Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 [Yang Tak bisa Dilawan]
Langit di atas Kerajaan Mushaf… runtuh tanpa suara.
Bukan karena badai.
Bukan karena sihir.
Namun karena sesuatu yang lebih asing dari itu semua
sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini.
Di depan gerbang besar Mushaf, dua sosok berdiri berhadapan.
Satu adalah benteng hidup dari dunia manusia.
Satu lagi… kehampaan yang berjalan.
Galdros Varnheim
dan
Acedia.
Angin berhenti.
Debu melayang di udara… tidak jatuh.
Semua menahan napas.
Galdros melangkah maju.
Tanah bergetar mengikuti langkahnya.
Setiap pijakan terasa berat… stabil… tak tergoyahkan.
Matanya tajam.
Tidak ragu.
Tidak goyah.
“…kau bukan dari dunia ini.”
Suaranya dalam.
Seperti batu yang bicara.
Acedia menatapnya.
Diam.
Lama.
Seolah baru menyadari keberadaan makhluk di depannya.
“…oh.”
Satu kata.
Datar.
Galdros tidak menunggu.
Ia mengangkat tangannya.
Dan dalam satu gerakan
BOOM.
Tanah meledak.
Pilar-pilar batu raksasa muncul dari bawah, menghantam ke arah Acedia dari segala arah.
Langit tertutup debu.
Suara benturan menggema.
Tidak berhenti di situ
Galdros menghentakkan kakinya.
Tanah retak lebih luas.
Lapisan demi lapisan batu naik, menekan dari atas, bawah, dan samping.
Serangan tanpa celah.
Tanpa ampun.
Tentara di belakangnya terdiam.
Beberapa menatap dengan kagum.
Beberapa… dengan harapan.
“Inilah… Grandmaster.”
Namun
Di dalam debu yang belum sempat turun…
Sesuatu tidak berubah.
Langkah.
Pelan.
Acedia berjalan keluar dari kepungan itu.
Tanpa luka.
Tanpa debu menempel.
Tanpa satu goresan pun.
“…lambat.”
Galdros menyipitkan mata.
Tidak mungkin.
Ia tidak merasakan benturan.
Tidak ada resistensi.
Tidak ada “sesuatu” yang dilawan.
Seolah…
Serangannya tidak pernah mengenai apa pun.
“…bukan masalah kekuatan…”
Ia bergumam pelan.
Namun Galdros tidak berhenti.
Ia menarik napas dalam.
Dan kali ini
Ia benar-benar serius.
Tanah di bawahnya bergerak.
Batu naik, membungkus tubuhnya.
Armor batu tebal menutup dari kaki hingga kepala.
Matanya bersinar samar.
Grandmaster Mode.
Ia melangkah.
Dan setiap langkah membuat tanah bergetar hebat.
“Kalau begitu…”
Suaranya berat.
“…aku akan paksa dunia ini mengenalmu.”
Ia mengayunkan tangan.
CRASH.
Gunung kecil terbentuk dan jatuh ke arah Acedia.
Bukan sekadar batu.
Namun tekanan.
Berat dunia itu sendiri.
Benturan itu
Menghancurkan tanah.
Membelah udara.
Mengguncang seluruh gerbang Mushaf.
Tentara terpental.
Dinding retak.
Dan ketika debu perlahan turun…
Semua mata tertuju ke satu titik.
Acedia.
Masih berdiri.
Tidak bergerak.
Tidak berubah.
Hanya… menatap.
“…kau kuat.”
Galdros terdiam.
Acedia melanjutkan.
Dengan nada yang sama.
Tanpa emosi.
“…tapi tidak berarti apa-apa.”
Kalimat itu…
Lebih berat dari serangan mana pun.
Untuk pertama kalinya
Galdros merasakan sesuatu.
Bukan takut.
Namun
Ketidakpahaman.
Apa ini?
Ia mencoba bergerak lagi.
Mengangkat tangan.
Memanggil tanah.
Namun
Tidak terjadi apa-apa.
Tubuhnya…
Berhenti.
Kaku.
“…apa…?”
Matanya membesar sedikit.
Ia masih sadar.
Masih melihat.
Masih berpikir.
