. Ia segera memberikan isyarat tangan kepada dua anak buahnya.

​"Maia Anindita, Anda ditahan atas tindak pidana pembunuhan berencana tingkat pertama," ucap Jenderal tersebut. Dua petugas langsung meraih lengan Maia, memaksanya berdiri, dan memborgol kedua pergelangan tangannya dari belakang.

​Saat Maia diseret melewati kami, ia menatap Ghazali dengan sorot mata yang dipenuhi air mata keputusasaan dan penyesalan yang terlambat. Namun suamiku tidak memalingkan wajahnya sedikit pun. Ghazali menatap mantan kekasihnya itu dengan kedinginan absolut, mengunci pintu masa lalunya rapat-rapat tanpa sisa ampunan.

​Pintu ganda ruang sidang tertutup. Keheningan yang melegakan akhirnya turun menyelimuti kami.

​Kami menang. Raksasa yang selama ini menyiksa hidup kami telah tumbang.

​Namun, di detik ketika palu kemenangan itu diketukkan, sesuatu di dalam tubuhku mendadak putus. Adrenalin yang sejak semalam memompa aliran darahku untuk bertahan dari kejaran polisi, kehancuran laboratorium, dan penggalian kuburan di tengah badai, tiba-tiba menguap lenyap tanpa sisa.

​Kepalaku terasa luar biasa ringan. Pandanganku mulai dipenuhi bintik-bintik hitam yang menari-nari. Suara dengungan mesin AC di ruangan itu mendadak berubah menjadi dengungan lebah yang sangat bising.

​"Keana?"

​Suara Ghazali terdengar seolah ia sedang berbicara dari dasar lautan. Sangat jauh. Sangat teredam.

​Aku mencoba menoleh ke arahnya, mencoba tersenyum untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Namun, saat aku memaksakan otot wajahku bergerak, rasa nyeri yang mematikan menusuk telapak kakiku yang tertancap serpihan kaca, menjalar naik berbarengan dengan rasa ngilu dari jahitan di bahu kiriku.

​Beban psikologis dari rahasia yang kubawa—fakta bahwa balita yang baru saja kami jadikan senjata untuk menjebloskan Maia ke penjara adalah Gala, anak kandung Ghazali sendiri—tiba-tiba menghantam tengkukku seperti balok beton bertulang. Aku membohongi suamiku. Aku membiarkannya menghancurkan ibu dari anaknya menggunakan tulang anaknya sendiri. Dosa dari kebohongan medis ini terlalu berat untuk ditanggung oleh paru-paruku.

​Sang Dokter Forensik akhirnya lelah.

​"Mas..." bisikku, sebelum akhirnya kedua kakiku menyerah.

​Bumi yang kupijak melesat ke atas. Kegelapan menyergap dengan kecepatan cahaya. Hal terakhir yang kurasakan sebelum kesadaranku benar-benar terputus adalah lengan kiri Ghazali yang melingkar kuat di pinggangku, menahan tubuhku dari hantaman lantai marmer, diiringi oleh raungan paniknya yang membelah ruang sidang.

​Aroma klorin dan suara ritmis mesin ventilator adalah hal pertama yang menyapa indraku saat aku perlahan membuka mata. Cahaya lampu neon di langit-langit membuatku harus mengerjapkan mata berkali-kali.

​Aku berbaring di atas ranjang rumah sakit. Selimut putih tebal menutupi tubuhku hingga ke dada. Punggung tangan kananku tertancap jarum infus yang mengalirkan cairan elektrolit dingin ke dalam pembuluh venaku.

​"Kau sudah bangun."

​Suara berat dan serak itu membuatku menoleh ke sisi kiri ranjang. Ghazali duduk di kursi tunggu. Pria itu sudah mengganti jas hitamnya dengan kemeja flanel kasual. Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dari sebelumnya. Mata elangnya dipenuhi oleh bayangan gelap yang mengindikasikan bahwa ia tidak tidur sedetik pun sejak aku jatuh pingsan.

​Aku mencoba bangun, namun rasa pening langsung menyerang kepalaku.

​"Jangan bergerak dulu," Ghazali segera berdiri, menahan bahuku dengan lembut menggunakan tangan kirinya. "Tekanan darahmu anjlok drastis. Dokter bilang kau mengalami kelelahan ekstrem (exhaustion), dehidrasi, dan syok psikologis. Jahitan di bahumu juga sempat infeksi ringan karena air hujan semalam. Kau tertidur selama hampir dua puluh jam."

​"Dua puluh jam?" aku terkesiap. "Lalu bagaimana dengan Bareskrim? Ibumu? Maia?"

​"Semuanya sudah selesai, Istriku," Ghazali duduk kembali, mengusap punggung tanganku yang tidak diinfus dengan ibu jarinya. "MKEK IDI telah membatalkan pencabutan izin praktikmu setelah bukti dari BIN keluar. Maia dan ibuku sudah resmi dipindahkan ke sel tahanan dengan pengamanan maksimum. Mereka tidak akan pernah melihat matahari di luar jeruji besi lagi. Perang kita sudah usai."

​Perang sudah usai. Kata-kata itu seharusnya memberikan kelegaan yang luar biasa. Namun mengapa dadaku masih terasa begitu sesak?

​Aku menatap wajah suamiku. Pria yang telah mengorbankan karier, reputasi, dan tangan kanannya demi diriku. Ia menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi pemujaan dan rasa syukur. Ia berpikir bahwa badai telah berlalu, bahwa ranjang pernikahan kami akhirnya akan terbebas dari luka.

