NovelToon NovelToon
Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.

Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.

Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.

Yang mengerikan bukan caranya membunuh.

Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.

Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Api Melawan Kekosongan

Semifinal dimulai saat matahari tepat di tengah langit.

Wei Mou Sha berdiri di area peserta, menunggu.

Giok dari Xue Han Ye tersimpan di dalam jubahnya. Segel di dadanya stabil pagi ini, lebih stabil dari beberapa hari terakhir.

Dari dalam arena, suara tribun sudah terdengar, bahkan lebih penuh dari hari-hari sebelumnya. Berita tentang pertandingan Wei Mou Sha melawan Xue Han Ye kemarin sudah beredar dalam berbagai versi yang semakin jauh dari apa yang sebenarnya terjadi, dan rasa ingin tahu yang tersisa mendorong lebih banyak orang untuk hadir hari ini.

Wei Mou Sha tidak peduli dengan semua itu.

Yang ia pikirkan adalah teknik resonansi suara yang di gunakan Feng Bai kemarin, gelombang yang membuat lantai bergetar pada frekuensi yang mengganggu konsentrasi lawan. Teknik yang tidak bisa dilawan dengan menghindar saja, karena efeknya tidak membutuhkan kontak fisik.

Ia sudah memikirkan ini sejak kemarin malam.

Ada satu cara.

"Semifinal pertama, peserta nomor dua belas melawan peserta nomor tujuh."

Wei Mou Sha masuk ke arena.

Feng Bai sudah ada di sisinya, berdiri dengan postur yang berbeda dari pertemuan mereka dua minggu lalu. Feng Bai tidak santai, ia sudah memutuskan bahwa lawan di hadapannya layak diperlakukan dengan sungguh-sungguh.

Wei Mou Sha menghargai itu.

Mereka saling menatap selama dua detik sebelum penjaga memberikan instruksi.

Feng Bai memberi hormat kecil, tangan kanan di dada kiri, cara yang sama saat mengakui Wei Mou Sha sebagai lawan sepadan setelah pertarungan mereka sebelumnya.

Wei Mou Sha mengangguk.

Lonceng berbunyi.

Feng Bai tidak langsung menggunakan teknik resonansi suaranya.

Ia memulai dengan teknik pedang biasa, rangkaian serangan yang sudah Wei Mou Sha amati sebelumnya, terstruktur dan presisi, teknik ini memaksa Wei Mou Sha untuk terus bergerak.

Wei Mou Sha bergerak seperti biasanya, menghindar dengan efisien, tidak mundur berlebihan, sesekali masuk ke jarak dekat untuk menekan titik qi dan memaksa Feng Bai mundur.

Dua menit pertama terasa seperti percakapan yang sudah diketahui isinya oleh kedua pihak.

Feng Bai juga tahu bahwa Wei Mou Sha sudah melihat teknik resonansinya kemarin. Menggunakannya sekarang tanpa persiapan yang cukup, tidak akan seefektif jika digunakan di momen yang tepat.

Keduanya sedang menunggu momen itu.

Momen itu datang di menit keempat.

Feng Bai menggeser jaraknya sedikit lebih jauh dari jangkauan teknik titik qi Wei Mou Sha ke zona di mana teknik jarak menengahnya lebih optimal. Kemudian, dengan cara yang sangat halus, ia mengubah pola napasnya.

Wei Mou Sha mendeteksi perubahan itu.

Feng Bai menghentakkan kakinya ke lantai arena, bukan serangan fisik, tapi qi yang merambat melalui batu ke seluruh lantai. Bersamaan dengan itu, tangannya membentuk gestur yang mengaplikasikan getaran itu menjadi gelombang suara yang tidak terdengar tapi terasa di tulang.

Lantai bergetar.

Frekuensinya tepat di titik yang mengganggu konsentrasi, bukan melukai, tapi seperti suara di dalam kepala yang memecah fokus menjadi fragmen-fragmen kecil selama setengah detik.

Setengah detik yang cukup untuk serangan fisiknya mendarat.

Tapi Wei Mou Sha tidak melawan gelombang itu, Ia malah menyambutnya.

Teknik yang ia pikirkan semalam, yang tidak punya nama dan belum pernah ia praktikkan, berakar dari satu prinsip sederhana yang ia pelajari dari mengamati cara segel di dadanya bekerja.