Namun tubuhnya
Tidak merespon.
Sihirnya
Diam.
Tanah
Tidak menjawab.
Seolah seluruh koneksi dengan dunia…
Diputus.
Acedia bahkan tidak menyentuhnya.
Ia hanya…
Melihat.
Dan itu cukup.
“…menghalangi…”
Acedia berjalan mendekat.
Langkahnya ringan.
“…melelahkan.”
Ia melewati Galdros begitu saja.
Tanpa melihat lagi.
Tanpa menganggapnya ancaman.
Galdros berdiri di sana.
Seperti patung.
Tidak bisa bergerak.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya
Grandmaster Batu itu…
Tidak bisa melakukan apa pun.
Gerbang Mushaf… terbuka.
Bukan karena perintah.
Namun karena tidak ada yang tersisa untuk menutupnya.
Acedia masuk.
Dan dunia berubah.
Rumput yang tersisa
Menghitam.
Dinding
Retak perlahan.
Udara
Menjadi berat.
Seorang warga berjalan mundur.
Ketakutan.
“…apa itu…”
Ia tersandung.
Jatuh.
Dan tidak bangun lagi.
Tanpa luka.
Tanpa suara.
Hanya… berhenti.
Panik mulai menyebar.
“Lari!”
“Semua lari!”
Namun ke mana pun mereka pergi
Tekanan itu tetap ada.
Bukan serangan.
Namun keberadaan.
Di dalam istana
Ragnar Varnheim berdiri.
Matanya tajam.
Namun wajahnya tegang.
“…Galdros… kalah?”
Tidak ada jawaban.
Namun ia tahu.
Ia berbalik.
“Panggil Ketua Guild.”
Perintah itu langsung dijalankan.
Beberapa saat kemudian
Seorang pria masuk dengan langkah cepat.
Tatapannya serius.
“Yang Mulia.”
Ragnar menatapnya.
“…kerahkan semuanya.”
Ketua Guild sedikit terdiam.
“…semuanya?”
Ragnar mengangguk.
“Ini bukan ancaman biasa.”
Hening.
“…ini kehancuran.”
Ketua Guild menunduk.
“…dimengerti.”
Di seluruh Mushaf
Lonjakan aktivitas terjadi.
Petualang keluar dari penginapan.
Dari guild.
Dari jalanan.
Pedang diangkat.
Armor dikenakan.
Sihir dipersiapkan.
Namun
Di dalam hati mereka
Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Rasa takut.
Sementara itu
Di utara
Di dalam hutan lebat
Langkah kaki terdengar pelan.
Shiranui Akihara berhenti.
Tiba-tiba.
Liora yang berjalan di sampingnya ikut berhenti.
Masih menggendong
Noa.
“…kenapa?”
Akihara tidak menjawab.
Matanya menyipit.
Udara di sekitarnya berubah.
“…ini…”
Api kecil muncul di ujung jarinya.
Tanpa ia sadari.
Liora merasakannya juga.
“…arah selatan…”
Hening.
Keduanya saling pandang.
Mereka tahu.
Sesuatu sedang terjadi.
Sesuatu yang besar.
Kembali ke Mushaf
Acedia berdiri di tengah kota.
Rumah-rumah di sekitarnya mulai runtuh.
Perlahan.
Bukan karena dihancurkan.
Namun karena…
Tidak mampu bertahan.
Para petualang mulai berkumpul.
Puluhan.
Lalu ratusan.
Namun tidak ada yang maju.
Tidak ada yang berani.
Acedia menatap mereka.
Diam.
“…menarik.”
Ia mengangkat sedikit tangannya.
Udara bergetar.
Beberapa petualang langsung jatuh.
Tanpa sempat menyerang.
Yang lain mundur.
Panik.
“Ini apa-?!”
Tidak ada jawaban.
Karena tidak ada yang mengerti.
Acedia menatap langit.
“…mari kita lihat…”
Matanya kembali ke depan.
“…berapa lama kalian bertahan.”
Dan di saat itu
Kerajaan Mushaf tidak lagi berdiri sebagai benteng.
Namun sebagai…
Medan uji coba.
Untuk sesuatu yang bahkan dunia ini tidak siap hadapi.