NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Overthingking.

Pagi itu Hana bangun dengan kepala yang terasa lebih berat dari biasanya. Ia tidak benar-benar kurang tidur, tetapi pikirannya tidak berhenti memutar ulang suara Tante Vera. Setiap kali ia menatap cermin, kalimat itu muncul lagi.

Perempuan itu harus jaga penampilan.

Nanti susah cari jodoh kalau mukanya begini terus.

Ia mencoba bersikap biasa saat sarapan. Kakaknya sudah lebih dulu duduk di meja makan seperti biasa, terlihat segar dan rapi. Tidak ada tanda-tanda sisa percakapan semalam. Seolah semuanya memang tidak sebesar yang dirasakan Hana.

“Kamu kelihatan lemes,” komentar kakaknya santai.

“Kurang tidur lagi?”

“Enggak,” jawab Hana pendek.

“Jangan kepikiran omongan Tante Vera lagi, ya,” lanjutnya sambil mengaduk teh. “Nanti malah kamu sendiri yang bikin wajahmu makin stres.”

Hana tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil dan segera menghabiskan sarapannya.

Perjalanan ke sekolah terasa lebih panjang dari biasanya. Ia menatap keluar jendela, membiarkan angin pagi menyentuh wajahnya, berharap pikirannya ikut terasa ringan. Namun, semakin ia mencoba mengabaikan, semakin jelas bayangan cermin semalam terlintas di kepala.

Begitu sampai di kelas, suasana sudah cukup ramai. Hana melangkah masuk dan berhenti sesaat di dekat pintu.

Nisa sedang duduk di bangku depan, tepat di depan meja Hana, mengobrol santai dengan Eliza. Keduanya tampak akrab, tertawa kecil sambil membicarakan sesuatu. Rambut pirang Eliza terlihat rapi seperti biasa, dan Nisa tampak nyaman di dekatnya.

Hana merasakan sesuatu yang tidak ia duga, rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul tanpa alasan jelas. Ia tahu Nisa bebas berteman dengan siapa pun. Ia tahu itu hal yang wajar. Tapi entah kenapa, melihat mereka tertawa bersama membuat dadanya terasa sedikit sesak.

Lihat, mereka cocok.

Cantik, percaya diri, enak dipandang.

Kalau berdiri di samping mereka, aku kelihatan seperti apa ya?

Ia berjalan ke mejanya dan duduk tanpa berniat menyela percakapan mereka.

“Eh, Hana!” sapa Nisa ceria. “Pagi!”

“Pagi,” jawab Hana, berusaha tersenyum.

“Eliza lagi cerita soal ide packaging kemarin. Katanya dia kepikiran warna earth tone biar sesuai tema lingkungan." Ujar Nisa dengan riang

Hana seketika menoleh ke arah Eliza.

“Iya,” kata Eliza ramah. “Kalau konsepnya lilin aromaterapi, kita bisa pakai warna-warna cokelat, hijau sage, atau krem. Biar kelihatan natural gitu."

“Oh,” ujar Hana pelan. “Bagus sih.”

Ia ingin menambahkan sesuatu, tapi pikirannya kosong. Semalam ia sempat berpikir tentang desain kecil yang ia buat di buku sketsa.

Namun, sekarang, melihat Eliza yang sudah punya gambaran jelas dan berbicara dengan lancar, Hana merasa idenya mungkin terdengar kekanak-kanakan.

Gio datang beberapa menit kemudian dengan langkah santai. “Wah, sudah kumpul semua. Rajin banget kalian ya.”

Ia menjatuhkan tasnya ke kursi dan ikut duduk. “Eh, Hana. Kamu jadi bikin sketsa?”

Hana terdiam sepersekian detik sebelum menjawab. “Belum selesai.”

“Serius?” Gio menyandarkan punggungnya. “Padahal waktu SMP kamu paling cepat kalau soal gambar.”

Kata SMP itu seperti batu kecil yang dilempar ke air yang sudah tenang.

Hana menunduk sebentar. “Itu dulu.”

Gio mengangkat alis sedikit. “Sekarang juga pasti bisa. Kamu kan detail orangnya.”

Eliza yang sejak tadi membuka laptop ikut menoleh. “Hana memang bagus gambarnya?” tanyanya ringan.

Gio tertawa kecil. “Banget. Dulu tiap ada tugas poster, yang lain cuma nempel tulisan. Dia yang bikin kelihatan niat.”

Nada suaranya terdengar tulus. Tidak bercanda. Tidak menyindir. Hana tidak tahu harus merasa bangga atau justru canggung.

“Itu karena aku nggak kebagian nulis,” balasnya pelan.

Gio tersenyum. “Alasan.”

Arga masuk terakhir. Ia berjalan ke tempat duduknya tanpa banyak bicara. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin pagi. Ia menatap sekilas ke arah kelompoknya sebelum duduk.