Segel Kekosongan Abadi tidak menolak qi yang masuk. Ia menerimanya, menyerapnya dan mengubahnya.

Wei Mou Sha melakukan hal yang sama dengan gelombang resonansi itu.

Bukannya mempertahankan konsentrasinya melawan gangguan, ia melepaskan konsentrasinya sepenuhnya, membiarkan gelombang itu masuk, melewati, dan pergi.

Setengah detik berlalu.

Fokusnya kembali utuh.

Serangan fisik Feng Bai yang sudah meluncur menuju titik buta Wei Mou Sha menemukan lawan yang masih ada di sana, masih melihat dan masih bergerak.

Wei Mou Sha miring ke kiri.

Serangan itu lewat.

Feng Bai berhenti sejenak.

Ekspresinya tidak berubah, Teknik andalannya tidak berhasil.

Ia mencoba lagi, kali ini dengan variasi, mengubah frekuensi getaran sebelum mengaplikasikan nya. Frekuensi yang berbeda, titik gangguan yang berbeda.

Wei Mou Sha melakukan hal yang sama.

Melepaskan. Menerima. Membiarkan lewat.

Gelombang kedua berlalu tanpa efek.

Di tribun, ada yang mulai mengerti sesuatu tanpa bisa menjelaskan apa.

Feng Bai menarik napas panjang.

Kemudian melakukan sesuatu yang tidak Wei Mou Sha antisipasi sepenuhnya, ia menggabungkan kedua pendekatannya sekaligus. Teknik resonansi suara dan teknik pedang nya, berjalan bersamaan dan saling mengisi, menciptakan kombinasi yang lebih kompleks dari masing-masing bagiannya.

Ini bukan teknik yang bisa dilawan dengan satu respons.

Wei Mou Sha mundur dua langkah, pertama kalinya ia mundur lebih dari setengah langkah dalam pertandingan ini.

Gelombang resonansi gabungan itu lebih kuat dari sebelumnya. Meski ia bisa meredam efek utamanya, sisa getarannya masih mengganggu persepsi qi-nya selama satu detik penuh.

Serangan tangan kanannya mendarat di bahu kiri Wei Mou Sha.

Wei Mou Sha masih berhasil membelokkan sebagian kekuatannya, tapi cukup untuk membuat bahu kirinya terasa seperti ditimpa batu besar sesaat.

Wei Mou Sha tidak berhenti bergerak.

Ia masuk ke jarak dekat sebelum Feng Bai sempat menarik tangannya kembali, jarak yang terlalu dekat untuk teknik jarak menengah, terlalu dekat untuk resonansi suara yang butuh ruang untuk merambat.

Di jarak ini, hanya satu dari mereka yang punya keuntungan.

Empat titik. Satu jalur meridian.

Bukan meridian terbalik seperti yang ia gunakan pada Lu Tian, kali ini jalur yang berbeda, yang ketika diputus membuat aliran qi ke seluruh tubuh menjadi tidak merata dan memaksa sistem tubuh untuk menyeimbangkan diri.

Feng Bai merasakan efeknya langsung.

Qi-nya masih ada tapi mengalir ke arah yang tidak ia perintahkan.

Serangan berikutnya tidak datang.

Feng Bai berdiri dengan napas yang lebih berat dari semestinya, tangan yang masih bisa bergerak tapi dengan kekuatan yang berkurang separuh.

Wei Mou Sha mundur ke jarak yang aman dan menunggu.

"Apakah masih bisa melanjutkan," kata Wei Mou Sha.

Feng Bai menatapnya dengan ekspresi yang aneh.

"Teknik itu, Aku tidak pernah merasa dilumpuhkan dari dalam sebelumnya."

"Kamu tidak dilumpuhkan. Qi-mu sedang menyeimbangkan diri."

"Apa bedanya?"

"Ya. Yang pertama permanen sampai dilepas. Yang kedua hilang sendiri dalam sepuluh menit."

Feng Bai diam sebentar. Kemudian mengangkat tangannya dengan gestur menyerah.

"Aku menyerah," katanya, "Tapi aku ingin kamu tahu, teknik resonansiku akan kumodifikasi. Kalau kita bertemu lagi, kamu tidak akan semudah itu mengalahkan ku."

Wei Mou Sha mengangguk.

"Aku mengharapkan itu."

Lonceng berbunyi dan pemenangnya adalah Wei Mou Sha.

