Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Rencana ....
BAb 23
“Masuk, dok. Tumben amat ini, ada angin apa kali,” seru Rama menyambut Edward, meski ia sendiri baru sampai. Jaketnya pun belum dilepas. Sudah komunikasi tadi pagi dan ia siap membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk siapapun yang datang dengan tujuan baik.
Edward menempati sofa di teras, sementara Rama ke dalam. “Neng, sepi amat. Pada kemana ini?”
Terdengar perbincangan Rama dan istrinya, Edward sampai menggeleng pelan.
“Kangen tau, sini cium dulu.”
Padahal di depan ada tamu, bisa-bisanya si Rama masih saja me-sum meski dengan istrinya.
“Abang, ih. Itu kawannya nunggu.”
“Biarin aja, dia ngerti kok. Udah paham urusan suami istri, Cuma sekarang statusnya duda. Si kembar sama Ibu ya? Telpon bapak dong, dokter Edward mau ngobrol sama bapak juga.”
“Nggak Rama nggak si Anji, sebelah dua belas. Kayaknya mereka satu perguruan,” batin Edward.
Perempuan paruh baya keluar membawa nampan berisi kopi dan mempersilahkan untuk Edward. Rama keluar sudah berganti setelan rumahan diikuti oleh Gita.
“Dok,” sapa Gita.
“Gita, sehat kamu? Si kembar mana?”
“Alhamdulillah sehat dok. Anak-anak sama ibu, ini mau aku lihat sekalian panggil bapak. Mau ketemu bapak ‘kan?”
Edward mengangguk, ia menghubungi Rama karena ingin bertemu dan janji menemui Pak Iwan -- ayah sambung Rama.
“Iya. Ada perlu,” sahut Edward lagi.
“Hati-hati, jangan meleng. Teriak aja kalau ada yang ganggu,” seru Rama dibalas Gita dengan menjulurkan lid4hnya. “Eh, nakal ya. Lihat aja nanti malam.”
“Lebay amat Ram. Jarak rumah ibu kamu Cuma jeda dua rumah kayak beda gang aja.”
“Namanya juga cinta dok.” Rama menyulut rokok, menghis4p dan menghembuskan asapnya. “Ada masalah apa, penasaran gue.”
“Saya lagi butuh orang, siapa tahu Pak Iwan bisa bantu.”
“Ya udah tunggu dia aja,” sahut Rama. “Eh iya, geng pria terkutuk apaan sih?”
“Grup chat.”
“Ah, b4ngke bener si Anji. Kirain apaan, ribut pengen gue gabung. Nggak gue tanggepin, takutnya komunitas yang aneh-aneh.”
“Bukan. Grup chat, isinya saya, Asoka, Anji sama Rendi. Udah ada waktu kita semua di IGD sampai sekarang.”
Rama mengangguk. Edward berharap Anji tidak serius mengajak Rama bergabung di grup itu, macam ada lawan si Anji. Iwan datang, Edward menjabat tangan dan menyapanya.
“Tumben malah nyari saya,” seru Iwan menatap Rama dan Edward bergantian. Rama duduk di tembok teras karena merokok, Iwan di sofa terpisah terjeda meja kecil dengan Edward.
“Saya perlu orang, mana tahu bapak ada rekomendasi.”
“Orang, untuk?”
Rama sampai ikut menoleh.
“Untuk lindungi Cahaya, calon istri saya. Mengawasi dan melindungi dari jauh,” tutur Edward dan Rama malah terkekeh.
“Udah naik level jadi calon istri. Kenapa nggak langsung jadi istri aja sih.”
“Ada proses yang harus ditempuh Ram, saya harus ajukan cuti dulu. Baru temui keluarga Cahaya.”
Iwan terdiam lalu mengangguk.
“Berapa orang?”
“Rekomendasi bapak, gimana? Yang penting sampai saya sah dan masalah dengan mantannya yang kurang aj4r itu selesai.”
Rama menjelaskan singkat apa yang terjadi dengan Cahaya.
“Ada, saya ada kenalan orang. Kamu tau beres aja. Nanti urusan biayanya dikabari. Orang ini bukan di bawah kendali saya ya, tapi kerjanya rapih.”
“iya pak, saya percaya.”
***
“Udah makan?” tanya Edward mengusap kepala Aya dijawab dengan anggukan. “Vitaminnya?”
