Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 4
Laras tersenyum tipis, lalu menunduk sedikit.
"Aku duluan ya, Dipta."
Dipta mengangguk. "Iya... hati-hati."
Tak ada tambahan kalimat. Tak ada pertukaran kontak. Seolah keduanya sepakat- cukup sampai di sini.
Laras menggenggam tangan kecil Raka, lalu melangkah pergi meninggalkan area patisserie.
Dan Dipta...tetap berdiri di tempatnya selama beberapa detik.
Baru kemudian ia menghela napas pelan, berbalik menuju etalase.
"Pesanan saya yang tadi."
suara Dipta kembali datar. Professional. Seolah pertemuan barusan tidak berarti apa-apa.
Kotak dessert itu akhirnya berada di tangannya. Rapi. Manis. Sesuai dengan selera Rana.
Ia keluar dari toko dengan langkah tenang.
Saat Dipta keluar dari toko dessert, langkahnya kembali berhenti.
Tidak jauh dari sana, tepatnya di area parkir, ia melihat sesuatu yang membuat alisnya sedikit berkerut.
Laras.
Wanita itu berdiri di samping sebuah mobil hitam mewah. Seorang pria kini berdiri di hadapannya. Tampilannya rapi, berkelas- jenis pria yang tak perlu banyak bicara untuk menunjukkan ia berasal dari kalangan atas.
Old money.
Aura pria itu terlihat sangat jelas. Akan tetapi yang mencolok bukan itu. Melainkan jarak usia mereka.
Pria itu tampak jauh lebih tua dari Laras.
Dipta melihat tanpa benar-benar berniat ikut campur.
Hingga sampai suara tamparan itu terdengar di kedua telinganya, Dipta memperhatikan.
Plak!
Suara tamparan itu terdengar jelas, bahkan dari jarak beberapa meter. Kepala Laras terhempas ke samping.
Raka yang berada di dekatnya tampak terkejut, refleks memeluk kaki ibunya.
"Dasar wanita tidak tahu di untung!" pekiknya.
Dipta membeku. Refleks saja tangan miliknya yang tengah memegang kotak dessert terlihat mengeras.
Ada sesuatu yang tidak beres. Pikirnya.
"Sudah aku katakan menurut saja!"
Laras terlihat hanya tertunduk. Tidak melawan pria itu bahkan seolah hal itu bukan hal yang baru.
Refleks Dipta melangkah maju, mungkin nalurinya sebagai pria yang tidak tega melihat wanita di perlakukan kasar. Hanya saja langkahnya terhenti ketika dirinya sadar bukan siapa-siapa lagi dalam hidup wanita itu.
Ketika Dipta akan memutuskan menghampiri Laras sudah lebih dulu membuka pintu mobil, sembari mengajak Raka masuk.
Pintu mobil mewah itu tertutup, mobil yang di tumpangi oleh Laras beserta anaknya melaju menjauh. Meninggalkan Dipta yang menatapnya dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
Tatapan Dipta kosong mengarah ke jalan yang tadi dilalui mobil itu.
Beberapa detik kemudian, ia tersadar pada dirinya sendiri. kedatangannya ke toko dessert ini adalah untuk membeli sebuah kue sebagai rasa bersalahnya kepada Rana.
~
Sebuah rumah bernuansa klasik yang difungsikan sebagai tempat les piano terdengar hidup oleh alunan nada-nada sederhana. Jemari kecil menekan tuts, sesekali meleset, lalu diperbaiki dengan sabar.
Di teras samping, dua wanita duduk berhadapan.
Raden Kirana Wijaya, yang lebih sering di panggil Rana, baru saja meletakkan tasnya di kursi. Wajahnya terlihat lebih santai dibanding pagi tadi, meskipun masih terlihat sedikit sisa kekesalan.
Di hadapannya, Nuri menyandarkan dagu pada tangan, menatap sahabatnya dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.
"Jadi...kamu beneran diem-dieman sama suamimu dari pagi?" tanyanya, nada suaranya setengah menggoda.
Rana menghela napas pelan.
"Iya...cuma hal sepele sih sebenarnya."
"Hal sepele yang bikin kamu kepikiran sampai sekarang?" Nuri menaikan satu alis.
Rana tersenyum tipis, sedikit canggung.
"Aku yang salah juga, sih. Harusnya gak usah didiemin."
Pandangannya sempat bergeser ke halaman kecil di samping rumah.
Disana, Alaric terlihat berlari-lari kecil bersama sepupu Nuri. Tawa anak-anak itu terdengar lepas, tanpa beban yang kontras dengan isi kepala orang dewasa.
"Kamu tuh, ya." Nuri terkekeh pelan. "Dari dulu kalau kesel, bukannya marah, malah ngambek diem-diem. Kasiann banget suamimu."
Rana mengangkat bahu kecil.
"Lagian dia juga gak nanya."
"Ya kali dia harus nebak isi kepalamu setiap saat, Ran."
Rana tertawa pelan, mengakui dalam diam bahwa ucapan yang keluar dari lisan Nuri barusan ada benarnya.
Suasana sempat hening beberapa detik. Hanya suara piano dari dalam dan tawa anak-anak yang mengisi siang ini.
Lalu tiba-tiba...
"Eh, jangan-jangan..." Nuri menyipitkan mata, senyum jahilnya muncul. "Suamimu lagi kegoda sekretaris baru?"
Rana langsung menoleh, lalu tertawa ringan.
"Apaan sih."
"Serius! CEO ganteng, mapan, sekretarisnya pasti cantik-cantik. Tinggal nunggu goyah aja."
Rana menggeleng pelan, masih mengembangkan senyum yang sama.
"Enggak mungkin." Jawab Rana yakin sekali, tanpa ada sedikitpun keraguan dirinya pada sang suami.
Nuri menatapnya lamat, seolah sedang menunggu penjelasan lebih dari sahabatnya ini.
Rana Mengandarkan punggung ke sandaran kursi, lalu berkata pelan. "Mas Dipta bukan tipe yang kaya gitu." Ucapnya dengan suara lembut, penuh keyakinan. "Dia tuh kalau udah milih, ya cuman satu, Nur."
Nuri mendengus kecil. "Yakin banget."
Rana tersenyum melihat sahabatnya yang mengalah itu. "Yakin banget malah."
Tiba-tiba saja dering ponsel miliknya terdengar nyaring. Rana tersenyum saat tahu siapa yang menelepon.
Rana memamerkan ponselnya kepada Nuri. "Liat! Baru juga di omongin, dia langsung telpon."
...****************...
Bersambung....