​Namun aku tahu kebenarannya. Aku tahu ada bom waktu yang berdetak di dalam kepala ini.

​Gala.

​Jika Ghazali tahu bahwa aku membohonginya, bahwa aku menyembunyikan identitas jenazah anak yang tulang giginya kami cabut di pemakaman itu... akankah ia menatapku dengan penuh cinta seperti ini? Ataukah ia akan kembali menatapku dengan kedinginan absolut, menganggapku sama manipulatifnya dengan ibunya?

​"Kau melamun, Keana," tegur Ghazali pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mencium dahiku dengan sangat lama. "Apa yang sedang membebani otak cerdasmu itu? Katakan padaku. Kita sudah berjanji tidak ada lagi rahasia di antara kita, bukan?"

​Janji itu menusuk ulu hatiku. Aku memejamkan mata, membiarkan setetes air mata kelelahan lolos dari pelupuk mataku.

​Aku lelah. Aku sangat lelah harus memilah mana kebenaran yang bisa menyelamatkannya dan mana kebenaran yang bisa membunuhnya.

​"Mas," panggilku pelan, suaraku bergetar. "Ada sesuatu yang harus kau ketahui. Sesuatu yang kutemukan di klinik aborsi Bidan Darmi malam itu."

​Ghazali mengerutkan dahi. Tangannya yang mengusap punggung tanganku mendadak berhenti. "Klinik aborsi? Kau bilang Darmi hanya memberikan lokasi makam panti asuhan itu."

​"Aku berbohong," isakku, tak mampu lagi menahan beban dosa ini sendirian. Otot-otot di wajahku berkedut menahan tangis. "Darmi tidak pernah menguburkan anak dari panti asuhan itu, Mas. Karena anak itu..."

​Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimat pengakuanku, pintu kamar perawatanku diketuk dua kali dari luar, lalu dibuka dengan tergesa-gesa.

​Adrian masuk dengan napas memburu. Asistenku itu masih mengenakan baju pasien, menyeret tiang infusnya sendiri. Wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan kepanikan tingkat tinggi.

​"Dokter Keana! Pak Jaksa!" seru Adrian, mengabaikan segala bentuk kesopanan. "Maaf menyela, tapi kalian harus melihat berita sekarang juga!"

​Ghazali segera melepaskan tanganku, merogoh remote televisi di atas nakas, dan menyalakan TV yang menempel di dinding kamar perawatanku.

​Layar televisi menyala, menampilkan siaran berita Breaking News dari saluran nasional. Latar belakang video itu adalah gedung Mabes Polri Trunojoyo. Garis kuning polisi melintang di area blok sel tahanan khusus wanita. Beberapa ambulans terparkir dengan lampu rotator yang menyala menyilaukan.

​"Pemirsa, berita mengejutkan datang dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Tersangka utama kasus pembunuhan berencana keluarga Mahendra, yakni mantan pengacara Maia Anindita, baru saja ditemukan dalam kondisi kritis di dalam sel isolasinya."

​Darah di nadiku seolah membeku. Aku dan Ghazali saling bertukar pandang dengan raut horor.

​Reporter di televisi melanjutkan laporannya dengan nada tegang. "Menurut keterangan awal dari pihak kepolisian, tersangka Maia Anindita diduga kuat melakukan upaya percobaan bunuh diri dengan menelan serpihan kaca dari cermin kecil yang diselundupkan. Namun, sumber dari tim forensik menyebutkan bahwa terdapat indikasi keracunan zat tak dikenal sebelum korban kehilangan kesadaran."

​Ghazali berdiri dari kursinya. Rahangnya kembali mengeras. "Bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan racun atau kaca di sel isolasi dengan pengamanan maksimum?!"

​"Itu belum seberapa, Pak Jaksa," sela Adrian dengan suara bergetar. Asistenku itu menelan ludah, menatap layar televisi dengan ngeri. "Polisi baru saja menemukan sebuah pesan yang ditulis dengan darah di dinding sel Maia."

​Kamera berita di televisi melakukan zoom-in pada sebuah foto buram yang bocor dari dalam sel tahanan. Di dinding beton berwarna abu-abu itu, tertulis sebuah kalimat dengan huruf kapital yang berantakan menggunakan darah segar.

​"KALIAN MENGIRA DIA SUDAH MATI. TAPI ANAK ITU MASIH HIDUP, DAN DIA AKAN MENUNTUT BALAS."

​Udara di dalam kamar perawatanku mendadak habis tak tersisa. Mesin EKG di sampingku menjeritkan lonjakan detak jantungku yang meningkat tajam.

​Aku menatap layar itu dengan tubuh gemetar hebat.

​Anak itu masih hidup?

​Gala masih hidup? Jika balita yang dibunuh di panti asuhan enam tahun lalu dan yang kami bongkar makamnya semalam bukanlah Gala... lalu tulang anak siapa yang kami gunakan untuk menjebloskan Maia ke penjara?!

​Dan yang lebih mengerikan, jika Gala masih hidup... di mana Nyonya Ratna menyembunyikan darah daging Ghazali selama ini?

​Perang di ranjang pengantin kami mungkin telah memenangkan satu pertempuran, namun layar televisi pagi ini baru saja membuka tabir bahwa kasus pembunuhan berantai yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!