Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia justru menjadi seperti mimpi terburuk yang pernah datang. Di tinggal pergi oleh calon suaminya sendiri tepat di hari pernikahan. Sehingga mau tidak mau Kanaya harus menikah dengan calon kakak iparnya yang terkenal arogan dan juga dingin. Demi menjaga nama baik keluarga, Andreas bersedia menggantikan adiknya yang kabur dan menikahi calon adik iparnya.
Bagaimanakah perjalanan pernikahan mereka? Akan kah pernikahan itu bisa membuat keduanya saling mencintai? Ikuti kisahnya, Ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 KECELAKAAN
"Jangan, Pak! Terus jalan" kata mama Neni sambil menatap sang supir yang sudah terlihat sedikit bingung. Antara berhenti atau tetap melanjutkan laju mobil itu.
"Saya bilang berhenti, pak!" wajah Andreas sudah mulai terlihat merah. Masih tidak percaya jika sang mama mintanya datang ke Kanada hanya untuk membicarakan perihal hubungannya dengan Wika yang sudah kandas sejak lima tahun yang lalu.
"Jangan, Pak. Kalau sampai bapak berani menghentikan mobilnya, bapak akan saya pecat!"
Mendengar hal itu sang supir tentu saja takut, karna dia juga masih sangat membutuhkan pekerjaan ini. Hingga mau tidak mau supir itu pun terus melajukan mobil itu dan tak menghiraukan perkataan Andreas.
"Baiklah, jika mama masih terus melarang pak Min buat menghentikan mobilnya, jangan salahkan aku kalau aku memilih lompat dari mobil ini" ujar Andreas, namun mama Neni tak menghiraukan. Dia berpikir jika Andreas tidak akan melakukan hal nekat tersebut, namun dia lupa bagaimana karakter anak yang sudah dia lahir kan dua puluh delapan tahun yang lalu.
"Lompat saja jika kamu tidak sayang pada dirimu sendiri, di tengah jalan yang cukup padat seperti ini memangnya kamu yakin mau melakukannya"
"Kenapa tidak, apa mama lupa siapa aku"
Setelah mengatakan hal itu, Andreas langsung membuka pintu mobil lalu dia melompat dari dalam mobil yang sedang melaju cepat.
Kedua mata mama Neni membulat ketika melihat sang anak benar-benar nekat melompat dari dalam mobil."Andreassss" teriaknya dengan wajah panik
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Piaarrrr
Tanpa sengaja Kanaya menyenggol sebuah pigura yang berisi foto pernikahannya dengan Andreas satu bulan yang lalu. Seminggu setelah acara kedua orang tua Kanaya memang memutuskan untuk memajang foto pernikahan mereka di dalam kamar Kanaya.
Kanaya menatap foto yang piguranya sudah hancur dengan pecahan kaca yang telah kemana-mana. Mendadak perasaannya tidak karuan dan cemas akan Andreas. Karna hingga detik ini sang suami masih belum memberikan kabar apa-apa.
"Ya ampun, kenapa harus kena senggol segala si. Yaahh piguranya hancur deh" gumam Kanaya sembari mengumpulkan pecahan kaca dari pigura tersebut.
"Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak ya, mana Andreas belum ngasih kabar apa-apa" Kanaya menatap jam yang ada di dinding kamarnya. Sudah hampir 22 jam berlalu, namun sang suami belum juga ada memberikan kabar sedikitpun.
( Mas, kamu sudah sampai ke Kanada kan? Kenapa belum ada hubungi aku? )
Kanaya mengirimkan pesan untuk Andreas, namun pesan itu hanya centang satu. Membuat Kanaya masih berpikir jika kemungkinan besar Andreas masih ada di atas pesawat.
"Apa mungkin pesawatnya belum landing ya, makanya belum ada ngabarin aku" gumamnya yang masih berpikir positif.
Kanaya mengambil nafas dalam sebelum akhirnya mengambil sapu untuk membersihkan pecahan kaca tersebut.
Waktu terus bergulir, Kini Kanaya serta semua anggota keluarganya sudah bersiap untuk melakukan makan malam bersama teman dekat Adhitama di salah satu restoran ternama jakarta, sebenarnya Kanaya enggan untuk ikut pada acara malam ini karna masih kepikiran akan Andreas. Namun papa Adhitama terus memaksanya dengan dalih tidak enak hati pada sahabatnya yang sudah mengundang semua anggota keluarganya makan malam bersama di restoran yang sudah di tentukan oleh sahabat sang papa.