“Udah ada perkembangan?” tanyanya singkat.

Eliza menjelaskan ulang idenya. Nisa ikut menimpali dengan antusias, meski sebenarnya bukan bagian dari kelompok itu.

Hana mendengarkan dalam diam. Semakin lama, ia merasa seperti orang luar dalam lingkarannya sendiri. Suara di kepalanya mulai bekerja lagi. Mereka kelihatan lebih cocok satu sama lain.

"Kamu cuma kebetulan masuk kelompok itu. Kalau bukan kamu, mungkin lebih bagus." Pikiran-pikiran tersebut menyelinap dalam pikiran Hana, tanpa bisa ia kontrol.

“Hana?”

Ia tersentak.

Arga menatapnya. “Kenapa kamu diam saja.”

Semua mata kembali mengarah padanya.

“Aku cuma dengerin,” jawabnya cepat.

“Menurut kamu gimana?” tanya Eliza.

Hana menelan ludah. “Bagus kok idenya.”

“Itu aja?” tanya Arga, bukan dengan nada mengejek, tapi datar seperti biasa.

Hana merasa panas di wajahnya. “Aku… nanti aku tunjukin sketsa aku saja.”

“Ya sudah,” kata Eliza ringan. “Nanti kita gabungin idenya.”

Percakapan kembali berjalan.

Namun, di dalam diri Hana, sesuatu terus bergeser. Ia tahu perasaannya mungkin berlebihan. Tidak ada yang mengusirnya. Tidak ada yang mengejek. Tidak ada yang membandingkan.

Tapi setelah semalam, ia jadi lebih peka. Lebih mudah merasa tidak cukup.

Saat bel istirahat berbunyi, Nisa berdiri. “Ke kantin, yuk?”

Eliza ikut berdiri. “Boleh.”

Nisa menoleh ke Hana. “Kamu ikut, kan?”

Hana ragu sepersekian detik. “Kalian duluan saja. Aku mau ke toilet.”

“Oke, nanti nyusul ya,” jawab Nisa tanpa curiga.

Hana berjalan ke arah kamar mandi, bukan karena benar-benar perlu, tapi karena ia butuh ruang untuk bernapas.

Di depan cermin toilet sekolah, ia kembali menatap wajahnya. Lampu putih di atas membuat bekas jerawat terlihat lebih jelas.

Ia mendesah pelan.

“Ah, kenapa sih aku jadi begini,” gumamnya.

Semalam ia sudah berjanji tidak akan terlalu keras pada diri sendiri. Tapi pagi ini, hanya dengan melihat Nisa dan Eliza tertawa bersama, ia sudah merasa tertinggal.

Ia menyandarkan tangan di wastafel. Mungkin masalahnya bukan mereka. Mungkin masalahnya memang ada di dalam dirinya.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dari toilet dan berjalan kembali ke kelas. Di lorong, tanpa sengaja ia hampir bertabrakan dengan seseorang.

Arga.

Ia berhenti tepat di depannya.

“Kamu nggak ke kantin?” tanya Hana pelan.

“Enggak.”

Jawaban singkat seperti biasa.

Ia hendak lewat, tapi Arga berbicara lagi.

“Kamu kenapa?”

Hana terdiam sesaat, bingung mau menjawab seperti apa.

“Nggak kenapa-kenapa.” Ujar Hana pelan, pada akhirnya hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.

Arga menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tatapannya tidak dingin, tapi juga tidak lembut. Sulit dibaca.

“Kamu kelihatan beda dari kemarin,” katanya akhirnya.

Hana memaksakan senyum kecil. “Cuma kurang tidur.”

Arga tidak langsung menjawab. Lalu, dengan nada yang tetap datar, ia berkata, “Kalau cuma karena orang lain kelihatan lebih cocok, itu bukan berarti kamu nggak cocok.”

Hana membeku.

Ia tidak tahu bagaimana Arga bisa menebak isi kepalanya, atau apakah itu hanya kebetulan.

“Aku nggak bilang apa-apa,” gumam Hana.

“Memang nggak,” balasnya singkat, lalu berjalan melewatinya.

Hana berdiri beberapa detik di lorong yang mulai sepi. Perasaannya memang belum membaik sepenuhnya.

Kata-kata Tante Vera masih ada. Rasa tidak cukup itu masih mengganggu. Tapi kalimat Arga tadi, entah kenapa, sedikit menggeser beban di dadanya.

Mungkin ia memang terlalu cepat menyimpulkan. Mungkin ia terlalu takut ditinggalkan sampai lupa bahwa sekarang belum ada yang benar-benar meninggalkannya.

Hana menarik napas dalam dan melangkah kembali ke kelas.

Hari ini masih panjang, dan ia belum ingin kalah hanya karena pikirannya sendiri.

1
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!