NovelToon NovelToon
Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Transmigrasi
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.

Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.

Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.

Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Shen Yu baru saja menghabiskan suapan terakhir dengan perasaan puas, saat suara teriakan lantang terdengar bergema di seluruh dek kapal.

"PERHATIAN SEMUA PENUMPANG! KITA AKAN BERHENTI SEBENTAR DI PELABUHAN PEMERIKSAAN! SILAKAN TENANG DI TEMPAT MASING-MASING, PETUGAS AKAN NAIK UNTUK MEMERIKSA!"

Shen Yu menghentikan gerakan tangannya, sendok di mulutnya terhenti.

"Hah? Pemeriksaan?"

Ia segera menoleh ke arah jendela kecil di kamarnya. Di luar langit sudah gelap gulita, bintang-bintang bertaburan indah namun suasana sungai terasa dingin. Jam pasti sudah menunjukkan sekitar pukul sepuluh malam.

"Gawat... pemeriksaan apa lagi?" batinnya langsung waspada.

Di zaman kuno, pemeriksaan di pelabuhan atau pos jaga biasanya sangat ketat. Mereka bisa mengecek barang bawaan, meminta surat jalan, atau bahkan mencari buronan.

Shen Yu buru-buru menghabiskan sisa makanannya dalam sekali teguk, lalu menyeka mulutnya dengan lengan bajunya.

"Oke, tenang... aku kan cuma pemuda desa biasa. Tidak punya surat jalan pun mungkin tidak masalah, asal jangan sampai mereka memeriksa keranjangku terlalu detail," gumamnya cepat.

Ia segera memasukkan mangkuk bekas makan dan sisa bumbu instan tadi kembali ke dalam Ruang Ajaib agar tidak ada jejak mencurigakan. Ia memastikan di dalam kamarnya kembali terlihat biasa saja—hanya ada keranjang bambu dan selimut lusuh.

Dari luar terdengar suara hiruk-pikuk. Kapal perlahan merapat ke dermaga kayu yang diterangi oleh ratusan obor dan lentera minyak.

Suara langkah kaki sepatu bot besi terdengar jelas, menandakan bahwa petugas yang datang adalah orang resmi yang bersenjata.

Shen Yu duduk tegak di pinggir ranjang, jantungnya mulai berdegup kencang lagi.

"Ini cuma formalitas... ini cuma formalitas..." bisiknya menyemangati diri sendiri. "Tapi kalau sampai ada yang curiga atau mau menggeledah badan?"

Shen Yu baru saja merapikan tempat duduknya, tapi tiba-tiba tubuhnya menegak kaku seperti patung.

Jantungnya seakan jatuh ke perut.

"Ya Tuhan... LUPA!" bisiknya panik setengah mati, wajahnya langsung pucat.

Di zaman ini, perjalanan jauh bukan hal yang mudah. Setiap orang yang bepergian wajib memiliki surat jalan atau setidaknya bukti identitas yang dikeluarkan oleh pejabat setempat.

Tanpa itu, seseorang bisa langsung dianggap sebagai orang jahat, buronan, atau warga gelap yang tidak terdaftar!

Dan Shen Yu... dia tidak punya apa-apa!

Sebagai Qin Yu yang hidup menyendiri di Desa Mati selama dua tahun, dia memang tidak pernah membutuhkan surat-surat itu. Kakek tua yang dulu merawatnya pun tidak pernah memikirkannya.

"Gawat! Ini masalah besar!" Shen Yu mulai berkeringat dingin. "Kalau mereka minta kartu identitas atau surat jalan, aku harus jawab apa?! 'Maaf tuan saya lupa bawa'? Pasti langsung ditangkap!"

Suara langkah kaki para petugas pemeriksa yang memakai sepatu bot besi terdengar semakin dekat—tok... tok... tok... bergema di lantai kayu kapal.