“Nanti dulu ah, masih eneg. Baru diisi udah langsung vitamin terus obat.”
“Kalau nanti-nanti, malah lupa. Sana minum dulu, aku temani.” Edward duduk di kursi teras, Aya pun beranjak ke dalam. Untuk sementara Aya berhenti dari cafe, sesuai kesepakatan obrolan dengan kedua kakaknya juga Edward kemarin. Demi keselamatan Aya karena Adit dan Jarwo belum ada kabarnya lagi, mana tahu pria itu nekat.
Andin dan Mardani sudah setuju, hubungan Edward dan Aya, mereka akan sama-sama menemui Romo Wira. Pagi ini Edward mampir, rasanya tidak cukup melepas rindu hanya lewat telpon atau video call.
“Nih, aku minum depan om. Biar percaya.” Aya kembali ke depan dengan segelas air dan kotak obat miliknya. Mengambil dua butir vitamin jenis berbeda dan menel4nnya. “Udah ya.”
“Pinter.” Edward mengusap lagi kepala Aya. “Mbakmu mana?”
“Lagi ke pasar, belanja kayaknya.”
Meski ada rasa malu, tapi Edward abai. Pagi kemarin saat menunggu iparnya Aya, mereka malah terlena. Hampir saja bercium4n, malah kepergok oleh Andin. Wajar, hanya mengungkapkan perasaan sayang, batin Edward.
Melirik arloji, ia harus segera ke rumah sakit.
“Jangan keluar kalau nggak sama mbakmu.”
“Jenuh banget dong, masa ke minimarket aja nggak boleh,” rengek Aya lengkap dengan bibir yang cemberut.
“Masalah Adit kemarin ….”
“Aku bisa jaga diri om, yang kemarin jadi pelajaran.”
Edward menghela nafas lalu berdiri. “Nanti malam mau dikirimin apa?”
“Hm, boleh nggak Om Edward aja yang dikirim. Dari pada makanan.” Edward terkekeh lalu mencubit pipi Aya. “Kamu makin manja ya, tapi aku suka.”
Aya melambaikan tangannya saat mobil perlahan menjauh. Di dalamnya, Edward tersenyum. Ada perasaan bahagia membuncah. Hidupnya terasa semakin hidup, perasaan dan suasana hati yang sudah lama dingin itu kembali hangat karena kehadiran Aya, cahayanya. Hari ini ia akan mengurus cuti, untuk mengunjungi orang tua gadis ini.
hampir jam 11 saat tiba di parkiran, ponselnya bergetar sejak tadi. Sempat membukanya, paling atas adalah obrolan grup.
...Geng Pria Terkutuk...
Anji nggak pake ng menambahkan Rama P.
Anji nggak pake ng : Welcome, new member
Rama P. : Apaan lagi ini. Ingat kisanak, ucapan itu adalah doa. Lo mau pada terkutuk apa. Ganti dong, Geng Pria Tampan se SM
Rendi oye : Halah, raja sengklek masuk sini
Rama P. : Mana bat4ng semua, kagak ada ceweknya
Anji ngga pake ng : Justru itu, kita bebas membicarakan para wanita di sini. Gue penasaran, obrolan suhu pernikahan apa aja
Rama P. : Oka noh yang suhu. Di luar so cool, di rumah bucin minta ampun
Asoka Harsa : Kayak sendirinya nggak aja. Banyak ngoceh banyak gaya, sem4put kalau di depan Gita 🫣
Rendi oye : sama dong kaya si Anji, mendadak kicep kalau urusan sama Bela
Anji nggak pake ng : Kita semua bucin dengan wanita yang tepat, akuilah
Dokter vampir : Masih pagi udah rame aja
Rama P. : Pagi? 🤔, fix udah mabok cahaya
Asoka Harsa : 😁
Dokter Vampir : Oka, perlu bantuan lo. Acc pengajuan cuti gue ya
Asoka Harsa : Oke, nanti saya sampaikan ke dokter Damar
Rama P. : Gercep nih, suka gue
Anji nggak pake ng : Eh, kapan. Gue juga mau cuti dong, kan mau anterin elo
Dokter Vampir : Perasaan nggak enak 😔
lhah2 langsung ijab Sah Pak Dudeeee😂😂😂
tapi bagus juga harus sombong di depan orang sombong 🤭
duh dah kaya mau demo aja🤭