NovelToon NovelToon
Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abu di atas pusara

Asap hitam membubung tinggi ke langit subuh yang semula mulai memerah. Bau kayu terbakar dan aroma kimia dari obat-obatan lama yang terpanggang menyengat penciuman siapa pun yang mendekati area klinik lama di sudut barat Pesantren Al-Husayn. Para santri berlarian membawa ember air, berteriak dalam kepanikan, sementara Ghibran berdiri mematung di halaman ndalem, matanya terpaku pada pemantik perak yang digenggam oleh ayahnya, Habib Fauzan.

Aira meremas lengan baju Ghibran. Ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang berpacu liar di balik jas yang dikenakannya. Keheningan di antara mereka bertiga—Ghibran, Aira, dan Baba—terasa lebih mematikan daripada ledakan apa pun.

"Kenapa, Bah?" suara Ghibran pecah, serak karena emosi yang tertahan di tenggorokan. "Kenapa klinik itu harus terbakar sekarang? Di saat Aira baru saja menemukan jejak ibunya?"

Habib Fauzan tidak menoleh. Ia tetap menatap kobaran api di kejauhan dengan wajah setenang telaga. "Ada hal-hal yang lebih baik menjadi abu, Ghibran. Kenangan yang menyakitkan, rahasia yang membusuk, dan bukti-bukti yang hanya akan meruntuhkan tembok pesantren ini. Jika klinik itu tetap berdiri, orang-orang akan terus menggali. Dan jika mereka menggali terlalu dalam, mereka akan menemukan bahwa fondasi Al-Husayn dibangun di atas air mata wanita bernama Sarah."

Aira melepaskan pegangannya pada Ghibran. Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Habib Fauzan. Air matanya sudah kering, digantikan oleh keberanian yang lahir dari rasa sakit yang teramat sangat. "Baba menghancurkan satu-satunya tempat di mana ibuku pernah bernapas? Baba membakar catatan kelahiranku hanya untuk melindungi nama besar Paman Mansyur?"

"Aku melindungimu juga, Aira!" bentak Habib Fauzan, akhirnya menoleh dengan mata yang berkilat tajam. "Jika dunia tahu kamu adalah anak hasil hubungan gelap seorang Habib, kamu tidak akan pernah bisa mengangkat kepalamu di depan santri-santri ini. Kamu akan selamanya dianggap sebagai noda. Aku memberimu nama Al-Husayn melalui pernikahanmu dengan Ghibran agar kamu memiliki perisai!"

"Perisai yang dibangun di atas darah Azlan?" sela Ghibran, suaranya kini meninggi. "Azlan meninggal karena dia tidak mau menjadi bagian dari konspirasi ini, Bah! Dia ingin Aira tahu siapa dirinya! Baba membiarkan Aminah dan Abrisam bermain-main dengan nyawa Azlan hanya karena Baba takut skandal ini terbongkar?"

Habib Fauzan terdiam. Ia mematikan pemantik peraknya dengan bunyi klik yang dingin. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan masuk ke dalam ruang kerjanya, mengunci pintu dari dalam.

Pencarian di Balik Puing

Tanpa membuang waktu, Ghibran menarik tangan Aira menuju area kebakaran. Azka sudah ada di sana, mengatur para pekerja untuk memadamkan sisa-sisa api. Klinik lama itu kini hanya menyisakan kerangka kayu yang menghitam.

"Bos, terlambat," ujar Azka sambil menyeka keringat dan jelaga di dahinya. "Gudang arsip pusatnya habis. Seseorang menyiramkan bensin tepat di rak catatan persalinan tahun 2001. Ini bukan kecelakaan, ini eksekusi bukti."

Aira terduduk di tanah yang basah oleh air pemadam. Ia menatap puing-puing itu dengan pandangan kosong. Namun, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di bawah sebuah pohon kamboja besar yang letaknya beberapa meter di belakang klinik—area yang tidak tersentuh api.

Ada sebuah gundukan tanah yang hampir rata, tertutup oleh semak belukar yang rimbun. Tidak ada nisan, hanya sebuah batu sungai besar yang diletakkan di bagian kepala.

"Kak Ghibran..." bisik Aira.

Ghibran mendekat, ia berlutut di samping Aira dan mulai menyibak semak-semak itu dengan tangannya. Di balik dedaunan, ia menemukan sebuah botol kaca kecil yang terkubur setengah bagian. Di dalamnya ada secarik kertas yang sudah menguning namun terlindung dari air.

Dengan tangan gemetar, Aira membuka botol itu. Ia membaca tulisan tangan yang sangat rapi, tulisan tangan seorang perawat.