***

Semifinal kedua dimulai satu jam kemudian.

Wei Mou Sha duduk di tribun, bahu kirinya masih berdenyut pelan, dan menonton Chen Liang Huo bertarung.

Lawannya adalah murid senior Pedang Langit Utara, seseorang dengan pengalaman lebih dari yang ditunjukkan reputasinya. Tekniknya matang dan tenang, berbeda dari murid-murid yang sudah Wei Mou Sha lihat sebelumnya.

Pertandingan berlangsung sembilan menit.

Chen Liang Huo menang, tapi tidak dengan mudah. Di menit keenam ia benar-benar tertekan, mundur ke tepi arena, dengan tiga luka goresan di lengan kiri yang sudah berdarah tipis.

Kemudian sesuatu berubah di matanya.

Wei Mou Sha menyaksikan perubahan itu dengan fokus yang lebih tajam dari saat menonton pertandingan mana pun sebelumnya.

Bukan marah. Bukan panik. Sesuatu yang lebih seperti...

Api yang sesungguhnya.

Tiga serangan berikutnya meninggalkan retakan di lantai arena yang tidak ada sebelumnya, dan lawannya mundur dari semua ketiganya sebelum akhirnya kehilangan keseimbangan dan keluar dari batas arena.

Lonceng berbunyi.

Chen Liang Huo berdiri di tengah arena, berdarah tipis di tiga tempat, napasnya lebih keras dari yang pernah Wei Mou Sha dengar darinya.

Lalu ia menoleh ke tribun. Langsung ke arah Wei Mou Sha, seperti sudah tahu sejak tadi di mana ia duduk.

Senyum tipis.

Besok, kata ekspresi itu tanpa kata-kata.

Wei Mou Sha tidak membalas senyum itu. Tapi ia mencatat, Chen Liang Huo dalam kondisi menyimpan sesuatu jauh lebih banyak dari yang pernah ia duga.

Besok akan berbeda.

Final dijadwalkan keesokan harinya.

Wei Mou Sha kembali ke penginapan sore itu, membersihkan memar di bahunya, lalu duduk di tepi ranjang.

Giok dari Xue Han Ye ia keluarkan dan letakkan di atas meja. Ia menatapnya dalam cahaya lampu minyak.

Pola di permukaannya tidak berubah, tidak bergerak seperti yang sempat ia lihat di bawah cahaya siang. Tapi segel di dadanya masih merespons keberadaannya, denyutan yang lebih dalam dari biasanya setiap kali ia menatapnya.

Ia memikirkan kata-kata Xue Han Ye.

Seseorang yang sudah menjaga dari jauh sebelum kamu lahir.

Siapa yang ketiga itu? Siapa yang punya kepentingan terhadap Wei Mou Sha yang berbeda dari Tao Xu Ying yang ingin menggunakannya sebagai instrumen, atau sekte-sekte yang ingin merekrutnya sebagai aset?

Seseorang yang 'menjaga'.

Kata itu terasa berbeda dari semua kata yang pernah digunakan orang lain dalam konteks dirinya.

Wei Mou Sha menyimpan giok itu kembali ke dalam bajunya dan berbaring.

Malam itu ia bermimpi lagi.

Langit yang terlalu dalam dan bintang-bintang yang terlalu dekat.

Tapi kali ini ada yang berbeda, ia tidak hanya melihat tangan-tangan tua itu dari jauh. Ia melihatnya dari sudut yang lebih dekat, dan ada sesuatu di pola gerakan tangan itu, cara menggenggam, cara melepaskan yang terasa seperti bahasa yang pernah ia gunakan sendiri sebelum lupa.

Dan di tepi mimpi itu, terdengar samar-samar suara.

Sebuah kalimat dalam bahasa yang tidak ia kenali, tetapi seharusnya ia kenali.

Ia terbangun sebelum kalimat itu selesai. Berbaring dalam gelap.

Besok, Chen Liang Huo.

Besok, api melawan kekosongan.

Dan di suatu tempat di dalam dirinya yang belum sepenuhnya bisa ia jangkau, sesuatu yang menunggu dan semakin dekat ke permukaan.

1
Romansah Langgu
Cerita tentang apa nhe??? Novel yg pelik pula nhe..
Budi Xiao
Luar Biasa
Green Boy
ditunggu up nya thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!