Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
Krek, krek...
Jendela kamar berderit diterpa angin kencang yang berhembus di luar sana, langit tampak kelam, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
Hembusan angin yang masuk ke kamar membuat Bella terbangun karena kedinginan, dia menguap dan lekas menutup mulut sambil membuka mata perlahan, lalu mengerling menatap benda bulat yang tersangkut di dinding.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, mata Bella membulat, sedetik kemudian dia cepat-cepat turun dari kasur dan berlari kecil ke arah jendela yang setengah terbuka lalu menutupnya rapat-rapat.
"Bisa-bisanya aku tertidur," keluh Bella sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian memasuki kamar mandi.
Setelah membuang apa yang seharusnya dia buang, Bella kembali ke ranjang, tenggorokannya terasa kering, dia menoleh ke arah nakas tapi gelas yang ada di atasnya sudah kosong, mau tidak mau Bella terpaksa keluar mengambil air.
Sesampainya di dapur, rintik hujan mulai turun, suara petir menggelegar seiring kilat yang menyambar. Bella terperanjat dan cepat-cepat menuang air dari teko lalu bergegas meninggalkan dapur.
Di kamar, Bella menenggak air putih yang tadi dia ambil hingga tandas, tangannya gemetaran, rasa takut tiba-tiba datang menghantui.
Setelah menaruh gelas kosong di atas nakas, dia kembali berbaring.
Belum sempat Bella memejamkan mata, lampu tiba-tiba padam, kamar yang ditempatinya mendadak gelap gulita.
Deg...
Jantung Bella bergemuruh kencang seiring suara gledek yang tak henti menggelegar, dadanya seketika sesak, tangan gemetaran, keringat dingin bercucuran di pelipis dahinya.
"Ah..." Bella menjerit sambil meringkuk dan menutup telinga, dadanya kembang kempis mengambil nafas. Ya, Bella phobia gelap, dia bisa pingsan jika berada di tempat kelam terlalu lama.
Sebenarnya phobia yang diderita Bella bukan bawaan dari lahir, tapi terjadi disaat usianya baru menginjak tujuh tahun. Saat itu dia harus menerima hukuman karena dianggap terlalu nakal, dia dikurung di dalam gudang semalam suntuk tanpa penerangan sedikitpun.
Dengan tubuh yang masih meringkuk, air mata Bella mengalir membasahi pipi, ingatannya melayang entah kemana. "Mas Fahri, aku takut..." racau Bella. dengan suara yang sudah parau.
Semasa tinggal di kediaman Ahmad, Bella pernah mengalami kejadian seperti ini beberapa kali, akan tetapi saat itu dia tidak takut karena ada Fahri yang selalu menenangkannya.
Sejak Fahri mengetahui phobia Bella, setiap akan turun hujan dia selalu bergegas pulang ke rumah, menjaga Bella dan menemaninya sampai benar-benar tertidur pulas.
Di tempat lain, Fahri termangu di depan jendela kantor yang terbuat dari kaca, rintik-rintik hujan yang turun membuat pandangannya berkabut.
Hujan lebat, petir, kilat dan mati lampu datang secara bersamaan. Fahri yang tidak memiliki phobia saja merasakan sesak dan sulit bernafas, lalu bagaimana dengan Bella. Pikiran Fahri tidak karuan, dia merasa cemas, resah dan gelisah.
"Bella, apa kamu ketakutan?" batin Fahri sembari menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar. Tidak tau kenapa perasaannya tidak enak, akhir-akhir ini dia selalu memikirkan bagaimana keadaan Bella.
...****************...
Keesokan harinya...
Di meja nomor 18 goo cafe terlihat Bella sedang duduk sambil menggenggam gelas di tangan, kepalanya celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan seperti menunggu kedatangan seseorang.
"Pak, bukankah itu Bu Bella?" mata Reza benar-benar tajam, dari jarak yang cukup jauh dia dengan gampang mengenali seseorang, Fahri yang sempat melirik ke arah sana saja tidak ngeh kalau wanita yang membelakanginya itu adalah mantan istrinya.
Setelah mematut dengan teliti, Fahri mengangguk pelan, membenarkan kalau wanita berambut panjang itu memang benar Bella mantan istrinya.
"Ayo, kita samperin!" ajak Reza dengan penuh semangat dan melenggang santai ke arah Bella, Fahri pun mengikuti dari belakang.
Baru beberapa langkah berjalan, kaki keduanya tiba-tiba terpaku di tempat, seorang pria dengan tubuh cukup tinggi dan tegap mendekati Bella dan duduk berhadap-hadapan.
"Bella???" tanya pria itu sambil mengulurkan tangan.
"Ya," angguk Bella lalu menjabat tangan pria itu.
"Angga,,," pria itupun memperkenalkan diri sambil tersenyum.
"A-ada apa ini?" batin Reza terbata-bata dengan kening mengernyit, dia menggaruk kepala yang seolah-olah mendadak gatal dan menatap Fahri dengan tatapan melas.
Reza kelimpungan sendiri melihat Fahri yang masih berdiri mematut punggung Bella, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis, sorot matanya yang tajam membuat Reza meneguk ludah dengan kasar, aura membunuhnya sangat kentara.
"Pa-Pak, ki-kita pergi saja yuk!" gagap Reza sembari berbalik badan, dia meraih tangan Fahri, berniat menariknya.
Fahri mengibaskan tangannya, Reza pun tersentak dan mengusap wajah dengan kasar. Jangan-jangan akan terjadi perang ketiga karena bau-bau kecemburuan mulai tercium.
Tanpa mengatakan apa-apa, Fahri melanjutkan langkah dan duduk di meja nomor 19, jarak antara dia dan Bella sangat dekat, hanya saja saling memunggungi satu sama lain. Reza pun ikut duduk dengan raut gelisah, sejak kapan Fahri jadi penguntit begini?
Selama 15 menit duduk di sana, baik Reza maupun Fahri tidak seorangpun yang bersuara, mereka hanya fokus mendengar pembicaraan yang terjadi antara Bella dan Angga.
Sesekali rahang Fahri mengeras seiring tangan yang mengepal kuat, membuat buku-buku jarinya memutih. Baru kemarin keputusan sidang keluar akan tetapi Bella sudah tidak sabar mencari pengganti.
Tidak tahan mendengar percakapan keduanya, Fahri lantas bangkit dari kursi dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu, darahnya mendidih. Reza pun menyusul terburu-buru.
Di dalam mobil, Fahri mengendurkan dasi dan membuka beberapa baris kancing kemejanya dengan kasar, tubuhnya mendadak panas.
"Nah, kan." celetuk Reza sesaat setelah duduk di bangku kemudi.
"Apa?" sergah Fahri dengan nada meninggi, matanya membulat sempurna, membuat Reza terbahak-bahak dengan sendirinya, ekspresi kesal Fahri justru terlihat lucu di mata Reza.
Lalu Reza memiringkan tubuhnya dan menoleh ke belakang, mematut Fahri yang duduk di bangku penumpang dengan intens..
Kali ini raut muka Reza benar-benar serius, mencoba memberikan sedikit nasehat pada Fahri. Tidak ada kata terlambat jika Fahri sungguh-sungguh ingin memperbaiki hubungan mereka, lagian baru talak satu, masih ada kesempatan untuk rujuk.
Di dalam cafe, Bella memohon maaf pada Angga. Bukan tidak mau menjalin hubungan baru, tapi untuk saat ini dia benar-benar hanya ingin sendiri. Lagipula Bella tidak berniat menikah lagi, baginya cukup satu kali, setelahnya dia hanya ingin melanjutkan hidup.
Dia juga menjelaskan pada Angga bahwa kedatangannya ke cafe itu hanya untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya, tidak lebih.
Dalam hati, bukan hanya menyenangkan hati orang tua tapi juga untuk menghindari hukuman, tubuhnya sudah lelah menerima kekerasan setiap hari.
Dalam satu minggu terakhir ini, Bella sudah tiga kali dipaksa pergi kencan buta, rasanya Bella ingin kabur saja sejauh mungkin dan tak akan pernah kembali andai Hana tidak mengancamnya.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