Mereka mulai memeriksa satu per satu penumpang di dek luar. Suara tanya jawab, suara membuka bungkusan barang, dan bentakan sesekali terdengar jelas sampai ke telinga Shen Yu.

"Periksa surat jalan! Tunjukkan identitas kalian masing-masing!"

"Kamu dari mana? Mau ke kota buat apa?"

Shen Yu memandang pintu kamarnya dengan mata terbelalak.

"Kalau mereka sampai masuk ke sini dan minta identitasku... habis sudah aku! Bisa-bisa aku diturunkan di sini dan dipenjara!"

Otaknya bekerja keras mencari jalan keluar. Dia tidak punya kertas, tidak punya stempel resmi, dan tidak kenal siapa pun di sini.

"Sial... sial... harus gimana?!" Shen Yu memegang kepalanya frustrasi. Situasi ini jauh lebih berbahaya daripada ketahuan punya minuman aneh.

"Kalau aku masuk ke Ruang Ajaib sekarang dan menghilang..." Shen Yu menggigit bibirnya panik, "...pasti mereka akan mengira aku penyihir atau iblis! Belum lagi Kapten Wang dan Dong Ma pasti curiga setengah mati kenapa pemuda biasa bisa menghilang begitu saja. Itu sama saja bunuh diri!"

Situasi ini benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.

Dari luar, suara langkah kaki dan teriakan petugas pemeriksa semakin dekat. Mereka sudah mulai naik ke area penumpang kelas atas.

Shen Yu mondar-mandir kecil di dalam kamar sempit itu, keringat dingin membasahi punggungnya. "Aku tidak punya surat jalan, tidak punya identitas, nama pun cuma nama samaran! Kalau ditanya pasti ketahuan bohong!"

Ia menatap lantai kayu, lalu menatap dinding tempat Ruang Ajaibnya tersimpan.

Masuk atau tidak masuk? Itu pertanyaannya.

Kalau masuk, selamat tapi rahasianya terbongkar besar-besaran. Kalau tidak masuk, dia bisa ditangkap dan dipenjara!

"Ya Tuhan... kenapa nasibku begini terus sih! Baru dapat enak dikit langsung dapat masalah!" gerutunya frustrasi.

Tepat saat ia sedang panik bukan main, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dengan cepat.

Tok tok tok!

"Shen Yu! Buka pintunya cepat! Petugas sudah sampai depan kamar!" suara Dong Ma terdengar dari luar.

Shen Yu tersentak kaget, jantungnya seakan mau copot.

"Ini... ini akhirnya!" bisiknya pelan dengan wajah pucat pasi. Ia tidak punya waktu lagi untuk berpikir. Mau tidak mau, ia harus menghadapi mereka sekarang juga dengan akal bulusnya!

Shen Yu menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga terasa perih. Rasa sakit itu justru membantunya menenangkan diri sejenak.

"Sudahlah! Nasib badan saja! Hadapi saja!"batinnya berteriak tegas.

Ia tidak bisa lari, tidak bisa bersembunyi. Mau tidak mau ia harus keluar dan menghadapi badai ini. Dan yang paling penting, ia sudah memutuskan sejak lama—ia tidak mau lagi menggunakan nama keluarga Qin.

Ia ingin memulai hidup baru, jauh dari bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. Biarlah mereka mencarinya dengan nama Qin Yu, tapi dia sekarang adalah Shen Yu!

Dengan napas tertahan, Shen Yu menarik kunci pintu dan membukanya lebar-lebar.

"Masuklah," ucapnya pelan dengan wajah datar, berusaha menyembunyikan kepanikan di dalam hatinya.

Begitu pintu terbuka, dua orang petugas pemeriksa yang mengenakan seragam resmi dan memegang lentera masuk dengan langkah cepat. Mereka memeriksa sekeliling ruangan dengan tatapan tajam.

"Siapa namamu? Dari mana asalnya? Mau ke Ibu Kota buat apa?" tanya salah satu petugas itu tanpa basa-basi, sambil matanya menyapu isi kamar yang kosong melompong.

Shen Yu berdiri tegak di samping ranjang, tangannya mencengkeram ujung bajunya.

"Nama saya... Shen Yu," jawabnya pelan namun tegas, tanpa ragu sedikit pun. "Saya dari daerah hulu, tinggal sendirian. Mau ke Ibu Kota... mencari kehidupan yang lebih baik."

Petugas itu mengerutkan kening. "Shen Yu? Sendirian?"

Ia lalu menatap Shen Yu dengan tatapan menelisik. "Surat jalan dan identitasmu mana? Tunjukkan!"

Ini dia... momen paling kritis!

Jantung Shen Yu berdegup kencang sampai terdengar di telinganya sendiri. Ia sudah siap menyiapkan alasan paling menyedihkan yang bisa ia karang saat itu juga.

Suasana di dalam kamar kecil itu benar-benar tegang. Petugas sudah siap menagih surat jalan, dan Shen Yu sudah siap menelan ludah sambil memikirkan alasan apa yang harus dikatakan.

Tiba-tiba, pintu kembali didorong masuk. Kapten Wang datang dengan langkah cepat. Ia melihat situasi yang kaku itu, dan dengan sigap ia langsung tahu apa yang terjadi.

Tanpa ragu, Kapten Wang langsung melangkah maju dan meletakkan tangannya di bahu Shen Yu, lalu menyunggingkan senyum lebar kepada para petugas.

"Wah, Tuan Petugas! Maafkan kami yang merepotkan," sapa Kapten Wang dengan nada sangat ramah dan akrab.

Ia lalu menunjuk Shen Yu. "Anak ini bernama Shen Yu. Sebenarnya... dia adalah kerabat jauh saya dari desa."

Petugas itu mengerutkan kening. "Kerabat? Tapi kenapa dia sendirian dan berpakaian seperti ini?"

"Begini Pak," Kapten Wang mulai mengarang cerita dengan lancar, suaranya penuh penyesalan. "Anak ini memang agak kurang beruntung. Sejak kecil dia agak lambat berpikir, agak polos dan kurang pandai bicara. Karena itulah orang tuanya dulu agak lalai, tidak pernah mendaftarkan dia atau membuatkan surat identitas. Mereka pikir anak seperti ini tidak akan pernah pergi jauh."

Kapten Wang menghela napas panjang, lalu menepuk punggung Shen Yu pelan.

"Karena saya kebetulan lewat dan tahu hal ini, saya merasa kasihan. Saya berniat membawanya ke Ibu Kota. Nanti di sana saya akan uruskan semuanya, buatkan dia kependudukan dan surat identitas yang resmi agar dia bisa hidup layak seperti orang lain."

Mendengar penjelasan itu, tatapan para petugas langsung berubah. Mereka melihat Shen Yu yang memang terlihat pendiam, tatapannya polos, dan penampilannya sederhana. Cerita Kapten Wang sangat masuk akal!

"Oh... jadi begitu," salah satu petugas mengangguk paham, lalu tersenyum simpul."Pantas saja tidak bawa surat..."

"......" Mudah sekali ditipu.

"Iya, makanya saya bawa," jawab Kapten Wang tertawa kecil. "Jadi tidak perlu dipermasalahkan, Tuan-Tuan. Nanti kalau sudah sampai kota, saya yang akan urus semuanya sesuai aturan."

"Tentu, Kapten Wang. Kalau sudah ada yang menjamin dan bertanggung jawab, kami tidak masalah," jawab petugas itu santai.

Shen Yu yang berdiri di samping hampir tidak percaya. 'Gila! Kapten Wang ini penyelamat sejati!

Ia buru-buru menundukkan kepala, berterima kasih dalam hati. 'Terima kasih Kapten! Kalau bukan karena Anda, mungkin aku sudah dipenjara sekarang!'

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!