"Untuk putriku yang mereka namakan Salsabila. Maafkan Ibu yang tidak bisa memelukmu. Mereka bilang aku harus pergi agar ayahmu bisa bersinar. Tapi ingatlah, namamu diambil dari mata air di surga. Kamu adalah kesucian di tengah dunia yang penuh noda ini. Jika suatu hari kamu menemukan tempat ini, ketahuilah bahwa di bawah pohon ini, aku menguburkan kalung pemberian nenekmu. Itulah identitasmu yang sebenarnya."

Aira mulai menggali tanah dengan tangannya sendiri, tidak peduli dengan kuku-kukunya yang kotor. Ghibran membantunya dengan pisau saku. Setelah menggali sedalam tiga puluh sentimeter, mereka menemukan sebuah kotak logam kecil.

Di dalamnya terdapat sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk bunga melati. Di balik liontin itu terukir sebuah nama: Sarah binti Abdullah.

"Sarah bukan wanita biasa, Kak," ujar Aira sambil memegang kalung itu. "Nama Abdullah... itu adalah nama keluarga dari pemilik tanah wakaf asli tempat pesantren ini berdiri. Ibuku bukan orang asing, dia adalah pemilik sah lahan ini sebelum keluarga Al-Husayn mengambil alihnya lewat pernikahan paksa atau tipu daya!"

Konfrontasi di Tengah Malam

Malam itu, Ghibran tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon kamar, menatap kalung milik ibu mertuanya—yang ternyata adalah pemilik sah tanah Al-Husayn. Jika informasi ini benar, maka posisi Habib Fauzan dan Habib Mansyur sebagai pemimpin pesantren berada dalam ancaman hukum yang besar. Mereka bukan hanya menyembunyikan skandal, tapi mereka telah melakukan perampasan aset secara sistematis selama puluhan tahun.

Aira keluar dari kamar mandi, mengenakan piyama satin putihnya. Ia menghampiri Ghibran dan duduk di pangkuannya, melingkarkan lengannya di leher suaminya. Keheningan malam itu membuat mereka merasa seperti hanya berdua di dunia ini.

"Apa yang akan kita lakukan, Kak?" tanya Aira lembut. "Jika kita membongkar ini, pesantren akan ditutup. Ribuan santri tidak akan punya tempat belajar. Tapi jika kita diam, kita mengkhianati Ibu Sarah."

Ghibran mengecup kening Aira. "Kita tidak akan menghancurkan pesantrennya, Aira. Kita akan membersihkan kepengurusannya. Baba dan Paman Mansyur harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Aku akan meminta Azka menyiapkan dokumen pengalihan hak asuh dan hak milik lahan ini kembali atas namamu."

"Tapi itu artinya Kakak harus melawan ayah kandung Kakak sendiri," ujar Aira cemas.

"Ayahku adalah pria yang mengajarkanku tentang kejujuran dan hukum Tuhan," balas Ghibran dengan suara dalam. "Pria yang ada di ruang kerja itu... dia bukan ayahku. Dia adalah orang asing yang terobsesi pada kekuasaan."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor. Seseorang mengetuk pintu kamar mereka dengan terburu-buru.

Tok! Tok! Tok!

"Pak Ghibran! Mbak Aira! Cepat keluar!" itu suara Zivanna. Suaranya terdengar sangat ketakutan.

Ghibran segera membuka pintu. Zivanna berdiri di sana dengan wajah pucat pasi, menunjuk ke arah kamar Habib Fauzan di ujung koridor.

"Ada apa, Zivanna?"

"Habib Fauzan... beliau tidak mau keluar. Dan aku mencium aroma gas dari dalam kamarnya. Beliau mengunci semua ventilasi!"

Ghibran berlari sekencang mungkin. Ia mendobrak pintu kamar ayahnya dengan bahunya yang terluka, mengabaikan rasa sakit yang luar biasa. Saat pintu terbuka, bau gas menyengat memenuhi ruangan. Habib Fauzan duduk di kursi kebesarannya, memegang foto Syarifah Fatimah dan sebuah surat yang sudah terbuka.

Di atas meja, ada sebuah pemantik api yang terbuka.

"Jangan mendekat, Ghibran," ujar Habib Fauzan, suaranya terdengar sangat tenang namun hampa. "Aku sudah menyelesaikan semuanya. Aku tidak akan membiarkanmu membawa kehormatan keluarga ini ke pengadilan. Kita akan selesai di sini, dalam kemuliaan api."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
Thor apa2an Ini
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂
Isti Mariella Ahmad: hihi🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!