Berkali-kali terdengar helaan nafas panjang dari Adel. Dia sangat terpaksa menerima permintaan dari papanya untuk ikut makan malam sekaligus memperkenalkannya dengan anak dari sahabat lama sang papa.
Apalagi saat ini hati Adel masih terasa sakit akibat pesan dari Andra yang dia baca kemarin.
"Pa, adel boleh gak si gak usah ikut, Adel beneran lagi pengen di rumah aja. Adel gak mood" rengek Adel pada sang papa ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil.
"Ya gak bisalah sayang. Dalam acara makan malam ini kan papa juga mau ngenalin kamu sama anak teman papa, jadi kamu harus ikut!"
"Tapi, Pa. Aku beneran males banget!"
"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kamu masuk mobil, sebentar lagi kita berangkat. Acaranya hanya sebentar kok nak, papa janji gak bakal lama" kata Adhitama yang terdengar sangat lembut.
Adhitama memang tipe ayah yang tegas, Keras namun penyayang. Dia akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Biarpun auranya terlihat dingin, Namun pria itu selalu bersikap hangat pada keluarganya. Keluarga Kanaya terlihat seperti keluarga cemara yang saling menyayangi.
Dengan bibir cemberut, Adel masuk ke dalam mobil sang papa. Sebenarnya tadi Adel meminta untuk membawa mobil sendiri, hanya saja Adhitama tidak mengijinkan.
Sedangkan Kanaya sejak tadi hanya banyak diam. Pikirannya melalang buana entah kemana. Hanya raganya yang ikut andil dalam mobil tersebut.
"Nay, kamu kenapa sayang? Dari tadi mama perhatiin kamu banyak melamun. Ada apa Nay?" ujar sang mama yang langsung menyadarkan Kanaya.
"Iya kak, Kak Naya kenapa? Seperti sedang kepikiran sesuatu saja." ujar Adel menimpali.
Kanaya membuat nafasnya kasar, dia manatap sekilas pesan yang dikirim pada Andreas siang tadi. Masih tidak menunjukkan perubahan apapun di sana. pesannya masih centang satu.
"Tidak ada kok, Ma. Naya baik-baik saja" gumam Kanaya seraya mengangkat kedua sudut bibirnya yang terasa berat.
"Jangan bohong Nay. Mama bisa baca dari raut wajah kamu jika saat ini kamu sedang tidak baik-baik saja. Ada apa nak?"
"Naya beneran baik-baik saja, Ma. Hanya saja Naya sedang kepikiran sama suaminya Kanaya, dia belum ada kabar ma" akhirnya Kanaya mengatakan kekhawatirannya pada mamanya dan juga Adel.
"Kakak sudah telfon belom?"
"Nomornya gak aktif. Makanya kakak khawatir"
"Mungkin suami kamu masih istirahat sayang. Perjalanan dari bali ke Kanada kan jauh dan melelahkan. Kamu jangan mikir yang macem-macem. Palingan besok juga suamimu bakal ngabarin"
"Mungkin kali ya ma"
Setelah mendengar perkataan sang mama, Hati Kanaya menjadi sedikit lebih tenang. Wanita itu meletakkan ponselnya ke dalam tas.
"Pa, rumah sudah papa kunci lagi kan?" tanya mamanya Kanaya ketika sang suami sudah masuk mobil"Sudah kok, Ma. Kuncinya juga sudah papa kasih sama mang Iman"
Kemudian mobil itu pun kini melaju meninggalkan kediamannya. Jam sudah menunjukkan pukul 18:45 Wib. karna jaraknya restoran itu tidak terlalu jauh, mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk tiba di retoran itu. .
"Del, nanti kalau sudah ketemu sama mereka kamu harus senyum ya. Gak boleh tampakkan wajah galakmu itu"
"Apaan sih mama. Adel ya begini, mana bisa di ubah"
"Adel, kalau sampai malam ini kamu buat papa malu, maka jangan salahkan papa kalau papa mempercepat pernikahan kamu dengan anak teman papa itu" kata Adhitama yang seketika membuat Adel terkejut. Pernikahan? Bukankah kedua orang tuanya hanya mengatakan akan memperkenalkan nya dengan anak temannya, kok malah pernikahan?
"Apa, pernikahan?"
"Iya, sebenarnya malam ini bukan hanya acara makan malam biasa. Tapi acara lamaran kamu dengan anak teman papa"
"Lihat saja nanti, aku akan membuat citra buruk biar pria itu tidak mau menikah denganku" batin Adel sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya